Ibu Alya meninggal karena menyelamatkan anak majikannya yang bernama Bagas, dia adalah tuan muda dari keluarga Danantya.
~
Bagas patah hati karena kepercayaannya dihancurkan oleh calon istrinya Laras, sejak saat itu hatinya beku dan sikapnya berubah dingin.
~
Alya kini jadi yatim piatu, kedua orang tua Bagas yang tidak tega pun memutuskan untuk menjodohkan Bagas dan Alya.
~
Bagas menolak, begitupun Alya namun mereka terpaksa menikah karena terjadi sesuatu yang tidak terduga!
~
Apakah Bagas akan menerima Alya sebagai istrinya? Lalu bagaimana jika Alya ternyata diam-diam mencintai Bagas selama ini?
Mampukah Alya meluluhkan hati Bagas, atau rumah tangga mereka akan hancur?
Ikuti kisahnya hanya di sini!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon znfadhila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4.
Keesokan harinya semua keluarga Danantya berkumpul di ruang kerja Zaki.
Alya sendiri tidak ikut karena gadis itu memilih untuk diam di kamarnya sendiri, Alya masih nampak terpukul namun gadis itu mencoba untuk menguatkan dirinya.
Alya butuh waktu sendiri, makanya itu Berlian tidak mengganggunya.
Berlian duduk disamping Joshua, di sebrangnya ada Bagas, Zaki dan Husna.
Berlian cukup bingung karena tiba-tiba saja diminta berkumpul.
"Sebenernya ini ada apa sih?" bisik Berlian pada suaminya Joshua.
"Aku gatau sayang, tanya aja sama Abang kamu." Joshua mengangkat bahunya.
Berlian mencebikkan bibirnya, Joshua malah menggenggam erat tangan istri kesayangan nya itu.
"Ayah sebenernya ada apa ini? Kenapa tiba-tiba semua orang disuruh kumpul?" Husna mengajukan pertanyaan yang sama.
Zaki menatap Bagas yang masih diam, entah apa yang sedang Bagas pikirkan saat ini yang pasti saran Joshua kemarin di setujui oleh Zaki tapi Bagas belum memberikan jawaban apapun.
Itu sebabnya Zaki mengajak istri serta anak menantunya berkumpul untuk meminta pendapat, tentu Zaki tidak ingin mengambil keputusan sendiri.
"Ibu, Berlian, Ayah tau mungkin ini bukan waktu yang tepat untuk membahas hal ini, tapi kalo gak dibahas secepatnya Ayah juga gak bisa tenang, terutama Ayah khawatir sama Alya." jelas Zaki sedikit ambigu.
Berlian dan Husna tentu saja tidak langsung mengerti, mereka kebingungan tentu mereka tau Alya sekarang dalam masa sulit, Berlian sebagai sahabat tidak akan meninggalkan Alya begitupun Husna yang sudah menganggap Ambar sebagai sahabatnya.
"Maksud Ayah apa?" Husna mewakili pertanyaan Berlian.
"Maksud Ayah, sekarang Alya udah gak punya siapapun Ayah juga bisa liat Alya itu anaknya gampang gak enakan kalo kita bantu terus, makanya Ayah kepikiran buat jodohin Alya sama Bagas."
"APA?!" Husna dan Berlian kompak berteriak, mereka sangat terkejut mendengar ucapan Zaki.
Baik Husna maupun Berlian tidak pernah terpikir menjodohkan Alya dan juga Bagas.
"Ayah bercanda?" Berlian menatap tak percaya pada Zaki, bukannya tak setuju hanya saja Berlian terlalu terkejut, Bagas sendiri masih diam dia ingin melihat reaksi semua orang.
"Ayah gak bercanda Nak, Ayah serius." Zaki menghela nafas pelan.
"Coba Ayah jelasin gimana maksudnya." ucap Husna dengan tenang.
"Bu, Ayah gak bermaksud apapun tapi menurut Ayah kalo Alya jadi menantu di keluarga ini, kita bisa jaga Alya apalagi sekarang Alya masih butuh dukungan, keluarga Ayahnya kemungkinan bakal terus ganggu Alya selama masalah warisan itu belum selesai." jelas Zaki penuh pertimbangan.
"Satu lagi, menurut Ayah Alya itu baik buat Bagas, mereka juga udah saling kenal, kita juga tau Alya anaknya kaya gimana Bu." Zaki benar-benar setuju jika Bagas menikah dengan Alya.
Zaki yakin meskipun nanti Bagas dan Alya menikah tanpa cinta, mereka bisa saling mencintai bahkan bisa jadi Bagas malah jadi bucin pada Alya.
"Ayah apa semua ini karena Bang Bagas ngerasa bersalah sama Bibi Ambar?" pertanyaan Berlian membuat Zaki terbungkam, Bagas melihat kearah adiknya itu.
"Coba kamu tanya sendiri." Zaki sengaja mengatakan itu untuk melihat bagaimana respon Bagas, Zaki tidak tau apakah Bagas memang benar setuju atau terpaksa.
Jika Bagas memang terpaksa, maka Zaki tidak akan membiarkan Bagas menikah dengan Alya, bagaimanapun yang paling penting bagi Zaki sekarang adalah kebahagiaan Alya.
"Bang Bagas." Berlian menatap tajam Abangnya itu.
"Sekarang Abang jawab jujur, Abang mau terima perjodohan ini karena mau buka hati buat Alya, atau cuma ngerasa bersalah?" tanya Berlian, semua orang menatap kearah Bagas termasuk Joshua dan juga Husna.
Bagas hanya diam, pria itu tidak langsung menjawab jelas saja Berlian kesal mendengarnya.
"Kenapa Abang malah diem? Kan aku nanya sama Abang?!" Berlian menggebrak meja, Joshua mencoba menenangkan istrinya itu.
"Sabar dulu sayang, jangan emosi."
"Gimana aku gak emosi coba, bisa-bisanya Abang cuma diem! Alya itu punya perasaan, kalo rencana ini cuma bisa bikin dia sakit hati lebih baik gak usah sama sekali." marah Berlian membuat Zaki bungkam, bahkan Bagas merasa tertampar dengan ucapan adiknya itu.
Bagas tidak bermaksud, jujur dia masih terkejut dengan usul Zaki, yang paling utama Bagas takut jika nantinya Alya akan tersakiti.
Tentu Bagas tidak ingin Alya terluka lagi, terlebih jika pernikahan ini terjadi semuanya sangat mendadak sekali.
"Bagas kalo kamu memang tidak setuju langsung kasih tau Ibu nak, jangan pernah setuju kalo kamu ngerasa terpaksa." Husna ikut bersuara, Zaki menarik nafas pelan.
"Bagas." suara tegas Zaki terdengar, Bagas memejamkan matanya sejenak.
"Aku gak pernah bilang gak setuju, tapi yang aku pikirin sekarang apa Alya bakal setuju? jujur aku emang gak mudah buat buka hati, tapi kalo emang Alya setuju aku pasti bakal bertanggung jawab sepenuhnya, pernikahan bukan mainan dan aku akan berusaha buat bahagiain Alya."
Bagas menjawab sedikit ambigu, Berlian menatap tajam Abangnya itu.
"Jadi Abang setuju atau engga? kalo gak setuju tinggal bilang engga, kalo setuju tinggal bilang iya." kesal Berlian, Bagas berbelit dalam menjawab.
"Abang setuju." jawab Bagas cepat, entahlah mungkin hati Bagas tergerak melihat Alya yang sendirian sekarang, ditambah tidak ada yang bisa menjaga gadis itu.
"Kamu yakin?" tanya Zaki memastikan, Bagas mengangguk.
"Yakin Ayah, apa yang Ayah bilang bener kalo aku gak mencoba gimana aku bisa tau hasilnya, aku emang susah percaya lagi sama hubungan pengkhianatan itu masih membekas di pikiran aku." jelas Bagas jujur, keraguannya tadi berkaitan dengan traumanya di masa lalu.
"Kamu boleh mencoba, tapi jangan sampai menyakiti Alya." tegas Husna.
"Iya Ibu." Bagas tentu paham, mana mungkin dia tega menyakiti Alya.
"Satu lagi, masalah perjodohan ini Abang gak boleh maksa Alya apalagi dengan dalih bertanggung jawab dan merasa bersalah, kalo Abang beneran serius berarti Abang harus berjuang buat Alya." Berlian sedikit mengancam Bagas.
"Tentu, Abang memang merasa bersalah tapi bukan berarti Abang mau nikah juga karena terpaksa, Abang gak terpaksa sama sekali." ucap Bagas jujur.
Aneh sekali bukan? saat Zaki membahas soal Alya, Bagas tidak keberatan ataupun risih hanya saja Bagas masih trauma, dia takut kejadian dulu terulang tapi Bagas sadar jika tidak semua wanita sama dengan mantannya yang kurang ajar itu.
"Apa Abang suka sama Alya?"
"Sekarang belum, tapi gatau nanti mungkin aja Abang beneran jatuh cinta sama Alya.."
Bersambung.......