NovelToon NovelToon
Teror Sang Pemerkosa

Teror Sang Pemerkosa

Status: tamat
Genre:Misteri / Tamat
Popularitas:505.3k
Nilai: 5
Nama Author: Eko Hartono

Novel ini berkisah tentang Melani, seorang gadis muda yang mengalami pemerkosaan oleh orang tak dikenal di ruang toilet kantor tempatnya bekerja. Sayang, dia tak bisa melihat wajah sang pemerkosa karena lampu padam. Akibat pemerkosaan itu dia menderita depresi berat. Ketika dia melaporkan kejadian ini pada polisi malah berakibat buruk. Dia dimusuhi dan dicemooh rekan-rekan kerjanya. Sementara sang pemerkosa meneror Melani melalui SMS dan telepon. Hidup Melani jadi tidak tenang. Sang pemerkosa meminta agar Melani bersedia melayaninya lagi, karena bila tidak mau adik perempuan Melani akan dijadikan sasaran. Karena polisi tak juga menemukan si pelaku, akhirnya Melani memberanikan diri menghadapi sendiri sang pemerkosa. Dia mengikuti permainan sang pemerkosa. Hingga akhirnya Melani bisa berhadapan langsung dengan si pemerkosa. Siapakah dia? Kenapa dia memperkosa Melani? Ikuti kisahnya hingga selesai. Sangat mencekam dan penuh misteri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eko Hartono, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Orang Misterius Di Toilet

Melani sedang menikmati makan siangnya bersama Diah di sudut kafe, ketika tiba-tiba Toni menghampiri mereka.

“Hai, gadis-gadis cantik. Boleh saya ikut makan bersama kalian?” cetus pria yang punya julukan play boy kampungan karena kesenangannya menggoda para perempuan.

“Memangnya ke mana si Ida? Apa dia tidak cemburu melihat kamu makan bersama kami di sini?” sindir Diah.

“Ah, kamu ini suka ngrecokin orang saja. Siapa bilang aku pacaran sama Ida. Yang benar, aku sedang memburu putri cantik yang jadi primadona di sini,” tukas Toni seraya duduk di sebelah Melani.

“O ya? Siapa putri cantik itu?”

Toni menggerakkan ekor matanya ke arah Melani.

“O, jadi kamu mau mendekati Melani, ya?”

“Kasarannya begitu, deh. Tergantung Melani, mau kasar atau lembut? He he he…,” gurau Toni sambil terkekeh.

“Ah, kamu ini bisa saja, Ton. Apa tidak salah? Dibanding Ida, aku ini tidak ada apa-apanya. Ida lebih cantik!” tepis Melani jengah.

“Jangan terlalu merendahkan diri begitu, Mel. Semua orang di sini tahu, kamu lebih cantik dari Ida. Swear, deh! Aku tidak gombal!”

Diah mencibirkan bibirnya mendengar rayuan Toni. “Alaah, dasar buaya! Hei, play boy kampungan, kamu jangan coba-coba dekati Melani, ya! Dia ini sudah punya pacar, tahu!” ujar Diah memperingatkan Toni.

“Pacar yang mana? Aku enggak pernah lihat Melani diantar atau pergi bersama seorang pria. Wajah polos Melani ini sudah memperlihatkan kalau dirinya masih jomblo. Iya, enggak, Mel?” tukas Toni menoleh pada Melani dengan yakin.

Melani hanya diam dan tersenyum simpul.

“Melani ini mau jadi pacarnya Rico, tahu!” ujar Diah menegaskan.

Toni malah tertawa mendengar ucapan Diah. “Eh, dapat isu dari mana tuh? Tidak mungkin Melani mau sama dia. Orang lagaknya kayak banci begitu. Iya, enggak, Mel?” katanya sok yakin.

“Sst, jangan keras-keras! Nanti Rico dengar kamu bisa dibunuhnya!” Diah memperingatkan Toni yang bersuara terlalu keras.

“Biar saja kalau dia berani!” Toni tidak peduli.

“Brengsek!” umpat Diah kesal.

“Sudahlah, Diah. Kenapa kamu mesti sewot begitu. Aku kan tidak berurusan dengan kamu. Aku ke sini ingin makan siang bareng Melani. Lebih baik kamu telepon si Deni suruh ke sini nemenin kamu makan siang. Biar aku bisa berduaan dengan Melani di sini. Adil, kan?”

“Huh, mau kamu!” dengus Diah.

“Sudah, sudah! Kenapa kalian jadi ribut sih? Kalian mau makan atau mau berdebat? Aku tidak keberatan Toni makan bareng kita di sini. Tapi itu bukan berarti aku bisa jadi pacarnya begitu saja. Aku bukan gadis sembarangan yang bisa digaet pria dengan mudah. Memang aku cewek apaan? Jadi sudah jelas, kan?” cetus Melani mengakhiri perdebatan mereka.

Toni yang tadinya agak senang mendengar pernyataan Melani yang tak keberatan dengan kehadirannya berubah muram saat gadis itu menegaskan sikapnya. Diah yang melihat Toni mendapat serangan telak langsung mencibirkan bibirnya ke arah Toni. “Tuh, dengerin apa kata Melani!”

Toni hanya bisa cemberut.

 

Tiba jam habis kantor. Satu persatu dari mereka mengemasi barang-barangnya. Mereka berhamburan keluar dari ruang kerjanya masing-masing. Pulang. Tapi di mejanya Melani masih tampak sibuk. Diah yang satu ruangan dengan Melani juga sudah memberesi mejanya. Sepertinya dia juga hendak pulang.

“Kamu tidak pulang, Mel?” Tanya Diah.

“Nanti saja, Di. Masih ada beberapa berkas yang harus kuselesaikan,” jawab Melani.

“Sudahlah, Mel. Diteruskan besok kan bisa. Jangan workaholic begitu dong. Nanti kamu jatuh sakit.”

“Tidak, Di. Aku bisa jaga kesehatan, kok!”

“Kamu kok kayaknya tidak mengenal lelah saja sih, Mel? Dari pagi sampai malam kamu kerja seperti mesin saja. Apa kamu tidak capek dan bosan?”

Melani tersenyum tipis. Dia menggelengkan kepalanya mantap.

“Hati-hati lho, Mel! Orang yang kecanduan kerja itu biasanya mudah kena penyakit,” ujar Diah tak bermaksud menakut-nakuti, melainkan memperingatkan.

“Jangan kayak nenek-nenek, Di,” balas Melani.

“Aku serius lho, Mel. Orang yang kecanduan kerja itu biasanya mudah terkena serangan jantung, insomnia, darah tinggi, dan macam-macam lagi. Kamu bisa baca itu di majalah kesehatan.”

“Ya, ya, aku tahu, Nek. Kalau kamu masih bicara begitu kamu juga tak ada waktu untuk pulang.”

“Jam berapa kamu akan pulang?”

“Satu jam lagi sudah rampung,” kata Melani.

“Kalau begitu aku akan suruh Deni untuk menjemputmu nanti…”

“Tidak usah, Di. Aku bisa naik taksi, kok!”

“Tak baik perempuan pulang malam sendirian, Mel. Nanti kalau ada apa-apa sama kamu…?”

“Jangan khawatir, Di. Aku bisa jaga diri, kok. Lagian aku sudah biasa pulang malam sendirian. Kamu tak perlu menyuruh Deni menjemputku. Kasihan dia, kan juga capek seharian bekerja.”

“Ya, sudah….!” Diah ngeloyor pergi dari hadapan Melani.

Gadis itu hanya memandangi kepergian sahabatnya dari mejanya hingga bayangannya lenyap dari balik pintu. Melani kemudian meneruskan kegiatannya memencet tuts keyboard komputernya sambil sesekali membuka-buka berkas di mejanya. Suasana di ruangan tempatnya bekerja sunyi senyap. Semua pegawai sudah pada pulang. Hanya ada suara ketukan jari jemarinya di atas keyboard memecah kesunyian. Melani tidak takut bekerja sendirian di tengah suasana sepi itu. Toh, di ruang depan ada petugas security yang berjaga malam. Juga di ruangan lain tentu ada pegawai yang lagi kerja lembur.

Tanpa terasa satu jam telah berlalu. Jam dinding sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Sejenak Melani meregangkan tubuhnya melemaskan otot-ototnya yang kaku. Dia lalu mengemasi barang-barangnya. Ballpoint, buku agenda, HP, dan beberapa barang penting lainnya dimasukkan dalam tas. Setelah itu ia beranjak dari tempatnya dan keluar dari ruangan. Tapi sebelum pulang, Melani mampir dulu ke toilet. Dia ingin buang air kecil dan membenahi wajahnya yang terlihat masai.

Saat dia berjalan menyusuri koridor menuju ruang toilet, tiba-tiba matanya seperti menangkap sekelebat bayangan di ujung koridor. Melani menengokkan kepalanya, ingin tahu siapa orangnya. Tapi tak ada siapa-siapa. Ah, mungkin hanya perasaanku saja, batinnya tak menggubris. Melani lalu memasuki ruang toilet dan pipis di kamar kecil. Setelah itu dia menuju ke deretan wastafel untuk cuci muka. Dia memandangi bayangannya pada cermin besar yang menempel pada dinding toilet. Sejenak dia membenahi baju dan bedak di wajah. Tiba-tiba dia mendengar suara langkah kaki di luar ruangan. Melani tercekat.

“Siapa itu….? Pak Bardi…?” seru Melani mengira suara itu datang dari langkah kaki Pak Bardi, petugas cleaning service. Tapi tak ada sahutan. Suara langkah kaki itu pun berhenti.

Tiba-tiba Melani merasakan bulu kuduknya jadi merinding. Dia teringat film horor yang pernah ditontonnya. Dalam film horor itu biasanya digambarkan makhluk halus atau monster yang meneror manusia, tak peduli di tempat gelap atau terang. Seperti film horor yang menggambarkan teror makhluk menyeramkan di dalam ruangan kantor.

Meski ruangan kantor terang oleh cahaya lampu, hantu atau makhluk halus berani menampakkan dirinya. Memang semua itu cuma khayalan atau fiktif belaka, tapi cukup mempengaruhi pikiran alam bawah sadar Melani. Hatinya jadi tercekam dan gemetar ketakutan. Dia lalu buru-buru menyelesaikan bebenahnya dan bergegas keluar ruangan.

1
Andra
secara hukum melani tetap bersalah. dia memang berencana membunuh si pemerkosa dengan menyiapkan pisau dari rumah.

waktu mendapat telepon untuk datang ke hotel melani menyanggupinya dengan kesadaran penuh, padahal dia bisa memilih opsi untuk melapor ke polisi tentang posisi pelaku.

melani juga memberikan keterangan palsu mengenai wajah pelaku yang berimbas pada salah tangkap.
Andra
faktanya melani mempersiapkan pisau itu dari rumah memang dimaksudkan untuk membunuh.
Andra
biar bagaimanapun melani tetap bersalah. apalagi ada unsur pembunuhan berencana di sini.
Andra
berarti benar kalau lelaki bertato yang menyerang melani di toilet resto dan yang menyerang nina adalah manipulasi deni.
Andra
aku merasa kejadian ini hasil manipulasi deni saja. apakah denilah penjahat sebenarnya ?
Andra
kalau tidak yakin lebih baik bilang saja. tambah ruwet nanti kalau sampai salah tangkap orang .
Andra
apakah omongan deni masih bisa dipercaya mengingat reputasinya selama ini ?
Andra
terkadang, masyarakat kecil terpaksa main hakim sendiri. tanya kenapa ? 😥
Andra
jika masih ada jejak sperm di tubuh melani atau di pakaian dalamnya, bisa dilakukan analisis dna untuk mengungkap pelakunya.
Andra
dan selama hampir empat tahun, deni berhasil mengelabui diah.
Andra
kalau bekas kekasih berarti tidak selingkuh.
Andra
cek cctv kantor dan cctv gedung sekitar kantor
Andra
seharusnya bisa. karena kepolisian pasti memiliki tim cyber.
Andra
bukankah melani tidak memiliki saudara kandung laki2 ? 🤔
Andra
menghampiri diah
Andra
dikerucutkan saja berdasar ciri fisiknya.
Ibu Dewi
apa kata ku juga aku curiga sama si deni bener kan ayah ku dulu bekas sutra dara jdi sedikit bsnyaknya aku bisa menevak nya kan bukan so tspi aku sering menebak cerita yang rumit sll benar aneh aku juga
Ibu Dewi
toni kaya nya orang ny jujur biar pun sipatnya urakan tpi kaya nya dia bener2 mencintai melani jdi tidak mungkindia akan nenyakiti orang yng di cintai nya klo sku curiga sama deni klo rikco ts mungkinmelakuksn nyasedang ida itu pacarnya ida tida akan menyuruh pacarnya intuk mrmperkosa cewe lsin biar pun dia membenci melani ksn
Ibu Dewi
ko aku jdi curiga sama si deni y sial nya barusan nlp ke hp nya mel udah tau yang ngangkat diah dia jdi pura2 bilanh nya mau jemput gitu
Ibu Dewi
y betul harus nya itu baju buat barang bukti nnti ahir barang kali bisa jdi bukti untuk mengetahui siapa pelaku nya klo didimkan keenakan bisa2 dia mengulang lgi perbuatan bejat nya itu karena mel tida nencari tau malah diam
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!