Akibat terlalu baik sama seseorang yang tak cukup dekat, membuat ia harus terjebak dengan kisah satu malam yang rumit.
hingga suatu ketika benih itu tumbuh dirahim nya, ia meminta pertanggung jawaban tapi apa yang ia dapatkan.
" gugurkan saja kandunganmu! aku tak akan menikahi mu!" ucap seseorang dengan tegas, rahang otot ny terlihat, mata nya yang lebar tampak melotot.
*****
beberapa tahun kemudian ia bertemu kembali dengan laki-laki itu, tapi ia tampak berbeda, dia berubah, berusaha mendekati anak nya dan diri nya?
lalu gimana kelanjutan nya cusss baca!!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon pinkky_11, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
masa kini
Akhirnya setelah penantian yang panjang bayi yang ada diperut nya itu keluar. Waktu begitu cepat berlalu sembilan bulan ia mengandung tanpa seorang laki-laki sangat tidak mudah, Banyak cibiran para tetangga, saudara dan juga teman-teman nya.
Setiap kali ia mengelus perut nya, ucapan dari laki-laki yang tidak bertanggung jawab itu terus teriang-iang dikepala nya. Bagaimana bisa ia tega membunuh darah daging nya sendiri?
Saat sang perawat membawa bayi nya dan memberikan kepada nya, ia sedikit takjub wajah itu mirip seperti ayah nya. Lia mengusap lembut pipi kemerahan anak nya. " Ibu pastikan nasibmu tak seburuk ibu nak." Ucap nya lalu berlahan bibir nya mencium kening sang anak.
****"
7 Tahun kemudian...
anak kecil dengan kuncir kuda, berbando karakter kesukaan nya itu sedang beramain boneka, setelah merasa bosan ia menghampiri ibu nya yang sedang menjahit baju.
" ibuu...." rengek nya.
tangan lia masih bergerak dimesin jahit, ia menjawab dengan deheman. Lalu anak nya yang tiba-tiba menekan tomol off yang berada dimeja jahit.
" ibuuu dengerin naura dong!" teriak nya, ia lalu melempar boneka nya dan berujung menangis.
bukan pertama kali nya anak nya begini, lia menggambil nafas nya dalam-dalam. Lalu mendorong kursi nya kebelakang dan berpindah kesamping untuk menenangkan anak nya. " ada apa sayang?" ujar nya lembut.
ia terisak." ibu.. Kenapa naura tak punya ayah?" tangisan nya menguat, ia seakan-akan rindu kepada ayah nya.
Lia berusah tegar, berusaha tak terbawa suasana, ia mengembangkan senyuman nya agar air mata nya tak menetes. Ia menggambil kedua tangan nya, lalu ia genggam. " sayang.." ia tak mampu berbicara, tubuh nya juga dengan tiba-tiba merespon kaku setiap kali sang anak menanyakan ayah nya.
naura kembali menangis kencang, setiap kali ia bermain terkadang tiba-tiba menangis sambil berkata ayah.
" ibuu selalu tak bisa menjawab, selalu bilang sayang...sayang saja." ujar nya, suara nya serak, tangan ya mengepal, air mata nya mengalir.
" kasih tahu naura dimana ibu?" ujar nya.
" kenapa sih ibu selalu bohong sama aku, ka..ta ibu ayah bakalan pulang.. "
Lia memeluk anak nya erat. " didunia ini ibu tak memiliki siapapun, ibu hanya punya kamu nak." suara nya berubah menjadi tangisan.
Naura terdiam. Ini pertama kali nya ia melihat sang ibu menangis dipelukan nya, ia mengakat kepala ibu nya yang dipundak nya.
" ibuu jangan nangis." ujar nya, ia lalu mengusap air mata itu.
" ibuuuu." panggil nya lagi, ia tak sanggup melihat ibu nya yang menangis sampi terisak.
Lia mengusap air mata nya, mengembangkan senyuman nya. " ibu baik-baik saja, maafin ibu ya." ujar nya lalu kembali memeluk anak nya.
**
lia selalu memberikan yang terbaik untuk anak nya, ia selalu memastikan apa yang anak nya makan, karena mengingat sang anak punya alergi. Saat ini ia sedang menyiapkan menu bekal yang akan dibawah naura kesekolah.
ada telur yang berbentuk cinta, ada sosis yang berbentuk bunga tak lupa juga ia menambahkan buah anggur kesukaan anak nya.
" Amira naura as-syafi." memanggil dengan nama lengkap itu memiliki arri tersendiri bagi sang anak.
naura bisa mengingat bahwa kalau nama nya sudah dipanggil selengkap itu bahwa ibu nya sudah siap memarahi nya.
" sebentar ibu." jawab nya sambil berteriak.
" kamu itu ngapain sih naura, dari tadi belum juga siap, nanti terlambat ibu yang dimarahin." seperti ibu-ibu pada umum nya, sudah biasa nya, hampir setiap pagi ia selalu berteriak dan marah-marah seperti ini kepada anak nya.
naura keluar dari kamar nya, ia menyampirkan tas nya dipundak. " ibuuu sabar..." ujar nya yang tak merasa bersalah.
" masukkin bekal nya, jangan lupa di habisin."
naura membuka bekal nya." ibu kok anggur hitam lagi, sesekali anggur merah napa bu."
" naura bersyukur, enggak boleh gitu didepan makanan nak." sahut lia.
Lia lalu menyiapkan sarapan anak nya dan juga susu putih kesukaan anak nya, lia melepas celemek masak nya, menaruh ketempat nya, lalu duduk dikursi samping anak nya.
" dihabisin sayang." ujar nya setelah selesai menggambilkan nasi beserta lauk nya.
" iya ibu."
Setelah selesai menghabiskan sarapan nya, naura berpamitan kepada ibu nya, mencium punggung tangan ibu nya, sang ibu membalas dengan kecupan singkat didahi nya. " yakin mau jalan kaki sama teman-teman?" lia bertanya kembali, meskipun sekolahan anak nya itu dekat tapi tetap saja lia khawatir karena sekolahan nya berada dikanan jalan.
Naura menganggukan kepala nya.
" yakin ibu."
" udah ah, mau berangkat nanti ditunggu teman-teman." ujar nya lagi. Ia mencium tangan ibu nya kembali. " hati-hati sayang, ingat kalau menyebrang jalan jangan lupa lihat kanan kiri."
tangan naura membentuk jempol sambil tersenyum.
Punggung anak nya menghilang setelah berbelok, ia masih belum menyangka bahwa anak nya itu sudah beranjak semakin besar, perasaan baru saja kemarin ia menimang nya tapi saat ini sudah kelas 2 SD saja.
***
Dikota lain, kehidupan itu terbalik ia menikamti hari-hari nya dengan santai tanpa ada gangguan. Bisnis tinggalan orang tua nya berjalan dengan lancar setelah ia pegang, senyuman nya itu tak pernah luntur, ia seperti tak memiliki beban dimasa lalu.
Kejadian waktu itu, ia sungguh melupakan nya, pernah terlintas untuk mencari wanita itu tapi logika nya itu seakan-akan menepis nya.
ia berjalan menelusuri lorong-lorong rumah sakit, ia baru saja mendapat kabar bahwa sang kakak habis kecelakaan. didunia ini ia hanya mempunya sang kakak, ia la selama ini yang memberi semangat hidup nya, semangat untuk bangkit dari keterpurukan. " mas angga." ujar andito saat melihat angga~suami kaka nya.
ia sedikit berlari hingga sampai kearah nya." gimana keadaan nya mbk regiya mas?" tanya panik, wajah nya tampak risau, mata nya berkaca-kaca.
" tenang andito, mbk kamu baik-baik saja cuma kaki kiri nya patah."
" ini masih nunggu keputusan dokter ortopedi untuk kelanjutan nya."
Andito sedikit bernafas lega.
saat berjalan, tak sengaja ada anak kecil yang menabrak nya hingga terjatuh, andito kaget ia lalu menolong nya dengan membantu nya berdiri. " maaf om."
andai anak itu bertahan mungkin saat ini sudah seusia anak dia. Batin nya.
dan mulai saat itu aku gk sembarangan deket laki,. kl anakku dah oke baru aku serius tp kl anakku gk suka ya udah gk maksa. krn anak lbih penting Dr apapun.