NovelToon NovelToon
Godaan Sang Pembantu Baru

Godaan Sang Pembantu Baru

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami
Popularitas:6.1k
Nilai: 5
Nama Author: Lady Matcha

Bayangan gelap menyelimuti wanita bernama Sarah. Suaminya, Bagas Aryanaka, mengalami kecelakaan tunggal dan berakhir hilang ingatan. Parahnya lagi, yang lelaki itu ingat hanyalah seberkas memori indah bersama mantan kekasihnya-adik kandung Sarah yang bernama Farah.

Hal tersebut menjadi kesempatan bagi sang ibu mertua untuk turut mengusirnya karena dianggap sebagai wanita pembawa sial.

‎Demi membalaskan dendam dan menuntut hak anaknya. Ia pun memutuskan untuk menyamar sebagai pembantu di rumah keluarga Aryanaka. Sarah berjuang untuk menyembuhkan amnesia Bagas dengan terus berada disisi pria itu, sekaligus, melancarkan aksi liar dengan menggoda sang mantan suami.

‎Apakah Bagas akan kembali?
‎atau malah keduanya akan semakin lepas kendali?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lady Matcha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4 Bau Pandan

Napas keduanya terengah-engah. Kegelapan menyelimuti, hanya ada sinar rembulan yang samar-samar menyelusup dari setiap bilik jendela besar di gedung tempat mereka berpijak saat ini.

"Ouhh, ahhh, stophhh," rintih Sarah pelan dengan kedua tangan yang terangkat ke atas, terbelenggu akan genggaman kuat dari pria dibelakangnya.

"No! Kamu yang melemparkan tubuh nikmatmu ini terlebih dahulu kepada saya bitch! Enjoy it!"

Persetan dengan wanita asing yang sedari tadi memohon untuk dilepaskan itu, nyatanya Bagas masih belum puas. Baru sekali ia keluar, dan kini keduanya masih di tempat yang sama namun dengan posisi yang berbeda.

Bila di awal Bagas merasa canggung dan bersalah, kini dengan kesadaran penuh ia malah terbuai dan tampak terlena dengan tubuh sintal dari si wanita yang pada awalnya sangat mencurigakan itu.

Sekarang hal tersebut tidaklah penting ketika nafsu telah menguasai keduanya. Bahkan Bagas tanpa tahu malu mengerang nikmat sambil menghentak kuat bukti keperkasaannya di dalam tubuh si wanita.

"Yahh, aku hampir keluar. Yahh terus remat dengan kuat bitch. Enak sekali ouhh enak."

Mendengar pria dibelakangnya itu bersuara cukup keras, Sarah semakin panik. Takut bila ada orang yang datang dan memergoki aksi bejat mereka. Ia harus segera melepas diri, Rania pasti sudah menunggunya. Jika ia terlalu lama disini, bisa gagal rencana mereka.

"Bajingan! Anda hari ini bertunangan bukan? Lalu sekarang malah bersenang-senang dengan wanita lain? Bagaimana jika tunangan anda yang cantik itu tahu?" seru Sarah berusaha menyadarkan Bagas yang sedari tadi tidak mau berhenti juga.

Bagai disiram air dingin, kesadaran Bagas pun muncul ke permukaan. Pikirannya berkecamuk membayangkan raut kecewa dari Farah apabila gadis itu mengetahui bahwa dimalam bahagia mereka--malam persatuan cinta keduanya, ia malah berkhianat dengan menyetubuhi wanita lain.

"Fuck!"

Merasa frustasi, Bagas yang sudah berada di ujung tanduk itu pun mengumpat dan semakin mempercepat gerakannya. Ia mendorong dengan keras dan menarik kuat rambut wanita yang sedang ia gagahi--bagai memacu kuda liar untuk berlari lebih cepat.

Tidak lama dari itu, Bagas pun menghela napas lega. Dirinya telah mengeluarkan semuanya ke dalam tubuh si wanita yang kini tampak kelelahan dan terduduk jatuh dengan posisi yang masih menghadap tembok.

Bagas tidak perduli. Menyadari telah cukup lama menghabiskan waktu, ia pun pergi--meninggalkan wanita yang ia anggap sebagai hiburan sekejap. Langkahnya kini berjalan pasti menuju aula tempat ia menyelenggarakan pertunangan.

Lain halnya dengan Bagas yang menampilkan raut tenang seperti biasa. Sarah disana sudah tampak tidak karuan. Penampilannya acak-acakan, cairan bekas percintaan mengotori seluruh bajunya, dan terlihat pula banyak tanda-tanda merah di leher, payudara, dan bagian paha dalamnya.

"Sial! Aku kira cuma sebentar, karena dia pasti bakalan nolak dan marah. Tapi ternyata doyan juga. Dasar brengsek kamu Mas!"

...****************...

"Duhh, mbak Sarah maring ndi sih? Mana lampunya yo wis pada nyala iki."

Rania yang sebelumnya mendapat tugas untuk mengamankan korban penculikan mereka itu, kini nampak gelisah karena partner in crime-nya itu belum menyusulnya sedari tadi, hingga ia berulang kali mengecek jam yang ada di handphone-nya. Ia hanya berharap tidak ada penjaga yang memeriksa mobil mereka, karena saat ini sang nyonya yang sangat dihormati itu tengah terikat dalam keadaan pingsan di mobil butut mereka.

Beberapa saat Rania disibukkan dengan bermain game di HP, hingga ia tidak sadar bahwa Sarah tengah berlari cepat, kemudian membuka pintu mobil dengan tergesa.

"Ran, ayo cepet!"

Sontak Rania yang mendengar suara disampingnya itu langsung menoleh dan mengernyit heran. Penampilan Sarah tampak kacau, baju pelayannya juga robek dibeberapa bagian. Terlebih lagi ada satu hal yang membuat ia menjadi sangat curiga.

"Mbak? mbak kok bau pandan?"

Sarah yang tadinya sedang merapikan bajunya, kemudian melotot kaget. Berdeham sebentar, ia pun tidak menanggapi pertanyaan Rania lebih jauh.

"Nanti aku jelasin. Ayo cepet jalan aja, tadi aku lihat orang-orang udah panik nyari-nyari si nenek lampir itu."

"Waduhh, oke siap-siap mbak. Gaskeeun."

Mobil mereka pun dengan cepat meninggalkan area parkir. Untung saja tidak ada yang mencurigai mereka. Malam ini keselamatan mereka dipertaruhkan, jadi mereka sangat bersyukur ketika kini mobil mereka telah membelah jalanan yang cukup lengang--perlahan berhasil menjauh dari tempat pertunangan Bagas dan Farah.

...****************...

Butuh waktu sekitar 30 menit untuk sampai di kediaman mereka. Rumah kecil dengan bagian-bagian tembok yang sudah mulai terkelupas itu adalah rumah peninggalan orang tua Rania. Pertemuan Sarah dengan Rania dua tahun lalu merupakan bukti nyata dari adanya kuasa tuhan.

Sarah yang tidak mempunyai tempat berteduh tanpa disangka berjumpa dengan Rania yang hidupnya kesepian. Mereka pun saling membantu, saling mengobati luka yang kian menganga, dan saling menguatkan satu sama lain. Ya,.seperti itulah takdir membawa mereka berdua.

Hingga beberapa bulan yang lalu, Rania tiba-tiba mengejutkan Sarah dengan ide gilanya. Gadis dengan lesung pada kedua pipinya itu mengajaknya untuk menyusun rencana balas dendam kepada keluarga Aryanaka. Lebih tepatnya adalah menuntut hak untuk pewaris sah satu-satunya, yaitu putrinya bersama Bagas--Thalia Aryanaka.

Flashback on

"Gimana mbak? Setuju sama ide-ku?"

"Duhh gimana ya Ran, aku tuh udah gak mau berurusan sama mereka. Aku mau hidup tenang aja membesarkan Thalia dengan sebaik mungkin," jawab Sarah sambil menggaruk-garuk kepalanya.

"Nah itu mbak, itu! Kalo mau membesarkan Thalia dengan baik, yo ambil hak-nya Thalia dong. Dia pewaris harta keluarga Aryanaka loh mbak. Mbak memangnya ikhlas kalo nanti anaknya mantan suami mbak sama adiknya mbak itu hidup mewah, sedangkan Thalia kesusahan, mau makan enak aja harus nunggu gajian mbak tiga bulan? Kasihan mbak, Thalia pasti pengin kayak dulu lagi toh?"

Benar, terkadang Sarah memang mendapati kesedihan di wajah anaknya itu. Apalagi sewaktu pulang sekolah. Thalia yang dulu mampu bersekolah di sekolah swasta nan elit, kini harus pindah ke sekolah negeri yang lebih murah. Bekal makan siang yang dulunya penuh dengan macam-macam makanan enak kesukaan Thalia, kini tidak bisa Sarah sajikan lagi. Setiap harinya hanya ada nasi putih dan telur goreng saja yang bisa ia bawakan untuk sang anak. Miris rasanya.

"Mbak, aku ngerti pasti mbak Sarah ragu kan? takut juga mesti. Tapi iki demi kebaikan Thalia mbak.Jadi ayo kita coba yo mbak?"

Rania tak gentar membujuknnya. Memikirkan kembali rencana dan tujuan yang telah Rania sampaikan, maka Sarah pun akhirnya menyetujui. Mulai dari saat itu, Sarah memberanikan diri. Ia berjanji akan membalas setiap luka dan membawa kembali bahagia untuk putrinya--Thalia.

Flashback off

Sejak tiba dirumah, sang korban penculikan yaitu Suratih Aryanaka masih belum sadar. Entah pingsan atau tidur, karena ia nampak lelap sekali. Rania dan Sarah mau tak mau harus bertindak siaga menjaga tawanan mereka, takut-takut si nenek lampir itu berbuat licik dan kabur.

"Mbak Sarah, mbak mending mandi dulu lah mbak, mambu banget loh iki. Pandannya masih nyengat ihh, lagian yo bisa-bisa e mbak Sarah bau pandan gini?" tanya Rania sambil menutup hidungnya.

"Iya nanti," jawab Sarah pendek.

Rania mendengus, merasa kesal dengan tanggapan Sarah yang sama sekali tidak menjawab pertanyaannya tadi.

"Mbak, jelasin! Udah janji lohh."

Pasrah, Sarah pun bersiap menjelaskan kepada Rania. Semoga saja ia tidak terlalu terkejut dan berakhir marah kepadanya. Namun, belum sempat bersuara, terdengar lenguhan diantara mereka. Rupanya sang tawanan telah terbangun dari tidur panjangnya.

"Uhh, dimana ini? Loh SARAH!?"

Belum usai dengan pertanyaan dirinya yang berada di tempat asing, Suratih kini dikejutkan dengan wajud sang menantu yang sedang berdiri dihadapannya dan menatap tajam kearahnya.

"Betul! Aku Sarah. Menantu kesayangan bunda. Oh maaf maaf, MANTAN MENANTU." ucap Sarah dengan tegas.

Dirinya perlahan menunduk, menatap sinis pada Suratih, mencoba untuk mengintimidasinya. Namun, wanita paruh baya itu malah memalingkan wajahnya, kemudian berkata, "Cuihh, kamu bau sperma Sarah. Dasar Jalang! Untung saja Bagas sudah cerai sama kamu!"

Sarah dengan reflek menyingkir, sedangkan Rania tampak shock mendengar ucapan dari nenek lampir itu.

"Lah mbak, bukan bau pandan?!!"

1
Lady Matcha
Woww
FalconSC99
Gak akan bosan baca cerita ini berkali-kali, bagus banget 👌
Syaifudin Fudin
Gila, endingnya bikin terharu.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!