Zalina dan Riki sama-sama saling mencintai, mereka menyembunyikan dalam diam hingga waktu yang tepat. Ketika akan meminta izin untuk menikah, tiba-tiba Zalina mengetahui sebuah rahasia bahwa ia dan Riki adalah saudara sepersusuan sehingga haram untuk menikah. Dengan berat hati ia melepas cinta pertamanya.
Sementara Riki tak mudah menerima kenyataan itu, ia terus menteror Zalina. Menuduh hanya mempermainkan perasaannya hingga diminta membuktikan dengan kawin lari.
Zalina tetap teguh. Tak ingin menentang Sang Pemilik kehidupan ini. Berbagai cara ia lakukan agar bisa lepas dari Riki, termasuk membuka hati untuk lelaki lain.
Memang tak mudah menemukan pelabuhan hati meski Zalina punya banyak pengagum. Berbagai hambatan ia temui. Lalu pada siapakah hatinya akhirnya berlabuh?
(Dear pembaca, semoga ada hikmah dari cerita ini yang bisa diambil. Jangan lupa like dan komen yaa :)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
30. Ungkapan Hati Sharim
Kini, hanya ada aku, Sharim dan Ayu di teras kosan sebab yang lainnya memilih masuk. Usai meminta maaf dariku.
Aku sengaja menahan Ayu di sini sebab tak ingin berdua-duaan lagi dengan Sharim. Bagaimanapun kami ini bukan mahram, tidak baik jika berlama-lama hanya berdua saja. Lebih mudah dirayu oleh setan.
"Rim, terimakasih ya sudah menolong aku." kataku pada Sharim, setelah Ayu kembali muncul membawakan minuman untuk kami bertiga. "Tapi kamu tak perlu juga mengatakan semua itu untuk membuat mereka diam membicarakan aku."
"Kenapa, kamu tidak nyaman?" tanya Sharim.
"Bukan begitu. Tapi ...." Ahhh, entah bagaimana caranya menjelaskan pada Sharim tanpa memperlihatkan bagaimana perasaanku padanya.
"Maksudnya Zalina itu, kamu kan tahu dia sangat menjaga pergaulan. Kalau mau mengutarakan, apalagi untuk pertama kalinya, harusnya mengatakan langsung pada orang tuanya. Apalagi kamu kenal sama Umi dan abinya. Bukannya pada orang-orang yang mengganggu Zalina." ujar Ayu. Ringan tanpa beban.
"Ayu!" aku langsung melotot. Bersamaan dengan pipi yang rasanya berubah menjadi semu merah. Malu sekali. Meski itu candaan, tapi mampu membuatku salah tingkah seperti disengat listrik.
"InsyaAllah saya akan menemui orang tua Zalina." ungkap Sharim.
"Tidak perlu begitu." kataku. Jujur aku semakin bingung, bagaimana harus bicara pada Sharim. Ini semua hanya bohongan, kan. Lalu kenapa harus dilanjutkan bicara pada Umi dan Abi. Membayangkan kalau Anak-anak kosan tahu kebenarannya saja rasanya sudah rumit, apalagi kalau sampai Sharim memberikan harapan palsu pada Umi dan Abi. padahal jelas-jelas Umi adalah pengagum Sharim. Bisa-bisa Umi sangat patah hati.
"Nah, begitu baru keren, Rim. Jangan mengambil anak gadis orang di persimpangan jalan. Tapi langsung minta pada orang tuanya!" seru Ayu. "Apalagi Zalina bukan gadis sembarang. Bahkan kedua orang tuanya begitu menyayanginya. Kamu tahu sendiri kan."
"Bukan begitu. Aku sangat berterima kasih dengan apa yang sudah kamu lakukan, tapi nggak perlu seperti itu juga. Ahhh sudahlah. Sebaiknya kamu pulang saja Rim sebab Ayu pasti akan berbicara ngelantur. Terimakasih sudah membantuku, maaf jika aku sudah menyusahkan kamu." aku benar-benar tak tahu harus bicara apa selain memainkan ujung jilbab sambil menunduk. Takut juga Ayu semakin lama mencandai tanpa batasan.
"Na, maaf kalau saya sudah membuat kamu tidak nyaman. Saya tidak mau kamu kenapa-napa. Kamu sampai minum obat tidur dan penenang, itu tandanya kondisi kamu sangat terganggu dengan apa yang mereka lakukan. Sebagai dokter dan juga orang yang mengenal kamu, saya tak mungkin membiarkan begitu saja." Tutur Sharim. Akanya saya bicara langsung seperti tadi pada mereka. Saya harap kamu tak berpikir apapun lagi tentang mereka agar kehidupan kamu tidak terganggu."
Lagi-lagi aku hanya bisa merasakan kekecewaan. Ahhh, bagaimana aku bisa berharap lebih. Sharim melakukannya bukan karena peduli padaku, tapi karena rasa kemanusiaan. Orang sebaik dia tak mungkin membiarkan orang lain kesusahan.
Saat Abi mengalami kesulitan ekonomi, ia juga tanpa diminta langsung mengajukan diri, memberikan pinjaman secara cuma-cuma. Padahal sudah banyak lintah darat yang mengintai Abi.
Di kampung kami, yang namanya lintah darat memang begitu menjamur. Mereka selalu mencari kesempatan untuk menghisap darah siapa saja yang bisa mereka hisab. Dan Abi adalah salah satu sasaran empuk mereka. Bisa menguras sisa harta Abi tentu sesuatu hal yang menarik untuk mereka.
"Sekarang aku sudah tidak apa-apa, Rim. Toh kamu juga sudah membungkam mereka. Jadi tak perlu khawatir lagi. Terimakasih banyak!" ucapku, berusaha tersenyum meski bibirku rasanya Kelu. Ahh siapa yang tak kecewa ketika mendapatkan harapan dari seseorang yang kita suka, tetapi ternyata semua hanyalah sebuah harapan kosong.
Aku tak tahu, apakah karena aku terlalu banyak memikirkannya, makanya rasanya begitu kecewa.
"Baiklah kalau begitu. Saya pamit dulu. Ingat Na, kalau ada apa-apa segera beritahu saya." pinta Sharim.
"Tenang saja Rim. Di sini aku yang menjaga Zalina sampai kamu menghalalkannya." cetus Ayu.
"Ayu!" lagi-lagi aku dibuat geram olehnya.
Sharim berpamitan padaku dan Ayu. Lalu berlalu bersama mobilnya meninggalkan kosan kami.
Kini giliran aku bicara pada Ayu. Hari ini sahabatku ini sudah melakukan beberapa kesalahan yang membuatku geram. Sambil tersenyum penuh makna, aku mengajaknya ke kamar agar puas untuk mengadili.
"Duh Zalina. Ada apa lagi?" Ayu bersikap seolah tidak terjadi apa-apa, padahal aku yakin ia tahu kenapa aku memaksanya ke kamar.
"Sudah jangan banyak protes. Ayo ikut aku. Kita harus bicara Yu!" aku kekeh menarinya. "Kenapa kamu tidak memberitahukan kepada aku bahwa ternyata banyak anak-anak di teras kosan? Ada Alisya dan pak Arya juga!" kataku. "Kamu sudah berbohong, Yu! Padahal aku sudah bertanya. Kok kamu tega begitu, sih? Padahal aku merekomendasikan kamu sebagai calon kakak ipar terbaik. Tapi sekarang aku kecewa!" aku pura-pura ngambek.
"Aku nggak bohong. Saat kamu mengirimkan pesan itu, mereka memang belum berkumpul di teras sama sekali. Baru beberapa menit usai aku mengirimkan balasan barulah mereka semua datang.
Sepertinya mereka sedang berpesta. Aku kira pesta mewah. Soal ya mereka semangat sekali sindir menyindir kamu Na, sampai-sampai telingaku saja panas. Ternyata cuma diberi dua kotak martabak, benar-benar menyedihkan mental mereka. Alisya tampak semangat sekali merayakan kemenangannya karena sudah berhasil menghasut teman-teman untuk memfitnah kamu. Dan mereka yang bodoh itu malah ikut-ikutan berteriak mendukungnya. Menyedihkan sekali!
Makanya, sebagai teman yang baik. Aku kira lebih baik untuk menambah kejutan dwnh6an kedatangan kamu dan Sharim. Dan ternyata keputusanku benar, kan. Mereka terkejut. Sanagt terkejut malahan. Yang paling penting kita bisa berhasil membungkam mulut orang-orang tersebut. Iya, kan?" Ayu tersenyum penuh kemenangan. "Aku paling bahagia melihat ekspresi wajah Ayu dan pak Arya. Mereka panik sekali. Hahahah."
"Ya ampun Ayu! Nggak baik bahagia di atas penderitaan orang lain!"
"Alisya itu sudah keterlaluan. Ia berani-beraninya menghasut banyak orang. Makanya aku bahagia sekali ia akhirnya dapat batunya dan semoga ia bertaubat. Kasihan, pengantin baru kok hobinya memfitnah orang lain."
"Lalu kenapa juga kamu menyuruh Sharim untuk menemui Umi dan Abi?"
"Lho, lalu kamu maunya bagaimana? Kamu kan tidak mau pacaran, Na. Atau jangan-jangan kamu sudah melanggar prinsip kamu sendiri. Benar begitu Na?"
"Aku nggak mau pacaran kok!"
"Terus kenapa melarang Sharim untuk datang pada Abi dan Umi?"
Entah harus berkata apa lagi. Aku tak tahu apakah Ayu masih mencandaiku atau ia ingin mengolok. Rasanya benar-benar kebingungan hingga akhirnya ku paksa ia keluar dari kamar.
tetap semangat dan jaga kesehatan Thor .
semoga yang semua baca ini di jauhkan dari namanya iri dengki Aamiin .
hiks terharu aku semoga calon imam masa depan ku seperti sharim yah Thor hehehheheh .
puas saya bacanya
padahal masih banyak yg belum selesau dari cerita2 sebelumnya.
selalu samawa utk za dan sahrim ya thor, urusan umi dan abi biar athor saja yg urus
hhee
10 like mendarat buat kk.
Lanjut up ya.
msmpir jg di bukalah hatimu untukku