Lyra mencoba untuk bertahan meski ia terluka oleh kenyataan pahit yang baru saja ia ketahui setelah 6 bulan lamanya. Suami tercinta tega menduakan cintanya dan bermain api dengan Ibunya sendiri.
Rumah Tangga seumur jagung bagai neraka untuk Lyra. Lantas bagaimana ia harus menghadapi situasi ini?
Baca kisahnya yuk readers...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LaQuin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12. Minggat
Bab 12. Minggat
(POV Author)
Lyra menangis, berlari ke luar rumah dengan sekencang-kencangnya. Ia tidak lagi peduli tatapan orang-orang yang memandangnya dengan tatapan aneh bahkan ada yang mencemooh dirinya.
Hatinya yang hancur berkeping-keping membuat pikirannya kosong dan tak tahu harus berbuat apa. Yang ia tahu ia hanya ingin jauh dari mereka yang menyakiti hatinya. Mencari tempat untuk meluahkan seluruh isi hatinya, yang bisa menghibur luka hatinya.
Bersamaan dengan itu, seakan-akan alam pun tahu kesedihan Lyra. Angin mulai berhembus kencang dengan gemuruh guntur di kejauhan. Dengan perlahan tapi pasti, rintik air mulai menyapa. Dari tetesan kecil menjadi tetesan besar. Namun Lyra tidak peduli, ia terus saja berlari.
Hingga langit kebiruan berganti menjadi gelap. Lyra tidak peduli, ia terus saja melangkahkan kakinya walau mulai terasa berat. Yang mana air hujan atau air mata, semua telah menyatu membasahi wajah putihnya.
Lyra berjongkok sesunggukan memeluk lutut. Bahunya naik turun oleh tangis yang tak kunjung mereda. Tak peduli air hujan telah membasahi sekujur tubuhnya. Bahkan tubuhnya mulai dingin, tapi Lyra tak merasakan apa-apa.
Lyra teringat akan ucapan Mita.
"Kalau terjadi apa-apa, Lo bisa datang kerumah Gue."
Lyra baru teringat ia masih memiliki sahabat yang baik. Ia pun beranjak bangun dan melihat di sekelilingnya.
"Gue dimana?" Gumam Lyra.
Lyra mencari alamat dimana ia berada. Plang dari sebuah toko roti menjelaskan keberadaan Lyra sekarang.
"Jauh banget rumah Mita dari sini. Mana Gue nggak bawa apa-apa." Gumam Lyra mengeluh pasrah.
Pikirannya yang kalut serta di landa patah hati, membuatnya lupa untuk berpikir jernih akan keadaannya sendiri.
Lyra memeluk tubuhnya sambil berjalan dibawah guyuran hujan. Jalan sangat sepi, hanya satu atau dua kendaraan yang melewati jalan itu. Mungkin karena sudah malam dan cuaca dingin karena hujan, orang-orang lebih memilih berada di bawah selimut mereka.
Perlahan Lyra berjalan menelusuri jalan sepi. Ingin meminjam handphone orang lain, untuk numpang memberi kabar ke sahabatnya tapi ia lupa nomornya. Niat itu pun ia urungkan.
Dalam kesedihan hatinya, Lyra me*nd*esah. Mau tidak mau, ia harus berjalan kaki menuju rumah sahabatnya.
Sambil berjalan Lyra tak henti-hentinya berpikir. Bahkan terkadang sesekali ia mengumpat, mencaci maki, dan juga menangis lagi mengingat semua yang telah terjadi.
Kurang lebih 1 jam lamanya Lyra berjalan, dan akhirnya sampai di rumah sahabatnya, Mita. Dari depan pagar rumah itu tampak sepi. Apalagi tidak ada cahaya penerangan satu pun yang memberi tanda ada kehidupan di sana.
Lo dimana Mit.... Hiks.
Lagi-lagi Lyra menangis dalam diam. Sepertinya sahabatnya itu tidak berada di rumahnya. Lyra kembali berjongkok memeluk lututnya. Sesekali ia memijit betisnya yang terasa pegal setelah berjalan jauh.
Kruuukukk...
Perutnya berbunyi tanda lapar. Ia lupa hanya makan bakso siang tadi. Pagi saat ia mencoba untuk meminta uang untuk bukti penemuannya, Lyra tidak menyelesaikan sarapannya karena kecewa akan penolakan permintaannya.
Lemahnya tubuh baru mulai Lyra rasakan. Ia pun kembali berjalan mencoba mencari sesuatu untuk bisa ia dimakan.
Miris kehidupan yang Lyra jalani. Seorang putri dari pengusaha kaya dan ternama pada jamannya, kini hidup terlunta-lunta di jalanan. Menahan lelah dan lapar yang hadir bersamaan. Tanpa berkompromi dengan hati yang sedang remuk redam.
Lyra melihat sebuah warung yang buka di sebelah sana. Ia pun mencoba mendekati warung itu. Warung itu hanya menjual beberapa makan instan serta kebutuhan sembako. Hanya ada biskuit dan snack jajanan anak-anak yang bisa dimakan.
Lihat hanya memandang tanpa berani lebih mendekat lagi. Meski rasa lapar terus bergelut dengan lambung dan usus-ususnya, Lyra masih enggan untuk meminta-minta.
Lyra menghela napas berat.
"Apa Gue harus balik lagi ke rumah itu?" Gumam Lyra.
Namun kata hatinya lebih berat untuk pergi dari rumah malam itu. Iya butuh tempat nyaman dari pemandangan menjijikkan baginya.
Kembali Lyra berjalan di bawah rintik hujan. Tubuhnya mulai menggigil kedinginan. Namun Lyra terpaksa terus melangkah sampai menemukan tempat yang aman menurutnya.
Sebuah cahaya lampu mobil menyoroti Lyra dari belakang. Lyra tidak ambil pusing, wanita itu terus saja berjalan. Meski perlahan berjalan, namun cahaya mobil itu masih saja terus mengikutinya. Kali ini Lyra merasa ketakutan. Ia yakin bahwa sekarang ia sedang di ikuti oleh seseorang di dalam mobil itu.
"Apa mungkin Mita?" Gumam Lyra pada rintik hujan.
Secercah harapan timbul di hati Lyra. Sahabatnya yang berjanji akan menampungnya ia pikir sedang mengikutinya. Lyra menoleh ke belakang dan mobil itu pun berhenti tepat saat Lyra juga menghentikan langkah kakinya.
Seorang pria keluar dari dalam mobil. Walau di sinar oleh lampu mobil, namun Lyra dapat melihat dengan jelas dengan menutupi sedikit area wajahnya dari pijaran lampu.
Lyra merasa tidak mengenal lelaki yang turun dari dalam mobil itu dan berusaha mendekatinya. Ia pun kembali membalikan tubuhnya dan hendak melangkah lagi.
"Tunggu! Jangan terus melangkah, bahaya!" Kata lelaki itu yang memiliki suara mirip Aliando Syarief.
"Jangan dekat-dekat! Lo mau apa ngikutin Gue dari tadi?!" Ancam Lyra meski tubuhnya gemetar antara kedinginan dan ketakutan.
Lelaki itu diam sesaat memandangi Lyra, kemudian ia membuka jaket yang sedang ia gunakan.
"Jangan ke arah sana, bahaya! Ada kumpulan lelaki di depan sana." Ujar lelaki itu.
Lyra menajamkan penglihatannya ke arah yang di maksud. Kira-kira 50an meter ke depan memang terlihat gerombolan lelaki disana.
"Lo mau kemana sih, hujan-hujan gini mana sendirian lagi?" Tanya lelaki itu sambil memasangkan jaketnya ke tubuh Lyra, menutupi bagian bahu ke bawah.
Awalnya Lyra menolak, namun saat ia melihat bajunya bagian depan, baru lah ia sadar. Baju putih berbahan tipis itu sedikit transparan bila tidak tertutup oleh rambutnya yang panjang.
"Terus Lo nggak bahaya?!" Kata Lyra menatap waspada lelaki yang masangkan jaket ke tubuhnya.
"Menurut Lo, Gue bahaya nggak?" Lelaki itu malah bertanya balik kepada Lyra.
Dari bias cahaya lampu mobil, Lyra dapat melihat wajah lelaki yang sepertinya masih keturunan orang Timur Tengah itu. Hidung mancung dengan sedikit jambang itu menghiasi ketampanannya yang tidak mungkin bisa di abaikan.
"Gue antar ya? Lo mau kemana?"
Lyra tidak menjawab. Ia masih mengamati dalam diam. Apakah lelaki itu tulus baik, atau hanya pura-pura semata untuk memanfaatkan dirinya.
"Kita bicara kedalam mobil aja ya, disini basah Gue hujan-hujanan." Kata lelaki itu lagi.
"Lo mau memperkaos Gue?!" Sarkas Lyra dengan sikap siap menyelamatkan diri.
"Astagfirullah, Umii... anak Umi yang ganteng ini di kira penjahat Mi..."
Bersambung....
hempaskn para bunga bangkai itu
maksain diri amiiiittttt
salah sangka..tiwas berbunga hati tryt berbunga bangkai
harus nya selidiki diam diam saat mereka mengira kamu gak curiga klo gini kan mereka waspada dasar. Polos apa goblok. gregeten akunya 😄