Zahra dan Arya dipertemukan saat masih kecil. Mereka berjanji untuk bertemu lagi 13 tahun kemudian. Saat dewasa mereka bertemu dan bekerja bersama, namun mereka tak menyadarinya. Hingga menjelang pertemuan mereka, Zahra harus mengalami kecelakaan demi menolong Arya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fasya Al Hafizh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jaga jarak
Dalam perjalanan menuju kantor, Zahra dan Arya saling diam tidak ada yang berani memulai pembicaraan terlebih dahulu. Setelah kejadian tadi Zahra sangat malu dan canggung. Sampai di parkiran Zahra turun dari mobil langsung menuju lift meninggalkan Arya.
" Za, kok kamu kesini..? Arya sama siapa di rumah..?" tanya Reyhan.
" Dia udah sehat.." jawab Zahra singkat.
Tak lama Arya datang dan langsung masuk keruangannya lalu di susul Rey dari belakang.
" Ehh Boss, udah sehat.."
" Hmmm.." jawab Arya.
" Obat apaan yang bikin lho langsung sembuh hanya beberapa jam saja..?" selidik Reyhan.
" KEPO..." saut Arya.
" Ar, lho udah nggak marah lagi kan sama gue dan Zahra..?" tanya Reyhan serius.
" Terserah kalian mau ngapain aja bukan urusan gue, yang penting kalian kerja profesional.." jawab Arya datar.
" Kalau boleh jujur gue sayang banget sama Zahra..." ucap Reyhan.
Arya diam saja namun tangannya mengepal menahan emosi.
" Beneran Mas Hasan besok udah balik ke Singapure..?" tanya Reyhan.
" Iya..." jawab Arya singkat.
" Ok, gue cerita besok aja kalau gitu..." saut Rey lalu pergi meninggalkan Arya sendiri.
" Apa sih nggak jelas banget, cerita aja nungguin besok..." gumam Arya lalu kembali membuka file di laptopnya.
Jam istirahat tiba, Arya berusaha untuk bersikap biasa saja pada Zahra dan Reyhan. Arya berencana mengajak mereka makan siang di luar, namun Arya tak mendapati Zahra di ruangannya. Kemudian masuk keruangan Reyhan.
" Rey, Zahra nggak disini..?"
" Nggak, emang nggak ada di ruangannya..?" tanya balik Rey.
" Inikan udah jam istirahat, gue kira makan siang sama lho.." jawab Arya.
" Gue baru aja mau keluar..." ucap Reyhan.
"Ya udah kita makan aja di kantin siapa tahu Zahra disana.." ucap Rey lagi.
Mereka berdua turun ke lantai dasar menuju kantin kantor. Disana terlihat Zahra sedang duduk bersama seorang laki - laki. Mereka terlihat sangat akrab. Arya menahan emosinya karena ini tempat umum. Hatinya terasa terbakar melihat Zahra bisa tertawa lepas dengan seorang laki - laki.
Sementara para karyawan heboh melihat Presdir dan asistennya yang terkenal dingin itu memasuki kantin.
Zahra tidak menyadari kedatangan keduanya. Arya dan Reyhang langsung duduk di samping Zahra. Zahra sangat kaget karena kedua atasannya duduk di samping kanan dan kirinya.
" Selamat siang pak.." sapa Dino kaget melihat orang nomor satu Dirgantara Enterprises di hadapannya. Tak lama Sinta datang dan menghampiri mereka. Sintapun kaget melihat pemandangan di hadapannya. Pandangan Sinta jatuh pada Asisten Presdir yang sangat memukau menurutnya.
" Maaf Pak mengganggu.." ucap Sinta lalu menarik lengan Dino yang masih duduk diam disitu.
" Kalian mau kemana..?" tanya Zahra.
" Kami cari meja lain aja.." jawab Sinta.
" Aku ikut.." Zahra ingin beranjak dari duduknya namun bingung mau lewat mana, karena Arya dan Rey diam saja tak bergeming dari tempatnya.
" Pak, boleh saya lewat sebentar.." ucap Zahra.
" Mmmm...." jawab mereka berdua.
Zahra ingin melompat ke belakang namun rok pendek dan jarak mereka duduk terlalu sempit membuat Zahra tak mampu bergerak.
" Maaf mbak, tolong pesenin makanan untuk kami.." ucap Reyhan pada Sinta.
" Baik pak, silahkan tunggu sebentar.." saut Sinta lalu pergi memesan makanan.
" Kamu, siapa namanya..?" tanya Rey menunjuk pada Dino.
" Saya Dino pak, staff magang di bagian keuangan.." jawab Dino.
" Kamu cari meja lain.."
" Baik Pak.."
Sinta datang membawa pesanan mereka, lalu mengambil piringnya sendiri dan mencari meja lain yang masih kosong.
" Kamu mau kemana...?" tanya Reyhan.
" Saya mau cari meja lain pak.."
" Duduk aja disini..." perintah Rey.
Sekarang mereka berempat duduk satu meja. Rey yang tadinya duduk di samping Zahra berpindah ke samping Sinta. Zahrapun mengikuti Rey dan duduk disampingnya sehingga Arya duduk sendiri.
" Apa saya juga harus berputar pindah di samping pak Arya..?" tanya Sinta bingung karena mereka duduk berdesakan bertiga.
" Zahra, ngapain kamu pindah kesini. Balik sana..." ucap Rey.
" Mas Rey aja yang pindah.." jawab Zahra.
" Biar saya yang pergi.." ucap Arya datar lalu pergi meninggalkan kantin sebelum makanannya tersentuh.
" Za, apa yang kamu lakukan. Pak boss marah kan.." ucap Sinta.
" Kenapa nyalahin aku sih, Mas Rey tuh yang pindah - pindah.." elak Zahra.
" Huhh...udah, gue jadi nggak nafsu makan juga.." saut Rey lalu berdiri meninggalkan kedua gadis di sampingnya.
" Za, sepertinya mereka marah. Gimana nasib kita nanti..?" tanya Zahra.
" Nggak tahu, biarin ajalah.." jawab Zahra santai.
Setelah selesai makan, Zahra dan Sinta kembali keruangan kerja mereka karena jam istirahat hampir habis. Namun sebelumnya Zahra sudah memesan makanan lewat online. Setelah pesanan sampai, Zahra masuk keruangan Rey namun orangnya tidak ada. Kemudian mengetuk ruangan Arya, setelah ada sautan dari dalam Zahra langsung masuk.
" Mas Rey, Mas Arya... Zahra bawain makanan. Kalian makan dulu ya..?"
" NGGAK...." jawab keduanya.
Zahra kaget mendengar keduanya menjawab kompak.
" Kalian seperti upin ipin jawabnya kompak..." Zahra tertawa lalu membuka dua porsi makanan yang dibawanya.
" Ayo cepetan di makan, nanti makanannya keburu dingin. Dosa nolak rezeki itu.." ocehan Zahra membuat pertahanan mereka perlahan runtuh.
" Kalau kalian nggak makan dan pingsan disini gimana..? siapa yang repot coba..? emangnya kalian nggak malu kalau seluruh karyawan tahu Boss dan Asistennya pingsan gara - gara kelaparan..." Zahra terus saja mengoceh nggak karuan.
" Ya udah, saya keluar dulu masih banyak kerjaan.." Zahra bicara sendiri seperti orang gila karena Arya dan Rey hanya diam memperhatikan tingkah Zahra yang aneh ngedumel sendiri.
Setelah Zahra keluar Arya dan Rey tertawa terpingkal - pingkal sampai perutnya sakit.
" Ayo Rey makan, sebelum Zahra telfon Ambulance kesini..." Arya masih tak bisa menahan tawanya.
" Siap Boss..." jawab Reyhan.
" Boss, apa kita nggak keterlaluan diemin Zahra kayak gitu.."
" Emangnya dia peduli sama kita, peduli sama lho aja kayaknya.." ujar Arya santai.
" Lho salah menilai Zahra Boss, dia bahkan sangat peduli sama lho..."
" Peduli apaan, bahkan dia nggak mau melihat muka gue..."
" Sepertinya Zahra mulai menjaga jarak sama lho Boss, apa jangan - jangan dia udah punya gebetan baru ya.."
" Bukannya lho sama dia lagi deket..?" tanya Arya.
" Astaghfirullah Boss, jadi lho masih ngira gue dan Zahra pacaran..?"
" Mana gue tahu, lho yang jalanin.."
" Ar, Zahra itu udah gue anggep seperti adek gue sendiri..."
" Maksud lho apa..?"
" Mungkin gue harus cerita sama lho sekarang, tapi lho harus janji tidak akan bertindak apapun. Jangan membesarkan masalah ini lagi. Anggap ini semua sudah selesai.." ucap Reyhan.
" Apaan sih, muter - muter gitu omongan lho. Langsung saja ke intinya..." Arya mulai penasaran.
" Sebenarnya malam itu di rumah lho, gue di kamar Zahra dan memeluknya karena dia sedang menangis..." Rey mulai bercerita.
" Kenapa...?"
" Jangan potong cerita gue, dengerin sampai selesai..."
" Waktu itu Zahra mau turun untuk makan malam, tapi di ruang tamu ada mama dan kak Sania. Mereka berdebat soal keberadaan Zahra di rumah. Kak Sania menganggap Zahra hanya memanfaatkan keluarga kalian. Hanya ingin hidup mewah bersama kalian..."
" Kenapa kak Sania bisa berkata seperti itu..?" tanya Arya.
" Kalau dari yang aku lihat, Kak Sania iri melihat Mama deket dengan Zahra. Kak Sania mulai menghasut Mama supaya Zahra tak masuk dalam keluarga kalian. Zahra mendengar semuanya, aku tak sengaja juga mendengarnya. Zahra menangis dan berlari ke kamarnya. Aku berusaha menenangkannya sampai lho datang dan melihat gue peluk Zahra. Gue sengaja nggak bilang sama lho dan membiarkan semua salah paham ini. Gue nggak mau ada keributan di rumah lho. Gue nggak mau lho lihat Zahra menangis, makanya gue buru - buru ajak Zahra keluar dari rumah lho..."
" Kemana kalian weekend kemarin..?" tanya Arya.
" Lho nggak usah cemburu, gue anter Zahra ke makam orangtuanya di luar kota. Zahra menumpahkan segala kesedihannya disana. Seandainya lho di posisi gue, lho juga nggak akan kuat melihat tangisan gadis malang itu..."
" Kenapa Zahra menjauh dari gue..? apa karena gue marah kemarin..?"
" Bukan itu masalahnya, Zahra hanya ingin kehidupannya kembali seperti dulu. Tidak merepotkan siapapun, hidup mandiri dan tidak terikat dengan masalah keluarga siapapun. Dia hanya menyadari kalau dia tak pantas berada di dalam keluarga Dirgantara..."
" Siapa yang menentukan pantas dan tidaknya seseorang dalam keluarga Dirgantara.."
" Itulah Zahra, dia punya pendirian yang kuat. Walaupun dia sakit, dia akan terlihat bahagia di depan semua orang. Masa lalu membuat dia tumbuh menjadi gadis yang kuat dan mandiri.."
" Gue harus minta maaf pada Zahra soal kesalahpahaman ini.."
" Zahra bukan seorang pendendam tapi dia merasa rendah diri.." ucap Reyhan.
" Aku akan bicara pada Kak Sania..." ucap Arya.
" Kalau menurut aku jangan lakukan itu, jika Zahra tahu masalahnya akan semakin panjang. Dan lho nggak mungkin bisa deket lagi sama Zahra.."
" Lalu, apa yang harus gue lakuin supaya Zahra tak menjaga jarak dari gue..?"
" Gue punya ide..." ucap Reyhan.
" Apa...?"
Reyhan tersenyum lebar memikirkan ide yang bakalan dia jalankan.
.
.
TBC
.
.
Jangan lupa dukungan untuk Author...
Terimakasih untuk para readers yang berkenan membaca karya saya..🙏🙏🙏
.
.
semangat
sukses,mksh