[ Gendre: Fantasy, Petualang, Sci Fi, Petualang, Romance, Slide Life, Mafia, Militery, Fanfic dan Isekai.]
[ #Arc 1: Crazy Deluxe Hotel Dungeon.
Bab 01 - Bab 33.
# Arc 2: Dungeon Master jadi petualang.
Bab 34 - Bab 53.
**
Dungeon adalah penjara bawah tanah yang sangat gelap dan menakutkan juga berbagai monster – monster kuat yang didalamnya.
Tapi, tidak dengan Bagas Wijaya, dia pada awalnya hanyalah seorang pekerja kantoran biasa namun, dia mengalami kecelakan dan jiwa dipanggil oleh seorang Dewi Keharmonisan, Arathena.
Pada saat Bagas bertemu dengan Arathena dirinya di tawarkan untuk bekerja di dunia lain dan Bagas memilih untuk perkerjaan yang santai dan tenang yaitu Dungeon Master.
Tidak hanya itu, Bagas pun mendapatkan bonus poin yang berlimpah hingga dia menciptakan Dungeonnya menjadi sebuah tempat yang nyaman dan mewah dengan berbagai fasilitas didalamnya.
Akan tetapi, permasalahan dan peperangan terus terjadi di dunia tempat yang dihuninya tersebut.
Bagaimanakah cara Bagas untuk mempertahankan hidup mewah dan santainya?
Selamat membaca, guys!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon [ Fx ] Ryz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30. Acara Pelelangan.
Hari pelelangan pun dimulai dan para tamu sudah memenuhi ruangan konser di lantai empat. Kursi sofa yang nyaman dan empuk, pendingin yang sangat bagus dan wangi juga lampu sorot yang bagus. Setelah semua tamu undangan memasuki ruangan. Pintu ruangan tertutup dengan sendirinya dan lampu tamu di matikan tapi sorot kearah ke podium.
Tidak lama kemudian, Rufus maju ke podium untuk memberikan beberapa kata sambutannya. Tapi, pada awal acara Bagas belum hadir dan dia mengunjungi Lily yang sudah mengenakan gaun cantikanya tapi masih di Lantai 40 duduk melamun.
“Aku harap Master Syelle tidak membuat keributan,” gumam pelan Lily.
Dari jarak kejauhan Lily datang Bagas yang menghampirinya.
“Lily, kenapa kamu masih disini?” sapa Bagas.
Lily pun terkejut dan dia pun berdiri menghadap Bagas lalu membungkukan badannya.
“Master seharusnya anda kan di ruangan pelelangan,” ucap Lily yang sudah menegakan badannya.
“Aku gugup karena ini acara pelelangan pertamaku dan disini aku mencari udara,” jawab Bagas.
“Begitu kah,” ucap Lily yang tersenyum tapi menundukan kepalanya.
“Lily, kenapa kamu terlihat pucat?” tanya Bagas.
“Master, Aku sudah melaporkan semua kepada Syelle Master dan aku khawatir, dia akan membuat keributan di dungeon anda,” ucap pelan Lily.
“Tidak apa-apa, kamu percaya kepadaku. Oke!” ucap Bagas.
Lily pun menatap Bagas dan tersenyum disaat mendengar ucapan dari Bagas.
“Iya, Master! Aku percaya kepadamu,” ucap Lily dengan senyuman lebar.
“Hihihi …” tawa kecil Bagas.
“Master, bukankah lebih baik anda pergi ke pelelangan!” seru Lily.
“Iya, seharusnya. Ayo Lily ikut denganku!” seru Bagas.
“Eh! Tapi!” gumam ragu Lily.
Bagas pun tidak mempedulikan respon dari Lily dan dia memegang tangan Lily.
“Alice, antarkan kami ke ruang konser!” seru Bagas.
“Dimengerti!” jawab Alice.
Bagas serta Lily di kelilingi cahaya putih dan menghilang dari lantai 4 dan tiba-tiba muncul di ruangan pelelangan disaat Bagas dan Lily membuka matanya.
“Kita beri tepuk tangan kepada Ketua Rufus!” ucap pembawa acara di podium.
Plok! Plok! Plok!
Suara tepuk tangan mengisi ruangan.
“Dan sekarang, Mari kita sambut tuan rumah pelelangan ini, Master Saga!” ucap pembawa acara.
Plok! Plok!
Sambutan hangat tamu kepada Bagas yang akan naik podium.
“Master, semangat!” ucap Lily yang memberikan tangan semangat.
“Hm,” jawab Bagas yang menganggukan kepalanya.
Bagas pun berjalan menuju podium dan memberikan sepatah dua katanya. Sesudah sambutan itu, acara pelelangan pun dimulai.
Satu demi satu barang di tampilkan dan dilelang hingga tiba barang yang dijual oleh Bagas.
“Para hadirin sekali! Pada hari ini adalah hari yang sangaaatt special karena Master Saga telah menemukan permata yang terindah di dunia yaitu barang ke 45, Rainbowwww Diamond!” seru semangat pembawa acara.
Barang pun dibuka dari tirai dan disana terdapat kotak kaca dengan berlian yang bersinar tujuh warna.
“Wuahh!”
“Itu memang berlian pelangi!”
“Cantik nya!”
Berbagai pembicaraan dari tamu pun terdengar.
“Aku akan memulai buka hargaa 15 juta!” seru pembawa acara.
“16 Juta!”
“18 juta!”
“30 juta!”
“40 juta!”
Bagas yang mendengar tawaran itu membuat dirinya begitu bersemangat dan tersenyum lebar.
“55 Juta!”
“76 juta!”
“ … “
“Ada penawaran lagi?” ucap pembawa acara.
Suasana pun menjadi hening.
Tok! Tok! Tok!
Suara ketukan dari palu pembawa acara.
“Selamat kepada peserta no.38, berhasil memenangkan Rainbow Diamond!” seru pembawa acara.
Plok! Plok! Plok!
suara tepuk tangan mengiringi keberhasilan peserta no.38.
“Selanjutnya juga barang dari Master Bagas!” ucap pembawa acara.
Barang pun di dorong dan ditampilkan depan panggung.
“Pedang Legendaris Orcis, aku akan buka dengan harga 3 juta,” ucap pembawa acara.
“4 juta!”
Penawaran pun terus di lakukan dan berhasil pada harga 8 juta. Beberapa barang selanjutnya pun ditampilkan dengan berbagai menawaran harga pada setiap barang nya.
“Baiklahhh! Sekarang adalah puncak dari pelelangan ini yaitu Generation Ring. Benda ini adalah hasil karya Master Saga sendiri yang memiliki sihir untuk bergenerasi dari luka apapun,” ucap pembawa acara.
Tidak lama kemudian, pembawa acara mengambil pisau dan memotong jarinya.
“Hiyaaa!!
“AA!”
Teriak dari beberapa pengujung yang tidak bisa melihat kejadian itu.
“Baik, sekarang aku akan memakai cincin ini,” ucap pembawa acara.
Pembawa acara itu pun mengambil dan memakaikan cincin ke jarinya. Lalu, muncul cahaya hijau pada tangan pembawa acara lalu menumbuhkan jarinya kembali seperti sedia kala.
“Hoo … keren!”
“Itu nyata!”
Berbagai ucapan kagum saat melihat kekuatan dari cincin generasi.
“Baiklah, para hadirin sekalian. Aku akan membuka harga 50 juta,” ucap pembawa acara.
“55 juta!”
“60 juta!”
Begitu pun selanjutnya hingga mencapai 200 juta, cincin itu terjual.
“Para hadirin sekalian terima kasih kepada anda sekalian yang berpartisipasi dalam acara ini dan sekarang kalian MATTIIILAH!” seru pembawa acara yang tersenyum lebar yang membuat Bagas dan para peserta terkejut.
Seusai mengatakan itu, beberapa tamu berdiri dan memunculkan pedang, tongkat, dan senjata api terutama dibelakang pembawa acara tiba-tiba muncul pria besar dan menodongkan kesepuluh jarinya lalu dari jari-jari terbuka lubang.
“Hiyaaaaaaa!!
Teriak salah satu pelelang yang melihat para pengacau.
Bagas yang juga melihat gerakan itu, dia pun bergegas teriak kepada Alice.
“Alice, Kirimkan para pengacau ini ke dungeon pertahanan!” teriak Bagas kepada Alice.
“Dimengerti!” jawab Alice.
Para pengacau itu pun menodongkan senjatanya tapi mereka menghilang begitu juga pembawa acara dan pria besar dibelakangnya dan mereka pun tersadar sudah berada di dalam gua.
“Ehh … dimana ini?”
“Apa yang terjadi?”
Berbagai ucapan yang mereka katakan saat menyadari bahwa mereka berada di sebuah gua.
Di ruang pelelangan, para tamu juga terkejut saat beberapa tamu menodongkan senjatanya tapi perasaan mereka menjadi lega saat hilangnya para pengacau tersebut.
“Mereka dimana?”
“Apa yang sebenarnya terjadi?”
Berbagai pertanyaan dan perbincangan kecil yang mereka katakan dan perasaan panik yang mereka rasakan.
Disisi ruangan, Rufus menyadari bahwa hilang nya para pengacau itu berkat Bagas yang memerintahkan dungeon nya untuk mengirim mereka semua dalam sekejap.
“Master Bagas, anda kah yang menyelamatkan kami?” tanya Rufus yang melihat Bagas.
Bagas pun hanya tersenyum menjawabnya lalu, dia berjalan kearah podium.
“Master,” gumam Lily yang menatap Bagas.
Bagas membalasnya dengan senyuman dan melanjutkan perjalanannya ke podium.
“Hei, semua tenanglah! Master Bagas akan menjelaskan kepada kita,” ucap keras Rufus yang menenangkan suara panik dari para pelelang.
Disaat para tamu mendengar ucapan dari Rufus membuatnya tenang dan mata mereka tertuju kepada Bagas yang sudah berada diatas panggung.
“Para hadirin sekalian, maaf karena ada kegangguan yang terjadi beberapa saat yang lalu dan kami sudah mengatasinya tapi aku akan menyajikan sebuah video dari para pengacau tersebut. Selamat menyaksikan!” ucap Bagas.
Setelah itu Bagas menoleh kebelakang.
“Alice, tampilkan layar para penyusup dengan ukuran layar besar!” seru Bagas.
“Dimengerti!” jawab Alice.
Setelah itu Alice memunculkan layar udara yang sangat besar dibelakang Bagas dengan penampilan dari para pengacau.
jawab nya 👎
malah jadi ngawur thor ceritanya