Novel ini bercerita tentang Direktur tampan yang ditinggal mati oleh sang istri, Sang istri pergi untuk selamanya, Meninggalkan satu anak yang masih berusia 1 tahun lebih.
Sebelum meninggal sang istri memberikan amanah pada suaminya, Untuk menikahi Baby sister anaknya.
Sebenarnya sang Baby sister juga sudah mempunyai kekasih, Namun karena sebuah amanah akhirnya sang baby sitter terpaksa menikahi suami majikannya.
Ntah akan seperti apa kehidupan mereka kedepannya, Penasaran ikutin yuk ceritanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maisy Asty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
30.Unek-unek Diana.
"Kamu bilang kamu ini suamiku, Tapi apa kamu pernah menganggap aku sebagai istrimu selama ini?" Tanya Diana dengan tatapan serius.
Degg.... Hati Wisnu begitu tersentak mendengar pertanyaan dari Diana.
"Diana....."
"Apa mas?" Sentak Diana membuat Wisnu dengan spontan mencium bibir mungil Diana.
"Emmhh...." Diana meronta-ronta, Tapi Wisnu malah memperdalam ciuman membuat nafas Diana tersengal-sengal.
Dengan kuat Diana mengigit bibir Wisnu agar Wisnu melepaskan ciumannya, Merasakan gigitan dibibirnya Wisnu langsung melepaskan ciumannya dan menatap Diana dengan tatapan kesal.
"Singkirkan tubuhmu dari atasku mas!!" Pinta Diana dengan lantang, Membuat Wisnu semakin menatapnya dengan kesal.
"Apa dia sedang menolakku?" Batin Wisnu tidak terima.
Wisnu bangun dari atas Diana, Diana juga langsung berdiri dan hendak pergi meninggalkan kamar, Tapi dengan cepat Wisnu menarik tangan Diana.
"Aku ini suamimu, Tapi berani sekali kamu berbicara lantang padaku." Wisnu begitu geram tidak terima karena Diana berbicara dengan lantang pada dirinya.
Dengan kesal Diana mengibaskan tangan Wisnu dengan kasar hingga tangan Wisnu melepaskan genggaman tangannya.
"Iya suami yang tidak pernah mengakui istrinya sendiri, Kenapa mas? Apa karena aku hanya amanah dari mendiang istrimu mas? Dan kamu tidak pernah menghargai aku sebagai istrimu, Aku tahu mas kamu tidak pernah mencintaiku apalagi menyukaiku, Aku juga sadar mas aku hanya baby sitter anakmu, Aku hanya gadis yang terpaksa menikahi suami majikanku karena sebuah amanah." Dengan lantang Diana meluapkan semua unek-unek dihatinya.
Betapa geramnya Wisnu, Rasanya ingin sekali men*mpar pipi mulus Diana. Tapi Wisnu mengurungkan niatnya karena Wisnu sadar kekerasan itu tidak baik dalam rumah tangga dan tidak akan menyelesaikan masalah juga.
"Diana.....!!" Teriak Wisnu yang begitu menggema, Membuat Diana gemetaran tapi Diana berusaha tegar dan kuat.
"Aku tidak boleh sampai menangis dihadapan Mas Wisnu, Kamu tidak boleh lemah Diana Putri." Hati Diana terus menguatkan dirinya sendiri.
"Apa mas? Kamu mau bilang aku ini istri yang berani pada suami? Mas aku sabar selama ini hampir 40 hari kematian istri mas, Mas ketus padaku aku sabar, Mas galak dan tidak bisa pernah menghargaiku aku terima mas, Tapi apa balasanmu mas? Kamu tidak pernah mau tahu kesabaranku selama ini, Kamu hanya mementingkan perasaanmu sendiri tapi kamu tidak pernah memikirkan perasaanku sama sekali." Dengan lantang Diana kembali membantah pada sang suami.
"Aku capek mas diginiin terus, Kalau memang kamu tidak bisa menerima pernikahan ini, Aku tidak akan memaksamu, Aku bertahan karena aku memikirkan Hana yang masih butuh kasih sayang dari seorang ibu." Diana terus bicara, Mata Diana sudah berkaca-kaca tapi Diana berusaha kuat karena tidak ingin menangis dihadapan Wisnu.
Wisnu hanya diam dan tidak mengeluarkan sepatah katapun, Diana pergi begitu saja dari hadapan Wisnu menuju ke kamar Hana.
Setelah Diana keluar dari kamarnya, Wisnu menjatuhkan dirinya disamping ranjang tempat tidur, Wisnu terus memegangi kepalanya dengan kedua tangannya.
"Apa aku sudah salah, Apa yang harus aku lakukan? Sungguh hati dan pikiranku keduanya berbeda." Hati Wisnu terus berteriak.
"Anita, Katakan aku harus bagaimana?"
"Anita, Aku tidak tahu sekarang hati dan pikiranku benar-benar kacau."
"Katakan padaku Anita."
Wisnu mengaduhkan semua pada Anita yang sudah tidak ada di dunia ini.
Tiba-tiba bayangan Anita seperti muncul dihadapan Wisnu, Anita memegang tangan suaminya dan berkata pada suaminya.
"Mas, Diana itu gadis yang baik dan begitu sabar jika dirimu sudah mulai ada rasa maka jujurlah pada dirinya mas!"
"Mas, Aku iklhas aku ingin melihatmu bahagia bersama wanita yang aku pilihkan mas."
"Mas yakinkan hatimu jangan pernah menyesal nantinya."
Berbagai ucapan seperti keluar dari mulut Anita, Wisnu tersenyum dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
Wisnus meneteskan air matanya, Melihat bayangan sang istri ada dihadapannya ingin sekali Wisnu memeluknya tapi tiba-tiba bayangan itu hilang dalam seketika.
"Anitaaaaaaa......" Panggil Wisnu dengan lirih.
Wisnu diam sambil melamun, Wisnu benar-benar memikirkan semua ucapan dari Anita yang datang melalui bayangannya.
Dikamar Diana.
Diana duduk ditepi ranjang, Dengan perasaannya yang kacau Diana berusaha kuat dan tegar.
"Kamu harus kuat Diana, Bertahanlah demi Hana dia masih sangat membutuhkanmu." Hati Diana kembali menguatkan dirinya sendiri.
"Mas mas jika aku sudah berani padamu, Tapi aku hanya mengungkapkan apa yang ada dihatiku saja." Diana meminta maaf pada Wisnu padahal Wisnu tidak ada dihadapannya.
Sebagai istri Diana merasa telah berdosa karena berbicara lantang pada laki-laki yang kini sudah menjadi suaminya, Tapi dalam hal ini Diana hanya ingin mempertegas semuanya untuk hubungan rumah tangganya.
Hari semakin larut, Diana merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur dan tertidur begitu saja.
Pagi hari kemudian, Jam menunjukkan pukul setengah 6 pagi Diana sudah bangun dan sudah mandi, Setelah berganti pakaian dan membereskan tempat tidurnya Diana pergi menuju dapur untuk membuat sarapan.
Diana pagi ini memasak nasi goreng ati ampela dan telur ceplok, Setelah semuanya matang Diana menyiapkan semua diatas meja makan.
Mas makan dulu sebelum berangkat kerja, Maaf hari ini aku hanya membuat nasi goreng dan telur ceplok saja, Oh iya susunya jangan lupa diminum ya!
Diana menulis pesan dikertas lembaran kecil dan menaruhnya disamping piring.
"Mas mas, Aku tidak ingin bicara padamu tapi aku juga mengurusmu sebagai suamiku." Batin Diana dan langsung pergi meninggalkan ruang makan, Diana kembali ke kamarnya agar tidak bertemu dengan Wisnu.
Didalam kamar Wisnu.
Wisnu masih sibuk berganti pakaian karena tadi bangunnya kesiangan, Biasanya dia bangun jam 6 tadi dia bangun jam setengah 7 lewat.
"Diana tidak membangunkanku." Keluh Wisnu.
"Baju kerjaku juga tidak disiapkan oleh dirinya, Apa dia sungguh marah padaku?" Pikir Wisnu.
"Diana kamu membuatku kesal." Ucap Wisnu.
Setelah selesai bersiap-siap, Wisnu keluar dari kamarnya dan langsung menuju ruang makan, Wisnu melihat sarapan paginya sudah tertatah rapi diatas meja.
"Dasar aneh tapi dia menyiapkan sarapan untukku, Tapi Diana mana?" Batin Wisnu.
Melihat kertas kecil berisi tulisan Wisnu membacanya, Dan dengan kesal meremas kertas tersebut lalu membuangnya dengan kasar.
"Apa dia sedang main surat-surat, Dia kan punya mulut biasanya juga bicara ini apa-apaan, Apa dia sengaja membuatku kesal?" Hati Wisnu terus meronta-ronta.
Biarpun kesal Wisnu tetap memakan sarapannya sampai habis karena Wisnu tidak mau menyia-nyiakan makanan yang dibuat oleh sang istri.
Setelah selesai sarapan Wisnu langsung berangkat kerja, Wisnu juga membalas pesan Diana dikertas kecil.
Terimakasih sudah menyiapkan sarapan buatku, Aku malam ini lembur kerja jadi kamu tidak usah menungguku pulang!
Setelah menulis pesan Wisnu langsung berangkat ke kantor.
Sesampainya dikantor, Wisnu langsung masuk kedalam ruang kerja dan ternyata Desi sudah menunggu diruangannya.
"Pak Wisnu selamat pag?" Sapa Desi dengan tatapan agak genit.
"Pagi juga Des." Jawab Wisnu singkat.
"Untuk apa dia datang keruanganku pagi-pagi seperti ini?" Batin Wisnu.
"Pak ini aku bawakan sarapan buat bapak." Ucap Desi dengan tatapan yang begitu manis, Membuat Wisnu agak kesal.
"Aku sudah sarapan." Jawab Wisnu dengan jutek.
"Tapi pak, Ini aku khusus masakan buat bapak." Desi terus berusaha membujuk Wisnu.
"Desiiii..."
BERSAMBUNG 🙏
Terimakasih para pembaca setia 😊
Maaf baru up, Authornya sibuk banget karena ada acara keluarga 🙏🙏