Mahardika yang harus menanggung penyakit kusta selama 3 tahun, setelah berobat di berbagai macam caranya, dari obat alternatif, hingga rumah sakit besar, tapi penyakitnya tak kunjung sembuh.
Hingga akhirnya, uang tabungan habis untuk berobat dan hanya tinggal sebidang tanah dan sebuah rumah yang tersisa. Dan itu tidak mungkin ia jual karena hanya itu satu-satunya peninggalan untuk anak dan istrinya.
Hingga akhirnya ia bermimpi ada seorang kakek datang dan memintanya untuk datang ke gunung Merapi jika ia mau sembuh.
Mahardika pun meminta izin dengan istrinya, dan berharap bisa sembuh jika ia berobat dengan kakek tersebut.
Hari berganti bulan, hingga akhirnya dia tahun berlalu. Kini Mahardika sudah sembuh total dan sehat kembali dan mendapatkan wasiat menjadi tabib.
Tapi saat ia pulang, alangkah terkejutnya dia. Karena rumah dan tanah itu sudah terjual, dan lebih sakitnya, anaknya ternyata di titipkan ke panti, sementara istrinya sudah menikah lagi.
Akhirnya ia membangun keh
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon less22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
31
Mendengar kata "dimusnahkan", wajah Amel langsung berubah panik. Ia memeluk erat paha ayahnya. "Jangan! Jangan dirusak bunga Amel! Bunga itu buat sembuhkan orang!"
Mahardika mengusap lembut tangan Amel, lalu ia menatap Inspektur Hery dengan tatapan tajam.
"Dokter Broto mengirim kalian ke sini hanya karena rasa iri dan takut persaingan, bukan? Tanaman ini tumbuh di atas tanah pribadi saya. Saya tidak menjual obat secara komersial, dan saya menolong orang atas dasar kemanusiaan. Atas dasar hukum apa kalian ingin memusnahkan tanaman di pekarangan pribadi?" kata Mahardika penuh penekanan.
"Hukumnya adalah KAMI!" bentak anak buah Hery sambil membentangkan pita segel kuning bertuliskan DILARANG MENDEKAT - DALAM PENGAWASAN DINAS KESEHATAN.
"Cepat pasang segelnya! Ratakan tanaman-tanaman tak jelas ini!" titah Hery kepada anak buahnya.
"Coba saja kalau berani menyentuh selembar daun pun dari tanaman ini," ancam Mahardika dengan suara tinggi.
para bawahan Hery mendekat ke arah Mahardika.
Tapi Aura murni yang sangat kuat tak kasat mata memancar dari tubuh Mahardika, membuat keenam petugas itu mendadak sesak napas dan kaku di tempat.
Langkah kaki mereka terhenti seketika.
"K-kamu mau melawan petugas resmi, Hah?!" teriak Hery gagap, mencoba menutupi rasa takutnya.
Ckiiiiiith!
Tiba-tiba saja sebuah mobil sedan Rolls-Royce hitam berhenti di belakang mobil dinas kesehatan.
Seorang pria bersetelan jas mahal dengan tas dokumen kulit melangkah turun dengan tergesa-gesa, diikuti oleh dua orang pengawal bertubuh tinggi besar.
Pria bersetelan jas itu adalah Pengacara Setyo, kepala tim hukum tertinggi dari Perkasa Group milik Tuan Baskoro.
"Tahan tangan kotor kalian!" teriak Pengacara Setyo.
Inspektur Hery menoleh dengan raut wajah kesal. "Siapa lagi ini?! Jangan menghalangi tugas dinas..."
Suara Hery terhenti seketika saat Pengacara Setyo melemparkan sebuah map dokumen tebal tepat ke dada Hery.
"Buka mata picikmu baik-baik! Saya Setyo, Kepala Tim Hukum Perkasa Group, bertindak atas nama Tuan Baskoro Utama dan Tabib Mahardika!" tegas Pengacara Setyo berdiri di samping Mahardika sambil membungkuk hormat pada Mahardika.
Hery gemetar membuka dokumen tersebut.
"P-Perkasa Group...?!" gumam Hery kaget setengah mati.
Matanya melotot lebar membaca lembar demi lembar surat kepemilikan dan perlindungan hukum di tangannya.
"Tanah ini secara sah terdaftar sebagai kawasan cagar budaya dan riset herbal pribadi atas nama Dik Amel, putri Tabib Mahardika! Seluruh tanaman di sini dilindungi oleh undang-undang riset swasta di bawah naungan Perkasa Group! Jika kalian berani menyegel atau merusak selembar daun saja di sini, detik ini juga saya akan menggugat kalian dan Dokter Broto atas tuduhan penyalahgunaan wewenang, perusakan properti pribadi, dan pemerasan!" jelas Pengacara Setyo tajam.
"M-menggugat Dokter Broto...?" cicit anak buah Hery ketakutan.
Pengacara Setyo maju satu langkah. "Kamu pikir Asosiasi Kedokteran Modern bisa berdiri di atas hukum negara? Tuan Baskoro sudah menyampaikan pesan khusus untuk Dokter Broto: 'Jika Asosiasi Kedokteran berani menyentuh Tabib Mahardika, Perkasa Group akan mencabut seluruh donasi dan fasilitas medis bernilai ratusan miliar untuk asosiasi kalian!'" kata Pengacara setyo menatap Hery dengan pandangan merendahkan.
Deg!
Inspektur Hery terdiam.
"Ra-ratusan miliar...?" ulang Hery memucat .
Ancaman pencabutan donasi ratusan miliar itu sama saja dengan menghancurkan Asosiasi Kedokteran Modern.
Jika Dokter Broto tahu hal ini terjadi karena ulahnya, Broto sendiri yang akan menguliti Hery hidup-hidup!
"Kembalilah dan sampaikan pada Dokter Broto. Pintu pengobatan saya selalu terbuka untuk siapa saja yang membutuhkan. Tapi jika dia terus menggunakan trik-trik kotor seperti ini untuk mengganggu saya dan putri saya... saya tidak akan segan-segan meruntuhkan seluruh kekuasaannya di kota ini," kata Mahardika dingin.
"B-baik! Kami mengerti! Maafkan kami!" jerit Hery ketakutan setengah mati.
Tanpa membuang waktu lagi, Inspektur Hery dan anak buahnya berlari terbirit-birit masuk ke dalam mobil dinas mereka.
Mobil-mobil itu langsung tancap gas meninggalkan desa dengan kecepatan tinggi.
"Horeee! Orang jahatnya kabur! Bunga Amel selamat!" teriak Amel bertepuk tangan gembira.
Pengacara Setyo tersenyum hangat, lalu membungkuk hormat kepada Mahardika.
"Dokter Mahardika, Tuan Baskoro memohon maaf karena tidak bisa datang langsung. Beliau sudah menyiapkan tim pengawal khusus untuk menjaga pekarangan ini dua puluh empat jam jika Dokter berkenan," kata Pengacara Satyo tulus.
"Sampaikan terima kasih saya pada Pak Baskoro. Tapi sampaikan juga padanya, untuk orang-orang seperti Dokter Broto... dia tidak akan berhenti sampai di sini," jawab Mahardika tenang.
"Baik Tabib Mahardika!"