Meloudy Tanuwirama, pemilik tato mencolok yang menutupi seluruh lengan kanan hingga pundak, adalah seorang gitaris metal dan kreator konten dengan 100 juta lebih pelanggan. Di balik kesuksesannya di dunia maya, ia berjuang keras menafkahi sekaligus membiayai pengobatan ibunya yang sakit — menjadi satu-satunya tulang punggung keluarga tanpa ayah. Namun penghasilannya belum cukup menutupi biaya yang terus menumpuk.
Sementara itu, Vano S. Viandra — pemilik perusahaan S Group yang berpengaruh di seluruh Benua Asia, berparas tampan luar biasa namun berhati sedingin es — terkejut luar biasa saat menyadari siapa wanita itu sebenarnya.
"Tato itu… Kau Loudy? Gitaris metal yang punya seratus juta lebih pelanggan? Kau?!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arni Arlinawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18 — Hasrat yang Salah Alamat
Langkah terakhir diambil. Pintu besi berat di ujung tangga didorong terbuka, dan angin malam yang sejuk langsung menyapa wajah mereka. Vano tertegun, terpaku di tempatnya berdiri.
Atap gedung.
Ia tak pernah sekalipun naik ke sini. Tak pernah menyangka bahwa di atas tempat ia bekerja setiap hari, tersembunyi sudut yang begitu damai. Luas, terbuka, diterangi cahaya samar dari lampu kota di kejauhan. Di sudut yang terlindungi, tersusun beberapa peti kayu bekas yang dijadikan tempat duduk sederhana.
"Kau… sering ke sini?" tanyanya akhirnya, suaranya penuh kekaguman bercampur takjub. Ia menoleh ke arah Meloudy yang berdiri di sampingnya, masih tak percaya.
"Di atas gedung kantor ini?"
Meloudy mengangguk pelan, duduk di salah satu peti kayu lalu menepuk tempat di sampingnya.
"Ya, Tuan. Di sini tak ada yang melihat, tak ada yang mendengar. Hanya saya dan langit. Silakan duduk."
Vano melangkah mendekat perlahan, lalu duduk — matanya tak lepas dari pemandangan di hadapannya. Kota tampak berkilauan jauh di bawah, suara keramaian terdengar samar seakan berasal dari dunia lain. Ia menghela napas panjang, dadanya terasa lapang seketika.
"Saya… tak pernah tahu tempat ini ada," akunya pelan, masih tak habis pikir.
"Padahal gedung ini milik saya."
Meloudy tersenyum tipis, mengeluarkan sebatang rokok.
"Banyak hal yang tak terlihat oleh mata yang terlalu sibuk melihat ke bawah, Tuan. Kadang tempat terbaik justru ada di atas."
Ia menyalakan rokok, lalu mengulurkan bungkusan itu.
"Silakan. Di sini, Tuan boleh menjadi diri sendiri. Bukan pemilik gedung ini, bukan sepupu siapa pun. Cukup Vano."
Jemarinya gemetar pelan saat mengambil sebatang rokok. Ia menyalakannya, mengembuskan asap perlahan ke udara dingin. Rasanya sungguh berbeda — duduk di atap gedung miliknya sendiri, di tempat yang tak ia ketahui keberadaannya, ditemani orang yang paling tak ia duga.
"Kau selalu datang ke sini?" tanyanya kembali, matanya menatap wanita di sampingnya dengan pandangan baru.
"Sering," jawab Meloudy, mengembuskan asap tipis.
"Saat lelah, saat rindu, saat merasa tak sanggup lagi… saya naik ke sini. Merokok sebentar, membiarkan pikiran terbang bersama angin. Sampai hati terasa lebih tenang."
Vano terdiam. Ia yang memiliki segalanya, justru tak pernah menemukan ketenangan yang sederhana ini. Sementara wanita di hadapannya, dengan segala keterbatasannya, mampu menciptakan surga kecil di tempat yang tak diperhatikan siapa pun.
"Kau… sungguh luar biasa," gumamnya pelan, tak sadar terucap.
"Saya yang membangun gedung ini, tapi kau yang menemukan jiwanya."
Meloudy tersipu, menunduk sejenak.
"Tempat ini menunggu orang yang mau berhenti sejenak dan melihat ke atas, Tuan. Bukan milik siapa pun. Hanya milik mereka yang butuh tempat bernapas."
Vano mengangguk pelan, kembali menatap langit malam yang luas. Rasa heran itu belum sepenuhnya hilang, digantikan rasa syukur yang mendalam.
"Terima kasih, Meloudy…" ucapnya tulus.
"Kau membawa saya ke tempat yang tak saya ketahui, padahal ada di atas kepala saya sendiri. Dan ternyata… inilah yang selama ini saya cari."
...****************...
Di ruang tamu yang masih riuh, Damian duduk di kursi utama, menyambut kerabat yang datang silih berganti. Senyumnya tak pernah luntur, namun di balik itu, kelelahan mulai terasa menjalar. Ia menoleh ke samping — tempat Ina Marlina tadi berdiri menyambut Vano bersamanya — namun kursi itu kosong.
Ia berdiri perlahan, meminta maaf sejenak kepada kerabat yang sedang berbicara dengannya, lalu berjalan keluar menuju lorong yang sepi. Jantungnya berdebar tak tenang, namun ia tak tahu alasannya. Hanya perasaan samar yang menyuruhnya mencari keberadaan wanita yang akan dinikahinya itu.
Di ujung lorong, ia melihat sosoknya berdiri sendirian — seakan sedang menatap ke arah pintu yang baru saja dilewati Vano.
"Ina…?" panggilnya pelan.
Ina Marlina menoleh seketika, sedikit terkejut, namun senyum manisnya segera kembali terpasang. Ia melangkah mendekat, menyambut uluran tangan Damian.
"Sayang… kau mencari saya?"
Damian menggenggam tangannya, menatapnya lekat-lekat, berusaha mencari sesuatu di balik wajah itu.
"Iya. Kau ke mana? Tadi Vano datang, lalu pergi sendirian… dan kau ikut menghilang." Ia berhenti sejenak, menelan ludah. "Apakah semuanya baik-baik saja? Bagaimana menurutmu tentang Vano?"
Ina tersenyum, menyentuh pipi tunangannya lembut — seakan tak ada yang terjadi di antara mereka sejenak tadi.
"Vano… dia terlihat sangat lelah, Damian. Seperti sedang memikul beban berat sendirian." Ia menghela napas pelan, seakan berbelas kasih, namun matanya menyembunyikan sesuatu yang lain. "Saya mencoba menemaninya, bertanya apa yang terjadi… tapi dia seakan menjauh. Dia pergi tanpa banyak bicara."
Damian mengangguk pelan, rasa bersalah mulai menyelinap di hatinya.
"Sudah saya duga… dia selalu begitu. Selalu menanggung semuanya sendirian." Ia menghela napas panjang, menatap lantai yang berkilauan. "Padahal kami adalah saudara. Seharusnya dia tahu… dia tak perlu kesepian."
Ina mendekatkan tubuhnya, memeluk lengan pria itu, menepuk pelan punggungnya.
"Jangan terlalu cemas, sayang. Mungkin dia memang butuh waktu sendiri. Nanti saya akan mencoba menemuinya lagi… membujuknya agar mau bercerita."
Damian menatapnya, tersenyum tipis — penuh rasa syukur yang tulus.
"Kau begitu baik, Ina. Terima kasih. Sungguh… saya beruntung memilikimu." Ia mencium punggung tangan wanita itu pelan. "Tolong jaga dia, ya? Bagi saya… bagi kita semua."
"Tentu saja," jawab Ina lembut, namun sorot matanya berkilat tajam saat Damian menoleh ke arah lain. "Saya akan menjaganya… sebaik mungkin."
Damian tersenyum lega, lalu mengajaknya kembali ke ruang tamu. Ia tak menyadari bahwa di belakang punggungnya, wanita yang ia percayai itu tersenyum licik — bukan karena ingin melindungi Vano, melainkan karena ia tahu, langkah pertamanya sudah dimulai.
...****************...
Pagi itu, matahari bersinar terang di atas gedung pencakar langit S Viandra Corporation, namun di ruangan kerja Vano, udara terasa berat dan mencekam. Reino berdiri di ambang pintu, ragu-ragu, baru saja mengetuk pelan.
"Maaf, Tuan Vano… Nyonya Ina Marlina ada di depan, beliau menyebutkan nama Anda—"
Belum sempat Vano menjawab, pintu itu didorong terbuka paksa. Ina Marlina melangkah masuk dengan tenang, seakan tempat itu sudah menjadi miliknya. Reino terbelalak, tak menyangka wanita itu berani masuk tanpa izin sama sekali. Ia menoleh ke arah tuannya, matanya membelalak — belum pernah ia melihat seseorang begitu berani menerobos masuk ke ruangan pribadi Vano.
Vano menatap sekretarisnya, suaranya tegas dan tajam.
"Reino. Keluar."
"T-Tuan…?" Reino melirik Ina, lalu kembali ke tuannya, ragu untuk meninggalkannya begitu saja.
"Pergi. Sekarang." Vano menunjuk ke arah lorong, tak memberi ruang untuk membantah.
^^^Bersambung...^^^