Yamada adalah seorang jenius.
Ia mampu memahami hampir segala sesuatu dengan cepat—akademik, olahraga, teknologi, strategi, bahkan berbagai keterampilan yang dianggap sulit oleh orang lain.
Masalahnya hanya satu.
Dia terlalu malas untuk menggunakannya.
Bagi Yamada, hidup yang ideal hanyalah hidup tenang tanpa masalah.
Tidak perlu menjadi nomor satu.
Tidak perlu mendapat perhatian.
Tidak perlu berusaha lebih keras dari yang diperlukan.
Sampai suatu hari, kehidupannya berakhir.
Ketika membuka mata kembali, Yamada mendapati dirinya berada di dunia yang tidak pernah ia kenal.
Lebih aneh lagi, ia tidak terlahir sebagai bayi.
Ia terbangun dalam tubuh seorang anak laki-laki berusia lima belas tahun.
Tubuh itu memiliki kehidupan, keluarga, kenangan, dan sebuah rahasia yang tidak diketahui Yamada.
Kemudian sebuah suara terdengar di kepalanya.
[System Initialization.]
[Host detected.]
[Synchronization rate: 17%.]
[Warning.]
[This body already possesses an owner.]
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ardyan1, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12: Gadis di Kereta (Expanded)
Perjalanan menuju ibu kota Kerajaan Asteria, Kota Asteria, membutuhkan waktu dua hari dengan kereta kuda pos. Bukan kereta kuda biasa yang dipakai petani untuk mengangkut jerami, tapi kereta pos besar yang ditarik oleh dua ekor kuda kokoh jenis Windrunner, dengan gerbong kayu yang tertutup, dengan jendela kaca, dan dengan kursi yang dilapisi kain beludru merah yang sudah agak pudar.
Di dalamnya ada sekitar delapan orang penumpang: pedagang, seorang ibu dengan anak kecil, dua orang kesatria muda yang tampaknya juga menuju akademi, Elena yang duduk di sebelah Yamada, dan Yamada sendiri.
Yamada, sesuai dengan filosofi hidupnya yang sudah bertahan selama dua kehidupan, memilih duduk di sudut paling belakang kereta, di dekat jendela, di tempat yang paling tidak terkena sinar matahari langsung dan paling tidak terlihat oleh orang lain.
Tidur.
Itulah rencananya. Rencana yang sangat sederhana, sangat ideal, dan sangat Yamada. Dua hari perjalanan berarti dua hari waktu tidur yang sah tanpa perlu alasan. Tidak perlu latihan pedang, tidak perlu membaca buku sejarah yang tebal, tidak perlu memikirkan kontrak lima tahun, perempuan rambut putih, atau makam kosong di belakang rumah. Hanya tidur, dengan guncangan kereta sebagai pengantar tidur.
Dia sudah menyiapkan segalanya: mantelnya dilipat menjadi bantal, buku sejarah yang dibawa ibunya sebagai bekal dibiarkan tertutup di pangkuan, dan topi jerami kecil yang dipinjamkan Elena dipakai untuk menutupi wajah agar tidak silau.
Namun rencana yang sudah disusun dengan sangat matang itu, rencana tidur ideal selama dua hari, gagal total bahkan sebelum kereta meninggalkan perbatasan desa.
Seorang gadis duduk di hadapannya. Tepat di bangku seberang, berhadapan langsung dengan Yamada.
Awalnya Yamada tidak menyadarinya karena topi jeraminya menutupi wajah. Dia hanya merasakan ada bayangan yang menutupi cahaya dari jendela depan dan aroma samar... aroma kertas tua dan sedikit aroma bunga lili yang lembut.
Rambut biru keperakan. Bukan biru tua seperti laut, tapi biru pucat keperakan seperti cahaya bulan yang memantul di atas es di puncak gunung. Panjangnya sebahu, dipotong rapi, dengan poni yang jatuh tepat di atas alis. Rambut itu terlihat sangat halus, berkilau terkena cahaya matahari yang masuk dari jendela kereta.
Mata ungu. Bukan ungu tua, tapi ungu muda keabu-abuan, seperti batu ametis yang pudar, tenang, dalam, dan terlihat sangat cerdas. Mata itu tidak melihat ke luar jendela seperti penumpang lain, tapi menatap lurus ke sebuah buku tebal yang ada di pangkuannya.
Wajahnya tenang, sangat tenang, hampir tanpa ekspresi, seperti permukaan danau yang beku di musim dingin. Cantik, tapi bukan cantik yang hangat seperti Elena, melainkan cantik yang dingin, yang membuat orang ragu untuk menyapa.
Dia membawa sebuah buku tebal, sangat tebal, dengan sampul kulit hitam tanpa judul di depannya, hanya ada simbol lingkaran sihir perak di sudutnya. Tebalnya mungkin sekitar 500 halaman, penuh dengan tulisan kecil dan diagram rumit.
Yamada, yang tadinya sudah hampir tertidur di bawah topi jeraminya, melirik dari celah topi, karena sampul buku itu menarik perhatian otak Lazy Genius-nya. Simbol lingkaran sihir di sampul itu... dia mengenal polanya. Pola yang mirip dengan lingkaran sihir yang ada di Hutan Elaria.
Teori Sirkuit Mana Tingkat Lanjut - Analisis Efisiensi dan Konversi Energi - Oleh Archmage Liriel.
Judul itu tercetak kecil di punggung buku, dengan huruf perak.
Yamada tertarik. Bukan tertarik pada gadisnya, tapi tertarik pada bukunya. Karena selama tiga hari terakhir, dia sudah membaca semua buku sihir dasar di rak rumahnya, dan semuanya terasa terlalu sederhana, terlalu boros mana. Dia butuh teori yang lebih efisien, teori yang malas.
Dia mengintip beberapa halaman dari celah topinya, mencoba membaca terbalik dari seberang. Matanya yang malas tiba-tiba fokus, bergerak cepat mengikuti baris-baris persamaan dan diagram sirkuit mana yang rumit, yang bahkan Elena pun tidak akan mengerti.
Gadis berambut biru keperakan itu menyadari ada yang mengintip bukunya. Dia tidak marah, tidak menutup bukunya. Dia hanya mengangkat kepalanya perlahan, mata ungunya menatap langsung ke arah topi jerami yang miring, ke arah mata Yamada yang mengintip dari bawah topi.
"Apakah kau tertarik dengan buku ini?" Tanyanya, dengan suara yang pelan, tenang, dan sangat jelas, seperti suara lonceng kecil di tengah kebisingan roda kereta. Suaranya tidak dingin seperti wajahnya, tapi lembut dan sopan.
Yamada menurunkan topinya sedikit, menunjukkan wajahnya yang masih mengantuk, dengan bekas topi di dahinya.
"Sedikit." Jawabnya jujur. "Aku baru selesai baca yang dasar. Yang ini kelihatannya... lebih rumit."
"Kau bisa membacanya? Buku ini biasanya hanya untuk murid tingkat tiga ke atas di akademi. Banyak istilah kuno." Gadis itu bertanya lagi, tidak meremehkan, hanya penasaran. Karena anak seusia Yamada, 15 tahun, biasanya belum bisa membaca buku setebal itu.
"Ya. Sedikit-sedikit." Jawab Yamada, masih dengan nada malas. "Tubuh ini... eh, aku sudah belajar bahasa kuno sedikit."
Gadis itu terdiam sejenak, menatap Yamada dengan tatapan yang sedikit berubah, tatapan penasaran yang lebih dalam, lalu tanpa ragu, dia menutup bukunya dan memberikannya kepada Yamada, mengulurkannya dengan kedua tangan.
"Kau mau mencoba membacanya? Aku sudah selesai membacanya dua kali. Kau boleh lihat."
Yamada terkejut dengan kebaikan tiba-tiba itu. Dia ragu sejenak, lalu mengambil buku tebal itu dengan kedua tangan. Buku itu berat, lebih berat dari pedang kayunya.
Dia membuka halaman secara acak, di tengah-tengah buku, di bab tentang Sirkuit Konversi Elemen Api Tingkat Menengah.
Dia membaca beberapa halaman, dengan cepat, matanya bergerak seperti memindai, bukan membaca kata per kata. Elena yang duduk di sebelahnya sampai melirik dengan bingung, karena Yamada yang biasanya malas membaca lebih dari 10 menit, kini membaca buku setebal itu dengan serius.
Kemudian, setelah sekitar lima menit, Yamada mengerutkan kening, dan berkata dengan pelan, hampir seperti bergumam pada dirinya sendiri, tapi cukup keras untuk didengar gadis di depannya,
"Teorinya salah."
Dua kata itu membuat suasana di sudut kereta yang tadinya tenang menjadi sedikit tegang.
Gadis berambut biru keperakan itu terdiam. Mata ungunya yang tenang sedikit melebar, tidak marah, tapi terkejut.
"Maaf?" Katanya, dengan nada yang masih tenang, tapi ada sedikit penekanan.
"Persamaan sirkuitnya." Yamada menunjuk halaman 247, halaman dengan diagram lingkaran sihir api yang rumit, dengan puluhan simbol yang saling terhubung. Jarinya menunjuk pada bagian tengah diagram, bagian yang disebut sebagai Core Conversion Node. "Bagian ini, jalur distribusi mana dari inti ke pinggiran, terlalu banyak menggunakan mana untuk stabilisasi. Dia membuat tiga jalur pengaman, padahal satu jalur dengan sudut 35 derajat sudah cukup untuk menstabilkan getaran mana. Tiga jalur itu boros, membuang sekitar 40% mana hanya untuk pengaman yang berlebihan."
Gadis itu menatap halaman yang ditunjuk Yamada, lalu menatap Yamada, dengan ekspresi yang tidak bisa diartikan.
"Mustahil. Teori ini ditulis oleh Archmage Liriel, penyihir terhebat di kerajaan 50 tahun lalu. Teorinya sudah dipakai di semua akademi selama 30 tahun. Tidak mungkin salah." Jawabnya, tapi suaranya tidak defensif, lebih seperti... menguji.
"Kalau begitu Archmage Liriel ini orang yang sangat tidak efisien. Atau sangat takut mati sampai membuat tiga kunci pengaman untuk satu pintu." Jawab Yamada, dengan logika malasnya yang khas. "Coba lihat. Kalau kau mengubah jalur ini..."
Dia mengambil pensil arang kecil yang selalu dibawa Elena untuk mencatat, dan dengan izin, dia mencoret-coret sedikit di atas kertas kosong yang diselipkan di buku itu sebagai pembatas— dia tidak berani mencoret buku aslinya.
Dia menggambar ulang diagram sirkuit itu dengan cepat, dengan tangan yang lincah. Dia menghapus dua jalur pengaman, mengubah sudut jalur utama dari 90 derajat menjadi 35 derajat, dan menambahkan satu simbol kecil, simbol penghubung yang dia pelajari dari buku dasar.
"...kalau kau mengubah jalur ini seperti ini, dan memindahkan simpul stabilisasi ke sini, bukan di sini... efisiensi konversi mana ke api meningkat sekitar tiga puluh persen, mungkin tiga puluh lima persen kalau mananya murni. Dan mana yang dibutuhkan untuk menyalakannya berkurang setengah. Lebih hemat, lebih cepat, lebih tidak merepotkan."
Gadis berambut biru keperakan itu melihat coretan perhitungan dan diagram baru Yamada. Awalnya dengan tatapan tenang, lalu alisnya yang tipis sedikit terangkat, lalu matanya yang ungu membesar perlahan, pupilnya mengecil karena fokus.
Dia mengambil kertas coretan itu, mendekatkannya ke wajahnya, membaca persamaan kecil yang ditulis Yamada di samping diagram, persamaan yang menggunakan logika matematika sederhana tapi sangat efisien, logika yang tidak diajarkan di buku mana pun.
Matanya yang ungu yang tadinya tenang seperti danau beku, kini beriak, seperti ada batu yang dilempar ke dalamnya. Binar kagum yang tidak bisa disembunyikan.
"Kau... kau siapa?" Tanyanya, dengan suara yang untuk pertama kalinya kehilangan ketenangan dinginnya, digantikan oleh rasa penasaran yang membara. "Bagaimana kau bisa melihat kesalahan yang bahkan guru-guru di Akademi tidak bisa lihat selama 30 tahun?"
"Yamada." Jawab Yamada singkat, mengembalikan buku tebal itu kepadanya. "Hanya Yamada. Anak desa yang kebetulan suka cari jalan pintas biar tidak capek."
"Yamada..." Gadis itu mengulang nama itu pelan, seolah-olah mencoba mengingat, mencoba mencocokkan dengan daftar murid baru. Lalu dia tersenyum. Senyum pertama yang Yamada lihat darinya, senyum yang mengubah wajah dinginnya menjadi hangat seperti matahari musim semi yang mencairkan es.
"Aku Aria. Aria Luvellia. Calon murid baru juga, seperti kau. Salam kenal, Yamada yang suka cari jalan pintas."
[Character detected. Important Character.]
[Name: Aria Luvellia.]
[Origin: Unknown - Hidden by high-level barrier.]
[Threat level: Unknown - System cannot calculate. Barrier level exceeds system authority.]
[Recommendation: Observe, do not engage aggressively.]
Jendela sistem muncul di depan Yamada, dengan warna ungu, warna yang sama seperti saat Hidden Quest Return to Elaria muncul.
Yamada mengerutkan kening, menatap jendela itu dari sudut mata, tanpa terlihat oleh Aria.
Sistem kembali menyembunyikan sesuatu. Lagi-lagi Unknown. Lagi-lagi barrier. Sama seperti Requiem Flower, sama seperti monster bermahkota, sama seperti perempuan rambut putih.
Menarik. Gumamnya di dalam hati, sambil menatap Aria yang kini membuka bukunya lagi dan mulai menyalin diagram baru Yamada ke dalam bukunya dengan teliti, dengan wajah yang serius.
Gadis di depannya ini, dengan rambut biru keperakan dan mata ungu, yang terlihat tenang dan rapuh, ternyata adalah sesuatu yang bahkan sistem Level 100 pun tidak bisa menganalisis. Sama seperti dirinya.
Perjalanan dua hari yang tadinya dia kira akan membosankan dan hanya diisi tidur, tiba-tiba menjadi sedikit lebih menarik. Dan sedikit lebih merepotkan.
Elena yang duduk di sebelahnya menyikut lengan Yamada pelan, dengan bisikan, "Yamada, kau baru saja mengoreksi buku Archmage Liriel di depan putri bangsawan. Kau tahu dia siapa? Dia dari keluarga Luvellia!"
Yamada hanya menarik kembali topi jeraminya untuk menutupi wajah, kembali ke posisi tidur idealnya, dan berbisik balik, "Tidak tahu. Dan aku malas tahu. Biarkan aku tidur. Besok kita akan repot lagi di akademi."
Tapi di balik topi jerami itu, matanya tidak tertidur. Dia menatap sistem yang masih menampilkan [Threat level: Unknown] untuk Aria, dan berpikir,
Satu lagi Unknown. Dunia ini penuh dengan Unknown yang tidak bisa dijelaskan dengan malas.