“Affan, aku ingin nafkah batin.”
“Kalau kamu menginginkannya, aku bisa mencarikan pekerjaan untukmu sebagai PSK. Dengan begitu, kamu bisa mendapatkan apa yang kamu mau.”
Hulya Anindita tidak pernah membayangkan pernikahan yang seharusnya menjadi awal kebahagiaan justru berubah menjadi neraka. Menikah dengan Affandy Frazendra tanpa pernah bertemu sebelumnya membuat Hulya harus menjalani rumah tangga dengan seorang pria yang bahkan tidak pernah menganggapnya sebagai istri.
Kebencian Affandy tidak berhenti pada sikap dingin dan pengabaian. Hulya harus menerima penghinaan, kekerasan, bahkan perlakuan kejam yang perlahan menghancurkan dirinya. Ironisnya, pernikahan itu justru terjadi atas keinginan Affandy sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mardzan J., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berubah Lagi
Setelah beberapa hari berada di Kalimantan, Hulya dan Affandy akhirnya bersiap kembali ke Jakarta. Mereka sudah berada di bandara untuk menunggu penerbangan. Kedua orang tua mereka tidak mengantar sampai ke bandara. Hanya Hulya dan Affandy yang pergi.
Sebenarnya, Hulya belum siap meninggalkan kedua orang tuanya. Bukan karena masih ingin tinggal bersama mereka, melainkan karena dia takut tidak bisa lagi mengendalikan keadaan ketika sudah kembali ke Jakarta, terutama menghadapi Affandy.
Saat menunggu instruksi dari petugas, genggaman tangan Affandy tidak pernah terlepas dari tangan Hulya. Sementara itu, Hulya duduk di sampingnya sambil menyandarkan kepala di punggung pria tersebut.
"Hulya ... Kalau aku ajak kamu liburan, mau nggak?"
"Liburan ke mana?"
"Ke luar negeri. Kamu udah pernah?"
"Belum pernah. Papa sering pergi ke luar negeri karena urusan pekerjaan, tapi aku nggak pernah ikut."
"Kalau begitu, nanti kita pergi ke luar negeri bareng. Liburan."
"Kamu serius?" tanya Hulya.
"Seriuslah."
"Terus Tiffany?"
"Kamu mau Tiffany ikut?"
Plak!
Hulya memukul lengan Affandy. "Nggak!"
"Diiih, dia yang nanya, dia sendiri yang marah."
Hulya memejamkan mata. Dia merasa nyaman ketika berada dekat dengan pria itu.
"Affan."
"Mas!"
"Oh, iya. Maaf," ucap Hulya. "Emmm ... Nanti kalau di rumah, Mas jangan pukul aku lagi, ya."
"Tergantung. Kalau kamu membuat aku kesal."
"Tapi kan aku selalu nurut sama Mas. Aku mencoba menjadi istri yang baik. Tapi..."
"Kamu bukan istriku," potong Affandy. "Sekarang aku mau mencoba berdamai. Aku nggak akan menerima kamu sebagai istriku. Tapi kamu bisa menganggap aku sebagai temanmu."
"Teman?" Hulya mengulang.
"Teman! Bukan sahabat!"
"Kamu kenapa sih? Kamu bilang aku bukan istrimu, tapi kamu sudah mengambil hakmu sebagai suami."
"Ya ... Terus kamu mau aku jajan di luar?" tanya Affandy santai.
Hulya memperbaiki posisi duduknya. Keduanya saling menatap. "Aku mau kamu berubah, Affan. Aku istrimu. Kalau pun kamu tetap berhubungan dengan Tiffany, silakan. Asalkan kamu mau menganggap aku sebagai istrimu."
"Kamu mau membuat keributan di sini?" Nada suara Affandy sedikit meninggi.
Hulya terdiam.
"Kamu tenang saja. Aku akan melepaskan kamu kalau waktunya sudah tiba."
"Melepaskan? Maksud kamu?"
"Aku akan menceraikan kamu dan menikah dengan Tiffany."
"Kamu tau, Allah nggak suka dengan orang yang bercerai."
"Nggak usah bawa-bawa Tuhan."
"Aku mohon ... Tinggalkan Tiffany."
"Aku nggak mau. Permintaan kamu itu nggak akan pernah terjadi."
"Aku udah memberikan apa yang kamu mau, Affan. Kenapa kamu susah sekali membuka hati untukku?"
"Aku mengakui kalau aku udah melanggar janjiku. Tapi jangan harap aku akan luluh karena kamu."
Hulya mengembuskan napas panjang.
"Baiklah ... Kalau begitu, kamu nggak perlu meminta hakmu lagi."
"Maksud kamu?" tanya Affandy.
"Kamu jangan sentuh aku lagi. Aku nggak akan—"
Cup!
Mata Hulya membulat ketika Affandy tiba-tiba mengecup bibirnya di depan umum. Dengan cepat, Hulya mendorong tubuh pria itu.
"Kamu sadar nggak? Ini tempat umum."
"Kenapa kalau tempat umum?"
"Itu sama saja kamu mempermalukan aku."
"Ngapain malu? Kamu kan istri—" ucapan Affandy terhenti."Kita kan sudah halal."
"Kenapa kamu nggak teruskan kalimat yang tadi?"
"Kamu bukan istriku. Aku nggak akan pernah mengakuinya. Mengerti!"
[] [] []
Setelah beberapa jam perjalanan, Hulya dan Affandy akhirnya tiba di rumah mereka di Jakarta. Keduanya merasa lelah dan ingin segera beristirahat.
Namun, sedikit demi sedikit, Affandy mulai melakukan kewajibannya sebagai seorang suami. Seperti kali ini, dia yang membawa barang-barang mereka, termasuk barang-barang milik Hulya.
Hulya merasa senang melihat perhatian kecil yang mulai diberikan Affandy kepadanya.
"Andy!"
Senyum di wajah Hulya seketika menghilang ketika melihat seorang wanita sudah berada di rumah mereka.
"Tiffany."
Affandy segera menghampiri wanita itu dan langsung memeluknya.
"Sayang ... Aku kangen."
"Kangen? Tapi malah pergi sama dia."
"Maafin aku, ya. Aku nggak bermaksud mengabaikan kamu. Tapi foto yang kamu kirim kemarin, aku nggak suka," ucap Affandy.
"Kamu sendiri yang mulai, Andy. Aku menunggu kamu, tapi ternyata kamu malah pergi bersama wanita itu."
"Mas ... Affan," lirih Hulya.
Affandy tersadar. Dia segera melepaskan pelukannya dari Tiffany.
"Ayo, masuk."
Belum sempat Affandy mengatakan apa-apa, Tiffany justru menghampiri Hulya. Dalam hitungan detik, wanita itu mendorong Hulya.
"Aw!"
Kepala Hulya terbentur pintu.
"Tiffany! Kamu nggak boleh begitu."
Affandy segera membantu Hulya berdiri.
"Lho ... Kok kamu marah?"
"Aku nggak suka ada yang menyakiti Hulya. Cuma aku yang boleh memukul dia."
"Kamu udah cinta sama dia, ya?"
"Enggak, Fany. Cuma kamu wanita yang aku sayang. Dia hanya benalu dalam hidupku."
Air mata Hulya menetes mendengar ucapan Affandy.
"Terus kenapa kamu khawatir sama dia?"
"Bukan begitu, Sayang..." Affandy menggenggam tangan Tiffany. "Aku cuma nggak mau kamu mengotori tangan cantik ini."
Hulya berusaha berdiri tegak. Baru saja dia merasakan sedikit kebahagiaan karena Affandy menunjukkan perhatian kepadanya, tetapi pria itu kembali bersikap seperti biasanya.
"Aku mau kita keluar."
"Aku baru sampai, Sayang. Aku masih capek."
"Ya sudah ... Kamu memang udah nggak menginginkan aku lagi."
"Oke. Kita pergi!"
"Mas Affan," lirih Hulya.
"Aku mau pergi. Kamu bereskan sendiri barang-barang ini."
Affandy menggenggam tangan Tiffany. Mereka pun pergi tanpa memedulikan Hulya yang masih berdiri di sana.
Hulya mengembuskan napas panjang. Hatinya terasa sakit melihat suaminya pergi bersama wanita lain.
[] [] []
Affandy dan Tiffany pergi ke sebuah tempat. Pria itu ingin menebus kesalahannya karena sudah mengabaikan ulang tahun kekasihnya.
Mereka merayakan ulang tahun Tiffany di sebuah kafe mewah. Karena semuanya dilakukan secara mendadak, Affandy hanya membawa Tiffany ke kafe tersebut tanpa persiapan apa pun.
"Maafin aku, ya, Sayang. Aku nggak bermaksud mengabaikan ulang tahun kamu."
"Terus selama ini kamu ke mana? Liburan?"
"Enggak. Aku dipaksa Mami buat mengantarkan Hulya ke Kalimantan."
"Berarti kamu sama dia di Kalimantan?"
"Iya."
"Aku pernah menelepon kamu, tapi yang menjawab dia."
"Hah? Masa sih?" Affandy berpura-pura tidak tahu. Dia hanya ingin menyembunyikan kesalahannya.
"Iya. Katanya kalian sedang berduaan. Jangan-jangan kamu sama dia—"
"Apa?" tanya Affandy.
"Kamu nggak ingkar janji, kan, Andy?"
"Janji apa, Sayang?"
"Kamu bilang nggak akan menyentuh dia. Aku nggak yakin selama kalian berada di rumah mertuamu."
"Ssst ... Aku nggak akan menyentuh dia, Tiffany. Kamu pegang janjiku itu."
"Janji, ya?"
"Iya, Sayang."
Tiffany kemudian mengambil ponselnya dan memperlihatkan sebuah foto kepada Affandy.
"Ini siapa? Kamu mau main-main lagi?"
"Kamu cemburu?" tanya Tiffany.
"Cemburu, lah. Aku kan pacar kamu."
Tiffany tertawa kecil.
"Dia itu sepupuku. Aku sengaja meminta pelukan sama dia. Aku memang sengaja membuat kamu marah."
"Sepupu? Kok aku baru tau kamu punya sepupu?"
"Aku kan nggak pernah cerita."
"Kamu bohong, ya," ujar Affandy.
"Kalau aku bohong, aku nggak mungkin berani mengirim foto itu kepada kamu."
Affandy berpikir sejenak. Ucapan Tiffany terdengar masuk akal. Akhirnya, dia percaya begitu saja kepada kekasihnya.
Mereka terus berbincang setelah beberapa hari tidak bertemu. Affandy sama sekali tidak memikirkan Hulya. Baginya, saat itu dia sudah kembali bersama wanita yang dicintainya.