Clarissa Pratama, istri lemah dari Dominic sang pewaris klan elit, selalu menjadi korban fitnah kejam Helena yang mengincar posisinya. Namun, setelah insiden fatal yang hampir merenggut nyawanya, tubuh Clarissa tidak lagi sama. Jiwa Ratu Victoria, seorang penguasa tangguh dari masa lalu, terbangun di dalam dirinya. Bagi Victoria, intrik domestik klan Pratama hanyalah permainan amatir. Dengan kecerdasan tajam dan wibawa mutlak, Clarissa yang baru mulai membalikkan keadaan. Ia mematahkan setiap perangkap Helena secara elegan, membuat Dominic terpikat sekaligus curiga. Sang Ratu telah kembali, siap mempertahankan mahkotanya dan menghancurkan siapa pun yang berani mengusik ketenangannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja_Puan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 30. Taruhan Nyawa
Sisa Ledakan dan Air Mata Sang Ratu
Hujan badai di Dermaga Sektor Tiga perlahan surut menjadi gerimis tipis.
Jasad Tulus terkulai kaku di atas lantai besi yang basah setelah belati baja hitam Clarissa menembus dadanya. Namun, keheningan yang menyelimuti area pelabuhan itu tidak memancarkan rasa aman—melainkan firasat buruk yang teramat pekat.
Clarissa menarik belatinya keluar, merapikan gaun hitamnya dengan keanggunan seorang penguasa. Di sampingnya, Dominic berdiri tegap, siap mengawal sang istri meninggalkan lokasi eksekusi.
Tiba-tiba...
BEEP! BEEP! BEEP!
Suara ketukan digital berfrekuensi tinggi mendadak berbunyi dari balik jas bersimbah darah milik Tulus.
Dominic seketika menegang. Dengas refleks cepat, pria itu mencabut jas Tulus menggunakan ujung senjatanya. Di balik pemicu itu, melekat sebuah bom waktu militer berdaya ledak tinggi yang terpasang langsung di rompi taktis Tulus.
Angka merah di layar digital itu berkedip gila: 01:58... 01:57...
Deg!
Tulus sejak awal hanyalah umpan hidup! Konsorsium Hitam tidak pernah berniat membiarkan Tulus selamat, begitu pula siapa pun yang berusaha mengeksekusinya. Seluruh penyerangan malam ini dirancang sebagai jebakan mematikan untuk memancing Clarissa dan Dominic ke dalam zona pemusnahan total.
"Cepat keluar! Ini jebakan!" teriak Dominic kencang.
Tanpa membuang waktu satu detik pun, Dominic meraih pinggang Clarissa, merangkul tubuh ramping itu dan membawanya berlari secepat kilat menembus koridor kontainer besi.
Angka di layar bom menyusut drastis. 00:10... 00:05... 00:01!
BOOOOOOMMMM!
Ledakan dahsyat memekakkan telinga meletus dari dalam kontainer utama. Gelombang panas bercampur serpihan besi dan api raksasa menyambar ke udara, meruntuhkan struktur bangunan dermaga serta tumpukan kontainer setinggi belasan meter.
Di tengah gulungan api yang mengejar langkah mereka, Dominic memutar posisi tubuhnya secara drastis. Pria itu menarik Clarissa ke dalam pelukan protektifnya, menjadikan tubuh tegapnya sendiri sebagai perisai manusia penuh untuk melindungi istrinya.
BRUK! KRAK!
Reruntuhan balok besi dan beton pelabuhan jatuh menimpa punggung serta bahu Dominic dengan hantaman yang sangat keras.
Pria itu menggeram kencang, menahan beban seberat ratusan kilo yang menghempaskan mereka berdua ke lantai semen yang basah.
Dunia seolah berhenti berputar.
Ketika asap tebal dan debu runtuhan perlahan terkuak, Clarissa yang berada rapat di bawah dekapan Dominic perlahan membuka matanya.
Tubuhnya benar-benar utuh tanpa goresan berarti akibat ledakan tersebut. Namun saat ia mendongak, matanya yang berwarna keemasan membelalak lebar.
Dominic bersimbah darah. Luka robek besar menganga di bahu dan punggungnya akibat tertimpa balok besi panas. Darah segar mengalir deras dari pelipis dan bibir pria itu, membasahi wajah mewahnya.
"D-Dominic..." suara Clarissa tercekik di tenggorokan. Wanita yang biasanya begitu dingin dan tak tersentuh sebagai Ratu Victoria itu mendadak gemetar hebat.
Dominic yang sudah di ambang batas kesadarannya, perlahan membuka matanya yang sayu. Dengan sisa tenaga terakhir, jemari tegapnya yang bersimbah darah terangkat mengusap pipi mulus Clarissa dengan sangat lembut.
Sebuah senyuman tipis—senyuman yang teramat tulus dan penuh kasih sayang—terukir di bibir Dominic yang pucat.
"Syukurlah... kau selamat, Clarissa..." bisik Dominic sangat pelan, hampir tak terdengar di tengah desis api.
Detik berikutnya, jemari tegap Dominic terkulai lemas menimpa tanah. Matanya terpejam rapat, dan tubuhnya ambruk sepenuhnya di atas pelukan Clarissa.
Seketika, pertahanan emosi Clarissa yang selama bertahun-tahun berdiri kokoh bagaikan benteng es, hancur berkeping-keping.
Pertama kalinya dalam hidupnya, cairan hangat menetes dari pelupuk mata keemasannya, membasahi wajah Dominic yang tak sadarkan diri.
"DOMINIC!"
Jeritan histeris Clarissa pecah membelah malam, menggemakan rasa sakit, cinta, dan kemurkaan murni yang siap meratakan siapa pun yang bertanggung jawab atas darah suaminya.
disini memainkan strategi dan taktik
dan setiap chap pasti ada semua kalimat tsb🤦🏻♀️🤦🏻♀️🤦🏻♀️🤦🏻♀️
bisa di kurangi kah kalimat tsb???