Xiao Lin seorang pemuda murid pelayan di sebuah sekte di bagian timur kekaisaran Angin Surgawi. terkenal sebagai sampah dan selalu di bully oleh murid lain.
Hingga suatu hari saat ia melihat teman nya hampir terbunuh. tiba tiba ia kalap mata dan membunuh murid luar tersebut. namun ia tak menyadari hal apa yang sudah terjadi.
nasib apakah yang di tanggung Xiao Lin di sekte setelah pembunuhan terjadi? mampu kah ia keluar dari masalah itu?
saksikan perjalan hidup Xiao Lin untuk menjadi kuat. membantai setiap musuh yang menghalangi jalan kultivasi nya. hanya di sini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tawaki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
30: Jian Chen Vs Lei Hu
BOOM!
Lei Hu melesat maju seperti kilat ungu yang menyambar. Lantai batu gua di bawah kakinya hancur berkeping-keping akibat daya dorong Qi petir yang meledak-ledak. Dengan raungan gila, dia mengayunkan kapak raksasanya dari atas kepala, membelah udara lembap hingga memancarkan gelombang listrik yang menghanguskan lumut di dinding gua.
Jian Chen tidak berkedip. Tepat saat mata kapak berjarak satu meter dari dahinya, jubah biru tuanya berkibar. Tubuhnya bergeser seringan helai bulu, mengalirkan teknik gerakan Langkah Pedang Mengalir.
CRIING!
Bilah pedang tipis milik Jian Chen bergesekan dengan sisi kapak Lei Hu, memercikkan bunga api yang menyilaukan. Dengan sentuhan halus, Jian Chen membelokkan arah hantaman kapak raksasa itu hingga menghantam lantai batu kosong di sampingnya.
BLAAM!
Lantai gua berlubang sedalam setengah meter. Namun, sebelum Lei Hu sempat menarik kembali senjatanya, Jian Chen sudah memutar pergelangan tangannya. Pedang tipis peraknya bergerak secepat patukan ular, mengarah lurus ke tenggorokan Lei Hu.
"Trik murahan!" raung Lei Hu. Dia tidak mundur, melainkan meledakkan lapisan pelindung Qi petir di sekujur tubuhnya—Armor Guntur Surgawi.
TING!
Ujung pedang Jian Chen menghantam leher Lei Hu, namun tertahan oleh lapisan listrik ungu yang sangat padat. Benturan itu menghasilkan dengungan frekuensi tinggi yang membuat telinga tiga murid Kuil Guntur di belakang meraba-raba kepala mereka karena kesakitan.
"Hahaha! Pedang cungkil gigimu itu tidak akan bisa menembus pertahananku, Jian Chen!" Lei Hu tertawa liar. Dia memutar tubuh kekarnya, menggunakan gagang kapak untuk menyodok perut Jian Chen.
Jian Chen mendengus dingin. Dia melompat mundur ke udara, membalikkan badannya dengan anggun, dan mendarat lima meter di seberang Lei Hu. Ujung pedangnya kini menunjuk ke tanah, namun aura di sekelilingnya mendadak berubah menjadi sangat tajam.
Di sudut kubah gua, Xiao Lin mengamati setiap pergerakan mereka tanpa berkedip.
"Lihatlah, bocah," suara Sang Iblis merayap di benak Xiao Lin, kali ini dengan nada menganalisis. "Si jambul merah itu menyatukan elemen petir dengan pertahanan fisiknya. Itu membuatnya sekeras batu meteor fana. Namun, si anak pedang berbaju biru belum mengeluarkan niat pedangnya yang sebenarnya. Dia sedang mengukur ritme pernapasan lawannya."
‘Niat pedang sejati?’ batin Xiao Lin penasaran.
Di tengah medan laga, Jian Chen menarik napas dalam-dalam. Sesaat kemudian, udara di sekeliling pedang tipisnya mendadak membeku. Butiran es tipis mulai terbentuk di udara kosong, runtuh menjadi serpihan berkilau.
"Jurus Pedang Sembilan Aliran Langit... Aliran Kelima: Badai Es Mematikan!"
Jian Chen melangkah maju. Berbeda dengan teknik dasar sembilan ilusi yang pernah dipelajari Xiao Lin di kitab sekte, di tangan seorang ahli tingkat 6 puncak seperti Jian Chen, jurus ini tidak menciptakan bayangan palsu. Sebaliknya, pedangnya bergerak begitu cepat hingga menciptakan badai tebasan nyata berlapis energi es yang menusuk tulang.
WUSH-WUSH-WUSH!
Ratusan tebasan cahaya perak melesat maju, mengunci seluruh ruang pelarian Lei Hu.
Merasakan ancaman maut dari dinginnya niat pedang Jian Chen, wajah Lei Hu berubah serius. Dia menancapkan kapak raksasanya ke tanah, menggunakan kedua tangan untuk memegangnya, dan meremas Dantiannya hingga tetes terakhir.
"Roda Guntur Pemusnah Bumi!"
Pusaran listrik ungu raksasa meledak dari kapak Lei Hu, membentuk perisai berputar yang menyapu ke depan untuk menyambut badai es Jian Chen.
BOOM! BOOM! BOOM!
Ledakan demi ledakan energi petir dan es meledak bersahutan di dalam kubah gua. Dinding-dinding batu berguncang hebat, menjatuhkan stalaktit-stalaktit tajam dari langit-langit gua. Gelombang kejutnya begitu kuat hingga membuat tiga murid Kuil Guntur dan dua murid yang terluka harus terlempar mundur untuk berlindung.
Di tengah badai energi yang berkecamuk, dua sosok tingkat 6 puncak itu melesat saling menerjang, membelah ledakan mereka sendiri. Kapak dan pedang kembali beradu dalam jarak dekat dengan kecepatan yang tidak bisa diikuti oleh mata fana biasa.
Setiap hantaman menghasilkan riak energi yang mengerikan. Pertarungan berdarah demi harga diri sekte ini telah mencapai titik didihnya!
bossss
🐉🐉🐉🐉💪💪💪💪
wuss
🐉🐉🐉🐉🐉🐉🐉🐉
👻👻👻👻👻👻
jedug
🐉🐉🐉🐉🐉
🐉🐉🐉🐉🐉
fgjkitrcv
🐉
🐉🐉
🐉🐉🐉
uh
kejam
kejam
7
🐉🐉🐉
pitu
bantai
🐉🐉🐉🐉
🐉🐉🐉🐉🐉🐉🐉🐉
wolu
🐉👻🐉👻🐉
10
🐉
11
hukum Konoha
👻👻🐉🐉
9
🐉👻
8
🐉
12
🐉