NovelToon NovelToon
Rahasia Dua Tubuh

Rahasia Dua Tubuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Rachmat Rachimullah

Bagaimana rasanya terbangun di pagi hari dan mendapati dirimu memiliki dua kehidupan yang sepenuhnya berbeda?
Selama ini, hidup 'Bara' adalah sebuah komedi pahit. Bertubuh gemuk, pendek, dan selalu dilingkupi rasa tidak percaya diri, ia menjadi sosok tak kasat mata yang selalu diremehkan di lingkungan sosialnya. "Aku ini siapa?" menjadi pertanyaan retoris yang terus menghantui hari-harinya di kamar yang berantakan.
Namun, takdir memainkan lelucon yang teramat gila.

Tanpa ada penjelasan ilmiah maupun magis, Bara mendadak terbangun dengan dua tubuh yang terhubung pada satu jiwa yang sama.

Saat tubuh aslinya tertidur, kesadarannya berpindah ke tubuh seorang pria lain: sosok yang sempurna, tinggi, tampan, atletis, dan berbalut setelan jas mewah dengan latar belakang gemerlap kota metropolitan. Di satu sisi, ia adalah pria malang yang terpinggirkan; di sisi lain, ia adalah pangeran sempurna yang dipuja semua orang.

"ketika takdir memberikan mu dua tubuh, mana yg akan kamu pilih?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rachmat Rachimullah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mata yang Terbangun

Hal pertama yang didengar Bara bukanlah suara sirene. Bukan pula teriakan orang-orang. Melainkan keheningan.

Sunyi yang begitu pekat hingga ia bisa mendengar napasnya sendiri. Perlahan kelopak matanya terbuka. Pandangannya masih buram.

Lampu merah yang tadi terus berputar kini telah berhenti. Cahaya redup dari beberapa lampu darurat membuat gudang itu tampak jauh lebih menyeramkan daripada sebelumnya.

Bara mengerjapkan mata beberapa kali. Kepalanya terasa berat. Seolah baru saja bangun dari tidur yang sangat panjang.

"Apa..."

"...yang terjadi?"

Ia menundukkan kepala. Kedua tangannya gemetar pelan. Tidak terasa sakit justru terlalu ringan.

Seolah seluruh rasa lelah yang tadi menghimpit tubuhnya mendadak menghilang.

"Bara!" Suara Galang terdengar dari samping.

Begitu Bara menoleh, ia melihat Galang berlari menghampirinya dengan napas memburu.

Wajah pria itu dipenuhi campuran lega... dan takut.

"Kau sadar?"

Bara mengangguk pelan. "Iya..."

"Kenapa?"

Galang tidak langsung menjawab. Tatapannya justru menelusuri wajah Bara seolah sedang memastikan sesuatu.

"Kau..."

"...benar-benar tidak ingat?"

Bara mengernyit. "Ingat apa?"

Galang menarik napas panjang lalu menunjuk ke depan. "Kalau begitu..."

"...lihat sendiri."

Bara mengikuti arah telunjuknya tubuhnya langsung membeku.

Johan tergeletak beberapa meter di depan mereka masih bernapas namun tidak sadarkan diri.

Di sekelilingnya, beberapa petugas keamanan juga tampak tersungkur sebagian masih mencoba bangkit sambil memegangi tubuh mereka.Sebagian lagi memilih menjauh tatapan mereka penuh ketakutan.

Bara menggeleng pelan. "Tidak..."

"...ini tidak mungkin."

Ia benar-benar tidak mengingat apa pun. Ingatan terakhirnya hanyalah ruang putih.

Sosok yang memiliki wajah sama dengannya.

Dan sepasang mata hitam pekat.

"Itu..." gumam Bara.

"Setelah itu..."

"...kosong."

Galang menatap Bara beberapa detik. "Aku pikir kau sedang bercanda."

"Aku sendiri tidak tahu apa yang terjadi." jawab Bara

Galang mengusap wajahnya pelan. "Aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri."

"Apa?"

"Matamu."

Bara spontan menyentuh wajahnya. "Mataku kenapa?"

"Berubah." saut Galang singkat

Kalimat itu membuat udara di sekitar mereka terasa semakin dingin.

"Berubah?"

Galang mengangguk pelan. "Hitam."

"Seluruhnya." "Tidak ada bagian putih sama sekali."

Bara tertawa kecil. "Itu tidak mungkin."

"Aku juga berharap begitu."

"Tapi aku melihatnya."

Galang menatap Bara dengan sangat serius.

"Bahkan..."

"...aku sempat mengira orang yang berdiri di depanku bukan lagi dirimu."

Suara langkah kaki mendadak terdengar dari ujung lorong. Beberapa petugas keamanan yang masih sanggup berdiri mulai berkumpul.

"Dia sudah sadar!"

"Jangan biarkan mereka kabur!"

Galang langsung menarik lengan Bara. "Pembicaraan nanti."

"Kita pergi sekarang."

Bara masih sempat menoleh ke arah Johan. Pria itu tetap tidak bergerak. Untuk pertama kalinya. Bara merasa takut pada dirinya sendiri. Takut pada bagian ingatan yang hilang. Takut pada sesuatu yang bersembunyi di dalam tubuh barunya.

Mereka berlari melewati lorong belakang gudang. Gadis streamer yang tadi mereka selamatkan terus mengikuti dari belakang. Tangannya masih gemetar. Namun kini ada secercah harapan di wajahnya. Begitu keluar dari pintu darurat, udara malam langsung menyambut mereka.

"Arah sini." Galang menunjuk sebuah gang sempit.

Mereka berlari tanpa menoleh lagi. Suara sirene perlahan menghilang di belakang.

Sesekali terdengar suara kendaraan yang melintas di jalan raya. Tak lama kemudian mereka tiba di sebuah bangunan tua yang sudah lama tidak ditempati.

Galang mendorong pintunya. Ruangan itu dipenuhi debu. Namun cukup aman untuk bersembunyi sementara.

"Boleh istirahat sebentar." ucap Galang.

Bara langsung duduk bersandar ke dinding. Pikirannya masih kacau. Gadis streamer itu menatap mereka bergantian.

"Terima kasih..." ucapnya lirih.

Bara tersenyum tipis. "Kamu sudah aman."

Gadis itu menggeleng. "Belum."

"Maksudmu?"

"Mereka..." gadis itu sempat diam sejenak kemudian melanjutkan perkataannya

"...tidak akan berhenti mencariku."

Suasana kembali hening.

Galang akhirnya bertanya pelan. "Namamu siapa?"

"Alya."

"Sudah berapa lama di sana?"

Alya menunduk. "Hampir satu tahun."

Bara dan Galang saling berpandangan.

"Satu tahun?"

Alya mengangguk. "Aku dijanjikan menjadi artis."

"Tapi..."

"...semuanya bohong."

Ia mulai menceritakan bagaimana dirinya direkrut melalui media sosial. Awalnya hanya diminta melakukan siaran biasa. Lalu perlahan dipaksa mengikuti arahan. Semakin terkenal. Semakin sulit keluar.

"Kalau menolak..."

"Mereka mengancam keluargaku."

Bara mengepalkan tangan. Sekarang ia semakin yakin. Paprika TV hanyalah pintu masuk. Masih ada bisnis lain yang jauh lebih besar di baliknya.

Beberapa menit kemudian. Galang duduk di samping Bara.

"Kita harus bicara."

Bara mengangguk. "Aku juga."

Galang menatap wajah Bara. "Apa yang kau lihat sebelum pingsan?"

Bara menceritakan semuanya. Ruang putih. Suasana sunyi. Sosok yang wajahnya sangat mirip dengannya. Dan mata hitam pekat.

Galang mendengarkan tanpa memotong sedikit pun. Setelah Bara selesai bercerita. Galang terlihat semakin bingung.

"Aneh."

"Apa?"

"Aku pernah mendengar cerita seperti itu."

Bara langsung menoleh. "Dari siapa?"

Galang menggeleng. "Aku lupa."

"Hanya potongan pembicaraan."

"Waktu masih sering ikut rapat Four Men Crew."

Bara memperhatikan perubahan ekspresi Galang.

"Jangan bilang..."

Galang mengangguk perlahan. "Aku pernah mendengar Dani menyebut..." "...Black Eye."

Jantung Bara seolah berhenti berdetak sesaat.

"Black Eye?" tanya bara

"Itu saja yang kudengar. Tidak ada penjelasan. Hanya dua kata."

"Dan setelah itu..."

"...semua orang langsung diam."

Bara menatap lantai cukup lama. Berarti seseorang memang mengetahui tentang kekuatan itu. Bahkan jauh sebelum dirinya.

Di tempat yang berbeda. Sebuah ruangan luas dengan pencahayaan redup.

Gerald duduk sendirian sambil memperhatikan layar monitor. Rekaman dari gudang diputar berulang-ulang.

Namun.. Ada bagian yang membuatnya tersenyum.

Saat Bara mulai kehilangan kesadaran. Seluruh kamera mendadak mengalami gangguan selama hampir dua puluh detik.

Layar hanya menampilkan semut hitam. Begitu gambar kembali normal. Johan sudah tergeletak.

Gerald menghentikan rekaman ia tersenyum tipis.

"Luar biasa..." gumamnya.

"Jadi benar..."

"...dia sudah bangun."

Tak lama kemudian Dani dan Danu masuk ke ruangan.

"Kami gagal menangkap Bara." lapor Dani.

Gerald menggeleng pelan. "Aku memang tidak menyuruh kalian menangkapnya."

Danu terlihat heran. "Lalu?"

Gerald berdiri. Ia berjalan mendekati jendela besar yang menghadap lampu-lampu Kota Surabaya.

"Selama bertahun-tahun..."

"...aku mencari wadah yang tepat."

"Dan malam ini..."

"...akhirnya aku menemukannya."

Dani dan Danu saling berpandangan. Mereka tidak memahami maksud ucapan itu sementara Gerald hanya terus memandang ke arah kota.

Tatapannya perlahan berubah menjadi senyum penuh keyakinan.

"Permainan sesungguhnya..."

"...baru saja dimulai."

1
Ilham Rachmatullah
ahaha pika pikaa🤣
Jian Fitriana
jangan lama’ thor update nya 🤭
rey
semangat thor 🔥🔥
RR
halo teman-teman sekalian. tolong bantu berikan ulasan yaa agar saya lebih semangat untuk memberikan tulisan-tulisan terbaik. jangan lupa like nya terimakasih
rey: semangat thor 🔥🔥🔥
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!