Sejak kecil, Ice Meng selalu menjadi orang yang berkorban untuk keluarganya. Membayar utang judi ayahnya, membantu biaya pernikahan kakaknya, hingga menanggung kuliah adiknya.
Di tengah hidup yang penuh tekanan, ia hanya memiliki sebuah kalung berinisial HW, hadiah dari pria asing yang pernah ia selamatkan beberapa bulan lalu.
Tidak lama kemudian Ice menyadari kalung itu bukan benda biasa.
Orang-orang yang ingin menyakitinya mendadak mundur saat melihatnya.
Dan seorang pria bernama Howard Wang perlahan kembali hadir dalam hidupnya.
Saat Ice mulai jatuh hati, ia menemukan fakta mengejutkan.
Kalung HW yang selama ini ia kenakan ternyata bukan sekadar hadiah ucapan terima kasih, melainkan simbol yang membuat banyak orang ketakutan.
Lalu... siapakah sebenarnya Howard Wang?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon linda huang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17
Ice terus membolak-balik dokumen lama yang ia temukan.
“Mereka memang tidak pernah mengadopsiku secara resmi?”
Ice membaca dokumen itu dengan teliti.
Di sana tertulis bahwa dirinya pernah memiliki orang tua angkat yang berbeda, sebuah pasangan yang telah mengurus proses adopsinya dari panti asuhan.
Namun bagian akhir dokumen terlihat tidak lengkap.
Beberapa halaman hilang.
“Kenapa dokumen ini bisa ada di rumah mereka?”
Ice semakin bingung.
Ia kembali mencari di dalam koper tua itu.
Tiba-tiba sebuah foto kecil jatuh dari sela-sela map.
Ice mengambilnya.
Dalam foto itu terlihat seorang bayi kecil yang digendong oleh seorang wanita muda.
Di belakang foto terdapat tulisan tangan.
“Snow, semoga kau menemukan keluarga yang bahagia."
Jantung Ice berdetak semakin cepat.
“Siapa wanita ini? Apa jangan-jangan dia adalah ibu kandungku atau ibu angkat!"
Selain sebuah pesan juga terlihat sebuah alamat lama.
Ice menggenggam foto itu erat.
“Aku harus mencari tahu di mana alamat ini,” gumam Ice sambil memperhatikan tulisan di bagian belakang foto.
Ia menggenggam foto itu erat.
***
Di sisi lain.
Howard berada di sebuah ruangan yang remang-remang.
Ia duduk tenang di sofa sambil menghisap rokok. Mengenakan setelan hitam, membuat aura dinginnya semakin terasa.
Kalung HW yang mirip dengan milik Ice terlihat tergantung di lehernya.
Namun ada perbedaan di antara keduanya.
Logo HW milik Howard berbentuk bulat, sementara milik Ice berbentuk persegi.
Di sekelilingnya, beberapa anak buah berdiri tegap tanpa mengeluarkan suara.
“Bos, informasi mengatakan Danny Lu yang mendekati Nona Meng adalah salah satu pemimpin gangster wilayah Utara. Sepertinya dia sengaja mendekati Nona Meng demi Anda,” lapor Mark.
“Sudah kuduga dia mencurigakan,” jawab Howard dingin.
“Ice tidak tahu apa pun tentang dunia ini, tapi Danny sudah mengetahui di mana letak kelemahanku.”
“Benar. Mungkin dia sudah mengawasi pergerakan kita sejak lama,” ujar Mark.
Howard tersenyum sinis.
“Menggunakan seorang gadis untuk mengancamku? Danny Lu memang tidak berbeda dengan seorang pengecut.”
Mark terdiam sejenak sebelum kembali berbicara.
“Ada satu hal lagi, Bos.”
“Rahasia yang tersimpan di dalam kalung milik Nona Meng... bukankah lebih baik kita mengambilnya kembali demi keselamatannya?”
Howard menatap kalung HW yang ada di lehernya.
“Apakah kau tahu kenapa aku menyimpan rahasia itu di dalam kalung tersebut?” tanya Howard.
Mark menggeleng.
“Saya tidak tahu, Bos.”
“Tidak ada yang berani menyentuhnya ketika dia mengenakan kalung itu,” jawab Howard tenang.
“Sedangkan rahasia yang tersembunyi di dalamnya, tidak akan ada yang mengetahuinya. Kalung itu didesain dengan sangat rapi dan teliti. Bahkan jika suatu hari kalung itu hilang, tetap akan ditemukan kembali.”
“Benar, Bos,” jawab Mark.
"Rahasia sepenting itu... Bos rela memberikannya kepada seorang gadis. Ini membuktikan posisi gadis itu memang sangat penting bagi Bos," batin Mark.
Tiba-tiba seseorang melangkah masuk ke dalam ruangan.
“Bos, Tuan Huang ingin bertemu dengan Anda,” lapor anak buahnya.
Mark mengerutkan kening.
“Tuan Huang tiba-tiba datang? Apakah terjadi sesuatu?”
Howard bangkit dari sofa tanpa menjawab. Ia berjalan keluar dari ruangan.
Mereka menuruni tangga menuju lantai bawah.
Rumah itu sangat mewah, lebih mirip sebuah istana daripada kediaman biasa.
Lampu kristal besar tergantung di langit-langit, lantai marmer mengilap, dan setiap sudut dipenuhi penjaga yang berdiri tegap.
Mulai dari lantai atas hingga lantai dasar, anak buah Howard berjaga tanpa lengah.
Tidak lama kemudian, Howard tiba di ruang utama.
Di sana seorang pria tua sudah duduk menunggunya sambil memegang secangkir teh.
Pria itu perlahan mengangkat kepalanya ketika melihat Howard datang.
“Howard, belakangan ini apa yang sedang kau sibukkan? Sangat jarang melihatmu,” tanya Elvis Huang.
“Paman,” sapa Howard sambil tersenyum tipis, lalu duduk di sofa.
“Lima tahun setelah kau pensiun, tidak ada yang berubah. Semua anak buahmu masih setia kepadamu dan pengaruhmu masih sangat kuat,” ujar Elvis.
Ia menghela napas pelan.
“Sedangkan diriku semakin hari semakin tua. Walaupun memiliki segalanya, tetap saja ada sesuatu yang terasa kurang.”
“Paman, carilah kehidupan sendiri dan nikmatilah,” jawab Howard.
Elvis tersenyum pahit.
“Istriku dan putriku menghilang tidak tahu ke mana. Sampai sekarang tidak ada petunjuk sama sekali.”
Tatapannya terlihat sedih.
“Istriku pergi begitu saja tanpa meninggalkan kabar. Aku bahkan tidak tahu apakah dia masih hidup atau tidak.”
“Paman, kalau ada sedikit petunjuk saja, akan lebih mudah untuk mencarinya. Seperti foto bibi dan putri paman,” kata Howard.
“Sebelumnya aku memang berencana menyebarkan foto istriku dan Snow. Tapi yang aku pikirkan adalah... jika musuhku melihat foto itu, aku takut mereka akan menggunakan istri dan anakku untuk mengancamku.”
Howard terdiam.
Elvis menatapnya.
“Howard, andaikan saat itu kami tidak terkena masalah, sekarang kau dan Snow pasti sudah menikah. Perjanjian itu dibuat olehku dan ayahmu. Siapa sangka kalian berdua tidak berjodoh.”
Ia tersenyum kecil.
“Aku kurang beruntung karena tidak bisa menjadikanmu sebagai menantuku. Padahal setelah aku pensiun, aku sudah berencana menyerahkan posisiku kepadamu.”
“Jangan bicara seperti itu, Paman. Sebelum ada kabar tentang Bibi dan Snow bukan berarti mereka sudah tidak ada. Kita hanya belum menemukan mereka.”
Howard menatap Elvis.
“Kalau boleh, apakah aku bisa melihat foto Bibi?”
Elvis membuka dompetnya dan mengeluarkan sebuah foto lama, lalu menyerahkannya kepada Howard.
Terlihat seorang wanita muda sedang menggendong seorang bayi perempuan.
“Saat itu Snow baru berusia dua tahun, tapi dia harus hidup tanpa aku di sisinya,” ungkap Elvis dengan suara berat.
“Selama ini aku selalu bermimpi melihat dirinya yang sudah dewasa dan hidup penuh kesulitan. Tapi wajahnya tidak pernah terlihat jelas sama sekali.”
Elvis menunduk.
“Aku tidak tahu apakah mimpi itu sebuah petunjuk atau hanya karena aku terlalu merindukannya. Tapi setiap kali memikirkan mimpi itu, hatiku terasa sangat sakit.”
Howard melihat foto itu dengan tenang.
“Paman, mungkin saja Snow diadopsi oleh seseorang. Itu sebabnya kita membutuhkan waktu lama untuk menemukannya.”
“Maaf, Howard,” ujar Elvis.
“Saat itu aku dan ayahmu sudah membuat perjanjian. Jika istriku melahirkan anak perempuan, maka aku akan menikahkan putriku denganmu. Kami menjodohkan kalian bahkan sebelum putriku lahir.”
Howard terdiam sejenak.
“Paman, tidak masalah. Semua itu sudah berlalu. Aku juga berharap Bibi dan Snow bisa segera kembali dan bersatu denganmu. Mengenai pertunangan itu, anggap saja hanya sebuah perjanjian dari masa lalu.”
Elvis menatap Howard.
“Apakah kau sudah memiliki seseorang yang kau sukai?”
Howard terdiam.
Sosok Ice langsung muncul di pikirannya.
Gadis yang selalu bertahan meski hidup tidak pernah memberinya kemudahan.
Howard kemudian menyembunyikan pikirannya dan menjawab dengan tenang.
“Benar.”
Elvis sedikit terkejut.
“Siapa wanita itu?”
Howard tersenyum tipis.
“Dia seseorang yang berbeda dunia denganku. Masih membutuhkan waktu untuk membuatnya benar-benar berada di sisiku.”
dan kenapa ice yg jadi tulang punggung. apa ice bukan anak kandung nya