"Dulu Ku tulis takdirmu untuk menderita, sekarang malah..aku yang harus bertarung nyawa merubah takdir itu." Ling Xie seorang penulis novel kolosal, tidak sengaja terjebak ke dalam cerita novelnya sendiri. Ia terbangun ke dalam cerita nya sendiri. Ia terkejut mendapati dirinya terbangun dari tidur, dan masuk ke dalam tubuh putri Jin Ling Xie. Seorang protagonis, yang ia ciptakan untuk hidup sengsara, seorang putri yang terbuang, dan di fitnah sebagai wanita murahan, oleh Putri Li Mei Feng seorang putri palsu dari kerajaan Feng Ling. Di dunia yang kejam ini, ia harus bertahan hidup dengan bantuan Sistem. Misinya sungguh berat dan tidak main-main. Ia harus mengembalikan takdir putri yang terbuang itu, untuk merebut posisi putri mahkota Kerajaan Feng Ling yang asli, dari tangan Li Mei Feng si putri palsu itu. Serta merebut kembali jodoh sejatinya yaitu seorang pangeran Zhong Yang. Dan membersihkan nama baik Ibu kandung nya, Selir Agung Ling Mei Rong dari fitnahan Yan Shi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MUSTIKA DEWI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertemuan Mengejutkan Di Kuil Kayu Mati
Malam itu, Ling Xie keluar dari sayap barat Paviliun Selir Agung Kekaisaran, melangkah menuju gerbang luar Kerajaan Feng Ling. Ia bertekad menghadapi segalanya seorang diri untuk menemui sosok misterius itu di Kuil Kayu Mati.
Langit kelak perlahan menyelimuti hutan terpencil di perbatasan Kerajaan Feng Ling. Di tengah kabut malam yang pekat itu, berdiri sebuah bangunan kuno yang seluruhnya terbuat dari kayu hitam legam, seolah tempat ini tak pernah sekalipun tersentuh cahaya matahari. Balok-balok kayunya sudah mulai lapuk, pekarangannya tandus tak berumput, dan dedaunan kering berdesir pelan, seolah membisikkan kenangan yang telah hilang ditelan zaman.
Inilah Kuil Kayu Mati.
Konon, ini bukan tempat eksekusi pembunuhan, melainkan tempat pengasingan terberat. Siapa pun yang diasingkan ke sini, dianggap sudah tiada di mata dunia. Namun tak ada satu pun yang menyangka, di balik sikap Kaisar Jin Feng yang arif, bijaksana, dan baik hati, tempat inilah yang menjadi saksi bisu kekejaman yang selama ini ia sembunyikan, sebuah rahasia kelam yang terkunci rapat selama belasan tahun.
Langkah kaki Ling Xie melangkah perlahan mendekat. Hatinya tenang, namun pendiriannya teguh. Sesungguhnya, ia sudah mengetahui kebenaran itu sejak lama: bahwa ia adalah darah daging Kaisar Jin Feng dan Selir Agung Ling Mei Rong. Namun ia sadar, belum saatnya untuk mengungkapkan jati dirinya. Masih terlalu banyak masalah yang belum terselesaikan. Jika ia membukanya sekarang, bahaya besar pasti akan datang mendesak.
"Sistem pernah mengingatkannya untuk tidak bertindak nekat dan menunggu bantuan. Namun malam ini, ia memilih untuk mendahului setiap perintah itu. Ada suara di dalam hatinya yang jauh lebih kuat, rasa ingin tahu tentang asal-usulnya, rasa sakit atas kebohongan yang menimpanya sejak bayi. Ia datang ke sini bukan karena disuruh, tapi karena ia sendiri yang harus menghadapi masa lalunya."
Namun kini, pesan ancaman yang ia terima memaksanya hadir di tempat ini, sebuah tempat yang menyimpan begitu banyak noda kelam masa lalu ayah kandungnya.
Baru saja ia melangkah masuk ke ruang utama, sesosok bayangan melompat turun dari balok atap kuil itu. Sosok bertopeng hitam berhias emas itu sudah berdiri tepat di hadapannya, tertawa sinis seolah dirinya adalah penguasa mutlak di tempat ini.
"Kau gadis beruntung yang diangkat menjadi anak angkat! Tapi hari ini, kau akan lenyap dari muka bumi ini, sama seperti bayi malang yang ku singkirkan melalui perantara Tabib Nuan Li!" seru Yan Shi, si sosok bertopeng itu.
Ia mengira Ling Xie hanyalah orang asing yang mengganggu rencananya. Ia sama sekali belum sadar, bahwa gadis yang kini ada di hadapannya adalah bayi yang gagal ia bunuh delapan belas tahun silam.
Dari balik tiang tua itu, muncullah Li Mei Feng dengan wajah kusam dan penuh amarah yang meluap-luap.
"Benar! Kau cuma anak angkat yang beruntung! Kembalikan tempatku!" teriak Li Mei Feng, yang masih buta sepenuhnya akan kebenaran.
"Kau bicara soal bayi yang kau singkirkan... Tahukah kau, bahwa takdir memiliki cara yang sangat tepat untuk membalas kejahatan?" Ling Xie tersenyum tipis, tatapannya tajam menembus topeng Yan Shi.
Belum sempat Yan Shi bertanya dengan penuh keheranan, Ling Xie melanjutkan perkataannya dengan suara rendah namun menggetarkan dada.
"Tabib Nuan Li... dan bayi yang kau kirim untuk dibuang... ternyata tidak lenyap di tempat yang kau kira."
Wajah Yan Shi di balik topeng berubah menegang seketika. Rasa takut yang tak pernah ia kenal sebelumnya mulai merayapi hatinya. Apakah mungkin?
Saat Yan Shi mulai panik dan hendak menyerang Ling Xie dengan nekat untuk menutup mulut gadis itu selamanya, ia langsung mencekik leher Ling Xie sekuat tenaga.
Angin kencang menderu di halaman Kuil Kayu Mati secara tiba-tiba, membuat debu dan daun kering berputar liar di udara.
Di hadapan altar yang sudah retak itu, Ling Xie tergeletak lemah di lantai, napasnya tersengal akibat cekikan Yan Shi yang ingin segera melenyapkannya. Di hadapannya, Yan Shi tersenyum dingin, bilah pedang tajam di tangannya sudah terangkat tinggi, seakan siap menebas leher Ling Xie.
"Lenyap lah kau, Nona Ling Xie! Kau sudah mengacaukan semua rencanaku!" desis Yan Shi dengan kebencian yang mendalam. Li Mei Feng di sampingnya pun menatap Ling Xie dengan tatapan puas, seolah kemenangan sudah pasti berpihak pada mereka.
Bilah pedang itu meluncur turun, hampir menyentuh leher Ling Xie. Gadis itu terpejam rapat, seolah siap untuk dilenyapkan.
DANG!!
Suara benturan keras memecah keheningan. Sebuah cahaya menyambar, menepis pedang Yan Shi hingga terpental mundur. Tangannya bergetar hebat seolah tersengat aliran listrik yang menyakitkan.
"Pangeran Zhong Yang?" ucap Yan Shi dengan mata terbelalak tak percaya. Li Mei Feng melangkah mundur dengan wajah seketika berubah pucat pasi.
Di ambang pintu Kuil Kayu Mati yang lapuk, seorang pria berdiri tegak. Cahaya bulan purnama di belakangnya seolah membentuk lingkaran cahaya keemasan, membuat bayangannya menjulang gagah menutupi sebagian ruangan. Jubah biru bermotif naga emas berkibar gagah diterpa angin kencang. Mahkota perak di rambut hitamnya berkilau dingin, dan wajah tampan itu kini dipenuhi amarah yang nyaris meledak.
"Pa... Pangeran Zhong Yang!" suaranya bergetar, Li Mei Feng tak sanggup mempercayai matanya.
"Beraninya kalian menyakitinya," suaranya rendah namun berwibawa, bergema menembus setiap sudut kuil hingga lantai batu terasa bergetar halus, "Beraninya kalian menyentuh kekasihku."
Pangeran Zhong Yang melangkah masuk perlahan. Setiap langkahnya seolah membawa beban berat yang menindas dada Yan Shi dan Li Mei Feng, membuat mereka nyaris sulit bernapas karena ketakutan. Li Mei Feng segera menghampirinya, berusaha meraih lengannya.
"Pangeran Zhong! Beraninya kau membela Nona Ling Xie di depanku! Bukankah aku adalah jodohmu yang ditentukan?"
Pangeran Zhong Yang menepis tangannya dengan kasar, melepaskan rangkulan tangan Li Mei Feng tanpa ragu sedikitpun.
"Aku tidak pernah mau berjodoh dengan putri palsu sepertimu!" sahut Pangeran Zhong Yang tegas, membuat Li Mei Feng terpaku diam seketika seolah tersambar petir.
Pangeran Zhong Yang langsung berlutut di lantai, menatap wajah pucat Ling Xie dengan tatapan penuh kekhawatiran yang tak bisa disembunyikan. Tanpa menunggu lama, ia segera memangku tubuh ringkih gadis itu ke dalam pelukannya, memeluknya erat seakan takut kehilangan untuk kedua kalinya.
"Kakak Zhong..." suara Ling Xie terdengar sangat lemas, napasnya masih tersengal pelan, "Siapa yang memberitahukan mu... kalau aku datang ke sini?"
"Dayang muda Bai Zhi," jawab Pangeran Zhong Yang lembut, tangannya mengusap pelan punggung Ling Xie untuk menenangkannya, "Dia mengirimkan pesan lewat merpati kurir, takut ada bahaya yang mengancam mu."
Belum sempat Pangeran Zhong Yang melanjutkan kata-katanya, tubuh Ling Xie tiba-tiba terasa semakin berat di pelukannya. Matanya yang sayu perlahan terpejam rapat, dan kesadarannya lenyap sepenuhnya.
"Ling Xie!" panggilnya pelan, namun tak ada jawaban. Ia segera memeriksa denyut nadi gadis itu, lalu menghela napas lega sekaligus cemas.
Di sudut ruangan, Li Mei Feng masih berdiri terpaku bagaikan patung batu. Matanya tak berkedip sedikitpun menatap pemandangan di hadapannya, kehangatan dan kasih sayang yang tak pernah sekalipun ia terima dari Pangeran Zhong Yang, kini diberikan begitu tulus kepada gadis yang selama ini ia benci.
Hatinya diremas rasa sakit yang tajam, lalu perlahan berganti menjadi kebingungan yang mencekam.
"Bagaimana mungkin?" batinnya berteriak tak percaya, dadanya sesak menahan kepedihan. "Pangeran Zhong Yang yang berasal dari kerajaan seberang... bagaimana dia bisa tahu status asliku? Apakah... apakah seluruh penghuni Istana Kerajaan Feng Ling sebenarnya sudah mengetahui siapa aku sesungguhnya? Dan hanya aku dan Ibu ku yang mengetahui hal ini. Kamu berupaya untuk menyembunyikan hal ini dari semua orang."
Pikiran itu menyusup ke benaknya perlahan, lalu menyebar seperti racun yang membakar akal sehatnya. Selama ini ia yakin sepenuhnya bahwa dirilah yang paling berhak menduduki posisi terhormat, bahwa ia dikirim ke tempat ini untuk menimba ilmu tata krama serta sopan santun layaknya seorang bangsawan sejati.
Namun kenyataan pahit kini menghantamnya sekuat tenaga, meremukkan semua keyakinan yang ia bangun selama bertahun-tahun. Tempat ini bukanlah tempat didikan, bukan pula tempat penyempurnaan diri. Ini adalah penjara sunyi yang sengaja disiapkan Kaisar Jin Feng, tempat pembalasan bagi siapa saja yang berani menipu Kaisar, melanggar sumpah setia, dan melakukan kejahatan yang tak termaafkan.