Menjalin hubungan serius dan hari pernikahan pun telah ditetapkan, tentunya membuat gadis manapun akan berpikir bahwa pria itulah yang akan menjadi imam dalam rumah tangganya, tak terkecuali gadis cantik bernama Azira putri. Namun semua mimpi dan harapan indah itu hancur seketika, dengan kedatangan seseorang dari masa lalunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon selvi serman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30.
Setelah sebulan pernikahan, akhirnya Lexi bisa kembali merasakan kenik-matan bersama wanita yang dicintainya, dan kali ini dalam hubungan yang halal.
Setelah selesai bercinta, Lexi tiba-tiba mengutarakan pertanyaan yang selama ini bersarang dibenak dan pikirannya.
"Apa kamu masih mencintai Leon?."
"Kenapa mas tiba-tiba bertanya tentang itu?."
"Mas hanya ingin tahu saja, sayang." Balas Lexi seraya memainkan helai rambut Zira yang kini tidur dengan beralaskan lengan kokohnya.
"Sejak memutuskan untuk menyudahi hubungan dengan Leon, sejak saat itu pula aku telah memutuskan untuk melupakan segalanya yang berhubungan dengan Leon, termasuk rasa cinta. Bahkan saat itu aku berpikir untuk tidak lagi berurusan dengan anggota keluarga Fernandez. Tapi siapa sangka, mas malah mendatangi keluargaku dan mengakui semuanya dihadapan mereka." Saat membahas tentang hal itu, Zira tiba-tiba teringat pada sudut bibir Lexi yang pecah ketika tiba bersama orang tua serta kakaknya di rumah sakit tempo hari.
"Apa saat itu papah menghajar, mas?."
Lexi menggelengkan kepala.
"Lalu, mengapa waktu itu sudut bibirnya mas bisa terluka?."
"Itu hanyalah sedikit bentuk kasih sayang dari calon kakak ipar." Jawab Lexi dengan menarik sudut bibirnya hingga terciptalah senyuman tipis di sana.
"Mengapa mas tidak melawan?." Zira tak habis pikir mengapa seorang Lexiano Fernandez membiarkan orang lain melukai wajah berharganya.
Lexi kembali tersenyum mendengar pertanyaan Zira yang menurutnya lucu.
"Kalau saat itu mas melawan, mana mungkin mas berhasil menjadikan kamu nyonya Lexiano Fernandez, hm." Ya, saat itu Lexi bisa saja melawan namun hal itu bukanlah cara yang tepat menurut Lexi, mengingat maksud dan tujuan dari kedatangannya saat itu bukanlah sekedar untuk mengakui perbuatannya, melainkan ingin mendapat dukungan dari keluarga Zira agar dapat menikahi wanita itu. Saat itu senjata Lexi hanyalah keluarga Zira. Jika mendapat dukungan dari keluarga Zira maka sudah pasti Lexi bisa menikahi Zira meskipun wanita itu melakukannya dengan berat hati.
"Berarti, saat itu mas sengaja memanfaatkan keluargaku?." Zira menyipitkan mata, menatap curiga pada suaminya itu.
"Sedikit memanfaatkan demi kebaikan, apa salahnya, sayang. Bagaimana Zira bisa lupa kalau suaminya itu pebisnis, mana mungkin Lexi rela mengorbankan wajah tampan nan berharga miliknya jika tidak ada keuntungan dibalik itu semua.
""Ck.....Dasar licik...." Zira mencubit gemas pinggang Lexi.
"Sedikit licik demi tujuan yang positif pasti masih dapat ditolerir, bukan?." Tak kenal maka tak sayang, sepertinya pepatah itu dialami sendiri oleh Zira. Ya, setelah mengenal suaminya itu lebih dekat, Zira baru menyadari bahwa Lexi tidak seburuk yang ia pikirkan. Begitu pula dengan Lexi, pria itu jadi lega setelah mendengar pengakuan istrinya tentang perasaannya terhadap Leon kini. Entah itu jujur dari hati atau tidak, yang jelas pengakuan tersebut terucap langsung dari mulut istrinya, sudah lebih dari cukup bagi Lexi. Lagipula Leon adalah adiknya, tidak mungkin pria itu akan berpikir untuk merusak rumah tangganya, begitu pikir Lexi.
*
Keesokan paginya.
Kedua orang tuanya dibuat bingung ketika Leon mengajak serta Reka ke rumah, terutama mommy. Wanita paruh baya tersebut berpikir bahwa Leon berniat macam-macam terhadap hubungan kakaknya dengan Zira, sehingga mengajak Reka ke rumah. Terlebih Leon mengajak gadis itu untuk bergabung bersama di meja makan guna sarapan bersama.
"Aunty.... uncle....Reka minta maaf jika keberadaan Reka di sini telah membuat kalian tidak nyaman." Reka menyadari perubahan sikap mommy.
"Bukan seperti itu, Reka. Sebenarnya Aunty sendiri tidak masalah jika Reka berkunjung ke rumah ini, tetapi kalau keseringan juga Aunty khawatir istrinya mas Lexi akan salah paham, nak." Mumpung kedatangan Reka kali ini merupakan yang pertama kalinya setelah Lexi menikah dengan Zira, maka mommy langsung saja menasehati Reka. Semua itu dilakukan mommy demi ketentraman bersama, terutama ketentraman Zira selaku istri Lexi. Biar bagaimanapun Reka pernah dijodohkan dengan Lexi, pastinya kedatangan Reka akan berpengaruh bagi Zira. Untungnya pagi ini Lexi dan sang istri masih berada di kediaman Andrean sehingga mommy bisa menasehati Reka tanpa harus mempermalukan gadis itu dihadapan Lexi ataupun Zira.
"Leon paham dengan maksud mommy, tapi tujuan Reka berada di sini tidak ada hubungannya dengan mas Lexi. Reka ada di sini karena kami bermaksud untuk menyampaikan sesuatu pada Daddy dan mommy." Leon angkat bicara demi menepis dugaan mommy tentang niat dan maksud keberadaan Reka di kediaman Fernandez.
"Memangnya apa yang ingin kalian sampaikan pada kami?." Daddy lantas bertanya.
"Sebenarnya Leon berencana menikahi Reka, Dad."
Jujur, penyampaian Leon cukup mengejutkan bagi Daddy dan juga mommy, namun keduanya berusaha untuk tetap terlihat tenang. Bukan apa-apa, baik mommy maupun Daddy tidak ingin sampai tujuan Leon menikahi Reka hanya karena Lexi menikahi Zira. lebih tepatnya, Daddy dan mommy tak ingin sampai Leon menjadikan pernikahannya dengan Reka sebagai ajang balas dendam pada Lexi. Meskipun faktanya pernikahan Leon dan Reka tidak akan berpengaruh apapun bagi Lexi, tapi kedua orang tuanya tetap mengkhawatirkan hal itu.
"Apa kamu yakin dengan keputusan kamu ini?." Daddy menatap putranya.
"Leon yakin, Daddy." Leon mantap menjawab.
Jika ia bisa memberi restu pada hubungan Lexi dan Zira, yang notabenenya adalah mantan tunangan Leon, bagaimana mungkin tidak memberi restu pada Leon yang kini berniat untuk menikah. "Jika itu sudah menjadi keputusan kamu maka Daddy hanya bisa merestui dan mendoakan yang terbaik untuk hubungan kalian. Lagipula, Daddy tak pernah mempermasalahkan siapapun yang akan menjadi pendamping hidup anak-anak Daddy. Selagi bukan istri orang, Daddy pasti akan merestui."
Reka tertegun dengan sikap bijak ayahnya Leon, seandainya ayahnya juga memiliki sikap bijak seperti itu, mungkin hidupnya tidak akan serumit ini.
"Jadi, kapan rencananya kalian akan menikah?." Tanya Mommy. Jika sang suami sudah merestui, otomatis ia pun merestui.
"Secepatnya, Mom."
Mommy sontak mengarahkan pandangan ke perut Reka.
"Bukan seperti yang mommy pikirkan. Leon tidak serendah itu, mom." Balas Leon seolah bisa menebak apa yang kini ada dipikiran mommy, terlebih mommy menatap ke arah perut Reka.
Mommy langsung mengusap dada dengan perasaan lega. "Syukurlah kalau begitu. Mommy pikir alasan mengapa kalian ingin buru-buru menikah karena hal itu."
"Tentu saja tidak, mom." Bagaimana ia bisa menyentuh Reka, sementara faktanya ia tidak memiliki perasaan apapun terhadap gadis itu, selain perasaan prihatin sekaligus iba atas tindakan buruk yang diterimanya dari sang ayah.
Setelah mendapat restu dari kedua orang tuanya, Leon berniat menemui kedua orang tua Reka.
*
"Apa anda serius, tuan Leonardo Fernandez?." Mimik kesal yang sempat terukir di wajah ayahnya Reka langsung berubah tiga ratus enam puluh derajat, saat mendengar Leon mengutarakan maksud dan tujuannya untuk melamar Reka. Ya, ayahnya Reka kesal pada Leon karena saat itu pergi begitu saja dengan membawa putrinya.
"Tentu saja. Lagipula, saya tidak punya banyak waktu luang untuk sekedar bercanda, tuan." Balas Leon. "Jika anda menerima lamaran saya, maka saya akan menikahi Reka secepatnya." Lanjut Leon, malas berbasa-basi dengan orang tua yang tidak punya perasaan seperti ayahnya Reka.
"Tentu saja saya menerima lamaran anda tuan Leonardo Fernandez. Lagian, saya tidak punya alasan untuk menolak." Sejak awal ia sudah mewanti-wanti sang putri untuk menikah dengan pria kaya, dan kini ada pria kaya yang datang melamar, mana mungkin ia akan menyia-nyiakan kesempatan itu.. Batal menjadikan Lexiano Fernandez sebagai menantu, adiknya pun tak menjadi masalah, begitu pikir ayahnya Reka.
"Baiklah. Untuk mahar yang anda inginkan, silahkan membicarakannya dengan asisten pribadinya saya! Saya akan menyanggupi mahar apapun yang anda minta dari saya." Leon sudah bisa menebak bahwa ayahnya Reka akan meminta mahar yang tidak main-main. Namun demikian, Leon tak akan mempermasalahkannya.
"Terima kasih banyak, tuan Leonardo Fernandez. Kalau seperti ini, saya tidak akan mempermasalahkan bila anda ingin kembali mengajak Reka bersama anda." Sungguh, Reka benar-benar malu pada Leon atas perkataan ayahnya.
next semangaatt thoorr