NovelToon NovelToon
Cinta Diusia Senja

Cinta Diusia Senja

Status: sedang berlangsung
Genre:Duda / Cintapertama
Popularitas:7.1k
Nilai: 5
Nama Author: riena

"Bagaimana jadinya jika calon besanmu adalah mantan kekasih yang paling gagal kamu lupakan seumur hidup?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 24. Ledakan kemarahan

Matahari pagi kembali menyengat atap seng rumah kontrakan, namun suasana di dalamnya jauh lebih dingin dari hari kemarin. Pagi ini, sandiwara itu sudah runtuh sepenuhnya. Tidak ada lagi kepura-puraan kaku, yang tersisa hanyalah keheningan yang mencekam.

Habibah tidak keluar kamar sejak subuh. Pintu kamarnya terkunci rapat.

Di meja makan, hanya ada Rayhan, Ameera, dan Imam. Kotak martabak manis semalam masih tergeletak di sana, utuh dan mendingin tanpa ada yang menyentuh. Ameera duduk dengan mata bengkak dan sembab, terus menunduk menatap cangkir tehnya yang mulai dingin. Sementara Imam duduk dengan punggung tegak namun wajahnya tampak amat kuyu, seolah-olah ia tidak tidur semenit pun semalam. Suara tangis Ameera di lantai atas dan langkah kaki yang gelisah sepanjang malam sudah memberi tahu Imam bahwa rahasia itu bukan lagi milik berdua.

Rayhan bangkit berdiri dari meja makan. Wajahnya datar, tanpa emosi, namun langkah kakinya terdengar tegas saat berjalan menuju kamar ibunya.

Tok! Tok! Tok!

"Ibu... sarapan dulu. Rayhan sudah buatkan teh hangat," panggil Rayhan, suaranya terdengar serak.

Tidak ada jawaban. Rumah itu begitu hening hingga suara detak jarum jam terdengar jelas.

"Ibu...?" Rayhan mengetuk lagi, kali ini lebih keras. "Ayo keluar, Bu. Kita perlu bicara. Semuanya. Ada Om Imam dan Ameera juga di sini."

Tetap senyap. Kepanikan mulai merayap di dada Rayhan. Ia mencoba memutar kenop pintu, namun terkunci dari dalam. "Ibu! Buka pintunya, Bu!"

Mendengar ketukan yang berubah menjadi gedoran panik, Imam dan Ameera langsung bergegas bangkit dari meja makan dan menghampiri Rayhan di depan pintu kamar bawah.

"Ada apa, Ray?" tanya Imam, suaranya bergetar cemas.

"Pintunya dikunci, Om. Ibu nggak menyahut," jawab Rayhan, napasnya mulai memburu. "Bu! Jangan bikin Rayhan takut, Bu!"

Tepat saat Rayhan bersiap untuk mendobrak pintu, terdengar suara kunci diputar dari dalam. Klik.

Pintu perlahan terbuka. Habibah berdiri di ambang pintu. Wajahnya sangat pucat, jilbab instannya sedikit kusut, dan matanya merah membengkak. Ia tidak berani menatap mata Rayhan, apalagi menatap Imam yang berdiri di belakang putranya.

"Ibu nggak apa-apa, Ray." bisik Habibah lirih, suaranya nyaris habis.

Sebelum Rayhan sempat meluapkan rentetan pertanyaannya, Habibah mengulurkan tangannya yang gemetar. Di sela jarinya, ada secarik kertas putih bergaris yang sudah terlipat rapi. Ia menyodorkannya tepat di depan dada Rayhan.

Rayhan mengernyitkan dahi, menatap kertas itu dengan bingung. "Apa ini, Bu? Kalau mau ngomong, tinggal ngomong sekarang. Kenapa harus pakai surat?"

"Baca saja, Ray. Ibu... Ibu sudah tidak punya kekuatan untuk bicara lagi," jawab Habibah, air matanya kembali meluncur tanpa suara. Ia mundur satu langkah, membiarkan pintu kamarnya terbuka lebar seolah menunjukkan bahwa ia sudah menyerah pada keadaan.

Rayhan merebut kertas itu dengan kasar. Dengan dada yang bergemuruh, ia membuka lipatan surat itu dan membacanya di bawah tatapan cemas Ameera dan Imam.

“Rayhan, putra Ibu tersayang... Ameera, calon menantu Ibu yang baik... Ibu tidak ingin menjadi beban bagi masa depan kalian... Setelah kalian menikah nanti, Ibu ingin tinggal di panti jompo saja...”*

"NGGAK MASUK AKAL!"

Suara Rayhan menggelegar, merobek keheningan rumah kontrakan tersebut. Ia meremas kertas surat itu hingga membentuk bola kecil dalam genggamannya. Matanya memerah, menatap ibunya dengan campuran rasa tidak percaya dan amarah yang luar biasa.

"Ibu pikir ini lucu?" bentak Rayhan, napasnya terengah-engah. "Panti jompo? Ibu mau menghukum siapa dengan cara seperti ini? Menghukum Rayhan? Ibu merasa Rayhan ini anak durhaka yang bakal membuang ibunya sendiri setelah menikah?"

"Bukan begitu, Ray... Ibu cuma mau kalian tenang."

"Tenang kata Ibu?!" potong Rayhan, suaranya meninggi hingga urat-urat di lehernya menegang. "Bagaimana Rayhan bisa tenang bersanding di pelaminan kalau tahu Ibu sengaja mengasingkan diri ke panti jompo? Hanya karena masa lalu Ibu dan Om Imam?!"

Deg.

Kata-kata Rayhan yang frontal itu seketika membuat Imam terperangah. Wajah pria paruh baya itu mendadak pias, kehilangan seluruh darahnya. Rahasianya yang paling ia jaga selama ini kini ditelanjangi di depan wajahnya sendiri, oleh pemuda yang sebentar lagi akan menjadi menantunya.

Ameera langsung membekap mulutnya, kembali terisak di samping ayahnya. Suasana pagi yang cerah itu seketika berubah menjadi pengadilan emosional yang siap menghancurkan hubungan dua generasi tersebut.

Imam melangkah maju, tubuhnya gemetar hebat. Kenyataan bahwa Rayhan sudah mengetahui segalanya terasa seperti hantaman gada yang meruntuhkan sisa-sisa harga dirinya sebagai seorang ayah dan laki-laki terhormat.

"Rayhan... Nak..." Suara Imam tercekat di tenggorokan, terdengar parau dan penuh penyesalan. "Jangan salahkan Ibumu. Ini semua... ini semua salah Om. Om yang bersalah di sini."

Rayhan menoleh lambat-lambat ke arah Imam. Tatapan mata pemuda itu tidak lagi hanya berisi rasa hormat seperti biasanya. Ada luka yang mendalam, ada kekecewaan anak laki-laki yang merasa dikhianati oleh figur dewasa yang selama ini ia kagumi.

"Salah Om?" Rayhan terkekeh getir, suaranya bergetar menahan amarah yang mendidih. "Lalu dengan Om mengaku salah sekarang, apa semuanya selesai? Apa keputusan Ibu untuk membuang dirinya sendiri ke panti jompo bisa batal begitu saja?"

Ameera yang sejak tadi menahan tangis, akhirnya tidak sanggup lagi berdiri tegak. Ia meremas kemeja batik yang dikenakan ayahnya, menatap wajah Imam dengan pandangan hancur.

"Papa... jadi benar?" bisik Ameera, suaranya melengking rapuh di tengah ketegangan ruangan itu. "Wanita di foto lama Papa... cinta masa lalu yang selalu Papa tangisi diam-diam di kamar... itu Tante Bibah? Ibu dari laki-laki yang mau menikah sama aku, Pa?"

Imam tidak sanggup menatap mata putrinya. Ia menundukkan kepala dalam-dalam, bahunya yang tegap kini merosot layu. Setetes air mata penyesalan jatuh membasahi lantai keramik rumah kontrakan. Diamnya Imam adalah konfirmasi paling menyakitkan bagi Ameera.

"Kenapa Papa nggak pernah cerita?" tangis Ameera pecah seketika. "Kenapa kalian berdua tega merahasiakan ini dari kami? Kalau dari awal Papa bilang, kita nggak akan pernah menyewa rumah ini bersama-sama! Kita nggak akan membuat Tante Bibah tersiksa sampai mau mengasingkan diri ke panti jompo!"

Melihat kedua anak muda itu menangis dan saling menyalahkan, Habibah menjatuhkan dirinya berlutut di lantai ambang pintu kamarnya. Ia memeluk kaki Rayhan dengan sisa-sisa kekuatannya.

"Rayhan, demi Allah, jangan bentak Om Imam, Nak... Ibu yang salah. Ibu yang tidak bisa menjaga hati Ibu," ratap Habibah di sela isak tangisnya yang histeris. "Ibu yang terlalu lemah. Makanya Ibu harus pergi, Rayhan. Panti jompo itu bukan hukuman buat kamu, itu tempat penebusan dosa buat Ibu. Ibu tidak pantas berada di antara kalian..."

Rayhan ikut berlutut, mencengkeram kedua bahu ibunya dengan erat. Air mata yang sejak semalam ia tahan akhirnya luruh juga, membasahi pipinya.

"Bu... lihat Rayhan, Bu!" tuntut Rayhan, mengangkat wajah ibunya agar menatapnya. "Rayhan ini anak Ibu. Nyawa Rayhan taruhannya buat kebahagiaan Ibu. Selama ini kita hidup berdua, susah senang kita lewati sama-sama. Bagaimana bisa Ibu berpikir untuk meninggalkan Rayhan di tempat seperti itu hanya karena... karena seorang pria dari masa lalu?"

Kalimat Rayhan menancap dalam di dada Imam. Pria paruh baya itu merasa seperti digulung oleh ombak dosa yang ia ciptakan sendiri tiga puluh tahun lalu.

Rumah kontrakan yang awalnya direncanakan sebagai tempat menyatukan dua keluarga, kini berubah menjadi puing-puing ruang sidang. Pernikahan yang tinggal dua bulan lagi kini berada di ujung tanduk, tergantung pada bagaimana empat hati yang terluka ini mencari jalan keluar dari benang kusut masa lalu mereka.

***

1
Safitri Agus
terimakasih kak Riena updatenya 🙏🥰🥰🥰
Afternoon Honey
tetap menyimak dan membaca cerita bersambung ini..m
Indriyani_ Indry
Alhamdulillah novel ini ada update nya ... terimakasih kk😍😍😍
Safitri Agus
TRIms kak Riena updatenya 🙏🥰
Safitri Agus
rumit ya,🤦
Safitri Agus
😭😭😭
Safitri Agus
TRIms kak Riena 🙏🥰
Safitri Agus
ujian sebelum pernikahan, mereka pasti dilema....
Safitri Agus
terimakasih kak Riena sudah update 🙏🥰
Fitria Rastanti
gx lanjut kak riee ceritanya
Safitri Agus: lanjut dong kak biar tau endingnya 😊
total 3 replies
Mmh dew
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
Mmh dew
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
Mmh dew
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
Indriyani_ Indry
dari kmrn blm ada bab yg br ka ... libur yah ka?
Mmh dew
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
Mmh dew
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
Indriyani_ Indry
sy sukaaa semua novel karya author ini ... novelnya kereeennn dan berkls ...
Safitri Agus
seandainya kalian mengetahui apa yg sedang terjadi dan tentang masalalu mereka.....
Safitri Agus
jeng nya dihilangkan 🤭
yuli mamah
😬😬😬😬😬
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!