Turnamen Peringkat Langit baru saja dimulai. Di hadapan para penguasa Alam Tiran, Arka Yudhistira melangkah ke arena bukan sebagai pecundang, melainkan sebagai naga yang tengah terjaga.
Di antara bayang-bayang Ratna, Citra, dan kesetiaan Larasati, Arka siap mengguncang tatanan dunia. Panggung telah siap, pedang telah terhunus, dan sejarah baru akan segera ditulis.
Inilah awal dari...
LEGENDA ARKA YUDHISTIRA
Biarkan dunia bersujud pada sang naga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sastra Aksara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30
"Itu adalah Sukma Pedang Kembar," ucap Satya dengan kening berkerut dalam. "Sebuah teknik tingkat tinggi yang hanya bisa dicapai oleh pendekar yang pemahaman niat pedangnya telah mencapai puncak kesempurnaan. Sosok itu bukan sekadar bayangan; ia memiliki tenaga dalam dan kemampuan yang setara dengan Yoga. Namun, teknik ini sangat menguras batin. Begitu sosok itu lenyap, Yoga akan mengalami kelelahan yang luar biasa. Masalahnya... teknik ini bisa bertahan selama lima belas menit!"
"Dalam waktu selama itu," Satya melanjutkan dengan nada getir, "Ratna harus menghadapi dua orang Yoga sekaligus. Melawan satu saja sudah nyaris mustahil, apalagi dua."
Belum sempat kalimat Satya selesai, Yoga asli sudah melesat maju dengan Pedang Yuan Langit. Tebasannya begitu anggun namun mematikan, seolah sanggup membelah gunung menjadi butiran debu.
Pita putih Ratna berkibar, menangkis hantaman pedang itu dengan dentuman keras yang memicu percikan energi. Namun, di saat yang sama, Yoga kedua sudah memutar ke belakang Ratna, menebaskan Pedang Yang Surgawi dengan kekuatan yang tak kalah mengerikan.
Tanpa bantuan teknik khusus, tenaga dalam Ratna hanya cukup untuk menandingi satu Yoga. Melawan dua sekaligus adalah bunuh diri.
Bunga teratai es mekar dan meledak berkali-kali seiring gerakan gesit Ratna, namun kedua Yoga mengikutinya bagai bayangan maut. Dua pedang legendaris, biru dan jingga, menenun jaring energi raksasa yang mengurung Ratna tanpa celah. Kombinasi dua raga dan dua pedang ini menciptakan kekuatan yang jauh melampaui sekadar hitungan ganda.
KRAK!
Lantai arena mulai retak seribu, hancur oleh tekanan energi pedang yang luar biasa. Lotus-lotus es yang diciptakan Ratna hancur menjadi debu sebelum sempat mekar sempurna. Kini, Ratna benar-benar terdesak. Pita Phoenix Es miliknya hanya bisa berputar dalam mode pertahanan penuh, menahan gempuran liar dari dua sisi.
"Siapa sangka Yoga sudah menguasai Sukma Pedang Kembar," gumam Dewi dengan tenang, meski muridnya dalam bahaya.
Ratna mulai kelelahan. Gerakannya yang semula seringan awan mulai melambat. Tiba-tiba, ia menarik napas dalam-dalam. Roh-roh es berkumpul liar di sekelilingnya, memicu ledakan Penjara Teratai Es yang memaksa kedua Yoga mundur sesaat.
Di jarak tiga puluh meter, kedua Yoga bersiap menerjang kembali. Namun, pada detik itu juga, cahaya biru kristal memancar dari tubuh Ratna. Gadis itu memejamkan mata, wajahnya setenang salju di puncak gunung. Saat ia merentangkan kedua tangannya, rambut hitam legamnya melayang-layang tanpa angin, dan sebuah desauan angin dingin yang menusuk tiba-tiba turun dari langit...
"Ranah... Salju... Abadi..."
Sebuah nyanyian lembut keluar dari bibirnya. Seketika, dunia seakan berganti rupa. Dalam radius tiga ratus meter, udara membeku total. Di dalam wilayah biru es yang luas itu, atmosfer berubah menjadi neraka beku. Kristal-kristal es tak terhitung jumlahnya memenuhi langit, menyelimuti arena dengan selimut putih yang kian menebal.
Gerakan kedua Yoga terhenti seketika. Tubuh mereka mulai diselimuti lapisan es yang mengeras dengan cepat.
"Ini... ini mustahil! Ranah Kekuatan?!" pekik Ningsih, ibu Yoga, tanpa menunggu reaksi suaminya.
Wajah Luhur Pangestu pucat pasi. Ia bergumam lirih, "Benar-benar... Tubuh Sembilan Rahasia Indah yang menentang hukum alam."
"Ranah Kekuatan?! Bagaimana mungkin?!"
Riuh rendah penonton berubah menjadi keheningan yang mencekam. Ranah Kekuatan (Domain) adalah puncak pencapaian seorang pendekar—sebuah tingkat kekuasaan yang hanya dimiliki oleh para Mahaguru tingkat tinggi. Melihat kekuatan legendaris itu muncul pada seorang gadis tujuh belas tahun adalah sebuah penghinaan terhadap akal sehat.
Ratna mungkin belum sekuat para Mahaguru, namun struktur Ranahnya sudah sempurna. Di dalam domain tersebut, salju, kabut, dan angin adalah sekutunya. Sebaliknya, Yoga merasa tubuhnya seberat timah. Kecepatan dan energi pedangnya membeku, terbelenggu oleh dingin yang menusuk hingga ke sumsum tulang.
KLING!
Sinar pedang Yoga membeku di udara. Pedang Yuan dan Pedang Yang-nya kini terlapisi es tebal. Di dalam Ranah Salju Abadi, jika seseorang tidak memiliki ranah yang sebanding untuk melawan, ia hanya bisa pasrah disiksa oleh alam.
Yoga terpaku linglung saat es mulai merambat ke dada dan kakinya. Di saat itulah, Pita Phoenix Es menyambar dari udara.
DUARR!
Lapisan es di dada Yoga hancur berkeping-keping. Ratna menyerang tanpa ampun, mengirim Yoga terbang sejauh tiga puluh meter hingga terlempar keluar dari wilayah biru es tersebut.
BRAK!
Yoga terjatuh keras ke tanah. Sosok kembarannya seketika lenyap, dan Pedang Yang Surgawi terlepas dari genggamannya. Tubuhnya membeku, energinya hancur berantakan. Niat pedangnya rusak parah akibat hilangnya sang sukma kembar. Yoga berusaha bangkit, namun tubuhnya tak lagi patuh.
"Tuan Muda!" seru wasit, bergegas menolong Yoga. Saat menyentuhnya, tubuh pemuda itu sedingin balok es.
"Aku... menyerah..." Yoga berbisik lemah sebelum akhirnya jatuh pingsan.
Luhur kembali duduk dengan wajah muram. Ia menutup mata, menarik napas panjang penuh keputusasaan. Perguruan Pedang Surgawi, kekuatan nomor satu di negeri ini, baru saja tumbang.
"Yoga telah menyerah! Ratna dari Padepokan Awan Beku keluar sebagai pemenang dan melaju ke babak final esok hari!" teriak wasit dengan suara gemetar.
Dunia seolah berhenti berputar. Kabar ini akan mengguncang seluruh kerajaan. Seorang praktisi muda yang mampu membangkitkan Ranah Kekuatan adalah keajaiban yang hanya muncul sekali dalam seribu tahun.
Ranah biru es itu perlahan memudar. Ratna melayang turun, namun saat kakinya menyentuh bumi, tubuhnya gemetar hebat. Wajahnya pucat pasi, napasnya memburu. Menggunakan kekuatan setingkat Mahaguru dengan raga muda seperti itu menuntut bayaran yang luar biasa besar.
Di papan pengumuman besar di tengah arena, dua nama kini bersinar terang untuk partai puncak besok:
Arka Yudistira (Keluarga Kerajaan) VS Ratna (Padepokan Awan Beku)
Tidak ada seorang pun yang menyangka hasil dari dua laga semifinal sebelumnya. Pertarungan Arka melawan Yogi adalah sebuah pesta visual bagi penonton, sementara duel Ratna melawan Yoga telah menghancurkan seluruh logika yang mereka yakini selama ini. Hingga malam menjelang, riuh rendah di penginapan para peserta belum juga reda.
Di turnamen tingkat kerajaan ini, dalam pertarungan pemuda di bawah usia dua puluh tahun, sebuah Ranah Kekuatan benar-benar muncul!
"Benar kata pepatah, ombak besar akan selalu digantikan oleh ombak baru yang lebih besar. Kita sudah tua, sekarang saatnya yang muda yang bersinar!" gumam salah satu sesepuh sekte besar sambil mendesah panjang. "Yoga saja sudah membuat kita tak berkutik, apalagi Ratna... Hehe, di depan gadis itu, rasanya aku tidak berani mengangkat kepala."
"Tapi ini kabar baik. Setidaknya ini bukti bahwa pendekar negeri kita bisa mencapai level yang jauh lebih tinggi di masa depan."