Di alam para Dewa, aturan sudah tertulis sejak zaman dahulu kala: Laki-laki adalah Dewa, Wanita adalah Malaikat. Namun, Lisa adalah pengecualian. Dalam darahnya mengalir kekuatan agung sang Raja Dewa, dan tanda suci terukir di tubuhnya membuktikan dia layak menyandang gelar "Dewa", bukan sekadar "Malaikat".
Sayangnya, dunia tak siap menerima itu. Lisa tumbuh dengan anggun, lemah lembut, namun kesepian. Ayahnya, sang Penguasa Langit, bersikap dingin dan menghilang sejak ia berusia 5 tahun. Lisa mengira dirinya dibenci dan ditolak.
Namun, kenyataannya berbeda. Sang Ayah bukan tak punya hati, ia justru menyembunyikan Lisa demi melindunginya dari kecemburuan dan bahaya maut dari Dewa-Dewa lain. Ketika Lisa dewasa dan menuntut haknya, ia harus menempuh jalan berdarah, menguasai sihir terkuat, dan memimpin perubahan sejarah. Di tengah pertarungan memperebutkan takdir, ia juga akan menemukan cinta, memecahkan kesalahpahaman besar, dan akhirnya mengerti arti pengorbanan sang Ayah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon M.Liss, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 8
Sesampainya mereka di ruang guru utama, si Guru Pilih Kasih itu masih dengan wajah sombongnya menunggu. Ia pikir Lisa pasti tidak akan berhasil, atau paling tidak pulang dalam keadaan babak belur.
Tapi apa yang dilihatnya?
Lisa masuk dengan tenang membawa kotak kayu berisi obat langka. Di belakangnya berdiri gagah Pangeran Kael, Kyle, Harit, dan Theo—putra-putra bangsawan tingkat tinggi yang wajahnya murka.
"Guru le !" bentak Kael dengan suara yang menggelegar, membuat guru itu kaget mundur selangkah.
"Kau bilang ini hanya hukuman biasa? Kau bilang hanya cari tanaman obat biasa?!" mata Kael melotot marah. "Tahukah kau bahwa yang kau minta itu adalah Ramuan Herba Suci yang tumbuh di wilayah paling berbahaya di Puncak Gunung Es?! Itu misi tingkat S-Rank yang bahkan untuk ksatria kerajaan pun berisiko mati!"
Kyle menimpali dengan dingin, "Kau sengaja menyembunyikan fakta agar Lisa mati di sana kan? Karena dia anak angkat dan tidak punya kekuatan besar di mata mu, kau memperlakukannya seperti sampah?"
Guru itu pucat pasi, kakinya gemetar. "B-bukan... aku... aku hanya..."
"TIDAK USAH BERALASAN!" seru Theo dengan suara berat. "Kita sudah melaporkan segalanya pada Dewan Guru Besar. Persiapkan dirimu menerima hukuman!"
Tidak lama kemudian, Kepala Sekolah dan para Guru Besar datang. Setelah mendengar penjelasan Kael dan melihat bukti nyata obat langka itu, mereka sangat murka.
"Guru le ! Kau dipecat mulai hari ini! Dan kau akan diadili karena percobaan pembunuhan dan korupsi!" putus Kepala Sekolah tegas.
Dua penjaga langsung menyeret guru yang menjilat ludah itu keluar sambil meronta-ronta dan menangis memohon ampun. Tapi sudah terlambat, kejahatannya terbongkar sudah.
Suasana menjadi hening dan tenang.
Kepala Sekolah lalu menatap Lisa dengan wajah lembut dan penuh rasa bersalah. Ia mendekat ke arah gadis itu.
"Lisa, kami meminta maaf yang sebesar-besarnya atas perlakuan tidak adil yang kau terima. Kau telah berkorban dan berhasil menyelesaikan tugas mustahil ini."
Kepala Sekolah menunjuk kotak obat di tangan Lisa.
"Bawalah obat-obatan ini. Itu semua untukmu. Kaulah yang berjuang mendapatkannya, jadi kau berhak memilikinya sepenuhnya. Gunakanlah sebisa mungkin untuk keperluanmu atau keluargamu."
Lisa membungkuk hormat. "Terima kasih, Yang Mulia Kepala Sekolah."
Hati Lisa senang, 'Wah, dapat stok obat mahal gratisan nih. Lumayan buat stok darurat atau buat Floyen nanti.'
HARI-HARI BARU YANG LEBIH BAIK
Sejak kejadian itu, kehidupan Lisa di akademi berubah drastis.
- Tidak ada guru yang berani memandang sebelah mata atau memihak lagi.
- Para siswa yang dulu jahat atau sombong, sekarang melihat Lisa dengan rasa hormat campur takut.
- Lisa bisa belajar dengan tenang, dan setiap kali lewat di koridor, orang-orang otomatis menepi memberi jalan layaknya melihat Ratu.
Suatu sore di taman akademi...
Lisa duduk santai di bangku panjang, menikmati angin sepoi-sepoi. Di sebelahnya, Floyen sedang asyik melatih kontrol aura dengan pedang barunya, gerakannya makin lincah dan kuat berkat energi yang Lisa berikan.
Tiba-tiba, bayangan seseorang menghalangi sinar matahari. Lisa menoleh.
Itu Kael. Dia datang membawa nampan berisi minuman dan kue.
"Permisi, boleh duduk?" tanya Kael sopan, senyumnya tampan dan hangat.
Ia meletakkan nampan itu di antara mereka.
"Sebagai tanda terima kasih... soal ramuan yang kau bagi kemarin. Itu sangat membantu kami."
Kael duduk di samping Lisa, menjaga jarak sopan tapi terasa dekat.
"Lisa... jujur saja, semakin lama aku mengenalmu, semakin aku merasa kau bukan orang biasa. Kadang aku berpikir... mungkin kau adalah putri dari dunia lain yang tersesat ke sini?" canda Kael pelan, tapi matanya serius menunggu jawaban.
Floyen yang sedang latihan mendengar itu sambil nyengir, 'Dunia lain? Sepertinya memang begituu'
Lisa tersenyum misterius, mengambil cangkir teh yang disodorkan Kael.
"Mungkin... aku memang bukan dari dunia ini. Tapi selama di sini aku nyaman, itu sudah cukup, bukan?"
Lisa berjalan santai di koridor menuju asramanya. Tiba-tiba sosok tinggi menjulang menghadang jalannya. Itu Kyle.
"Hai," sapa Kyle dengan senyum miring yang biasanya bikin cewek-cewek klepek-klepek. "Kau bisa menyebutku 'Senior' kan? Lagipula umurku lebih tua dan pangkatku di OSIS juga tinggi."
Lisa menatapnya datar, bahkan tidak berhenti berjalan.
"Aku tidak mau. Aku akan memanggilmu Kyle karena memang itu namamu. Dan di sini bukan upacara militer, ini area asrama. Jadi jangan bersikap sok berkuasa. Lagipula... kau juga tidak pantas disebut senior dengan sikapmu yang kekanak-kanakan tadi di gunung."
Duh! 💥
Kyle menghela napas panjang membuang amarah, ia sadar Lisa memang lebih kuat dan lebih hebat darinya, jadi ia menelan harga dirinya.
"Baiklah, terserah padamu. Panggil apa saja terserah kau mau." Kyle tiba-tiba mengubah wajahnya jadi memohon, matanya berbinar memelas. "Tapi... tolong jadilah guruku! Ajari aku sihir! Aku mau belajar sama kau!"
Belum sempat Kyle selesai bicara, Wush! Harit muncul dari balik sudut dinding dengan wajah kesal.
"Heh Kyle! Berani-beraninya kau ngomong duluan?!" seru Harit sambil mendorong bahu Kyle pelan. "Aku duluan yang mau minta! Dasar culun!"
"Heh?! Kenapa sih lo?! Minggir gue duluan!"
"Sudah diam kalian berdua!" Harit menoleh ke arah Lisa dengan wajah sangat sopan dan lembut, beda 180 derajat tadi. "Nona Lisa, tolong jangan dengarkan omongan Kyle yang tidak jelas itu. Dia kan awalnya sempat menghina kau kan?"
"Heh?! Kapan aku menghina?!" protes Kyle panik.
"Itu masa lalu! Sekarang aku mengaguminya! Aku mengagumi Lisa dari pertama kali aku melihatnya bertarung! Benar-benar mengagumi!" dalih Kyle cepat.
Harit tersenyum manis pada Lisa, "Terserah kau mau memanggilku apa, Nona. Aku bahkan rela dipanggil murid kesayangan sekalipun. Aku ingin sekali belajar sihir darimu. Kudengar... kau mengerti sihir tingkat tinggi bahkan sampai level inti dan struktur yang tidak ada di buku teks mana pun."
Lisa berdiri diam di tengah mereka berdua yang sibuk berebut. Wajahnya datar dan terlihat sangat malas.
"Aku tidak mau," jawab Lisa singkat. "Aku tidak suka ribet. Dan aku tidak ingin membuang-buang waktuku yang berharga hanya untuk mengajari kalian yang otaknya mungkin lambat menangkap."
"Wah jahat banget!" seru Kyle.
"Tolonglah Lisaaaa..." mereka berdua mendekat memohon. "Kami bukan murid bodoh kok! Kami ini elit akademi! Pintar-pintar!"
"Benar kata Kyle! Kamu itu jenius, Lisa. Kalau kau mengajari kami, cukup sekali lihat atau sekali jelaskan, kami pasti langsung paham dan bisa langsung praktek! Janji deh!"
Lisa terdiam memandangi mereka berdua yang memohon dengan wajah memelas. Akhirnya ia menghela napas panjang.
"Baiklah... sudahlah."
Mata mereka berdua langsung berbinar. "Berarti mau?!"
"Karena kalian adalah teman-teman dari Pangeran Kael, dan Pangeran itu teman baiknya Floyen adikku... aku akan memberimu kesempatan." Lisa menatap mereka tajam.
"Tapi ingat. Aku bukan guru biasa yang sabar dan lembut. Sebelum aku benar-benar mengajari kalian, aku akan memberikan TES."
"Tes apa?!" tanya mereka antusias.
"Tes pemahaman dan mental. Aku akan jelaskan satu konsep dasar yang paling sederhana tapi paling sulit dimengerti. Jika kalian bisa mengerti dan merasakannya dalam hitungan menit... lanjut. Tapi kalau kalian tidak ngerti atau malah pusing... aku akan berhenti di situ saja dan tidak mau tahu lagi."
Lisa melipat tangan di dada. "Siap? Atau mau mundur sekarang?"
Kyle dan Harit langsung menegakkan badan penuh semangat.
"SIAP KAKAK GURU!!" teriak mereka kompak.
"Ayo mulai! Kami siap menerima tantangan apapun!"
Lisa berdiri di tengah taman belakang asrama yang sepi. Di hadapannya, Kyle dan Harit berdiri tegap dengan mata terpejam rapat, wajah mereka serius sekali.
"Dengar baik-baik," ucap Lisa dingin dan tegas. "Jangan gunakan mantra. Jangan paksa tenaga dalam kalian keluar. Itu salah caranya."
"Energi itu ada di mana-mana. Di udara, di angin, di tanah, bahkan di celah-celah jari kalian. Rasakan... rasakan getarannya. Tariklah itu masuk ke dalam tubuhmu secara alami, seperti bernapas."
Kyle dan Harit mengerahkan seluruh konsentrasi mereka. Kening mereka berkerut, otot mereka tegang, tapi... angin pun tidak bergerak sedikitpun. Hening.
"Gimana? Rasanya?" tanya Lisa santai.
"Eum... rasanya... anginnya dingin ya?" jawab Kyle asal.
"Bodoh! Itu karena emang lagi musim dingin!" ceplos Lisa. "Cari energinya! Bukan suhunya!"
Tiba-tiba dari arah belakang terdengar suara langkah kaki dan tawa kecil.
"Hahaha! Apa yang kalian lakukan di sana? Berdiri kayak patung?"
Mereka menoleh. Ternyata itu Pangeran Kael danTheo yang baru saja lewat. Mereka berhenti melihat pemandangan aneh di depan mata.
"Wah, lagi ngapain sih? Latihan meditasi?" tanya Theo bingung.
Harit membuka mata sedikit sambil menghela napas capek. "Kita lagi diajarin sama Lisa nih! Dia mau ajarin kita cara merasakan energi murni! Susah banget sumpah!"
Mata Kael berbinar. "Oh? Lisa mengajari kalian? Boleh ikut gak?"
Lisa menoleh datar. "Bebas. Kalian mau ikut silakan. Tapi siap-siap pusing dan malu kalau tidak bisa."
"AYO IKUT!!" 🤩
Tanpa pikir panjang, Kael dan Theo langsung ikut berdiri sejajar dengan Kyle dan Harit. Kini ada empat cowok terkeren dan terpintar di akademi yang berdiri rapi seperti murid SD, menunggu perintah Lisa.
Pemandangan itu sangat lucu dan langka. Putra Grand Duke, Putra Penyihir Agung, Putra Jenderal, dan Pangeran Mahkota... semuanya jadi murid magang gadis berpenutup mata.
"Ayo semua pejamkan mata," perintah Lisa. Ia mulai berjalan mondar-mandir di depan mereka, suaranya lembut namun memandu jiwa.
"Rilekskan tubuh. Kosongkan pikiran. Jangan memikirkan sihir api, sihir air, atau pedang. Hanya ada kalian... dan alam semesta."
Lisa melewati depan Kyle. "Kyle, jangan kaku sekali! Ototmu tegang begitu mana energi mau masuk? Lemeslah sedikit!"
"Iya siap!" Kyle buru-buru santaiin badan.
Lisa berhenti di depan Harit. "Harit, otakmu terlalu banyak berpikir. Berhenti menganalisis. Rasakan saja pakai hati."
"O... oke..."
Terakhir Lisa berdiri tepat di depan Kael. Pangeran itu berdiri sangat anggun, matanya terpejam, tapi ia bisa merasakan kehadiran Lisa sangat dekat. Aroma harum khas Lisa membuat hatinya berdebar tapi pikirannya jadi sangat tenang.
"Apa yang kau rasakan, Kael?" tanya Lisa pelan.
Kael menjawab pelan, "Aku merasakan... ada aliran hangat yang mengalir deras. Seperti sungai yang besar. Dan... aku merasakan kehadiranmu di situ, Lisa. Kau seperti pusat dari semua energi itu."
Lisa tersenyum tipis. "Hm. Kau lumayan peka."
Tiba-tiba...
Wush! 💨
Angin di sekitar mereka berputar pelan. Tanpa sadar, aura keempat pemuda itu mulai keluar dan menyatu dengan udara. Daun-daun di tanah terangkat sedikit menari mengikuti irama energi.
"Wah! Bisa! Bisa!" seru Kyle heboh.
"Tenang! Jangan bersorak! Pertahankan!" tegur Lisa.
Mereka berempat membuka mata dengan wajah berseri-seri dan takjub. Mereka merasa tubuh mereka jauh lebih ringan, pikiran mereka jernih, dan kekuatan mereka terasa mengembang dua kali lipat dari biasanya!
"Gila... ini baru namanya sihir tingkat tinggi..." bisik Theo takjub. "Cuma disuruh rasakan angin doang, tapi efeknya luar biasa!"
Kael menatap Lisa dengan tatapan yang makin dalam dan hangat.
"Lisa... kau benar-benar guru terbaik yang pernah ada. Terima kasih."
Lisa hanya mengibaskan tangannya santai. "Sudah, latihan cukup sampai di sini. Kalian sudah bisa menangkap dasarnya. Besok lanjut lagi kalau kalian tidak malas."
Begitu punggung Lisa menghilang di balik sudut koridor menuju kamarnya, keempat pemuda itu langsung melepas sikap kaku mereka dan langsung heboh sendiri.
KYLE 🤪
Ia langsung menghentakkan kakinya ke tanah sambil memekik kecil, "GILA GILA GILA! Lo pada ngerasa gak sih?! Tadi tuh beneran ajaib banget sumpah!"
Kyle memandangi kedua telapak tangannya sendiri dengan mata berbinar, "Gue ngerasa tubuh gue enteng banget! Energinya ngalir deras gitu lho dalem badan! Padahal gue latihan bertahun-tahun gak pernah ngerasain sensasi se-clean itu!"
HARIT 🤓
Harit mengangguk-angguk antusias sambil mencatat sesuatu di buku catatan kecilnya, "Benar! Prinsipnya beda banget sama yang diajarin guru-guru di kelas. Mereka cuma ngajarin cara pancingan dan mantra, tapi Lisa... dia ngajarin kita ngerti hakekat energinya itu sendiri."
Harit mendesah kagum, "Dia itu bukan cuma kuat, tapi otak dan wawasannya di luar nalar manusia biasa. Gue yakin, buku sihir tingkat tinggi mana pun di dunia ini pasti hafal di luar kepala sama dia."
Theo 💪
Theo yang biasanya pendiam dan kaku pun menyeringai senyum lebar, jarang banget dia senyum selega itu.
"Benar... tadi pas dia ngomong 'Rasakan', tiba-tiba tubuhku ngerasa kaya nyambung sama seluruh alam. Aneh tapi enak banget. Dan yang paling penting..." Theo menatap teman-temannya serius, "...Dia gak sombong. Padahal levelnya jauh di atas kita semua, tapi dia mau ngajarin kita dengan sabar walau mukanya judes."
Dan yang paling berbeda adalah Pangeran Kael.
Ia berdiri mematung menatap ke arah pintu tempat Lisa menghilang. Tangan nya secara tidak sadar menekan dadanya, di mana jantungnya masih berdegup kencang tidak wajar.
"Tadi... saat dia berdiri tepat di depan gue waktu latihan..." bisik Kael pelan, wajahnya memerah samar.
"Dia ngomong pelan banget, suaranya masuk ke dalem hati. Gue sampe lupa mau napas. Rasanya... damai banget. Dan pas dia bilang 'Kau lumayan peka'...rasanya..."ucap Kael sambil tersenyum
Theo memukul bahu Kael pelan. "Gue makin yakin satu hal. Lisa itu bukan orang sembarangan. Cara dia bicara, cara dia berjalan, cara dia memandang... itu aura yang tidak biasa
"Terus?" tanya Harit.
"Terus... gue makin pengen kenal dia lebih dalem. Gue pengen tau apa yang ada di pikiran dia.ucap Kael
KESIMPULAN MEREKA
Mereka berempat saling pandang lalu tertawa lepas.
"Oke, kesepakatan!" Kyle mengangkat tangan. "Mulai sekarang Lisa itu GURU KITA! Siapa yang berani ganggu atau bikin dia marah, urus sama kita!"
"SETUJU!!" 🤝🔥
Mereka pun berjalan beriringan meninggalkan koridor dengan hati yang berbunga-bunga dan semangat yang membara.
Sesampainya Lisa di depan pintu kamarnya, ia mendapati sosok kecil yang sudah duduk bersandar di dinding sambil menggoyangkan kakinya. Itu Floyen.
Begitu melihat Lisa datang, Floyen langsung berdiri dan mendekat dengan wajah sedikit cemberut karena menunggu lama.
"Kakak!! Dari mana saja sih? Lama banget!" rengek Floyen sambil memeluk lengan Lisa. "Aku udah nunggu dari tadi loh!"
Lisa tersenyum tipis lalu membuka pintu kamar mereka. "Maafkan aku Floyen. Tadi pas jalan pulang, aku dihadang seseorang... atau lebih tepatnya beberapa orang."
Mereka masuk dan duduk di tepi ranjang.
"Siapa? Jangan bilang... teman-teman Pangeran Kael itu kan?" tebak Floyen cepat.
"Iya. Mereka berempat. Kyle, Harit, Theo , sama Pangeran Kael sendiri."
Wajah Floyen langsung berubah waspada dan galak. "Hah?! Mereka menghadang Kakak?! Kenapa? Apa mereka macam-macam sama Kakak? Berani banget ya mereka?!"
Lisa tertawa kecil melihat tingkah adiknya yang protektif banget. "Tenang dong. Tentu saja mereka tidak berani macam-macam. Mereka cuma minta diajarin sihir, itu saja."
"Huh! Untung saja mereka gak macam-macam!" Floyen mengepalkan tangannya penuh semangat. "Kalau mereka berani sentuh Kakak sedikit aja atau bikin Kakak sedih... urus sama aku! Mereka harus hadapin aku dulu!"
Lisa mengelus kepala perak adiknya dengan lembut dan penuh kasih sayang.
"Benar. Kalau ada apa-apa, Floyen kan yang akan selalu maju paling depan lindungin Kakak, kan?"
"Tentu!!" jawab Floyen bangga.
RENCANA BESOK
"Ngomong-ngomong Kak..." Floyen tiba-tiba mendekatkan wajahnya, matanya berbinar ceria. "Besok kan jadwalnya latihan pedang ya?"
"Iya, tadi guru udah kasih tau. Katanya biar kita gak cuma ngandelin sihir doang."
"Nah itu dia!" Floyen berseru antusias. "Aku dapat tugas lho dari Guru Pembina! Aku jadi salah satu senior yang ditunjuk buat ngajarin murid-murid baru bagian sihir. Dan... nama Kakak masuk dalam daftar binaanku lho!"
Floyen tersenyum lebar penuh ide.
"Gini ya Kak... Walaupun sebenarnya dari dulu Kakaklah yang ngajarin aku pegang pedang pas di rumah Level Kakak kan jauh di atas aku semua."
"Tapi kan di depan orang lain kita harus pura-para ya. Gimana kalau... aku yang pura-pura jadi gurunya Kakak? Aku bakal ajarin pelan-pelan, terus Kakak pura-pura belajar biasa aja biar gak terlalu mencolok. Boleh gak?"
Lisa menatap adiknya yang lucu itu, lalu tersenyum lembut.
"Boleh saja. Asal kau jangan terlalu pamer kekuatanmu ya, Nona Guru."
"Siap Kakak! Janji deh! Aku bakal jagain Kakak dan bikin Kakak kelihatan keren tapi tetap misterius!" jawab Floyen sambil tertawa riang.
Malam itu berlalu dengan hangat, penuh tawa dan persiapan untuk latihan pedang besok pagi!
Bersambung.........