Dimas Anggara laki-laki yang berusia sekitar 33 tahun, nama dan wajahnya akan selalu membuat hati seorang Ratih terhenyak betapa tidak karena sudah lebih dari sepuluh tahun ini orang yang selalu mengisi hari-hari nya itu tiba-tiba pergi begitu saja meninggalkan dirinya tanpa ada salam dan kata perpisahan untuknya.
Dan kini di tengah Ratih sudah mulai bangun dari kerapuhan hatinya tiba-tiba saja dia bertemu kembali dengan Dimas Anggara.
yuk baca kisahnya di sini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Isshabell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.9 kecurigaan Regan
"Terimakasih pak Dimas," ucap Cindy ketika mobil Dimas sudah sampai di depan rumahnya.
"Ya," ucap Dimas.
"Rat, aku turun duluan. Kamu baik-baik sama pak Dimas ya," seloroh Cindy saat mau turun dari mobil itu.
Ratih mencebikkan bibirnya mendengar ucapan Cindy yang membuatnya sangat kesal karena ulahnya akhirnya dia sekarang berada satu mobil dengan Dimas.
"Oh ya pak Dimas saya titip Ratih ya pak," sempat-sempatnya Cindy melongokkan kepalanya ke dalam pintu mobil sebelum dia pergi.
Ratih mendelik menatap Cindy yang sudah keterlaluan menurutnya tapi Cindy malah tersenyum melihat Ratih mendelik menatap dirinya lalu dia pun pergi berjalan masuk ke dalam rumahnya.
"Kamu tinggal dimana?" tanya Dimas tiba-tiba pada Ratih tanpa menoleh ke belakang hanya melihat dari kaca yang ada di depannya.
"Apartemen Amapiano," jawab Ratih tanpa basa basi.
"Oke," Dimas mulai menyetir mobilnya dan melewati jalan-jalan yang dulu pernah mereka lewati bersama ketika masih menjadi pasangan kekasih.
Bayangan masa lalu itu kembali melintas di hadapan Dimas dan dia larut dalam kenangan itu di tambah dengan alunan music dari sportfy yang tiba-tiba saja mengeluarkan lagu favorit Ratih yang menjadi lagu terindah untuk hubungan mereka dulu.
Hati Ratih sedikit terusik dengan alunan musik itu. Secara tidak langsung ingatannya kembali menerawang pada kenangan masa lalunya saat masih bersama Dimas.
Tapi Ratih tidak mau berlarut-larut mengenang kembali masa-masa itu. Dia benci Dimas dan semua kenangannya.
"Bisa cepet sedikit gak sih bawa mobilnya," nada suara Ratih terdengar sangat kesal.
"Ok. Aku tahu kamu tidak mau berlama-lama di sini bersama ku. Atau...kamu takut kalau tunangan kamu nanti tahu kamu sedang bersamaku? Tunangan yang lebih segalanya dari aku," suara Dimas terkesan menahan kekesalan.
"Dim, jangan buat aku makin kesal dengan semua ucapan kamu itu," tatapan Ratih tajam pada Dimas yang sedang mengemudi itu.
Dimas tak memperdulikan perkataan Ratih, dia langsung tancap gas memenuhi keinginan Ratih tadi.
Ratih sedikit takut melihat Dimas yang ngebut menyetir mobilnya ," bisa gak bawa mobilnya gak ngebut gitu," ucap Ratih.
"Supaya kamu cepat sampai ke rumah dan supaya tunangan kamu tidak khawatir," sinis suara Dimas sambil tetap fokus menyetir mobilnya.
Ratih mendengus kesal mendengar perkataan Dimas yang terkesan menyindir dirinya itu.
Ratih hanya bisa berdoa supaya tidak terjadi apa-apa di jalan melihat cara menyetir Dimas yang sedikit emosional.
Dan dalam hitungan menit saja akhirnya mobil Dimas sudah masuk ke dalam pelataran apartemen Ratih.
Di depan apartemen itu terlihat seorang laki-laki seumuran Dimas, bertubuh tinggi sedang dengan mengenakan setelan jas berwarna biru tua dan bersepatu hitam. Melihat dari penampilannya dia adalah seorang CEO. Terlihat dia sedang duduk di bangku teras apartemen Ratih. Dia adalah Regan tunangannya Ratih.
"Dia pasti tunangan kamu yang kaya itu," ucap Dimas sambil menoleh ke belakang ke arah tempat duduk Ratih.
"Dim, udah deh jangan mulai lagi," Ratih kesal karena sikap Dimas yang sedari tadi terus saja menyindir dirinya soal Regan.
Tangan Ratih sudah bersiap memegang gagang pintu mobil dia hendak keluar dari mobil Dimas," makasih tumpangannya," kata Ratih sebelum dia benar-benar keluar dari mobil itu.
Dimas tidak menyahut. Dia belum beranjak dari tempat itu, dia memperhatikan langkah Ratih yang berjalan mendekat ke arah Regan yang sudah menunggunya.
Dimas menarik nafas dalam-dalam terasa berat dan sesak di dadanya, dia menyaksikan wanita yang sangat dia cintai ternyata sudah menjadi milik orang lain.
Secepat kilat Dimas memutar balik mobilnya dan dengan segera dia pergi meninggalkan tempat itu.
"Siapa dia?" tanya Regan pada Ratih dengan nada tidak suka.
"Dimas. Pimpinan baru di kantor," ucap Ratih sambil melenggang masuk ke dalam apartemennya.
Regan berdiri dari tempat duduknya dan berjalan menyusul Ratih sambil bertanya lagi seputar Dimas.
"Dari cara kamu menyebutkan namanya, sepertinya kamu sudah akrab sama dia," Regan menyelidik.
"Enggak. Cuma sebatas atasan dan bawahan," Ratih terus berjalan.
"Gak mungkin, aku gak percaya," Regan mencengkeram bahu Ratih dan membalikkan badan Ratih menghadap dirinya.
"Apa sih Gan?" ucap Ratih pada Regan dengan kesal.
"Siapa dia!" Regan mencengkeram bahu Ratih dan menatapnya tajam.
"Dia atasan aku, kamu kenapa sih," ucap Ratih kesal dengan sikap Regan yang terlalu protektif pada dirinya selama ini.
"Ok." Regan melepaskan cengkeraman tangannya di bahu Ratih sambil menipiskan bibirnya menatap Ratih dan sepertinya masih ada sesuatu yang dia ingin tahu tentang Dimas.
"Aku mau istirahat, capek. Kamu pulang aja dulu," ucap Ratih pada Regan dengan wajah kesal.
Regan mengerutkan keningnya menatap Ratih, dia merasa sikap Ratih tiba-tiba jadi aneh.
"Ada apa ini? kenapa sikap Ratih seperti itu? Dan siapa sebenarnya Dimas itu?," berbagai macam pertanyaan berkecamuk di kepala Regan.
Dengan hati kesal Regan pergi meninggalkan apartemen Ratih, dia berjalan ke arah mobilnya yang di parkir di halaman apartemen.
Regan masuk kedalam mobil dan dengan kasar dia menutup pintu mobilnya.
" Aku harus cari tahu siapa Dimas itu, beraninya dia mendekati Ratih."
Suara mobil Regan menderu dengan sangat kasar menuju ke arah jalan raya dan menghilang di kegelapan malam yang mulai turun.
Di dalam kamarnya sana terlihat Ratih sedang rebahan di atas kasurnya, matanya menatap langit-langit kamar yang menciptakan bayangan Dimas sedang menatap dirinya.
"Kenapa sih Dim.....kenapa dulu kamu harus pergi dan kenapa juga sekarang harus kembali Dimas....." Buliran bening terlihat menetes membasahi pipi Ratih yang putih mulus itu." Sepuluh tahun yang lalu aku masih saja terus menunggu kamu Dim dan berharap kamu akan datang menemui aku atau berkirim surat padaku memberitahukan kabar kamu dan kelangsungan hubungan kita, tapi apa yang aku dapat...aku hanya bisa berharap dan berharap terus sama kamu sampai akhirnya aku lelah, lelah menunggu kamu yang tak pernah ada beritanya. Aku berlabuh pada Regan, dia memberiku segalanya," Ratih menarik nafas dalam-dalam dan memejamkan matanya perlahan mencoba menenangkan hatinya yang sedang kacau.
...****************...
Sementara itu Dimas sudah sampai juga di apartemennya, dia parkir mobilnya di teras apartemennya dan setelah itu dia pun beranjak masuk ke dalam.
Dimas melepas jas yang di kenakannya dan melemparkannya begitu saja diatas sofa yang ada di ruang tamu. Sementara itu dia sendiri langsung menghempaskan tubuhnya di atas sofa itu juga, kepalanya dia sandarkan ke bahu kursi sofa itu. Pikirannya melayang pada sosok Regan tunangan Ratih.
"Regan. Dia laki-laki yang di pilih Ratih untuk menggantikan diriku," getir nada suara Dimas saat mengucapkan kalimat itu.
Tiba-tiba saja hatinya terasa sangat hampa dan kosong, reflek dia menutup wajahnya dengan kedua tangannya berharap tidak akan melihat lagi sesuatu yang membuatnya bersedih.