Berawal disalahpahami hendak mengakhiri hidup, kehidupan Greenindia Simon berubah layaknya Rollercoaster. Malam harinya ia masih menikmati embusan angin di sebuah tebing, menikmati hamparan bintang, siangnya dia tiba-tiba menjadi istri seorang pria asing yang baru dikenalnya.
"Daripada mengakhiri hidupmu, lebih baik kau menjadi istriku."
"Kau gila? Aku hanya sedang liburan, bukan sedang mencari suami."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kunay, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mengabaikan
Satu minggu telah berlalu sejak Lauren Alvaretta kembali dan menancapkan klaim emosionalnya di penthouse Rex.
Kehidupan pernikahan antara Greenindia dan Rex telah memasuki fase kedamaian yang dingin. Tidak ada pertengkaran besar, tetapi juga tidak ada keintiman.
Rex tenggelam dalam pekerjaannya, mencoba mengejar ketertinggalan yang ia lewatkan selama kakinya terluka. Malam-malam berlalu dengan keheningan yang tegang, di mana mereka berbagi ruangan, tetapi tidak berbagi kehidupan.
Greenindia menghabiskan sebagian besar waktunya di dalam penthouse, sibuk dengan pikirannya. Dia membatasi interaksi dengan Rex, menjaga jarak profesional yang kaku.
Namun, kedamaian itu sering terganggu oleh kedatangan Lauren.
Lauren memiliki akses yang mudah ke penthouse, sering datang dengan alasan mengantar makanan sehat untuk Rex, atau sekadar menikmati kopi di teras.
Bagi Greenindia, setiap kedatangan Lauren adalah pelanggaran terhadap privasi keamanannya. Greenindia selalu mengabaikan mereka, hanya menjadi penonton yang dingin terhadap tawa akrab dan obrolan bisnis yang hanya mereka berdua pahami. Lauren tidak berusaha berinteraksi dengannya, dan Greenindia tidak berusaha mengakrabkan diri—ia hanya mengamati, menyimpan setiap interaksi mereka sebagai data, bukan sebagai penghinaan pribadi.
Setelah seminggu diisolasi, Greenindia merasa tercekik. Dia menyadari, untuk menjadi 'Nyonya Carson yang disiplin' sesuai tuntutannya, dia tidak bisa hanya mengurung diri. Dia butuh kegiatan, dan dia butuh penghasilan—penghasilannya sendiri, meskipun Rex sudah menawarkan kartu platinum miliknya..
****
Pagi itu, Greenindia mengenakan pakaian kasual—jaket jeans dan t-shirt putih—menyembunyikan rambutnya yang panjang di balik topi. Dia sudah memberi tahu Lizbet, dan pemilik kafe lamanya, bahwa ia akan kembali bekerja.
“Kau yakin, Green?” Lizbet bertanya saat Greenindia tiba, raut wajahnya khawatir. “Wartawan masih ada di sekitar sini. Dan setelah semua yang terjadi dengan Chester…”
“Aku tidak peduli dengan Chester atau wartawan,” jawab Greenindia datar. “Aku hanya butuh bekerja. Aku butuh uangku sendiri. Dan aku tidak akan membiarkan mereka memenjarakan aku di dalam rumah.”
Lizbet mengangguk, melihat tekad baja di mata Greenindia. “Baiklah. Tapi kau di bagian shift pagi. Jangan menarik perhatian.”
Greenindia segera tenggelam dalam rutinitas kerja, melayani pelanggan dengan efisien. Rekan-rekan kerjanya segera mengerubunginya di belakang meja barista.
“Green! Astaga, kau ke mana saja?” tanya Melia, salah satu pelayan.
“Aku sakit, Mel,” jawab Greenindia singkat.
“Jangan bohong! Kami melihat fotomu! Kau benar-benar dengan Chester, si pewaris itu?” tanya rekannya, seorang barista, matanya lebar karena rasa ingin tahu.
Greenindia menghela napas, menyandarkan narasi yang paling tidak berbahaya yang bisa ia ciptakan. “Itu kecelakaan. Aku sedang bekerja di acara pribadi di sebuah klub malam. Aku membantunya. Hanya itu. Aku tidak mengenalnya.”
“Acara klub malam? Wah, kau sangat beruntung! Kami pikir kau kini menjadi sosialita atau apalah!” seru Melia, sedikit kecewa.
Greenindia hanya tersenyum tipis, menghindari detail pernikahannya. Ia tidak akan membocorkan rahasianya pada rekan kerja yang terlalu ingin tahu.
Sambil menyeka meja, Greenindia merasakan lonceng pintu kafe berbunyi, menandakan kedatangan tamu. Ia tidak mendongak, fokus pada pekerjaannya.
Tiba-tiba, ia mendengar suara tawa yang familier—tawa yang hanya akan dikeluarkan Rex saat bersama Lauren.
Jantung Greenindia berdebar, bukan karena cemburu, tetapi karena bahaya. Ini adalah pelanggaran keamanan yang konyol. Rex seharusnya tahu tempat kerjanya adalah zona bahaya.
Greenindia tetap memunggungi mereka, mencoba berharap mereka hanya mampir sebentar. Tetapi suara mereka terlalu dekat. Rex dan Lauren duduk di meja sudut dekat jendela, tempat yang sempurna untuk menarik perhatian.
“—Jadi, kau benar-benar tidak bercanda tentang A.R.N Global, Lauren?” Rex bertanya, suaranya dipenuhi ketertarikan.
“Aku tidak pernah bercanda tentang bisnis, Rex,” jawab Lauren, nadanya elegan dan berkuasa. “Itu sebabnya aku kembali dari London. Aku mengajukan proposal kerja sama, dan dewan direksi mereka menyukainya. Itu akan memberikan Obsidian pintu masuk yang mudah ke pasar Asia. Kau tahu betapa Ayahmu selalu ingin ekspansi ke sana.”
Rex tersenyum puas. “Aku tahu. Kau selalu ambisius. Tapi kau tahu, jika kau membutuhkan dukungan Dewan Obsidian untuk proposal itu, kau harus bekerja lebih keras.”
“Aku tahu, dan itu adalah salah satu alasanku ingin bertemu denganmu, Rex. Aku butuh nasihatmu,” kata Lauren manja.
Greenindia mendengar semua ini. Dia membalikkan badan dengan tenang, mengambil buku catatan pelayan di meja kasir. Ia menarik napas, mengenakan topeng Nyonya Carson yang dingin dan acuh tak acuh, dan berjalan menuju meja mereka.
Lauren sedang mencondongkan tubuh ke depan, berbicara dengan Rex. Rex hanya mendengarkan dengan penuh perhatian.
Greenindia berdiri di samping meja mereka.
“Selamat datang. Ada yang bisa saya bantu?” tanya Greenindia, suaranya profesional dan nyaris tanpa emosi.
Baik Rex dan Lauren mendongak secara bersamaan.
Wajah Lauren yang semula berseri-seri, mendadak membeku. Matanya melebar sesaat, sebelum segera digantikan oleh senyum yang terlalu manis, penuh racun.
“Oh, ya ampun…” bisik Lauren, suaranya sengaja dibuat terkejut. “Rex… lihat siapa yang melayani kita! Greenindia! Astaga, aku tidak menyangka kau akan berada di sini! Kau bekerja di sini?”
Rex hanya memandang Greenindia, matanya sedikit menyipit. Ia tidak terlihat kaget, tetapi bingung. Kenapa dia tidak memberitahunya kalau mulai bekerja hari ini?
“Green,” kata Rex datar. “Apa yang kau lakukan di sini?”
Greenindia mengabaikan pertanyaan Rex, tatapannya terarah pada Lauren. “Tuan dan Nona, Anda ingin memesan apa?”
Lauren tertawa pelan, tawanya meremehkan. “Rex, kau lihat? Istrimu sangat rajin! Sangat... sederhana! Itu sangat manis, Green. Aku tahu kau tidak bisa hidup tanpa kesibukan, tapi kenapa di sini? Kau bisa saja meminta Rex untuk memperkerjakanmu di perusahaannya. Kau bisa mulai dari bawah, tentu saja, mungkin sebagai asisten eksekutif yang mengurus jadwal minum teh Rex. Itu akan jauh lebih baik daripada…” Lauren melirik sekeliling kafe yang sederhana.
“Aku bisa memperkerjakannya di perusahaanku,” sela Rex. Ia meraih tangan Lauren, menenangkannya. “Tapi Green sudah memiliki keahliannya sendiri. Dia tidak harus bekerja, Lauren. Dia Nyonya Carson. Tapi jika dia memilih bekerja di sini, itu pilihannya. Itu adalah bentuk kemandirian yang aku dukung.”
Rex memang membelanya, tetapi Greenindia tahu Rex hanya membela keputusannya untuk membiarkan Greenindia mandiri, bukan membela dirinya sebagai individu. Rex memandang Greenindia dengan tatapan dingin.
Lauren segera menyahut dengan nada sinis, “Tapi, tentu saja, Green, kau harus mencoba. Kau harus menunjukkan pada Rex bahwa kau pantas mendapatkan nama Carson. Tapi mungkin kau harus melayani kami dulu, sebelum kau bergabung dengan perusahaan?”
Lauren berbicara dengan sangat manis tapi semua yang dikatakannya begitu beracun.
Greenindia meletakkan pensilnya di atas buku catatan dengan bunyi klik yang tajam. Ia menatap Lauren, dan kemudian ke Rex. Ia tidak membiarkan satu pun emosi mencapai wajahnya. Wajahnya adalah topeng yang sempurna, hasil dari pelatihan bertahun-tahun sebagai Nona Muda Anderson.
“Maaf, saya rasa pesanan Anda lebih penting daripada diskusi pekerjaan saya,” kata Greenindia, suaranya rendah dan terkontrol, memotong Lauren. “Apakah Anda ingin Latte? Atau Cappuccino? Dan apakah Anda berdua sudah makan siang?”
Lauren tersentak, wajahnya menunjukkan keterkejutan sesaat karena dipotong dengan begitu berani. Rex, di sisi lain, tersenyum kecil—senyum tipis yang hanya bisa dilihatnya. Ia menyukai keberanian Greenindia, bahkan jika itu melanggar etiket sosial.
“Aku ingin double espresso, Green,” kata Rex. “Lauren, pesanmu?”
Lauren, yang kini menahan amarah, mencoba memprovokasi Rex. “Rex, bukankah kau harus lebih menjaga istrimu? Aku khawatir dia akan mendapat masalah. Kau tahu, dengan gosip yang... sulit.”
Rex mengangkat bahu, mengabaikan provokasi itu. “Green adalah wanita yang bertanggung jawab atas dirinya sendiri, Lauren. Itu salah satu alasanku menikahinya. Dia tahu batasan. Sekarang, pesanlah.”
Lauren memesan Latte dengan banyak detail yang rumit, mencoba menegaskan statusnya sebagai pelanggan kelas atas yang dilayani oleh Nyonya Carson.
Greenindia mencatat pesanan itu, mengulangi semuanya dengan nada monoton. “Double Espresso dan Latte dengan susu almond dan sedikit kayu manis. Baik, tunggu sebentar.”
Greenindia berbalik tanpa mengucapkan sepatah kata pun, meninggalkan Rex dan Lauren dalam percakapan akrab mereka.
Di belakang meja barista, Melia segera menyikut Greenindia. “Astaga! Mereka siapa? Mereka sangat kaya! Apakah mereka temanmu dari klub malam?”
Greenindia mencampur bahan-bahan pesanan itu, memaksakan dirinya untuk fokus. “Tidak. Mereka adalah klienku saat aku bekerja sebagai event organizer dulu. Mereka datang ke acara yang aku kelola. Hanya itu.”
Kebohongan itu sempurna dan tidak berbahaya.
Sambil menunggu espresso diseduh, Greenindia melihat ke meja mereka lagi. Rex dan Lauren sudah kembali tenggelam dalam obrolan tentang merger dan akuisisi. Greenindia merasa penthouse adalah satu hal, tetapi tempat ini, kafe yang merupakan satu-satunya jejak kemandiriannya yang tersisa, adalah tempat yang tidak boleh ia kompromikan.
Greenindia mengambil dua gelas kopi itu dan mengantarkannya ke meja Rex dan Lauren. Lalu dia kembali ke belakang.
Green membaca sebuah pesan di ponselnya begitu berada di belakang, keningnya berkerut dalam.
Green melihat Lizbet di kasir.
“Kak, aku harus pergi sekarang,” bisik Greenindia, suaranya tegang.
Lizbet tampak bingung. “Sekarang? Tapi shift-mu belum selesai, Green!”
“Aku akan jelaskan nanti,” kata Greenindia. “Aku baru saja mendapatkan pesan, ada hal yang mendesak.. Aku tidak bisa menundanya. Ini lebih penting.”
Green segera berlari meninggalkan kafe tanpa melirik ke arah dua orang yang sedang berbincang diselingi tawa. Siapa pun yang melihat, tidak mungkin tidak menganggap keduanya sebagai pasangan.
Rex sedikit terkejut saat melihat Green berlari meninggalkan kafe padahal belum jam pulang kerja, ekspresinya bingung.
Rex menyesap kopinya, tetapi matanya mengikuti Greenindia yang berjalan cepat menjauh.
“Kenapa dia buru-buru sekali?” tanya Lauren, nadanya masih meremehkan.
Rex menoleh ke Lauren, ekspresinya tidak lagi santai. Ia melihat kepergian Greenindia bukan sebagai pelarian, tetapi sebagai tindakan prioritas.
“Entahlah!”
Rex juga penasaran. Ke mana Green akan pergi? Dia melirik ponsel yang ada di atas meja. Wanita itu tidak mengiriminya pesan.
Rex tidak menyadari mengapa Greenindia pergi secara mendadak. Dia hanya melihat bahwa Green kini memiliki urusan yang penting—urusan yang tidak ada hubungannya dengan dirinya. Dan itu membuatnya bingung.
semangat up