NovelToon NovelToon
EMPRESS ELARA (Transmigrasi Kedalam Tubuh Permaisuri Lemah)

EMPRESS ELARA (Transmigrasi Kedalam Tubuh Permaisuri Lemah)

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi ke Dalam Novel / Fantasi Wanita / Cinta Istana/Kuno / Masuk ke dalam novel / Mengubah Takdir
Popularitas:18.5k
Nilai: 5
Nama Author: Senja Bulan

Seorang wanita modern Aira Jung, petinju profesional sekaligus pembunuh bayaran terbangun sebagai Permaisuri Lian, tokoh tragis dalam novel yang semalam ia baca hingga tamat. Dalam cerita aslinya, permaisuri itu hidup menderita dan mati tanpa pernah dianggap oleh kaisar. Tapi kini Aira bukan Lian yang lembek. Ia bersumpah akan membuat kaisar itu bertekuk lutut, bahkan jika harus menyalakan api di seluruh istana.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja Bulan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30. "Jika cinta ini adalah dosa ..... biarkan aku tenggelam bersamanya"

Suara hujan menimpa atap aula kerajaan, menggema seperti dentum genderang perang.

Semua mata tertuju pada dua sosok di tengah ruangan:

Kaisar Kaelith dan Permaisuri Elara.

Mereka berdiri berhadapan satu sebagai penguasa tertinggi, satu sebagai wanita yang berani menantangnya.

“Kau ingin menanggung kesalahan bawahannya?”

suara Kaisar terdengar dalam dan dingin.

“Atau kau ingin menunjukkan kekuasaanmu di hadapan dewan?”

Elara menatap lurus, suaranya tenang namun tajam.

“Aku hanya menegakkan keadilan, bukan menantangmu.”

“Keadilan?” Kaelith tersenyum sinis.

“Atau pembenaran untuk melindungi orang yang mungkin sedang berkhianat padaku?”

Semua pejabat menunduk, takut pada hawa yang memanas di antara mereka.

Hanya Jenderal Arven yang masih berlutut, wajahnya menunduk dalam menahan diri agar tak ikut bicara.

“Yang Mulia,” Elara melangkah maju. “Arven hanya menunda laporan karena aku memintanya mencari bukti tambahan. Tidak ada niat menyembunyikan informasi.”

Kaelith bangkit dari singgasana, mantel hitamnya bergoyang.

“Tapi laporan itu tetap ditahan. Kau melanggar aturan istana.”

“Aturan bisa dibuat oleh siapa pun yang berkuasa,” balas Elara dengan lirih tapi tajam.

“Tapi keadilan... tidak.”

Ruangan menjadi hening.

Kata-kata itu seperti tamparan di wajah Kaisar.

Namun Kaelith hanya menatapnya lama, sebelum akhirnya berkata:

“Kalau begitu, kita uji siapa yang benar.”

Ia menatap penjaga.

“Tangkap Jenderal Arven. Bawa ke penjara kerajaan. Hukuman akan ditentukan setelah penyelidikan selesai.”

Elara segera melangkah maju.

“Kaelith, aku peringatkan—”

“Cukup, Elara!”

Untuk pertama kalinya, Kaisar berteriak kepadanya di depan semua orang.

“Jangan uji kesabaranku hanya karena aku mencintaimu.”

Suasana membeku.

Bahkan suara hujan seolah berhenti.

Elara terpaku, matanya bergetar bukan karena takut, tapi karena luka.

“Kalau itu yang kau sebut cinta… maka cinta yang seperti itu hanya akan menghancurkan segalanya.”

Kaelith menatapnya, tapi ia tidak membalas.

Hanya memberi isyarat pada penjaga untuk membawa Arven pergi.

Jenderal itu menatap Elara untuk terakhir kalinya sebelum dibawa keluar.

Dalam pandangan itu, ada rasa hormat… dan janji diam yang tidak terucap.

Malamnya, Elara duduk di ruang pribadinya, lampu minyak hampir padam.

Kaen berdiri di sampingnya, resah.

“Yang Mulia, kau tak bisa tinggal diam. Kalau Kaisar benar-benar menjatuhkan hukuman mati—”

“Aku tahu,” potong Elara pelan. “Tapi aku tidak bisa bertindak gegabah. Satu langkah salah, semuanya bisa hancur.”

Ia menatap keluar jendela ke arah menara penjara yang tampak dari kejauhan.

Hujan turun deras, membasahi batu-batu istana.

“Kaen,” katanya lirih, “siapkan orang-orang kita. Aku akan temui Arven malam ini.”

Kaen terkejut.

“Itu terlalu berisiko! Kalau ketahuan—”

“Maka biarkan aku menanggungnya sendiri.”

Tatapan Elara tajam, tapi di baliknya ada luka yang dalam.

Ia tahu, langkah ini bisa menghancurkan segalanya…

tapi juga satu-satunya cara untuk menyelamatkan orang yang pernah menyelamatkan hidupnya.

Sementara itu, di paviliun timur, Selir Valen duduk di depan meja rias.

Ia sedang menulis surat dengan tinta merah darah.

Di hadapannya, seorang pelayan pribadi berlutut dengan wajah takut.

“Pastikan surat ini sampai ke tangan Kaisar sebelum fajar.”

“Tapi, Nyonya… kalau isi surat ini benar-benar dibaca—”

“Diam,” potong Valen dingin.

Ia menatap bayangannya di cermin, bibirnya melengkung tajam.

“Sudah waktunya Kaisar tahu siapa yang benar-benar berkhianat padanya.”

Ia mengelus surat itu dengan lembut, seolah sedang mengelus wajah seseorang yang akan ia hancurkan.

“Elara… aku sudah membiarkanmu bersinar terlalu lama.”

Malam kian larut.

Elara menyusup keluar dari paviliunnya bersama Kaen, menyamar dengan jubah gelap.

Mereka melewati lorong rahasia di belakang taman batu, menuju penjara bawah istana.

Saat sampai di depan sel Arven, Elara melihatnya duduk bersandar di dinding, wajahnya pucat tapi tenang.

Begitu ia melihat Elara, senyum samar muncul di bibirnya.

“Aku tahu kau akan datang,” katanya pelan.

“Aku tak bisa biarkan kau dihukum atas sesuatu yang kulakukan,” jawab Elara, menunduk sedikit.

“Kau tak perlu menyesal, Yang Mulia. Aku tahu apa risikonya saat memilih berpihak padamu.”

Elara menatapnya lama, matanya lembap.

“Kau bodoh, Arven.”

“Dan kau… terlalu berani.”

Keheningan melingkupi mereka.

Hanya suara hujan di kejauhan dan rantai besi yang berderak pelan.

“Aku akan membebaskanmu malam ini,” bisik Elara akhirnya.

“Tapi setelah itu… kau harus pergi jauh dari ibu kota.”

Arven menatapnya, lalu tersenyum tipis.

“Kalau itu perintahmu, aku akan menuruti. Tapi izinkan aku mengatakan satu hal sebelum aku pergi.”

Elara mengangkat wajah.

Arven mendekat sedikit, suaranya hampir seperti bisikan.

“Kau mungkin tidak sadar, tapi selama ini aku bertahan… karena aku percaya padamu. Bukan karena kau Permaisuri, tapi karena kau Elara.”

Napas Elara tercekat.

Namun sebelum sempat menjawab, langkah kaki terdengar di ujung lorong.

Kaen segera menariknya mundur ke balik dinding rahasia.

Suara itu makin dekat dan kemudian muncul sosok yang tak asing.

Kaisar Kaelith.

Ia berdiri di depan sel Arven, membawa surat merah di tangannya surat dari Selir Valen.

“Jadi benar,” ucapnya pelan, namun setiap katanya mengguncang udara.

“Permaisuri menyusup ke penjara malam ini untuk membebaskan pengkhianat.”

Elara menatap dari balik bayangan, wajahnya pucat.

Kaelith meremas surat itu hingga hancur di tangannya.

“Kau sudah melampaui batas, Elara…”

Dan untuk pertama kalinya, suara Kaisar itu bukan hanya marah tapi terluka.

Udara di penjara bawah tanah begitu lembap, seolah menyerap semua napas yang tersisa.

Cahaya obor bergoyang di dinding batu, menampilkan bayangan panjang Kaisar Kaelith yang berdiri tegak dingin, namun matanya menyala seperti bara yang siap membakar.

Elara keluar dari balik lorong rahasia.

Ia tahu tidak ada gunanya bersembunyi.

Langkahnya berat, tapi tatapannya tetap tajam.

“Jadi… semua ini benar,” suara Kaisar terdengar datar.

“Kau datang ke sini diam-diam, menentang perintahku, demi pria lain.”

Elara menatap lurus ke arah Kaelith.

“Aku datang bukan demi pria lain, tapi demi kebenaran yang kau butakan sendiri.”

Kaelith mendengus pelan, namun rahangnya menegang.

Ia berjalan mendekat, setiap langkahnya menggema di ruang batu itu.

“Kebenaran? Atau kepentinganmu sendiri?”

“Kau pikir aku tidak tahu siapa yang memberimu laporan tentang keluarga Renard? Tentang harta yang disembunyikan?”

Elara mengangkat dagunya.

“Aku tahu siapa yang menulis surat itu. Selir Valen, bukan?”

Kaisar berhenti, matanya menajam.

“Kau bahkan tahu sejauh itu…”

“Tentu saja. Karena aku mengenalnya lebih lama dari yang kau kira. Dia tidak hanya ingin menghancurkanku, Kaelith dia ingin menghancurkanmu juga.”

Kaelith tertawa kecil, tawa getir.

“Setiap kali aku mencoba mempercayaimu, selalu ada alasan baru untuk membuatku ragu.”

“Mungkin karena kau tidak pernah benar-benar percaya pada siapa pun,” Elara balas cepat.

“Kau hanya percaya pada kekuasaanmu sendiri. Pada singgasana itu.”

Kaisar mendekat sampai jarak mereka hanya satu langkah.

Matanya menatap dalam, mengunci pandangan Elara yang tetap tegak, meski napasnya mulai berat.

“Dan kau?” Kaelith berbisik. “Kau datang dari mana? Kau bertingkah seolah dunia ini milikmu.

Siapa sebenarnya kau, Elara?”

Pertanyaan itu membuat dunia seakan berhenti.

Elara terpaku. Untuk sesaat, Aira sisi dirinya yang sesungguhnya ingin berteriak bahwa ia bukan wanita yang ditulis dalam sejarah ini.

Tapi ia menahan diri.

Ia menghela napas pelan.

“Aku hanya wanita yang lelah menjadi boneka. Itu saja.”

Kaelith terdiam lama.

Kemudian, tanpa peringatan, tangannya terangkat dan menepuk dinding di belakang Elara, membuatnya terperangkap di antara batu dingin dan tubuh Kaisar yang hangat namun penuh kemarahan.

“Dan boneka itu sekarang berani menentang penciptanya?”

“Kalau penciptanya sebodoh kau, ya. Aku akan menentangnya sampai mati.”

Mata Kaelith membara.

Namun di balik amarah itu, ada sesuatu yang lain luka yang tak terucap, rasa yang sudah terlalu dalam untuk diingkari.

“Kenapa kau membuatku seperti ini…” katanya pelan, suaranya pecah.

“Setiap kali aku ingin membencimu, aku malah semakin…”

Ia tak melanjutkan.

Hanya menatap Elara seolah mencoba mencari alasan untuk tidak jatuh.

Tapi sudah terlambat.

Kaelith menunduk, bibirnya hampir menyentuh telinga Elara.

“Kau tahu apa yang paling menyakitkan?”

Elara membalas lirih, “Apa?”

“Aku masih mencintaimu, bahkan ketika kau menghancurkanku.”

Elara membeku.

Dunia di sekitarnya terasa berhenti.

Lalu ia berkata pelan, hampir berbisik,

“Dan aku masih mencintaimu… bahkan ketika kau ingin membunuhku.”

Hening.

Obor di dinding bergetar tertiup angin, seperti ikut menahan napas.

Kaelith menatapnya lama, kemudian perlahan menurunkan tangannya.

Wajahnya tampak letih bukan letih fisik, tapi letih karena terlalu banyak menahan perasaan yang saling melukai.

“Pergilah sebelum aku berubah pikiran,” katanya lirih.

“Bawa Arven keluar dari sini. Aku akan urus sisanya.”

Elara menatapnya tak percaya.

“Kaelith…”

“Jangan bicara apa pun,” potongnya. “Kalau aku melihatmu satu detik lebih lama, aku tidak tahu apa yang akan kulakukan.”

Air mata menetes di pipi Elara, tapi ia tidak menjawab.

Ia hanya menunduk sedikit, memberi hormat, lalu menarik Arven keluar dari sel dengan hati yang berat.

Saat langkah mereka menjauh, Kaelith menatap dinding batu di hadapannya.

Tangannya mengepal, darah menetes di sela jarinya.

“Jika cinta ini adalah dosa…” bisiknya parau,

“biarlah aku tenggelam bersamanya.”

Malam itu, Elara menatap langit dari atap paviliunnya.

Hujan sudah reda, tapi hatinya masih bergejolak.

Ia tahu setelah malam ini, segalanya tidak akan sama.

Cinta mereka tidak lagi sekadar perasaan.

Ia telah berubah menjadi medan perang…

dan hanya salah satu dari mereka yang akan keluar tanpa luka.

1
saniamycloe
kerennn gt cerita nya❤️❤️❤️
Senja Bulan: arigato 😍😍
total 1 replies
Tya Yulianti
the best
Tya Yulianti
novel favorit, alur cerita yg aku suka bgt,, love author 😍
Senja Bulan: makasih kk😍🤭
total 1 replies
mummy_aling
puas hatii..silkan terus berkarya author 👍
Senja Bulan: makasih dukungannya 😍
total 1 replies
Karo Karo
jangan lama upnya
Senja Bulan: oke kk 😍🤭
makasih ya udh komen
total 1 replies
Karo Karo
🫰🏻🫰🏻🫰🏻🫰🏻🫰🏻🫰🏻
Karo Karo
nah kan
Karo Karo
maksud nya apa tuh
Senja Bulan: maksudnya Elara ini terlalu 'hidup' dan terlalu kuat untuk dunia yang penuh dengan sandiwara dan kebusukan. Bisa dibilang si kaelith mulai mengangumi si Elara karena dia tidak seperti dia yang lalu.
total 1 replies
Karo Karo
mampir
Dede Mila
agak gimana gitu 😐😐😐😐
Senja Bulan: maksudnya
total 1 replies
Dede Mila
jadi gak nyaman mau komen ini.🤔
Senja Bulan: knp kk🙏
total 1 replies
Dede Mila
apa itu yg komen kasar sekali 🫵🤣🤣
Qiqi Maryam
waw gila gila permaisuri hebattt sekaliii
Qiqi Maryam
Apa cerita ini bakal sad ending kah??!!!!
Qiqi Maryam: masih panjang kah baiklah
total 2 replies
Awkarin
ORANG HIDUP MINIMAL BISA BILANG MAKASIH TOLONG DAN MAAF!!! Loo gak punya semua nyaaa
Awkarin: Maaf ke siapa ? Kenapa gk bisa bilang maaf di grup ? Kmu kan bikin salah nya disana ?
total 4 replies
Awkarin
MINIMAL JANGAN KEK ANJING LUU ABIS COMOT KOTAK GAK BILANG MAKASIH MAIN PERGI AJA DR GC . ADAB LUUU DIMANEEE ?
Qiqi Maryam
up lg thor
Senja Bulan: setiap hari aku up kok😍
total 1 replies
Qiqi Maryam
Keren banget ceritanya , Tokoh utama tidak mudah ditindas
Senja Bulan: iya dong aku paling benci wanita lemah
total 1 replies
Qiqi Maryam
cerita nya keren thor aku suka
Senja Bulan: makasih 😍🙏
total 1 replies
Murni Dewita
👣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!