Handi harus meregang nyawa akibat kecelakaan, meninggalkan Lisa dan kedua anak mereka.
Haris yang hidupnya diselamatkan Handi dan menyaksikan kematian Handi secara tragis mengalami trauma dan hampir gila. Dia menutup diri selama 1 tahun sejak kepergian sahabatnya.
Dini dan Bu Nani sudah kehilangan akal untuk memaksa Haris mendapatkan perawatan. Hingga akhirnya, Dokter Van Heerdt memberikan ide kepada Dini untuk mendekatkan Lisa dan anak-anaknya kepada Haris.
Di sela-sela usaha Lisa membantu Haris mendapatkan pengobatan atas traumanya, Arga hadir dengan menjanjikan cinta tulus kepada Lisa dan anak-anaknya. Saat itulah Haris menyadari bahwa dia jatuh hati kepada Lisa.
Bagaimana kelanjutan kisah mereka?
Akankah usaha Lisa membantu Haris berhasil?
Apakah Haris tega mengkhianati Dini dan beralih hati kepada Lisa?
Baca sampai tamat ya 😊
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dian Wahyudi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ORANG DEWASA YANG TAKUT PADA ANAK KECIL
Lisa mengetuk pintu kamar Haris.
" Ya," jawab Haris dari dalam.
Lisa melongokkan kepalanya. Haris berpakaian sangat rapi di hari Sabtu. Dia memakai kemeja barunya berwarna salem dan celana jeans bagus. Dia sudah mengenakan sepatu kets. Saat ini Haris berkutat menggunakan jam tangan sporty anti air kesukaannya.
" Kamu mau pergi?," tanya Lisa.
" Aku mau mengunjungi ibuku," jawab Haris. Dia membetulkan lagi kerah kemejanya, lalu menyemprotkan parfum ke leher dan telapak tangannya.
" Bagus. Sampaikan salam dan permintaan maafku kepada beliau ya. Aku belum bisa mengunjungi beliau," kata Lisa.
" Iya, akan ku sampaikan," kata Haris sambil tersenyum. "Bagaimana penampilanku? Aku tampan kan?"
Lisa tersenyum mencibirnya. Dia berdecak tak percaya. Melihatnya menggemaskan begitu, Haris langsung menyambarnya dan menciumi lehernya.
" Harissss....," teriak Lisa tertahan. Dia menggeliat kegelian menghindari serangan Haris.
" Ayo coba bilang kalau aku jelek!," seru Haris.
" Iya, kamu memang tampan. Sudah puas?," kata Lisa. Mata Haris dan Lisa bertatapan. Haris tak mau terlalu lama memandangi wajah Lisa. Dia tidak mau khilaf lagi. Haris lebih memilih memeluknya. Dieratkannya pelukannya dengan gemas sampai Lisa kesakitan.
" Harissss......," erang Lisa.
Haris tertawa terbahak-bahak saat mengendurkan pelukannya. Lisa memukuli dadanya. Haris malah tertawa keras dan memeluk Lisa lagi.
" Lenganku sakit, tahu!," keluh Lisa.
" Maafkan aku, Sayang," kata Haris.
" Sayang?," ulang Lisa.
" Aku ngga boleh memanggilmu begitu?," tanya Haris.
" Ah...itu kan...," kata-kata Lisa tak bisa keluar.
" Ya sudah, aku ngga akan memanggilmu begitu kalau kamu ngga suka."
" Panggil namaku saja," ucap Lisa.
Haris menciumi leher Lisa. Dia sangat senang Lisa menuruti kata-katanya dengan menggelung rambutnya ke atas sehingga memberikan akses yang bebas kepada Haris untuk menciumi lehernya.
" Harisssss......," erang Lisa lagi. Dia kewalahan karena Haris menciumi tanpa terkendali.
Haris lagi-lagi tertawa keras saat Lisa mengeluh atas kelakuannya.
" Kamu ini kenapa sih? Kok aneh banget?," ujar Lisa.
" Aku akan seharian berada di rumah ibuku. Aku jadi ngga bisa menciumimu kan?"
" Oh iya.."
" Andai kamu bisa aku bawa kemana-mana. Aku mau menempel denganmu setiap saat...."
" Hush!!," Lisa memukul dada bidang Haris. " Mestinya kamu ngomong begitu ke Dini! Bukan kepadaku!"
Haris seakan menyadari dia kelepasan bicara. Dia hanya tersenyum kepada Lisa. Haris masih belum mau melepaskan pelukannya dari Lisa, namun dia tidak sanggup memandangi wajah Lisa berlama-lama. Hatinya bergejolak bila menatap bibir Lisa yang tipis merah muda.
" Mungkin aku akan menginap. Suruh anak-anak keluar dari kamar! Kasihan mereka tidak pernah bisa bebas karena aku."
Lisa mengangguk.
" Bagaimana ya caranya agar aku bisa segera bertemu mereka lagi? Aku ingin sekali," kata Haris.
" Bagaimana kalau aku mengirimimu foto-foto mereka dulu? Mari kita coba bagaimana reaksi tubuhmu kalau melihat foto mereka!"
Mata Haris bersinar. " Itu ide yang luar biasa! Coba nanti kirimkan kepadaku ya! Foto terbaru mereka. Foto mereka hari ini."
Lisa mengangguk-angguk. Haris memeluk Lisa sekali lagi dan mengecup bawah telinga kanan dan kirinya sebelum akhirnya dia melepaskan Lisa dan memakai jas kasualnya. Haris memakai kacamata hitamnya sebelum pergi keluar apartemen.
" Kacamata itu kok persis seperti punya Handi ya," kata Lisa.
" Ini memang punya Handi. Aku minta padanya."
" Kacamata itu kan harganya murah.."
" Tapi aku suka," potong Haris. " Memangnya aku ngga boleh pakai barang murah?"
Lisa tersenyum senang. Dia jadi ingat tragedi Handi yang suka mencari-cari kacamatanya padahal kacamata itu bertengger di atas kepalanya. Handi juga pernah seperti itu ketika memakai kacamata hitam yang dipakai Haris sekarang.
" Aku berangkat ya," Haris pamit.
" Iya, hati-hati di jalan," kata Lisa sembari menutup pintunya.
*****
Hana dan Hamza sedang makan ayam goreng krispi buatan Lisa dengan lahap di meja ruang tengah sambil menonton televisi. Ayam goreng krispi adalah makanan kesukaan Hamza. Mulutnya sampai menggembung saking banyaknya suapan yang dia masukkan mulut kecilnya. Sedangkan Hana tidak pernah pilih-pilih makanan. Dia makan dengan teratur dan dengan porsi yang sama. Itulah mengapa tubuhnya padat berisi. Pipinya juga tembem.
Lisa ikut makan bersama anak-anaknya. Hamza sudah tidak pernah disuapi lagi sejak dia masuk sekolah. Lisa sudah mengajarinya untuk makan sendiri agar dia terbiasa ketika harus makan bersama di sekolah. Awalnya Hamza menangis dan merengut, namun begitu dia bersekolah, dia jadi terbiasa.
Bicara mengenai sekolah kedua anak Lisa, Dini lah yang berperan besar memilihkan sekolah untuk mereka. Tadinya Lisa ingin memasukkan anak-anaknya ke sekolah negeri saja, tetapi Dini menolaknya keras-keras.
" Mereka harus mendapatkan pendidikan terbaik di kota ini," begitu kata Dini. Dia tidak mengatakan sekolah negeri bukan lembaga pendidikan yang baik, tetapi Dini ingin anak-anak Lisa mendapatkan pendidikan lebih dari sekolah negeri. Dia mendaftarkan Hana dan Hamza ke sekolah dengan lingkungan elit yang pelajarannya berbasis internasional. Lisa sudah mengutarakan kekhawatirannya tentang bagaimana anak-anaknya bisa beradaptasi dengan teman-temannya yang rata-rata anak orang kaya sedangkan dia tidak. Dia juga khawatir anaknya malah terbentuk menjadi orang yang hedonis karena mereka di kelilingi oleh orang-orang dengan derajat di atas mereka. Lisa ingin anak-anaknya menjalani hidup yang sederhana. Dia tidak ingin anak-anaknya berpikiran bahwa uang adalah segalanya dan kebahagiaan hanya bisa diraih ketika kamu punya uang.
" Derajat?! Lisa, kenapa kamu berpikiran sempit begitu?," cemooh Dini terang-terangan. " Anak-anakmu bukan anak yang seperti itu! Karakter anak adalah apa yang ditanamkan oleh orang tuanya. Memang benar lingkungan berpengaruh, tapi hanya sepuluh persen. Sedangkan sembilan puluh persennya adalah pembentukan dari orang tuanya sejak dia kecil. Mengapa aku ngotot agar Hana dan Hamza bersekolah di sana? Karena di sana semua tingkah dan perilaku sangat ditata. Pendidikan di sana terjamin. Hana dan Hamza anak yang pintar, aku tidak mau menyia-nyiakan kemampuan mereka."
" Baiklah, aku memang tidak bisa membantah kata-kata seorang dokter anak," kilah Lisa sambil tertawa.
" Lisa, aku serius! Kamu tahu sendiri bagaimana mereka bisa mengerti acara kartun berbahasa Inggris yang mereka tonton padahal kamu tidak pernah mengajari mereka. Itu tandanya mereka cerdas. Mereka punya kemampuan. Mereka bisa jadi orang besar kelak," tambah Dini.
Lisa akhirnya menuruti saja apa kata-kata Dini. Dini juga yang mengantar Hana dan Hamza mendaftar sekolah di sana. Dini yang berbicara langsung kepada kepala sekolah yang ternyata adalah sepupu jauh ibunya.
Hana dan Hamza mengatakan mereka senang bersekolah di sana. Sekolahnya bagus, Pelajarannya menarik, guru-guru mereka baik, teman-teman mereka juga baik,tetapi Hana menambahkan, ada temannya yang bermulut jahat kepadanya.
" Jahat bagaimana?," tanya Lisa. Dia tahu satu dari seribu kekhawatirannya pasti menjadi kenyataan.
" Dia suka mengatai aku karena aku ngga punya ayah, Bun," jawab Hana.
" Loh, kamu kan punya ayah," Lisa mendadak sewot.
Hana hanya mengangkat bahunya. " Hana sudah bilang, Hana punya ayah, tapi ayah sudah meninggal. Katanya sama aja Hana tidak punya ayah."
Lisa tampak berpikir keras bagaimana dia harus menanggapi keluhan anaknya, namun Hana justru berkata," Biarkan saja, Bun! Dia kan ngga tahu apa-apa. Hana juga ngga perlu meladeni dia."
Lisa terbelalak. Ucapan seorang anak berusia delapan tahun justru lebih dewasa ketimbang dirinya.
" Tapi kalau dia mengatai Hana terus bagaimana?," tanya Lisa.
" Laporkan saja ke guru, Bun!," jawab Hana santai. " Dia memang begitu, Bun. Ngga ada yang mau berteman dengan dia, soalnya dia jahat. Semua anak pernah dikata-katai sama dia. Teman-temanku ngga ada yang suka padanya."
" Pertama kali Hana masuk kelas, teman-teman menyukai Hana. Semua mengajak Hana bermain. Dia iri, Bun. Jadi dia memusuhi Hana dan mengatai Hana seperti itu. Harusnya kan dia instrospeksi diri. Bukannya malah memusuhi Hana," cerocos Hana.
Mulut Lisa tak sengaja ternganga mendengar kata-kata anaknya. Dia tak menyangka anaknya bisa berpikiran terbuka seperti itu.
" Dia pernah dilaporkan ke guru karena menjambak rambut Anita waktu istirahat. Dia itu ngga cuma jahat, Bun, tapi juga galak. Tapi dia ngga kapok juga padahal sudah pernah dihukum. Ya sudah, dibiarkan saja. Masa ngga bosan begitu terus?"
Lagi-lagi Lisa terkesima dengan Hana. Dia sungguh anak yang luar biasa.
" Baiklah, kalau Hana butuh bantuan Bunda, Hana bilang aja ke Bunda ya," kata Lisa.
" Iya, Bun," jawab Hana.
Lisa beralih kepada Hamza. " Kalau Hamza bagaimana? Ada ngga yang pernah mengganggu Hamza di sekolah."
" Ngga ada, Bun," jawab Hamza dengan mulut belepotan ayam.
" Coba kalau Ayah masih hidup ya, Bun! Kita ga perlu tinggal di sini," keluh Hana. Dia tampak murung saat mengatakannya.
" Hana ngga suka tinggal di sini?," tanya Lisa.
Hana menggeleng. " Ngga ada Ayah, ngga asyik."
" Maafkan Bunda, Sayang," kata Lisa sembari memeluk bahu Hana. Lisa tahu, anak-anaknya pasti tertekan. Memang benar mereka tinggal di rumah bagus dengan segala fasilitas yang tidak pernah mereka miliki, tapi mereka tidak merasakan kenyamanan berada di sini. Lisa tahu itu!
Hana menggeleng. " Hana lebih suka di rumah Abah dan Emak di desa, tapi Hana akan ikut kemana pun Bunda pergi dan tinggal. Tapi kita akan kembali ke runah Abah kan, Bun? Kita ngga akan selamanya di sini kan?"
" Tentu," jawab Lisa.
Hana tersenyum ketika Lisa menjawab demikian. " Bun, sebenarnya Om Haris itu sakit ya?"
Lisa serasa dihantam ulu hatinya karena Hana bertanya begitu kepadanya. " Kok Hana tanya begitu?"
" Kalau cuma pusing ngga mungkin Om Haris sampai kejang-kejang begitu kemarin? Om Haris sakit apa, Bun?," tanya Hana.
Ya, Hana adalah anak yang pintar. Tidak mungkin dia tidak menyadari ada sesuatu yang sedang terjadi kepada Haris. Lisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Dia bingung kata-kata apa yang tepat untuk menggambarkan kondisi Haris saat ini.
" Hana tahu kan, ketika Ayah meninggal, Om Haris bersamanya?," kata Lisa mengawali ceritanya.
" Iya," jawab Hana sambil mengangguk.
" Om Haris trauma karena kejadian itu. Jadi dia sering membayangkan Ayah datang kepadanya. Dia jadi takut."
" Ayah jadi hantu, Bun?," sahut Hamza.
Lisa hampir tertawa mendengar pertanyaan Hamza, namun dia menahannya. " Ngga, Nak. Orang yang sudah meninggal ngga bisa jadi hantu. Kamu kebanyakan nonton film horor."
" Terus yang dilihat Om Haris apa kalau bukan hantu?," tanya Hana.
" Sebetulnya Om Haris membayangkannya. Hanya khayalan. Tapi Om Haris ketakutan," jawab Lisa.
" Jadi Om Haris berhalusinasi begitu, Bun?," sahut Hana.
Lisa terkejut anaknya memahami kata berhalusinasi. " Iya, betul sekali. Ketika melihat kita, dia akan membayangkan melihat ayahmu datang kepadanya. Masalahnya wajah ayahmu yang dibayangkan Om Haris itu mengerikan."
" Ayah jadi zombi, Bun?," celetuk Hamza.
Lisa tak bisa lagi menahan tawanya. Dia dan Hana benar-benar tertawa mendengar Hamza mengatakan ayahnya menjadi zombi.
" Ayah ngga jadi zombi, Dek. Om Haris membayangkan Ayah jadi zombi," jelas Hana.
" Tapi Ayah ngga jadi sungguhan?," tanya Hamza lagi.
" Ngga, Nak!," jawab Lisa setelah berhasil menyelesaikan tawanya.
" Ahhh....," Hamza mengeluh lega," Adek ngga mau punya ayah zombi."
" Hahahaha.....," Lisa dan Hana tertawa mendengarnya.
" Tapi kok Om Haris ngga takut melihat Bunda?," tanya Hana lagi.
" Oh...itu...," Lisa bingung lagi menjelaskannya. Dia tidak bisa mengatakan kepada anaknya kalau Haris tidak takut lagi melihatnya karena pelukannya. " Karena Bunda sudah dewasa dan Bunda lebih sering bertemu Om Haris."
Hana tampak berpikir keras. " Orang dewasa kok malah takut sama anak-anak sih, Bun? Hana ngga ngerti."
Lisa tersenyum, dia mengelus rambut Hana. " Makanya Om Haris belum berani bertemu dengan kalian. Apalagi bertemu Hana. Hana kan mirip sekali dengan Ayah. Om Haris selalu membayangkan Ayah berada di belakang Hana kalau dia melihat Hana."
Mulut Hana membentuk huruf O besar. Hamza juga tampak mengangguk-angguk. Lisa merasa sudah paham dengan situasi mereka saat ini.
" Jadi, Bunda minta Hana dan Hamza bersabar sedikit lagi. Kita harus membantu Om Haris sembuh. Kita akan tetap disini sampai trauma Om Haris hilang."
" Sampai Om Haris ngga melihat zombi lagi ya, Bun?," tanya Hamza.
Lisa mencium puncak kepala Hamza. " Hamza betul sekali."
Lagi-lagi Hamza dan Hana menggangguk-anggukkan kepalanya.
" Ada lagi yang mau ditanyakan?," Lisa bertanya kepada Hana. Hana menjawabnya dengan menggeleng.
" Baik. Ayo sekarang Hana dan Hamza cuci tangan. Habis itu cuci muka, cuci kaki, gosok gigi lalu tidur. Oke?"
Hana dan Hamza mengangguk setuju. Mereka berdiri dan meninggalkan Lisa yang sedang membersihkan meja dan sisa makanan mereka.
/Angry//Angry/
kadang kondisi kesehatan ga memungkinkan buat up tiap hari 😄
terimakasih sudah setia membaca 🥰