Lisa Anggraeni , seorang gadis yang tengah berjalan dengan sahabatnya setelah dari aktifitas kuliah mengalami kecelakaan saat dia tengah menunggu bus yang ada di sebrang jalan. Dia menoleh dan melihat ada motor melanu cepat membuatnya mendorong Hani. Dan membuatnya menjadi korban kecelakaan. Lisa yang mengalami luka luka sempat di bawa ke rumah sakit. Namun sayang, saat dirinya sedang di operasi, nyawanya tak bisa di selamatkan.
Lisa yang tahu dirinya mengalami kecelakaan sebelumnya mengira dia selamat, dan berada di salah satu rumah sakit.
Tapi saat dia sadar justru, dia sedang di salah satu ruangan kosong gelap dan pengap.
Namun saat dirinya berusaha mencari jalan keluar, dia justru melihat bayangan seseorang dari kaca hias kecil.
"Aaaaaa... Wajah siapa yang ada di mukaku ini!!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adira_Mutiara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ngikutin
"cape," keluh Rubby yang hanya ber selonjoran di ruang kerja Iram.
harusnya Rubby sudah berada di rumah jika dia tidak di susulin anak buah ayahnya. walau pakaiannya sudah berganti dengan yang lebih santai, tapi dia ingin rebahan di kasur.
awalnya Iram sudah menyuruhnya untuk masuk ke ruang pribadi, tapi dia ingin di kamarnya sendiri.
"lagian kenapa nggak di restoran apa di mall sih. kan bisa jalan jalan,"
Rubby beranjak dari sofa, dia melangkag keluar ruangan Iram berniat untuk mencari udara segar.
"mau kemana non?" tanya seorang sekretaris pria yang duduk tak jauh dari pintu masuk ruang kerja Iram.
"aku mau nyari angin, suntuk di dalem ruangan terus, pak Dimar."
Dimar tersenyum melihat kesopanan anak bosnya yang begitu menyebut namanya. karena tidak semua anak dari pemilik perusahaan akan sopan dalam berucap.
Bahkan bahasa gaul juga pasti akan terselip di antara kata yang terucap. tapi tidak untuk Rubby atau Lisa yang di ajarkan sopan sejak kecil oleh Sonia atau ibu panti dari Lisa tinggal.
Dan jadilah pribadi baik dalam tutur katanya. karena jaman sekarang sudah minim adab, berpendidikan pun belum tentu adab di miliki.
"mau saya temani?" saran Dimar, padahal terselip perintah dari Iram yang menyuruhnya untuk menjaga putrinya yang saat ini di dalam ruangan.
"hmmmm," pikir Rubby, "kalo di ikutin nggak bisa cuci mata liat cowok ganteng. nggak bisa, ntar di kira udah berpawang." lanjut Rubby dalam hati, "nggak usah. pak Dimar duduk disini. aku nggak jauh jauh paling turun ke cofee shop yang di bawah." jelas Rubby.
Dimar mengangguk kecil, "baiklah." Dimar mengiyakan mungkin nanti dia akan mengikuti dari jauh.
Bisa di pecat dia dari pekerjaan yang menjadi pencaharian mata uangnya.
Rubby melangkah, dan masuk ke dalam lift yang biasa ayahnya gunakan. dia menekan tombol 4 dimana ada kantin dan cofee shop.
"ada cowok ganteng enggak ya. eh, tapi nggak bisa, harus setara kayak papah Rubby. paling enggak kayak bang Keano."
Rubby mengetuk sepatunya di lantai lift, di telinga ada headset bluetooth yang terpasang dengan musik nada rendah. saat pintu terbuka, Rubby bisa melihat suasan kantin sedikit ramai. walau sudah sore, tapi ada beberapa karyawan yang disana untuk membeli minuman atau sedang bersantai mengambil istirahat di jam kerja.
dia melangkah keluar dari lift, matanya menatap sekitar mencari tempat yang pas untuk bersantai. sebelumnya dia sudah mengirim pesan ke ayahnya jika dia ada di kantin seorang diri, bukannya mendapatkan protes dari Iram. Rubby mendapatkan notif m-banking dari ayahnya 'beli yang bisa buat kamu kenyang,
"andai dulu kamu bisa melawan Jenia, mungkin kamu hidup enak sama keluarga kamu," lirihnya.
Setelah melihat lihat, Rubby memesan minuman dan makanan untuk mengganjal perutnya sejenak.
"kamu karyawan baru apa anak magang disini?" tanya seorang wanita yang riasannya begitu mencolok.
Rubby memperhatikan pakaiannya dan menatap julid ke arah wajah wanita itu. agak ngeri melihat lipstik merah mentereng.
"maaf, bu. tapi kok merah banget itu gincu."
Eh, Rubby langsung menutup mulutnya. dia merutuki dirinya sendiri yang begitu asal ceplos saat melihat pemandangan yang meresahkan di matanya.
"apa kamu bilang!" suara wanita itu penuh dengan emosi saat Rubby mengatakan hal itu.
"tapi bener," cicitnya lirih.
"mulut kalo lemes banget kalo liat orang gitu sih," batin Rubby yang sedikit memukul pelan mulutnya.
Dari kejauhan Dimar hanya tertawa kecil melihat Rubby yang begitu berani dan mengatakan hal yang seharusnya tidak di pakai di tempat kerja.
"dari devisi mana kamu? awas ya, bakal aku aduin. dan kamu bakalan dapat nilai buruk."
"dih, sok berkuasa banget kamu, mbak. kayak yang punya kantor ini aja,"
"asal kamu tau, aku deket sama pihak HRD. aku bakal aduin kamu, suruh keluarin kamu,"
Rubby berdecak sebal, dia tak ingin mengatakn jika dirinya adalah putri dari pemilik kantor ini. dia ingin melihat siapa saja yang berkuasa dalam area kantor.
"kayaknya ada penindasan deh. apa di kantor papa ada main jabatan juga, apa kasih kerjaan sama orang yang nggak tepat,"
Rubby melihat cara berpakaian dan riasan saja sudah bisa di tebak. jika wanita yang ada di hadapannya ini tidak kompeten dalam bekerja.
"mbak, ini jam kerja kenapa kamu malah duduk disini sambil main HP?" tanya Rubby yang bersedakep dada.
"kenapa? mau ngadu kamu?" jawabnya begitu angkuh.
Masayu Lestari
nama di kartu Tanda pengenal yang ada di pakaian wanita itu. lagi dan lagi Rubby berdecak sebal. dari jabatan yang tertulis di sana sudah terlihat jika wanita ini hanya staf biasa.
lalu saat matanya malas menatap tak jauh dari belakang Masayu, Rubby melihat sosok yang begitu tampan.
"wah, ada om tampan." pekiknya girang.
lalu dia melewati Masayu dengan gampang. lalu berjalan ke arah pria yang berdiri dengan mata yang fokus ke arah ponsel yang ada di tangan.
"kita ketemu lagi om,"
Suara Rubby yang begitu semangat membuat pria itu menatap dan menaikan satu alisnya, raut wajah yang dingin tanpa ekspresi membuat Rubby semakin semangat untuk menggoda.
"hidup menggatal Rubby."
"kamu lagi,"
"nama aku Rubby."
Dimar yang melihat tingkah Rubby, membuatnya segera mendekat. karena sosok pria yang ada di hadapan Rubby saat ini adalah klien penting yang mungkin baru saja selesai dalam rapat pertemuan.
"permisi," sela Dimar yang sudah berdiri di samping Rubby.
"om, nama kamu siapa om?"
kedua mata Rubby berkedip, dan senyum manja di tujukan ke arah pria itu. Masayu yang melihatnya langsung mendekat dan menyela pria yang hampir mengucapkan namanya.
"maaf, tuan Danendra. dia karyawan baru yang bekerja di tempat ini. jadi tolong jangan ambil hati tingkah dia." ucap Masayu yang membuat Rubby semakin berdecak sebal.
Dimar yang mendengar semakin ketakutan jika ada sesuatu yang akan terjadi setelah ini.
"ih, apa sih. aku tuh lagi ngomong sama dia. kenapa nimbrung aja sih," ucap Rubby yang kesal.
Rubby bukanlah orang yang bisa menyembunyikan rasa kesal di hadapan umum. dia akan ceplas ceplos jika sudah tidak suka. atau mungkin pergi begitu saja, tapi tidak untuk yang satu ini.
pria yang ada di hadapan Rubby tersenyum sekilas bahkan tak terlihat oleh orang lain. dia begitu menyukai raut wajah kesal Rubby.
"ayo kembali ke ruangan,"
Masayu ingin menarik tangan Rubby, tapi Rubby menepis cepat. dia lalu berdiri sedikit menjauh dari Masayu, tapi justru sedikit dekat dengan sosok pria itu.
"ada apa ini?" ucap Iram yang berhenti melihat ada keributan.
Dimar semakin gugup, asisten Iram segera mendekat dan menaikan satu alisnya seolah bertanya ada apa.
"begini, bos. dia karyawan baru yang mencoba menggoda tuan Danendra. jadi saya menegurnya, tapi dia justru tak ingin kembali ke ruangannya." terang Masayu.
Nafas Dimar dan Hardi menahan nafasnya saat salah satu karyawan menuduh ke arah Rubby. jantung keduanya seakan ingin berhenti mendengar ucapan itu.
"mati dah," maki Dimar.
Iram melihat ke arah Rubby yang tersenyum dan mengedipkan salah satu matanya. Masayu yang melihat itu semakin menuduh Rubby ingin menggoda Iram dan menaikan jabatannya.
"kamu, dia bos kamu. bisa bisanya mengedipkan mata. dasar, ayo ikut aku, akan saya laporkan ke HRD."
Iram ingin menyela, tapi suara Rubby yang dingin membuatnya urung, "gue menggoda bos lo. liat pakaian gue. apa ada tertarik dengan penampilan gue?" ucap Rubby yang melepaskan headset dan menyimpannya di saku rok span nya.
lalu dia maju, "ngga ada sejarahnya di kantor pakai baju kayak lemper gini. lemper aja masih di lapisi daun sana plastik biar ngga lengket. tapi lo lebih dari lemper, apaan dada begitu mau tumpah. lipstik begitu merah nyala kayak lagi goda lakik orang aja."
Hardi dan Dimar memegang dadanya yang mendengar ucapan Rubby yang menembus jantung.
"kau. berani sekali mengatakan itu."
"yang di katakan dia benar," ucap pria yang membenarkan ucapan Rubby.
"di kantorku tidak ada karyawan memakai setelan seperti ini. jika ada langsung di pecat hari itu juga."
Rubby tersenyum lebar, "waaah, kau benar om tampan. jadi siapa namamu om?" ucap Rubby mengedipkan matanya.
"Rubby," tegur Iram.
Rubby hanya cengengesan, lalu dia berjalan mendekat ke arah Iram lalu memeluk lengan ayahnya itu.
"kau, dasar kecil kecil udah jadi penggoda." maki Masayu.
"ngga perlu goda pun, papa udah ngirim uang tanpa aku minta. btw, aku anaknya dia ya,"
Masayu panik, dia menatap Dimar dan Hardi bergantian. raut wajah kedua pria itu begitu cemas seraya mengangguk, tubuh Masayu lemas. dia segera berpegangan di meja dekatnya.
"syok kah mbak? jangan salah, aku masih sekolah tapi seleranya om om ini," tunjuk ke arah pria itu.
Iram menghela nafasnya, "maafkan putri saya tuan Rimba."
"waaah, namanya Rimba. eh, tunggu. kayaknya pernah denger deh,"
Semua menatap ke arah Rubby yang sedang berpikir, detik berikutnya dia langsung membelalakna matanya.
"mati kau Rubby. dia antagonis di cerita ini. dia mafia yang bakalan suka sama Jenia."