Ini kisahku...
Seorang laki-laki yang mencoba mencari cinta masa SMP nya,yang selama 13 tahun hanya terpendam dihati belum sempat terungkapkan. Namun ketika takdir berpihak padaku,mempertemukan aku dan dia,aku harus menelan kekecewaan karna menerima kenyataan bahwa dia sudah menjadi milik orang lain.
Akankah ada keajaiban untukku agar bisa memilikinya?
Sementara hatiku tak mampu berpaling pada wanita lain.
Selamat menikmati kisahku yaaa....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon In Gusman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 30
Tepat pukul 10 pagi,kami bertiga pun pergi menuju KUA di antar oleh Dimas. Sampai di sana teryata surat nikah kami sudah jadi,papa sudah minta tolong Om Faudzan teman SMA nya yang bekerja di KUA setempat untuk mengurus semuanya.
Akh,papa...syukur Alhamdulillah aku memilikimu. Hmmm...pantas saja mama sangat mencintai papa,bahkan seorang papa adalah dewa bagi hidup mama.
"Gila Om Hanafi memang hebat...Kim,kedepannya kita harus bisa mencontoh kepribadian papa mu,agar anak-anak kita kelak juga bangga dan bersyukur mempunyai papa seperti kita" ucap Dimas yang tak henti-hentinya mengagumi papa.
'Drrrttt...drrrttt...drrrttt...'
Ku lihat nama di layar ponselku tertera 'PAPA'...
"Hallo...Assalamu'alaikum pa..."
"Wa'alaikumsalam Kim...Ada dimana?"
"Di KUA pa...tadinya mau mamverifikasi pernikahan kami tapi taunya malah langsung di kasih buku nikah sama Om Faudzan,katanya sudah beres semua. Makasih ya pa..."
"Iya...itu sudah jadi kewajiban papa mas..."
"Oya mas,kamu bawa motor apa mobil?"
"Bawa mobil pa...di antar Dimas pa,gimana?"
"Sipp kalo gitu...jemput papa di bandara dong...ini papa baru aja turun dari pesawat,papa tunggu di kafe kopi ya...Assalamu'alaikum..."
"Siap pa...meluncur sekarang...Wa'alaikumsalam..."
Percakapan kami pun berakhir...
"Dim,bisa anter kami jemput papa di bandara nggak?"
"Wah tentu saja bisa...ayo berangkat,aku mau ketemu idolaku..." ucap Dimas dengan tingksh jenakanya.
"Halah...lebay amat kamu Dim..." ucapku sambil ku pukul lengannya.
"Ih heran aku sama kamu...papamu aja baik dan hebat tapi kamu jahat...suka mukul. Awas Ma...kalo sampe Hakim melakukan KDRT sama kamu,langsung koling aku ya..."
Rahma hanya tersenyum menanggapi omongan Dimas.
"Halah...bener-bener lebay ni anak. Lagian istriku itu di ciptakan untuk aku sayang bukan buat aku pukulin,kalau kamu memang sekali-sekali harus di pukul biar ngerti...he he he..." ucapku sambil ku pukul lagi lengannya.
"Tuh kan Ma...sebenernya Hakim tu jahat...Udah dianterin tapi nyakitin mlulu,kesian kan orang tuanya...punya anak kayak gini..." Dimas mengadu pada istriku.
"Halah...drama mlulu...yang kesian tu Si Uci...sampe punya laki kaya lu...Lu pelet ya Uci dulu sampai mau kamu nikahi...ha ha ha..."
"Semprul...Uci tuh yang kecintaan banget sama aku dan tidak bisa menghindar dari pesona seorang Dimas...ha ha ha..."
"Udah-udah...kalian ini bertengkar terus kaya anak kecil...tuh dah hampir sampai..." Rahma melerai perselisihan norak kami...he he he...
"Wuih...bandara yang baru keren juga ya...kita jemput Om Hanafi dimana nih..."
"Tar,aku telpon dulu..."
"Assalamu'alaikum pa...papa ada di sebelah mana? Biar kita bisa langsung jemput terus pulang."
"Ya...Wa'alaikumsalam...papa udah keluar ni...berdiri di depan coffeshop. Mobil dimas apa dan warna apa?"
"Xenia merah pa..."
"Ah ya...papa liat...kalian maju lurus aja 20 meteran..."
"Masih maju 20 meteran katanya Dim..."
"Oke..." jawab Dimas sambil melajukan mobilnya pelan-pelan.
"Eh...itu papa mas...yang pakai kemeja biru muda itu kan?" ucap Rahma bersemangat,aku mengangguk.
"Hallo pa...kami sudah liat papa kok...Assalamu'alaikum..."
"Wa'alaikumsalam Kim..."
Dan akhirnya kami pun bertemu dengan papa...seorang ayah yang hebat yang selalu menjadi kebanggaan anak-anaknya.
"Assalamu'alaikum pa..." Rahma menyalami papa dan mencium tangan papa.
"Wa'alaikumsalam nak...anak papa nggak nyusahin kamu kan?" tanya papa usil.
"Alhamdulillah enggak pa,justru Rahma selalu diberi kebahagiaan oleh Mas Hakim..."
"Syukurlah...semoga selamanya akan begitu" ucap papa sambil melirikku.
"Hmmm...maksudnya apa ni bro..." ucapku sambil menyalami papaku,lalu papa menarik tanganku hingga kami pun berpelukan.
"Jangan pernah bikin istrimu menangis karna terluka oleh kelakuanmu ya mas..." ucap papa sambil menepuk bahuku.
"InsyaAlloh pa...terimakasih untuk semuanya ya pa...semoga papa diberi kesehatan dan panjang umur,biar bisa mendampingi kami terus...Aamiin..."
"Aamiin...Aamiin...InsyaAlloh...Hai Dim apa kabar...makasih ya udah mau jemput om..."
"Alhamdulillah baik om...Sama-sama om...Selamat datang kembali ke kota ini om,mari silahkan masuk om..." ucap Dimas sambil membukakan pintu mobil untuk papa.
"Syukur Alhamdulillah...kalo ibu dan keluargamu juga baik kan Dim?" tanya papa sambil duduk di kursi mobil di sebelah Dimas,aku dan Rahma pun ikut masuk mobil dan duduk di kursi belakang.
"Alhamdulillah...semuanya baik om..."
Papa manggut-manggut menjawab ucapan Dimas.
"Kita langsung pulang atau mau mampir dulu om?"
"Mampir cari makan dulu deh Dim...kamu nggak buru-buru kan?"
"Enggak om...saya shif malam kok..."
"Bagus kalo gitu..."
Mobil pun melaju dengan kecepatan sedang,sepanjang jalan kami saling berbincang tentang banyak hal,hingga kami sampai di sebuah rumah makan tradisional yang mempunyai pemandangan asri di sekitarnya.
Obrolan ringan pun berlanjut ketika mobil kami sudah selesai makan dan mulai meninggalkan rumah makan itu.
"Pa,papa datang untuk membayar hutang papa sama Hakim kan? Papa nggak lupa janji papa kan?" tanyaku mengingatkan.
"Maas...papa kan baru sampai,biarlah papa istirahat dulu setelah itu baru kita ngobrol..." ucap Rahma dengan lembut.
"Iya...mas cuma ngingetin aja sayang..." jawabku.
"Cieee...wah udah fasih aja tuh anak om ngucap kata 'SAYAAANG'...ha ha ha..." kelakar Dimas dan papa pun ikut tertawa...
"Ih sirik aja lu bawaannya...Gimana pa pertanyaan Hakim tadi? Papa nggak lupa kan?" cecarku lagi.
"Enggak...tar sampe rumah papa mau mandi,terus papa ceritain semua."
"Papa nginep di rumah kami kan pa?" tanya Rahma,sebenarnya malu aku dengar Rahma menyebut rumahnya dengan rumah kami,padahal jelas-jelas itu rumah adalah rumahnya.
"Lho papa pulang ya di rumah papa dong nak...rumah yang nantinya kalian tempati. Toh rumahnya nggak jauh dari rumahmu kan...masih satu komplek kok,cuma beda gang doang..."
"Tapi nanti yang ngeladeni papa di sana siapa pa?"
"Tenang aja...ada Mbok Sri sama siaminya yang selama ini ngurusin rumah..."
"Oh ya udah kalo gitu..."
"Kamu masih ingat rumah lama kami kan Dim?"
"Masih om..."
"Kita pulang kesana ya..."
"Siap om..."
Mobil pun dibelokkan oleh Dimas di rumah lama kami,rumah yang kami tempati 13 tahun yang lalu. Rumah kami memang satu komplek dengan rumah Rahma,hanya saja rumah kami berada di gang depan,sedangkan rumah Rahma ada di gang setelahnya.
'Tin..tin..tin..'
Dimas membunyikan klakson mobilnya,tampak Pak Parman suami Mbok Sri membukakan pintu gerbang.
"Lama nggak liat rumah ini...habis di renovasi ya om?"
"Iya...kan mau ada penghuni baru...Rahma,besok kamu dan Hakim tinggal disini,semuanya sudah siap...bawa baju aja nggak usah bawa apa-apa" titah papa sambil turun dari mobil,kami pun mengikutinya.
"Rumah Rahma gimana dong pa?"
"Dikontrakin saja biar ada yang ngurusin..."
"Iya pa,Rahma nurut gimana baiknya saja..."
"Kamu memang menantu yang baik...ayo masuk"
Kami berempat pun segera masuk ke dalam rumah...
.
.
.
.
.
.
.
Lanjut...