Cinta romantis, dua kata yang tidak semua orang mendapatkannya dengan mudah.
Hari itu Alena Mahira menolak Alex dan menegaskan akan tetap memilih suaminya, Mahendra. Tak ingin terus meratapi kesedihan, hari itu Alex Melangkah pergi meninggalkan kota yang punya sejuta kenangan, berharap takdir baik menjumpai.
8 tahun berlalu...
"Mama, tadi pagi Ziya jatuh, terus ada Om ganteng yang bantu Ziya. Dia bilang, wajah Ziya nggak asing." ujar Ziya, anak semata wayang Alena dengan Ahen.
"Apa Ziya sempat kenalan?" tanya Alena yang ikut penasaran, Ziya menggeleng pelan sembari menunjukkan mata indahnya.
"Tapi dia bilang, Mama Ziya pasti cantik."
*******
Dibawah rintik air hujan, sepasang mata tak sengaja bertemu, tak ada tegur sapa melalui suara, hanya tatapan mata yang saling menyapa.
Dukung aku supaya lebih semangat update!! Happy Reading🥰🌹
No Boom like🩴
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pena Digital, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KTML030~ Tujuan Syeera
"Terus sekarang gimana? Apa kamu udah kembali ke Ibumu?" tanya Alena.
Syeera menitikkan air mata.
"Aku kembali di terima oleh Ibuku saat aku kembali dan mengatakan tidak lagi bersama anakku. Aku mengurus usaha keluargaku dan bisa bangkit kembali, tapi sayang Ibuku telah meninggal tahun lalu, sebelum meninggal Ibuku ingin bertemu Axan. Namun saat aku pergi ke panti, pengurus mengatakan anakku itu sudah di adopsi oleh orang lain saat masih bayi, pihak panti menolak membocorkan informasi tentang orang yang mengadopsi anakku. Ibuku meninggal tanpa tahu bagaimana wajah cucunya. Aku tidak menyerah, aku terus merendah dan memohon agar pihak panti mau memberikan bantuan padaku, aku ingin bertemu dengan anakku, aku ingin tau apakah anakku baik-baik saja atau tidak. Akhirnya permohonanku dikabulkan, mereka memberi tahuku siapa yang mengadopsinya dan kini anakku diberi nama Axan Leovan, mereka juga memberitahuku foto terbaru mereka, sebab itulah aku tahu rupa anakku sekarang." jelasnya.
Alena diam tidak menimpali apapun, dirinya masih mencoba mencerna semuanya, tidak disangka kisah seperti itu benar ada di dunia nyata.
"Apa Ayah kandung Axan masih hidup sekarang?" tanya Alena.
"Tentu," jawab Syeera dengan tenang.
"Tapi kami sudah bercerai, sampai kapanpun tidak akan ku izinkan pria brengsek itu menemui Axan." imbuhnya.
"Lalu sekarang apa tujuanmu, Syeera?" tanya Alena lagi memastikan.
"Sejujurnya aku ingin mengambil kembali apa yang harusnya menjadi milikku."
"Axan mau kamu ambil dari Ayah angkatnya?"
Syeera mengangguk.
"Aku tahu ini pasti menyakitkan, tapi aku ini Ibunya, aku juga sakit kalau tidak bisa bersama anakku lagi."
"Terus kenapa kamu temui aku?"
"Axan terlihat patuh padamu, kalian juga terlihat akrab. Aku rasa kamu dan Ayah Angkat Axan juga akrab, aku kesini hendak meminta bantuanmu."
Napas Alena seolah tercekat.
"Bantuan apa?" tanya Alena.
"Aku harap kamu sudi membantuku untuk membujuk Ayah angkat Axan agar mau mengembalikan Axan padaku."
Alena tidak langsung menjawab, sungguh pilihan yang sulit baginya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Besoknya di taman...
Alena dan Pak Alex sedang duduk di bangku yang ada di taman, mereka duduk berdampingan. Pak Alex mengembalikan HP Alena setelah memutar dan mendengar rekaman suara.
"Dia pikir dirinya ini siapa? Mimpi saja mau mengambil Axan dariku." kata Pak Alex yang mulai naik pitam.
"Aku bingung, harus gimana Kak. Di satu sisi aku mengerti luka Syeera, di sisi lain aku juga mengerti Kak Alex sudah memiliki ikatan batin sama Axan." ungkap Alena.
"Alena, kamu jangan ikut pusing memikirkan ini." Pak Alex menangkup wajah Alena dengan kedua tangan besarnya itu.
"Jangan sampai jatuh sakit karena banyak pikiran." imbuhnya.
Alena tersenyum kecut.
"Maaf ya Kak. Ini jadinya malah Kak Alex yang nenangin aku, kebalik dong." Alena melepas tangan Pak Alex.
"Aku dukung Kak Alex," ucapnya.
Pak Alex tersenyum lebar, bahagia rasanya ia mendapat dukungan dari Alena.
"Terima kasih, Alena."
"Buat??" tanya Alena yang tidak mengerti mengapa Pak Alex mengucapkan hal itu kepadanya.
"Kamu telah mendukungku, aku senang sekali."
Alena kembali tersenyum, namun senyum itu tampak seperti senyum yang memiliki makna penyesalan.
"Kak Alex... Kenapa Kak Alex nggak pernah benci sama aku?"
Senyum Pak Alex mengembang sempurna.
"Tidak ada alasan untuk hal itu," jawab Pak Alex.
Alena merasakan dadanya mulai sesak, ia kembali mengingat momen di masa lalunya saat masih di bangku perkuliahan.
Ia teringat kenangan yang tidak pernah bisa hilang dari ingatannya, saat Alena merengek dan mengeluh karena tugasnya terasa berat, disitulah peran Pak Alex ada, pria itu dengan sabar mengajari Alena sampai benar-benar bisa.
Mereka juga sering makan bersama di kantin, membaca buku di perpustakaan, dan banyak hal lainnya. Awalnya Alena merasa kebaikan Pak Alex itu hal lumrah layaknya kakak-adik tingkat, namun perlahan ia menyadari sorot mata Pak Alex berbeda.
Mata Alena membulat sempurna saat ia menyadari sesuatu, ia melihat tatapan mata Pak Alex saat ini. Benar-benar masih sama seperti 18 tahun yang lalu, mata itu tidak berhenti terfokus kepadanya, kedipannya cepat namun jarang seolah enggan menimbulkan jeda pada penglihatan. Rasanya Alena dibawa kembali pada suasana dulu, ia tenggelam dalam pandangan sepasang manik mata itu.
Beralih pada ingatan saat Alena merasa hampa, saat itu ia berdiri di depan gerbang kampus, Pak Alex tidak memberi kabar apapun selama beberapa hari setelah wisuda, kini ia sedang memandangi gerbang itu dengan tatapan penuh harap bercampur sedih. Kakak tingkatnya itu tiba-tiba menghilang bak ditelan bumi, tak ada jejak. Ia merasa ada bagian dari dirinya telah hilang.
"Alena, ngapain liat gerbang sampek kayak gitu sih?" tanya Yunda yang langsung menggandeng lengan Alena.
"Kak Alex nggak ada kabar, Yun." jawab Alena dengan lemah.
"Cielahhh, galau rupanya. Kamu suka Pak Alex ya?"
Pertanyaan Yunda membuat Alena semakin betah mematung di tempat.
"Nggak tau."
"Mungkin Kakak kesayanganmu itu lagi sibuk, Len." hibur Yunda.
"Bener juga... Dia orang sibuk, bukan kayak kita ini ya."
"Udah ih, jangan kayak orang habis di ghosting gitu."
Alena menghela napas.
"Siapa aku baginya? Apa aku pantas? Alena... Kamu terlalu terbawa suasana. Ah, nggak mungkin aku suka sama Kak Alex, ini cuma rasa kagum. Pasti!" batin Alena.
Perlahan ingatannya memudar...
"Alena??"
Alena tersadar, ia mengalihkan pandangan ke sembarang arah.
"Ada apa? Apa merasa ada yang sakit? Atau bagian mana yang tidak nyaman?" Pak Alex menghujani Alena dengan pertanyaan tanpa jeda.
"Aku nggak apa-apa, Kak."
"Sudah ku katakan, kamu jangan ikut memusingkan hal ini."
"Apa aku coba buat buka hati ya? Tapi aku takut..." batin Alena.
Alena menggeleng pelan.
"Dia harus dapat wanita terbaik, bukan aku." lanjutnya.
Mengingat tubuhnya yang sudah tak bersih lagi, malu rasanya jika harus membuat Pak Alex memilikinya.
"Alena?!"
Alena terkesiap saat jari telunjuk Pak Alex sudah mengusap tepat di luar lubang hidungnya, Alena terkejut melihat jari Pak Alex dilumuri darah.
"Kak Alex kenapa?!" tanya Alena panik.
"Kamu yang kenapa, Alena." Pak Alex kembali mengusap hidung Alena lagi.
"Sudah ku katakan jangan ikut memikirkan hal ini."
"Eh, ini darahku?" tanya Alena dan dijawab anggukan.
Alena mengusap hidungnya sendiri dan benar saja darah itu mengalir dari hidungnya.
"Eh eh, kok tiba-tiba mimisan sih?!"
"Ayo ke kamar mandi," ajak Pak Alex, Alena patuh dan berjalan dibelakang Pak Alex.
Tidak tega melihat Alena yang menadahi darahnya, tanpa aba-aba langsung saja Pak Alex menggendong Alena di tempat umum ini.
"Kak?!"
"Jangan menolak, Alena." ucapnya dengan tatapan mata penuh kekhawatiran.
"Apa ada yang sakit?" tanya Pak Alex saat melihat Alena mulai lemas dan pasrah.
"Nggak ada, aku cuma sedikit capek."
"Jangan khawatir, ada aku." ucap Pak Alex.
aku baca dulu
lex kak
jadi pinisirin