Takdir adalah segala sesuatu yang telah ditetapkan oleh Sang Maha Kuasa kepada kita. Baik itu kematian, jodoh, musibah, kaya atau miskin dan lain sebagainya.
Namun dalam kehidupan seorang pengusaha muda yang sukses dan berlimpah harta, sebut saja namanya Ricky Aditya Grisham. Baginya menjalani hidup adalah menentukan sebuah pilihan. Takdir hanyalah hasil akhir dari kecermatan saat menentukan pilihan.
Ia pernah menyalahkan takdir yang tidak mewujudkan keinginannya. Ia lebih memilih untuk mewujudkannya sendiri dari pada harus menunggu.
Namun ia tersadar saat ia mulai bisa membuka hatinya dan perlahan hatinya mencair saat tanpa sadar ia telah jatuh cinta kepada seorang gadis konyol yang dijodohkan oleh kakeknya.
Bertemu dengannya adalah sebuah takdir. Menjadi temannya adalah pilihan, tapi jatuh cinta dengannya itu diluar kendalinya.
Arabella Azalea Malik adalah gadis cantik dengan kehidupan yang sangat sederhana yang telah mampu meluluhkan hati seorang Ricky Aditya Grisham.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon intanpermata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
30 Khilaf
Ricky bangkit dan duduk dikursi yang ada disamping ranjang Bella. Ia mengulurkan tangannya mengusap puncak kepala Bella sambil menatap wajahnya dengan intens.
"Aku tidak akan membuatmu menangis lagi dan kabur meninggalkanku begitu saja!" Ucapnya lirih sambil mengusap puncak kepala Bella.
Lalu ia bangkit dan berjalan keluar. Ia menghubungi Leo.
"Hallo Ricky!" Ucap Leo ketika menerima telepon dari Ricky.
"Leo, kau berangkatlah secepatnya, aku menunggumu!" Ricky memberi perintah kepada Leo.
"Ada apa? apa terjadi sesuatu?" Tanya Leo dengan cemas.
"Cepatlah berangkat, nanti aku akan memberitaumu setelah kau sampai!" Jawab Ricky dengan memerintah.
"Oke oke! Aku akan segera bersiap dan langsung menuju Bandara!" Jawab Leo yang kemudian Ricky menutup teleponya.
Setelah berkemas, Leo bergegas menuju Bandara untuk menyusul Ricky dengan pesawat pribadi milik Ricky yang telah selesai diservice juga direnovasi.
***
Di Cafe Star.
Dimas berada diruang kerjanya, ia sedang duduk dikursi kerjanya sambil menggenggam ponselnya dengan perasaan yang sangat gelisah.
"Kenapa nomornya tidak bisa aku hubungi? aku kirim pesan juga tidak terkirim! apa dia telah mengganti nomornya karena sudah memiliki tunangan?" Gumam Dimas dengan perasaan yang berkecamuk dalam hati dan pikirannya, karena berkali-kali sejak kemarin ia mencoba menghubungi Bella namun tidak ada jawaban.
Ia hanya ingin tau kabar gadis manisnya yang telah lama ia cintai dalam hati.
Dimas pun menuangkan anggur merah kedalam gelasnya entah sudah berapa gelas ia meminum anggur itu. Pikirannya menjadi kacau semenjak mendengar berita pertunangan gadis manisnya yang sangat ia cintai.
Dimas sudah mulai merasa mabuk dan pusing. Ia bangkit dan menjatuhkan tubuhnya disofa ruang kerjanya. Ia berbaring disofa dan memejamkan matanya.
Ia terus mengigau menyebut nama Bella dengan suara lirih.
Tok! Tok! Tok!
Ada suara ketukan pintu dari luar ruangan Dimas, namun Dimas sudah tidak bisa mendengarnya dan terus mengigau.
Diluar ruang Dimas seorang wanita yang sudah mengetuk pintu tidak mendengar jawaban dari dalam. Merasa tidak ada jawaban dari dalam ruangan Dimas wanita itu pun membukanya dan masuk kedalam.
"Astaga Dimas! kamu mabuk lagi??" Tanya Tasya teman dekat Dimas yang sudah sejak lama menyimpan perasaannya kepada Dimas.
"Kenapa kamu bertunangan dengan pria lain?" Gumam Dimas lirih sambil memejamkan matanya.
"Hah? apa? siapa yang bertunangan?" Tasya merasa bingung mendengar ucapan Dimas dan ia mendekatkan telinganya kewajah Dimas yang bergumam untuk mendengarkan lagi ucapan Dimas yang terdengar sangat lirih.
"Aku mencintaimu..sangat mencintaimu!" Dimas kembali mengigau dan terdengar sangat jelas ditelingan Tasya. Seketika Tasya melebarkan matanya dan menutup mulutnya sendiri dengan sebelah tangannya merasa terkejut dengan ucapan Dimas.
"Dimas!! bangun!!" Tasya mencoba untuk membangunkan Dimas yang terus mengigau dan ia ingin menanyakan kembali ucapannya barusan.
Dimas pun membuka matanya menatap Tasya, namun yang dilihatnya adalah wajah Bella.
Ia bangkit dan duduk, lalu dengan tiba-tiba ia mendorong Tasya hingga terbaring disofa. Ia mengungkung tubuh Tasya lalu mencium dan ******* bibir Tasya.
Tasya merasa sangat terkejut dan mendorong Dimas, tapi Dimas tidak melepaskannya dan semakin memperdalam ciumannya dengan kasar. Ciumannya semakin menuntut. Tangannya juga sudah menggerayangi tubuh Tasya.
Tasya pun sudah tidak tahan dan 'PLAKKK!!' Ia menampar Dimas saat tangan Dimas ingin menyentuh aset berharganya yang selama ini ia jaga hanya untuk suaminya kelak.
Seketika Dimas menghentikan ulahnya dan ia tersadar dengan apa yang telah ia lakukan. Ia menatap lekat Tasya yang ternyata bukanlah Bella.
"Tasya..kau?" Ucap Dimas dengan terkejut.
Airmata Tasya sudah mengalir deras. Ia tidak menjawab Dimas. Dengan kuat ia mendorong Dimas lalu bangkit dan berlari keluar dari ruangan Dimas.
Para karyawan yang melihat Tasya keluar dengan berlari dan menangis pun saling bertanya. "Apa yang terjadi kepada mbak Tasya?"
Tidak ada yang tau apa yang terjadi dengan Tasya dan Dimas.
Dimas masih duduk disofa ruangannya. Ia merutuki dirinya sendiri. "Brengsek!! apa yang sudah aku lakukan barusan??" Dimas mengumpat kesal kepada dirinya sendiri sambil menendang meja dengan kuat yang ada didepannya hingga mejanya berbalik dan vas bunga juga kaca mejanya pecah.
Ia kemudian bangkit dan menuju kamar mandi yang ada didalam ruangannya. Ia membasuh mukanya berkali-kali lalu menatap dirinya dipantulan cermin.
"Aku memang benar-benar BODOH!! Aku juga pria brengsek!!" Dimas masih merutuki dirinya. Ia merasa sangat malu dan marah kepada dirinya sendiri.
Ia pun bergegas pergi keluar dan masuk kedalam mobilnya. Ia melajukan mobinya dengan kecepatan tinggi untuk mengejar Tasya. Di perjalanan ia menghubungi Tasya namun tidak ada jawaban dari Tasya.
Tasya masih terus menangis didalam mobil sambil menyetir.
"Kenapa kamu seperti itu Dimas??" Ucapnya sambil menyetir dan terus menangis.
Tasya mendengar ponselnya berbunyi terus menerus namun tak dihiraukannya. Ia tau yang meneleponnya Dimas. Ia sengaja tidak ingin mengangkatnya.
Mobil Tasya pun sampai diparkiran apartemennya. Ia langsung turun dari mobilnya dan berlari memuju lift sambil menangis. Ia tidak menghiraukan satpam dan beberapa orang disana yang melihatnya.
Setelah sampai depan unit apartemennya, ia langsung membuka pintunya dan menutupnya dengan membantingnya sangat keras. Lalu ia berlari masuk kekamarnya dan menjatuhkan tubuhnya diatas ranjangnya. Ia menarik selimutnya menutupi semua tubuh indahnya.
Dimas baru saja sampai diparkiran apartemen tempat tinggal Tasya. Dengan buru-buru ia menuju lift dan naik kelantai dimana unit Tasya berada.
Sesampainya didepan pintu unit apartemen Tasya, ia memencet bell berkali-kali namun tidak ada yang membukakan pintu. Ia pun mencoba mengingat sandi apartemen Tasya dan menekan beberapa tombol angka.
Ia pernah mengingat sandi apartemen Tasya, saat ia mengantar Tasya dan memperhatikan Tasya menekan beberapa digit angka disana. Dan berhasil!
Dimas masuk dan mengamati seluruh ruangan didalam apartemen mencari keberadaan Tasya. Ia melangkah masuk menuju kamar Tasya dan pintu kamarnya masih terbuka.
Ia melihat Tasya berbaring diatas ranjangnya sedang menangis sesenggukan dibawah selimut yang menutupi seluruh tubuhnya.
Dimas melangkahkan kakinya mendekati Tasya, ia duduk ditepi ranjang dan menarik selimutnya dengan pelan sampai bahu Tasya.
Sontak Tasya terkejut dan ia bangkit lalu duduk sambil bergerak memundurkan kesisi ranjang dengan menarik dan memeluk selimutnya.
"Kenapa kamu bisa masuk kesini?? KELUAR!!!" Ucap Tasya berteriak dengan penuh amarah menatap Dimas.
Dimas yang selama ini ia kenal adalah sosok pria yang sangat baik kepadanya juga sopan. Ia tidak mengenal sosok Dimas yang baru saja ia temui.
Ia merasa sangat terkejut dengan kelakuan Dimas terhadapnya beberapa menit yang lalu. Ia menjadi merasa takut dengan Dimas, meskipun ia sangat mencintai Dimas, namun ia tidak suka diperlakukan kurang ajar olehnya dan sikapnya tadi benar-benar sangat kasar. Tasya merasa telah dilecehkan oleh Dimas.
"Tasya, tolong maafkan aku! aku khilaf, aku tadi terlalu mabuk dan .....
"KELUAAARRR!!!" Ucap Tasya dengan berteriak memotong kalimat Dimas.
Dimas pun segera bangkit dan pergi keluar dari apartemen Tasya. Mungkin saat ini Tasya sedang sangat marah dan kecewa dengan Dimas. Ia akan menemuinya kembali nanti saat Tasya sudah merasa tenang dan sudah bisa diajak bicara.