Cerita ini diangkat dari sudut pandang yang bebeda, dengan alur kehidupan sehari-hari.
Dan menyebabkan kebaperan. Semoga banyak pelajaran yang bisa kita ambil dari cerita ini.
Amanda, gadis cantik dan lembut. Harus terikat hubungan terlarang dengan pria beristri yang bernama Satria. Berawal dari pertemuan tak sengaja dan hutang budi, akhirnya mereka saling jatuh cinta dan menjalin hubungan yang tak semestinya.
Akankah mereka bersatu? Atau malah berpisah.
IG : nona_vie90
FB : Nevi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ZiOzil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kau milikku 1
Aku hanya menghela nafas, hilang nafsuku untuk berkata-kata lagi. Dan mendadak jantungku berdetak tak karuan saat melihat mobil Satria melintas di hadapan kami dan berlalu pergi begitu saja dari parkiran gedung Wijaya Grup, perasaanku kenapa jadi tak enak begini ya?
"Maaf, aku pulang dulu!" Aku segera beranjak meninggalkan Evan dan Shinta, aku tak ingin berlama-lama disini. Tapi Evan mengejarku lalu menarik lenganku hingga langkahku terhenti.
"Manda, tunggu! Kenapa kau menghindariku begini? Bukankah kita masih bisa berteman?" Evan bertanya dengan penuh harap. Memang aku butuh teman seperti dia?
"Lepaskan aku! Jangan menggangguku lagi!" Aku menepis dengan kasar tangan Evan hingga terlepas dari lenganku dan berlari meninggalkan mantan kekasihku yang tak tahu diri itu.
"Amanda ...!" Aku masih mendengar suara Evan dan Shinta serentak memanggil namaku.
Aku tak perduli, aku terus berlari menjauhi mereka lalu menyetop taxy yang kebetulan lewat dan segera meninggalkan gedung Wijaya Grup. Rasanya aku ingin sekali menangis saat ini kalau saja tidak malu kepada pak supir. Kenapa Tuhan harus mempertemukan aku dengan dia lagi? Aku jadi teringat kenangan buruk itu.
Sepanjang perjalanan aku hanya melamun, memandang jalanan dari jendela taxy, sekelebat kejadian di hotel itu melintas di fikiranku, wajah Evan dan wanita itu, ciuman mereka di depanku dan penghinaan Evan kepadaku. Semua masih begitu jelas diingatanku, enak saja sekarang dia datang memohon maaf dariku.
Bukannya aku pendendam, tapi rasa sakit yang Evan berikan kepadaku benar-benar membuat pintu maafku tertutup rapat untuk lelaki itu.
Tak tersa taxy yang membawaku telah tiba di depan apartemen yang sekarang aku tempati, aku turun dan melangkah dengan malas memasuki lobi apartemen.
"Amanda!" Aku menghentikan langkahku saat mendengar seseorang memanggilku, kuedarkan pandanganku dan akhirnya menemukan sosok Satria yang berdiri di belakangku. Sedang apa lelaki ini disini?
"Satria ...? Sedang apa kau disini?" Tanyaku bingung. Bukankah Satria sudah pulang lebih dulu tadi, mengapa sekarang dia ada dibelakangku? Aneh sekali!
"Aku hanya ingin memastikan kau pulang dengan selamat!" Satria menjawab dengan wajah yang datar, tak ada sedikitpun senyum yang menghiasi bibirnya.
"Oh." Cuma itu yang keluar dari bibirku, aku sedang malas banyak bicara. Bertemu Evan benar-benar membuat moodku jelek.
Aku pun melangkah memasuki apartemen dan Satria mengikutiku. Sebenarnya hari ini aku ingin sekali tidur dengan cepat dan menenangkan diri, tapi mana mungkin bisa jika Satria sudah ikut begini.
***
Begitu memasuki apartemen, aku segera membanting diriku di atas sofa yang empuk ini, rasanya lelah hayati. Satria pun ikut duduk di sampingku, lelaki ini membuka jasnya, lalu melonggarkan dasinya dan menggulung lengan kemejanya. Kenapa dia terlihat begitu keren sih kalau begini?
Aku segera menutup mataku dan meletakkan kepalaku di sandaran sofa, sebelum aku baper melihat kekerenan Satria.
"Manda ...!" Suara beratnya memanggil namaku.
"Hemmm ..."
"Mau apa mantanmu tadi datang?" Aku sudah menerka, Satria pasti ingin tahu. Pantas dari tadi wajahnya tak ada senyum. Seketika mode usilku menyala, aku berniat mengerjai Satria.
"Ya tentu saja mau menemuiku." Jawabku asal masih dengan posisi yang sama.
"Mau apa dia menemuimu?" Itukan, Satria makin penasaran. Kepo banget sih kamu!
"Mau mengajak balikan!" Aku berbobong. Rasanya aku ingin tertawa sekarang.
"Jadi kau mau?" Rasa penasaran Satria semakin menjadi, entah seperti apa wajahnya sekarang, aku tak ingin melihat, aku bisa tertawa nanti.
"Ya iyalah, lagipulakan aku tidak terikat dengan lelaki manapun. Sampai sekarang saja tak ada lelaki yang memintaku untuk menjadi kekasihnya, ya sudah aku terima saja mantanku lagi." Aku menjawab seenaknya, biar saja dia merasa, aku memang sedang menyindirnya.
"Apaaaa ...?" Satria berteriak kuat sekali. Ya, Tuhan ... aku sampai terkejut mendengarnya.
"Kenapa kau berteriak sih?" Aku mengelus-elus dada untuk menenangkan diri.
"Jadi kau anggap apa aku ini?" Satria bertanya dengan sorot mata yang tajam. Hey ... tuan, seharusnya pertanyaan ini untukmu.
"Memangnya kau mau dianggap apa? Kau saja tak pernah memberi kejelasan tentang hubungan kita." Aku berbicara dengan sedikit takut, mendadak suasana terasa horor.
"Ya, ampun ... Amanda, aku fikir saat aku mengungkapkan perasaanku waktu itu, kau sudah tahu akan seperti apa kelanjutan hubungan kita. Tapi rupanya kau tidak paham ya?" Satria berbicara dengan nada yang tinggi, ada guratan kekesalan di wajah tampannya.
"Mana ku tahu! Harusnya kau tegasin dong status hubungan kita, aku kan bukan cenayang yang bisa membaca fikiran orang. Aku fikir saat itu kau cuma sekedar mengungkapkan perasaan saja." Aku menggerutu kesal. Mana aku paham kalau dia tidak bilang.
"Amanda .... Amanda, ternyata kau polos sekali ya? Segitu pentingnya mendeklarasikan hubungan dengan sebuah ucapan? Kau seperti anak ABG saja." Satria menggeleng-gelengkan kepalanya. Memangnya hanya anak ABG saja yang boleh begitu?
Aku hanya diam dengan wajah cemberut dan bibir yang sudah mengkerucut. Itukan aku jadi sebal sekaligus malu.
"Baiklah kalau begitu!" Satria turun dari sofa dan berlutut di depanku. "Manda, maukah kau menjadi kekasihku?" Satria menggenggam tanganku dan menatap dalam mataku.
Aku mendadak gugup dan gemetaran, jantungku berdetak kencang. Tapi apa itu? Disaat suasana romantis begini, Satria malah mengulum senyum sampai wajahnya memerah. Dia sedang meledekku rupanya. Dasar Satria!
"Iiiiihhh ... sudah ah, cukup bercandanya!" Aku melengos kesal dan memalingkan wajahku karena malu.
"Hahaha ..." Tawa Satria pecah, lelaki ini sampai menutup wajahnya dipahaku, tubuhnya bergetar karena tertawa. Puas sekali dia!
Niat hati ingin mengerjai Satria tapi malah aku yang dikerjainya.
"Mandaku, sayang ... aku pastikan kau akan menjadi istriku nanti. Kita akan menua bersama dan melihat anak cucu kita tumbuh, kita akan bahagia." Kali ini Satria berbicara dengan mimik wajah serius, dia masih berlutut di hadapanku sambil menggenggam erat tangan dan menatap dalam mataku. Aku benar-benar terharu mendengar ucapan Satria, dia begitu yakin akan hidup bahagia bersamaku padahal kami belum lama saling mengenal dan jatuh cinta. Tapi entah mengapa aku merasa yakin dengan ucapan lelaki ini.
"Satria ..." Aku benar-benar gugup mendapat perlakuan begini. Tanganku sampai gemetaran jadinya.
"Aku mencintaimu, Amanda." Satria mensejajarkan tubuhnya dengan tubuhku, perlahan-lahan dia mendekatkan wajahnya kewajahku, aku semakin gugup dan menelan salivaku.
Dengan lembut Satria mencium bibirku, lalu melum4t dan mengec4pnya. Tubuhku mendadak seperti terserang listrik, ada getaran aneh yang tak bisa kumengerti. Dan selalu, aku tak bisa menolak perlakuannya ini, aku pun ikut terhanyut dan menikmati semuanya.
Cukup lama kami berciuman, saling membagi cinta satu sama lain, dan kali ini Satria sangat lembut, tidak seperti sebelumnya yang terkesan kasar.
***
Sebenarnya author mau crazy up, tapi berhubung NT lagi eror jadi payah lolosnya ... hadeuh ...
sukses
semangat
mksh