Damien De Santis merupakan pembuat senjata dengan spesifikasi luar biasa. Dia jadi pemasok beberapa organisasi mafia Italia. Namun, dirinya dibuat jengkel, saat berurusan dengan Patrizio Mazza. Damien yang hilang kesabaran memutuskan menghabisinya, kemudian membawa pergi adik tiri pria itu yang bernama Crystal Guida Mazza.
Crystal dijadikan tawanan, hingga rahasia besar tentang gadis itu mulai terkuak. Damien bahkan rela melindungi, setelah mengetahui jati diri Crystal yang ternyata akan sangat menguntungkannya.
Siapakah sosok Crystal? Mengapa dia jadi incaran mafia lain? Lalu, apa alasan Damien mati-matian melindungi gadis itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Komalasari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Akar Permasalahan
Damien tersenyum samar. Dia berusaha meredam segala gejolak menggebu, yang membuatnya ingin segera menghabisi Saviero. Pria tampan itu memainkan jemari kanan, tak sabar untuk mengeluarkan senjata tajam yang tersembunyi di dalam lengan jas mahalnya.
“Akan selalu ada dua sisi dalam hidup ini,” ucap Emanuele. “Positif dan negatif pasti terus berdampingan.”
“Anda benar, Tuan Emanuele. Aku hanya merasa butuh sedikit penghargaan. Selama ini, aku sudah berusaha memperlihatkan image baik di hadapan semua orang,” ujar Saviero, diiringi senyum kalem yang menawan.
“Sesuatu yang terlihat di permukaan, tidak selalu menggambarkan apa yang ada di dalamnya. Zaman sekarang, orang-orang sudah sangat pandai dalam menilai tanpa harus mengenal dekat. Oleh karena itu, selalu berhati-hati dalam bertindak.” Damien ikut menimpali, dengan nada bicaranya yang terdengar amat datar.
Saviero kembali tersenyum menanggapi ucapan Damien. Apa yang pernah Crystal katakan benar adanya. Kakak tiri Patrizio tersebut memang terlihat lebih ramah dibanding Damien.
“Putra Anda sangat memahami makna kehidupan, Tuan,” ucap Saviero, tanpa melepaskan raut hangat di paras tampannya.
Saviero Mazza. Dia merupakan pria berusia 32 tahun, dengan tampilan jauh lebih rapi dibanding Damien. Ketampanan kakak tiri Patrizio tersebut tak dapat diragukan lagi. Saviero memiliki kharisma luar biasa. Senyum menawan disertai tatapan lembut dari sepasang mata abu-abunya, jadi sihir ampuh yang dapat menghipnotis siapa saja. Terlebih, para wanita.
Namun, kehidupan pribadi Saviero tak pernah tercium publik. Orang-orang lebih mengenalnya sebagai pengusaha sukses. Tak ada yang tahu bahwa pria tampan berperawakan tinggi tegap itu juga berkecimpung di dunia hitam.
“Damien sudah dewasa. Dia mencari pengalaman hidup dan pasti menemukan banyak makna, dari segala hal yang telah dilakukannya. Aku sangat menghargai itu. Namun, sayang sekali karena umurku makin tua. Kerajaan bisnis De Santis membutuhkan penerus," ucap Emanuele.
“Tentu saja, Tuan. Damien masih muda, cerdas, piawai dalam beberapa hal. Ide-ide segar akan sangat berguna bagi kemajuan bisnis Anda.” Saviero begitu pandai bicara. Untuk orang yang tidak memiliki insting tajam, kata-kata manisnya pasti langsung dimakan mentah tanpa kecurigaan mendalam.
"Rasanya, aku ingin sekali mengajakmu berkelliling mansion. Ada beberapa hal yang pasti akan sangat menarik." Damien menatap penuh tantangan, meskipun berusaha disembunyikan lewat senyum kecil sebagai pemanis.
Saviero tak langsung menyetujui ajakan Damien. Dia lebih dulu menoleh pada Emanuele, seakan meminta izin pada sang penyelenggara pesta.
"Silakan. Buatlah dirimu nyaman di sini. Aku senang jika kau dan Damien bisa lebih akrab." Emanuele mengangguk setuju, diiringi raut hangat.
Tanpa banyak basa-basi, Damien langsung berbalik meninggalkan aula pesta, dengan diikuti oleh Saviero. Entah akan ke mana dia mengajak pria itu. Satu yang pasti, Saviero tampak sangat berhati-hati. Dia memperhatikan dengan saksama, langkah tegap Damien di depanya.
Ketika tiba di koridor yang berada cukup jauh dari aula pesta, Damien tiba-tiba menghentikan langkah. Dia berbalik dengan gerakan sangat cepat. Tangan kanan pria itu terulur lurus ke arah leher Saviero, yang seketika terpaku.
Saviero mengarahkan bola mata ke pergelangan tangan Damien, di mana terdapat pisau belati tajam yang siap menembus lehernya.
"Kau tahu, Tuan Saviero Mazza?" Damien menatap dingin pria di hadapannya, yang berusaha tidak terlihat panik. "Dengan pisau ini, aku menghabisi adik tirimu yang menyebalkan. Begitu juga dengan wanita tua, yang kau jadikan sebagai mata-mata di kediamanku."
"Lalu? Kau ingin menghabisiku sekarang? Di sini?" Saviero tersenyum setengah mencibir.
"Kita tidak punya urusan apa pun. Tak ada masalah serius antara kau dan aku, selain karena kematian Patrizio. Namun, kau harus tahu kenapa bajingan itu kuhabisi."
"Kembalikan Crystal. Aku tidak peduli dengan kematian Patrizio," balas Saviero.
Damien tersenyum kecut "Crystal? Kau menginginkan gadis itu?"
"Dia milikku," tegas Saviero pelan, tapi penuh penekanan.
"Tidak lagi, setelah Patrizio memberikannya sebagai jaminan utang padaku," bantah Damien, diiringi seringai kecil.
Saviero menggeleng pelan. "Asal kau tahu, Damien De Santis. Patrizio tidak memiliki hak apa pun atas Crystal karena dia hanya bertugas menjaganya, Crystal adalah gadisku. Kau telah berani membawanya tanpa izin. Itu kejahatan besar, yang tak akan pernah aku biarkan."
Damien tak menanggapi. Dia hanya menatap Saviero, dengan sorot tajam bak macam yang tengah mencintai mangsa.
"Kembalikan Crystal. Aku tak akan mengusikmu sedikit pun," ucap Saviero lagi.
"Bagaimana jika aku tidak mau?" Damien tersenyum samar, setengah meremehkan peringatan tegas Saviero.
Raut wajah ramah Saviero perlahan memudar, berubah jadi ekspresi teramat tegang. Rahang kokohnya mengeras, menandakan amarah yang berusaha ditahan. "Kau tak akan menyukainya," ucap pria tampan berambut gelap itu penuh penekanan.
Damien menarik tangan. Bersamaan dengan itu, belati yang tadi hampir menusuk leher Saviero pun ikut masuk kembali ke dalam pergelangan jas.
"Andai kita tidak bertemu di sini," ucap Damien dingin.
"Apa masalahmu, Damien? Aku hanya meminta agar kau mengembalikan Crystal. Setelah itu, urusan kita selesai," ucap Saviero teramat serius.
Namun, Damien menanggapi enteng ucapan kakak tiri Patrizio tersebut. Dia tersenyum kecil. "Dalam mimpimu," balasnya, kemudian berbalik meninggalkan koridor.
Saviero bergegas mengikuti. "Katakan di mana Crystal, atau kuledakkan kepalamu saat inijuga!" gertaknya tegas. Dia sudah siap dengan pistol berperedam, yang diarahkan langsung pada Damien.
amiliano
alisiano
berharap ada season 2 nya