Davin seorang pimpinan perusahaan yang ganteng dan dingin mendapatkan seketaris yang ya g di rekomendasikan oleh sang om karena gadis itu tak lain adik ipar sang om. Namun setelah bertemu dengan gadis itu Davin di buat kaget karena ternyata gadis itu, gadis tiga tahun lalu yang pernah dia tiduri atas permintaan teman sekaligus sahabat ya g saat ini menjadi rivalnya di dunia bisnis. Davin ya g selama tiga tahun ini di bayangi dengan rasa bersalah atas kejadian itu bahkan berusaha mencari informasi tentang gadis itu, namun kini dia di buat terkejut setelah tahu bahwa gadis itu adik ipar sang om.
Namun gadis itu tidak mengingat dengan Davin karena memang Alma tidak terlalu mengenal Davin. Alam pun bersikap biasa saja.
Apakah Davin bisa menebus kesalahannya pada Alma?
Apa yanga kan di lakukan Alma setelah tahu laki-laki ya g telah menodainya adalah bosnya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Astri Reisya Utami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keram perut.
Besoknya Erika dan Faiz pulang, Alma dan sang mama menyambut Erika dengan hari dan senang karena akhirnya Erika dan Faiz pulang.
"Mama khawatir banget sama kak" ucap mama sambil mengusap air matanya.
"Erika baik-baik saja ma, Erika di tolong orang baik" balas Erika menenangkan sang mama. Erika lalu melirik Alma yang menangis senang karena sang kakak pulang.
Erika memeluk Alma dan berkata "kamu baik-baik saja kan Al? ".
" Aku baik-baik saja kak"balas Alma dan masih meneteskan air mata.
Erika tau jika Alma sedang tidak baik-baik saja namun dia tidak mau membahasnya sekarang. Semua orang masuk dan Erika langsung menceritakan kejadiannya kenapa dia bisa hilang.
"Sekarang kita tidak perlu takut lagi dengan Rusli dan keluarganya karena mereka semua sudah mendapatkan balasannya" ucap Kian membuat Erika heran.
"Mereka semua di laporkan ke kantor polisi atas tuduhan penggelapan uang" penjelasan Kian.
"Bagus kalau begitu jadi kelurga kita aman" ucap sang mama.
"Tapi aku harap kalian besok pulang ke kota biar aku dan Davin yang disini karena kerjaan ku belum selesai" ucap Kian.
"Berarti aku juga masih disini? " tanya Alma yang merasa jika dirinya juga harus bekerja karena dia sebagai Sekretaris Davin.
"Kamu pulang saja!" jawab Davin "semua berkas kamu kumpulkan dan simpan di meja saja baru nanti aku yang urus" lanjutnya dan Alma hanya mengangguk.
Namun berbeda dengan Kian dia merasa aneh dengan nada bicara Davin pada Alma, karena tidak ada lembut-lembutnya. Kian pun berpikir jika Davin dan Alma masih belum baikan.
"Ya sudah kamu istirahat sayang, aku ada yang mau bicarakan dengan Davin" titah Kian pada Erika dan langsung dapat anggukan dari Erika.
Kian langsung berbalik ke arah Davin "kamu ikut om" ajak Kian dam Davin pun langsung mengangguk dan mengikuti Kian pergi. Mereka pergi dengan naik mobil karena Kian sengaja tidka mau bicara di rumah takut Alma atau siapa pun mendengar pembicaraan mereka.
Kian membawa Davin ke sebuah kebun teh dan mereka turun lalu duduk di sebuah saung yang ada di sekitar situ.
"Kamu masih belum maafin Alma? "tanya Kian langsung.
" Aku sudah menerima semuanya dan sudah tidak marah lagi sama Alma"jawab Davin.
"Terus kenapa sikap kamu masih dingin seperti itu sama Alma? ".
" Engga kok biasa saja"balas Davin.
"Gue gak bodoh Vin, sekarang gue minta lo jujur sama gue" ucap Kian kasar karena dia gak suka di bohongi.
"Apa om? " tanya Davin.
"Malam saat kamu pergi dari rumah dengan keadaan marah, kamu pergi kemana? " tanya Kian dengan penuh penekanan.
"Aku cuman ke kafe untuk makan dan beli minuman biasa" jawab Davin.
"Kamu pikir aku gak tau kamu kemana? " tanya Kian dengan marah.
"Saat kita pergi ke lokasi aku melihat ada noda lipstik di kerah kemeja kamu, apa yang sudah kamu lakukan hah? " bentak Kian membuat Davin nunduk.
"Kamu boleh marah, tapi jangan membuat kesalahan yang lebih fatal dari ini Vin" ujar Kian yang merasa sakit hati melihat aduk iparnya di sakiti oleh keponakan nya sendiri.
"Aku khilaf om" ucap Davin lemah.
Namun tiba-tiba sebuah tangan melayang di wajah ganteng Davin membuat Davin mundur. Kian terus menghajar Davin, meluapkan kekesalannya karena telah berbuat kesalahan.
Davin tidak membalas dia hanya merintih kesakitan.
"Kamu harus selesaikan masalah ini karena aku gak mau jika sampai Alma tau apa yang telah kamu lakukan pada dia" peringatan Kian dan langsung pergi begitu saja meninggalkan Davin kesakitan.
Namun tak lama Kian kembali dan membantu Davin berjalan ke mobil dan membawanya pulang. Saat sampai rumah pertama yang melihat adalah sang mama.
"Massa allah, nak Davin kenapa? " tanya mama saat melihat keadaan Davin.
"Di kita copet" jawab Kian asal, berbeda dengan Erika yang mendengar jawaban Kian.
Alma keluar dan dia terkejut melihat keadaan Davin yang babak belur, "Bang Davin kenapa? " tanya Alma.
"Biar Davin nanti yang jelaskan, sekarang kamu ambil air hangat lalu kompres lukanya" titah Kian dan Alma langsung pergi ke dapur hendak mengambil air hangat namun sudah di sediakan oleh sang mama.
"Makasih ma" ucap Alma sambil menerima air hangat dari sang mama lalu membawanya ke kamar.
Namun saat hendak menempelkan lap ke wajah Davin Alma terhenti karena dia ingat saat ini Davin sedang marah dan dia takut jika Davin keberatan untuk di obati Alma. Davin melirik Alma karena dia tidak kunjung merasakan kain basah nempel di wajahnya.
Davin mengerti dengan sikap Alma akhirnya dia mengambil alih lap dan langsung menempelkannya ke wajah. Alma langsung mundur dan pergi meninggalkan Davin mengobati lukanya sendiri. Alma menangis di belakang rumah dengan suara pelan karena dia gak mau semua orang rumah tau jika dirinya menangis.
Erika melihat Alma menangis di belakang namun dia tidak mendekatinya karena dia tau jika Alma gak akan pernah jujur pada dirinya.
"Ada apa? " tanya Kian sambil menepuk pundak Erika yang sedang mengintip Alma.
"Abang ih ngagetin saja"kesal Erika.
" Ya habis kamu serius amat ngintipnya"sambil melihat ke arah Erika ngintip.
Kian kaget saat melihat Alma menangis seperti itu.
"Mungkin besok jalan terbaik untuk Alma agar dia bisa menenangkan diri di kota dengan tidak adanya Davin. " ucap Kian dan langsung mendapat persetujuan Erika.
Davin dia menghentikan mengompresnya, dia malah berbaring sambil menata langit-langit kamar dan tak terasa dia meneteskan air mata karena sedih.
"Maafin aku Al" gumamnya.
Alma yamg telah merasa puas dia kembali ke kamar dan melihat Davin sedang mencari sesuatu.
"Abang cari apa? " tanya Alma mendekati.
"Semua bekas yang kamu bawa" jawab nya tanpa melirik Alma.
Alma pun melangkah ke arah tasnya lalu mengeluarkan semua berkas dan memberikannya pada Davin.
Davin yang menerima itu malah terjatuh karena tangannya tidak kuat untuk memang barang.
Alma berjongkok begitu pun Davin membuat kening mereka beradu. Alma langsung berdiri dan memegang keningnya walau pun dia kaget dengan posisi barusan seperti orang yang baru saja ketemu crush nya.
Alma melangkah duduk di tempat tidur, Davin dia membereskan semua maf yang terjatuh dan berantakan. Davin melirik Alma sekali-kali namun Alma dia hanya menunduk karena merasakan sakit di perutnya yang tiba-tiba keram. Alma langsung masuk kamar mandi sambil menahan sakit. Setelah masuk Alma menghubungi Erika meminta untuk mengambil kan obat yang ada di samping tempat tidur.
"Tante cari siapa? " tanya Davin.
"Istrimu dimana? " tanya Erika balik karena sudah kesal.
"Dia tadi masih ada disitu mengumpulkan berkas" jawab Davin cuek.