“Hhmmm… wangi,” lirih seorang pria tua usai menceruk leher gadis yang ada di depannya.
Menatap lamat. Diam-diam mengagumi iras cantik mempesona milik gadis ranum tersebut. Tersenyum miring, sembari membayangkan hal indah yang selanjutnya akan ia lakukan ketika sudah berhasil membuat gadis itu sadar.
Membelai rambut. Ujung helai lurus itu kemudian di pilin, memainkannya. Tak lupa juga ikut ia endus, menikmati sensasi aroma segar yang menguar. Cukup menguji adrenalin, mendegupkan detak jantung dua kali lipat dari biasanya.
“Kau sangat cantik, Naira. Sudah sejak dulu aku menunggu saat-saat seperti ini bisa bersamamu.” Lelaki tua itu kembali berujar, lirih dengan suara serak, akibat tekanan batin yang kian membuncah. Tak sabar ingin melahap habis makan malamnya yang kali ini sudah ditunggu sejak lama.
Apa yang selanjutnya akan terjadi pada Naira? Penasaran ingin tahu cerita selengkapnya? Kalau begitu yuk ikuti segera kisahnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon F A N A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TMTK — BAG 30
Ting!
satu pesan masuk. Nayra segera melirik ke arah ponselnya yang saat ini menampilkan sebuah pesan dari nama yang bertuliskan Ikhsan dengan simbol dua gambar hati.
Reflek Gadis itu langsung membukanya. lalu melihat isi pesan yang barusan terkirim kepadanya.
[Apa kabar kamu? Apa hari ini kita bisa bertemu? Lusa mungkin aku akan pergi ke Jakarta, dan sebelum itu aku ingin kita menghabiskan waktu bersama.]
[aku sudah memesan dua tiket film horor yang dibintangi oleh Luna Maya. film yang sangat kau tunggu-tunggu bukan? dan sebelum keberangkatanku aku ingin kita menonton film itu bersama.]
Dua pesan itu sudah terbaca. Naira mulai resah. bagaimana tidak mengingat statusnya kini yang bukan lagi lajang seperti sebelumnya. bisa pergi ke mana saja sesukanya, hanya perlu meminta izin dari Andi sang ayah angkat.
Naira sendiri sudah sangat dipercaya oleh ayah angkatnya itu. Mengingat Naira yang selalu patuh akan peraturan. Benar-benar melakukan apa yang ia katakan. Bisa dikatakan hampir tidak pernah berbohong kepada Andi melakukan aktivitasnya.
Dan hal itu sendiri menjadi salah satu alasan bagi Andi untuk tidak terlalu mengekang Naira. Sehingga gadis muda itu bisa dengan mudah meminta izin keluar, termasuk bertemu dengan Ikhsan.
Naira terpaku. Ia tak tahu harus membalas apa. Ingin mengiyakan namun rasanya tidak mungkin, karena status istri yang saat ini sudah mengikatnya.
[Aku tidak bisa.]
[Kenapa?]
pesan yang barusan gadis muda itu tulis dan kirimkan langsung dibalas oleh Ikhsan.
[Aku...]
Naira sengaja menggantung kalimatnya. Antara ingin memberitahukan atau mungkin menyimpan saja apa yang saat ini sedang dialaminya sendiri.
Naira berpikir mungkin Jika ia nekat memberitahukan tentang pernikahannya saat ini dengan Boy sama saja akan menyakiti Ikhsan. Lelaki muda itu tidak boleh terluka. Naira juga tidak siap dicap sebagai penghianat. Tidak ingin apa yang saat ini sudah dilakukannya menjadi pemisahan antara hubungan mereka. Karena memang untuk saat ini gadis muda itu belum siap!
Apakah ia egois?
[Aku tetap menunggumu. Pukul 11 siang, di depan gapura jalan menuju rumahmu.] balas Ikhsan lagi.
“Kau sedang apa?!”
Deg!
Kalimat pertanyaan itu seketika menyentak Naira. Ia tertegun. Wajahnya langsung terlihat gelisah. Sementara tangannya tampak gemetar, berikut dengan ponsel yang masih berada di dalam genggamannya.
Boy memicing. Lelaki yang barusaja berseteru dengan Kakeknya itu kemudian segera mendekati Naira. Gadis itu sudah mengeluarkan keringat, terlihat mengkilat di dahi yang sontak membuat Boy cemas.
“Apa kau sakit?” tanya Boy yang sontak dijawab oleh Naira dengan anggukan.
Boy kemudian meletakkan satu tangannya pada dahi Naira. memeriksa suhu tubuh gadis muda yang barusan dinikahinya itu. Tidak tampak meningkat. Masih dalam kategori normal. Tapi kenapa gadis muda itu mengiyakan tentang pertanyaan sakitnya?
Boy kembali memicing. Maniknya juga menurut tajam pada wajah Naira. Gadis itu menunduk sembari menyimpan kedua tangan ke arah belakang. Boy hanya terdiam. Namun ia terus menatap seksama ke arah Naira. Menunjukkan raut curiga, mungkinkah hal ini disebabkan atas perlakuannya barusan?
‘Ck, apa hal ini karena tadi aku sudah terlalu keterlaluan pada gadis ini? Bagaimanapun ia masih sangat muda. Yang mana jika dilihat dari penampilannya pasti belum pernah melakukan hal itu. Ini semua karena Chintya! Jika saja tadi ia tidak datang mengusikku, maka aku tidak akan melakukan hal itu terhadapnya!’