Sebuah novel fantasi mitologi Nusantara (Batak). Berikut salah satu petikannya:
"Sebelum matahari mengenal pagi, langit telah lebih dahulu mengenal doa. Di Banua Ginjang, doa tidak diucapkan melalui bibir, melainkan tumbuh menjadi bunga-bunga cahaya yang bermekaran di antara akar bintang. Setiap kelopaknya membawa harapan, dan setiap harapan akan jatuh ke dunia bawah sebagai embun kehidupan."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sasip, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PROLOG (Sebelum Dunia Mengenal Namanya)
...Pada mulanya tidak ada gunung yang menjulang, tidak ada ombak yang bergulung, tidak ada burung yang mengepakkan sayap, bahkan tidak ada waktu yang menghitung dirinya sendiri....
Kesunyian telah ada jauh sebelum cahaya mengenal kilau. Ia bukan sekadar sunyi, melainkan ruang tanpa batas yang bahkan tidak mengenal arah. Tidak ada timur tempat matahari lahir. Tidak ada barat tempat senja berpulang. Kata atas ataupun bawah belum memiliki makna. Jauh dan dekat hanyalah kemungkinan yang belum tercipta.
Tidak ada warna. Tidak ada suara. Tidak ada nama.
Yang ada hanyalah kehampaan yang begitu purba sehingga bahkan keheningan pun belum mengenal dirinya sendiri.
Namun di balik kehampaan itu, tersembunyi sebuah kehendak. Ia belum berbentuk. Belum lagi bersuara. Belum punya cahayanya sendiri. Tetapi ia hidup.
Lalu, untuk pertama kalinya... alam semesta menarik napas. Bukan napas manusia. Bukan napas naga. Bukan pula napas para dewa.
Melainkan napas Sang Awal.
Dari satu tarikan napas itu lahirlah cahaya pertama. Bukan berupa cahaya yang menyilaukan, melainkan cahaya yang lembut, terasa hangat, seperti seorang ibu yang membelai anaknya sebelum anak itu mengenal dunia.
Cahaya itu mengembang tanpa tergesa. Ia menari dalam kehampaan. Ia membelah kesunyian. Ia memberi bentuk kepada sang ruang.
Dan ketika cahaya menyentuh kehampaan, terdengarlah suara pertama. Bukan berupa dentuman yang menggelegar. Melainkan sebaris firman yang menggema ke seluruh semesta.
..."Segala sesuatu memiliki waktunya. Segala kehidupan memiliki tempatnya."...
Firman itu bergema beberapa kali. Setiap gemanya melahirkan sebuah lapisan alam yang baru. Maka seketika itu terciptalah tiga banua, tiga dunia yang saling menopang.
Yang pertama adalah Banua Ginjang, dunia cahaya yang mengapung di atas segala sesuatu.
Di sana langit bukan sekadar hamparan biru, melainkan lautan sinar keemasan. Pulau-pulau indah melayang tanpa tiang penyangga. Air terjun mengalir ke atas, seakan tersedot kembali ke mata airnya.
Pepohonan Hariara menjulang hingga dahannya memeluk bintang-bintang, sementara daun-daunnya berkilauan bagai ribuan ulos yang ditenun dari benang emas murni. Burung-burung bersayap enam yang indah terdengar terbang berdesing sambil menyanyikan lagu yang kelak menjadi asal dari segala doa dan pujian.
Yang kedua adalah Banua Tonga, dunia tengah.
Namun pada saat itu, ia belumlah menjadi bumi seperti tempat kita tinggal sekarang ini. Ia hanya berupa samudra purba yang tak bertepi. Air membentang ke segala arah, bergulung dalam badai yang tak pernah berhenti bergejolak. Kabut putih menggantung di atas permukaan laut, menutupi segala kemungkinan.
Belum ada gunung. Belum ada lembah. Belum juga ada tanah, tempat sebutir benih dapat beristirahat.
Yang ketiga adalah Banua Toru, dunia yang tersembunyi jauh di bawah samudra purba. Gelap. Dalam. Sunyi. Tetapi bukan dunia kematian.
Di sanalah akar segala kehidupan bersemayam. Batu-batu menyimpan ingatan, sungai-sungai bawah tanah membawa mimpi dan makhluk-makhluk purba menjaga keseimbangan alam.
Di antara mereka, yang paling tua adalah seekor naga raksasa, Naga Padoha, yang tubuhnya melingkari dasar samudra seperti lingkaran tanpa ujung. Sisiknya hitam berkilau laksana batu obsidian, matanya menyimpan cahaya zaman ketika waktu bahkan belum lagi dilahirkan. Ia tidak mengenal benci ataupun kasih; ia hanya mengetahui bahwa tugasnya sebagai penjaga dunia belum lagi selesai ditunaikan.
Ketiga banua itu terhubung oleh Pohon Hariara Agung. Akarnya menembus Banua Toru, batangnya menjulang melewati Banua Tonga dan dahannya menaungi Banua Ginjang. Di setiap urat kayunya mengalir kekuatan yang menjaga keseimbangan semesta.
Di puncak Banua Ginjang bersemayam Mulajadi Nabolon. Ia memandang ketiga dunia itu dengan kebijaksanaan yang tak terukur. Ia mengetahui bahwa alam telah memiliki bentuk, tetapi belum memiliki kehidupan yang akan mengisinya dengan cinta, harapan dan pilihan.
Sebab dunia tanpa kehidupan, hanyalah sebuah hamparan pemandangan yang indah, namun tak pernah bercerita apa-apa.
Dan sejatinya, kehidupan hanya dapat lahir melalui keberanian, pengorbanan, serta kasih yang melampaui ketakutan.
Maka Sang Pencipta menatap jauh ke taman-taman cahaya di Banua Ginjang.
Di sana, di antara bunga-bunga yang mekar dari embun bintang, seorang bayi perempuan baru saja membuka matanya. Ia menyusul ada dari serombongan dewa-dewi yang sudah terlebih dahulu bermanifestasi.
Kehadirannya tidak disertai tangisan. Yang terdengar hanyalah desir angin yang tiba-tiba membawa harum bunga ke seluruh penjuru Banua Ginjang.
Para burung berhenti bernyanyi. Air terjun cahaya bahkan sempat berhenti mengalir sesaat ketika bintang-bintang seolah meredup karena takzim.
Sebab mereka tahu, telah lahir sesosok mahluk yang kelak akan mengubah wajah alam semesta.
Seorang putri yang suatu hari akan meninggalkan langit demi menciptakan bumi.
Seorang ibu yang akan melahirkan leluhur manusia.
Seorang perempuan yang namanya akan dikenang sepanjang zaman. Namanya adalah... Si Boru Deak Parujar, Sang Putri Langit.
..."Setiap dunia lahir karena sebuah kehendak. Namun setiap peradaban lahir karena keberanian satu jiwa untuk melangkah menuju takdirnya."...
...****************...
Horas! 🌿
Mauliate godang.. 🤎
📖 Bersambung ke BAB 1. Anak Cahaya dari Banua Ginjang.
😏/CoolGuy//Casual//Shhh/
/Grin//Tongue//Facepalm//Joyful/