Lanjutan dari cerita Naina si Gadis Panti.
Langit merupakan anak lelaki yang di adopsi oleh Kinan, mertua Naina. Jatuh cinta pada gadis kecil yang merupakan adik asuh Naina.
Meski usia mereka yang terbilang muda, namun perasaan yang mereka miliki benar-benar murni. Dan mungkin, tidak selalu menceritakan tentang Yura dan Langit. Karena seperti biasa, akan ada kasus yang harus di selesaikan. Tapi, kisah cinta manis mereka berjalan di antara orang-orang yang mencintai dan menyayangi mereka berdua.
Semoga suka yaaaa, sama karyaku yang ke-11 ini🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nike Julianti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DUKA
"Sebaiknya kita segera mengobati luka Guntur" jawab Yura, ia rasanya sangat lelah hari ini. Emosinya benar-benar sangat terkuras, hanya karena satu wanita.
Langit memapah Yura, ia tau sebentar lagi Yura akan...
"Sayang" panggil Langit, yaaa... Yura akhirnya tak sadarkan diri. Inilah kelemahan Yura, ia tak bisa terlalu banyak menguras emosinya. Karena hatinya terlalu lemah, pada kesakitan dan penderitaan orang lain. Langit segera mengangkat tubuh Yura, saat keluar dari kantin. Mereka berpapasan dengan Naina dan juga Ken, Naina terkejut.
"Apa yang terjadi?" tanya Naina cemas
"Yura lelah kak." jawab Langit, ia pun segera berjalan menuju IGD. Begitu juga dengan yang lainnya, mereka menyusul Langit dari belakang..
.
.
"Tidak apa-apa, Yura butuh istirahat. Biarkan ia tidur, tenaga dan emosinya terkuras habis hari ini." ucap Ezra
"Syukurlah ayah" jawab Naina
Mereka berjalan keluar ruangan Yura, Naina membatalkan membawanya ke IGD. Membiarkan Yura di jaga oleh Langit, walau sudah biasa melihat hal ini. Namun bagi Langit, hal ini tetap menyakitkan.
"Oya, kondisi pasien yang di bawa Langit dan Yura. Cukup mengkhawatirkan, kondisinya semakin menurun. Selain sakit dan juga usianya yang sudah tidak muda lagi, nampaknya tak ada semangat untuk beliau mempertahankan hidup." ucap Ezra
DEG
"A-apa maksud dokter?" tanya Baskoro, Guntur... tubuhnya sudah bergetar karena rasa takutnya.
"Setelah melakukan pemeriksaan lebih lanjut, ternyata ada kerusakan pada syaraf otaknya. Dan setelah memeriksa kanker dari paru-paru yang ternyata sudah menyebar ke bagian tubuh lainnya, seperti pada liver, tulang di beberapa bagian tubuh lainnya. Pasien kini sudah ada di stadium akhir, karena usianya juga. Kami tidak bisa gegabah dalam melanjutkan pengobatan, dengan cara operasi." jawab Ezra
JEDEEERRR
Tubuh Baskoro oleng, Key menahannya.
Bagaimana bisa ia tidak mengetahui hal ini? Ibunya sudah separah ini? Ya Allah, durhaka sekali dirinya. Ia benar-benar sudah menelantarkan ibunya dan malah mempercayai orang yang salah, air matanya pun luruh. Tubuhnya pun ambruk ke lantai, ia menangis terisak. Ia belum siap bila harus kehilangan sang ibu, ibu yang sudah mengorbankan apapun untuknya.
"Ampun bu, maafkan Baskoro." gumamnya, semua orang yang ada di sana hanya bisa menghembuskan nafasnya pelan. Sedangkan Guntur, ia menangis tanpa ada suara. Neneknya yang selalu ada dan merawatnya, kini sedang tidak baik-baik saja.
"Manfaatkan waktu kalian, kami akan memindahkan pasien ke ruang rawat. Beliau sudah siuman, tapi jangan membuatnya terlalu lelah. Biarkan ia beristirahat, karena hanya itu yang dibutuhkannya. Ketenangan..." ucap Ezra, menepuk pelan pundak Baskoro. Lalu pergi, untuk meminta perawat memindahkan pasien.
Baskoro pun bangun, ia ingin segera menemui istrinya. Ia benar-benar marah, sangat marah. Meski kondisi dan usia seseorang merupakan takdir Allah, tapi ia tak pernah bisa memaafkan istrinya. Karena istrinya, terlibat atas apa yang kini terjadi pada sang ibu. Penyesalannya menikahi wanita, yang kini menjadi istrinya. Sangatlah besar, ia ingin segera menyelesaikan semua ini.
"Maaf, bila mungkin saya kembali merepotkan anda tuan." ucap Baskoro pada Key, Key menatap Baskoro
"Saya titip Guntur, saya ingin menemui istri saya. Dan menyelesaikan semuanya, saat ini juga." Key mengangguk, Guntur hanya diam.
Baskoro pun pergi meninggalkan mereka, Naina mendekati Guntur dan memeluknya.
"Menangislah, agar sesakmu berkurang." ucapnya
"HUWAAAAAAAA..... NENEK, KENAPA SEMUA HARUS NENEK YANG MERASAKANNYA KAK? KENAPA TIDAK GUNTUR SAJA?" pecahlah tangisan Guntur, bahkan Naina pun ikut menangis.
Anak yang belum genap 8 tahun ini, sudah banyak memakan garam kehidupan. Naina menepuk pelan punggung Guntur, Guntur membalas merangkul leher Naina. Suara tangisannya benar-benar sangat menyayat hati, apakah perjuangan menjaga neneknya akan berakhir?
Ken dan Key menengadahkan kepalanya, agar air matanya tidak turun.
"Dengarlah sayang, Allah mempunyai alasan dan rencana untukmu. Do'a kan yang terbaik untuk nenek, bila Allah sudah berkehendak lain. Mungkin, agar nenek tidak merasakan sakit lagi. Hmm? Apapun yang terjadi, Guntur harus bisa menerimanya. Karena apapun yang Allah putuskan, tidak pernah salah." ucap Naina, Guntur menggelengkan kepalanya.
Ia masih belum bisa menerima semuanya, hanya ada nenek selama ini. Nenek, nenek dan nenek yang selalu menemani dan menjaganya. Tak apa bila ia berhenti sekolah dan harus, mengurus sang nenek seumur hidupnya. Tak apa ia harus berjualan asongan setiap hari, di lampu merah. Asal neneknya baik-baik saja, neneknya sehat seperti sedia kala.
Karena lelah, lelah segalanya. Lambat laun, tubuh Guntur melemah dan merosot. Naina terkejut, ia nyaris berteriak saat tak merasakan hembusan nafas pada Guntur.
"BEE, BAWA GUNTUR KE RUANGAN!! KEY, TOLONG PANGGIL AYAH!!" teriak Naina, tubuhnya bergetar.
Ken segera mengangkat tubuh Guntur dna Key segera lari ke ruangan ayah Ezra.
"Bee..." panggil Naina dengan suara bergetar, entah kenapa ia merasa sangat takut. Padahal Guntur bukan siapa-siapanya, tapi hatinya seperti terikat dalam.
Ken merebahkan tubuh Guntur dengan pelan, ke atas ranjang. Ia pun langsung memeluk Naina, yang ada di sampingnya. Tangisan Naina pun pecah, ia takut... benar-benar takut. Nafas Guntur benar-benar tak terasa, bahkan kini tubuhnya mulai dingin.
"Do'akan yang terbaik sayang." ucap Ken
Dokter Ezra pun masuk dengan Key dan beberapa perawat, ia langsung memeriksa kondisi Guntur. Ken dan Naina mundur dan memberikan ruang, untuk Ezra
"Detak jantungnya melemah" ucap Ezra pelan, ia segera melakukan pertolongan pertama. Dokter Ezra naik ke atas ranjang dan menekan dada Guntur berkali-kali, lalu menempelkan telinga di dekat mulut Guntur. Ia melakukan hal itu berulang, bahkan ia pun memberikan nafas buatan pada Guntur. Tetapi NIHIL....
Ezra menggelengkan kepala dan tubuhnya merasa lemas, bagaimana bisa? Usia seseorang benar-benar tidak bisa di prediksi, tubuh Key oleng dan berakhir ambruk di lantai. Apa ia benar-benar terlambat bertemu dengan pria kecil itu?
"Innalillahi wa inna lillahi rajiun" Naina menutup mulutnya dengan salah satu telapak tangannya
"Waktu kematian hari Kamis, pukul 21.22 WIB" ucap Ezra
BRAK
"DOKTER, KONDISI PASIEN MELEMAH." teriak seorang perawat yang mengurus neneknya Guntur, Ezra segera berlari menuju dimana nenek Guntur berada.
Saat Ezra tiba di ruangan nenek Guntur...
TIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIT
Monitor yang menunjukkan detak jantung, kadar oksigen dalam darah serta tekanan darah. Menunjukkan garis lurus semua, Ezra pun berjalan pelan mendekati pasien.
Bagi seorang dokter, tidak bisa menolong pasiennya. Merupakan pukulan besar, walau hal ini tidak terjadi sekali dalam masa tugasnya.
"Innalillahi wa inna illahi rajiun." dua kali ia mengatakan kalimat tersebut
"Waktu kematian hai Kamis, pukul 21.32 WIB." lanjutnya
Para perawat menutup kedua tubuh jenazah dengan kain putih, di tempatnya masing-masing. Setelah semua alat yang terpasang pada tubuh nenek Guntur, di lepas.
"Tolong urus jenazah" ucap dokter Ezra, dengan suara pelan. Kematian memang sebuah misteri, cucu yang tidak mau di tinggalkan sang nenek. Pergi lebih dulu dan di susul oleh sang nenek, Subhanallah...
Perawat mengangguk dan segera melakukan yang diminta Ezra, ia kembali ke ruangan Guntur.
"Bagaimana yah?" tanya Naina dengan suara serak, Ezra menggelengkan kepalanya.
Air mata Naina kembali mengalir, ini semua takdir Allah.
...****************...
Jangan lupa like, komen, gift dan vote nya🥰🥰
...Happy Reading all❤❤❤...