Soraya harus merasakan sakit yang luar biasa ketika mengetahui Mario yang tak lain calon suaminya menghamili wanita lain, padahal dia juga sedang mengandung anak Mario.
Soraya tidak punya alasan untuk mempertahankan hubungannya dengan Mario, dia memilih untuk melepaskan Mario dan menyuruh Mario untuk bertanggung jawab pada wanita itu.
Mario tentu tidak terima, karena dia tidur dengan wanita itu tanpa sengaja, dan dia kekeh ingin menikahi Soraya, tapi Soraya juga kekeh menolak.
karena tidak ingin Mario mengejar-ngejarnya lagi Soraya, nekad menikahi pria bayaran yang sudah memiliki kekasih, tentu saja Soraya melakukan ini demi status dari anak yang di kandung karena Mario belum tau bahwa dia mengandung dan selama bertahun-tahun pula, Soraya berhasil menyembunyikan fakta, bahwa anak yang dulu dia kandung adalah anak Mario.
Dan karena masih dendam dengan keputusan Soraya, Mario terus mengganggu Soraya dan menyakiti anak Soraya, yang juga tanpa dia sadari adalah anaknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dewi kim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30
Aku update dua bab gengs scroll ya di bawah ada kejutan, jangan lupa komentar yang banyak yaaa sama.lokee juga
Setelah keluar dari ruang rawat Soraya, Mario langsung menghempaskan tangan Kelvin yang memegang bajunya. "Apa-apaan, kau!" Mario Hampir saja berteriak, dia emosi karena Kelvin tiba-tiba menariknya keluar saat dia masih berbicara dengan Soraya.
"Apa kau tidak punya otak!'' Kelvin juga sama, dia merasakan emosi yang membara sama seperti Mario. Hingga kini, kedua orang itu di landa emosi yang sama, beruntung tadi Kelvin belum pergi hingga dia bisa menyelamatkan Soraya tepat waktu.
"Bukan urusanmu, dan jangan pernah ikut campur urusan aku dengan Soraya!'' Mario memberikan ultimatum, padahal dia juga bukan siapa-siapa Soraya.
"Kau juga tidak berhak untuk terus menganggu hidup Soraya, memangnya kau siapa?" Skak, mario terdiam, dia tidak lagi menjawab ucapan Kelvin, karena ternyata posisinya dan posisi Kelvin juga sama, mereka sama-sama tidak berhak untuk terlalu dalam memasuki hidup Soraya.
"Ash! bukan urusanmu, pergi sana!" usir Mario, yang memilih untuk mengusir Kevin karena merasa gengsi akibat Kelvin membalikan ucapannya.
Tidak ingin berdebat lagi dengan Mario, Kelvin pun lebih mendudukan dirinya di kursi tunggu, dan tentu saja itu membuat mata Mario membulat, dia pikir Kelvin akan pergi, tapi ternyata malah duduk di kursi tunggu.
"Heh, pulang sana!" usir mario, hingga Kelvin menoleh.
"Kau saja yang pulang, aku akan menunggu dia di sini, mana mungkin aku membiarkan Soraya dekat dengan lelaki sepertimu."
Dan lagi-lagi ucapan Kelvin membuat mario mengatupkan bibirnya menahan kesal yang luar biasa. Tapi dia tidak mau berdebat lagi hingga pada akhirnya Mario pun mendudukan diri di kursi tunggu yang sedikit jauh dari tempat Kelvin duduk.
Ketika sudah duduk, Mario melihat ke arah Kelvin sekilas, lelaki itu sepertinya menyadari sesuatu, bahwa Kelvin mungkin saja mulai tertarik pada Soraya, dan ketika menyadari itu, rahang Mario langsung mengeras, padahal saat itu dia sudah senang karena Kelvin mengatakan tidak tertarik dengan Soraya, tapi sekarang malah sebaliknya.
****
Malam berganti pagi
Gueen masuk kedalam ruang rawat Soraya, dia rasa, dia harus berbicara dengan adik iparnya. Pagi ini, dia dibuat shock dengan pengakuan ibunya, di mana ibunya dulu pernah melabrak dan memfitnah Soraya, dan Gueen benar-benar tidak menyangka Helmia melakukan hal itu pada adik iparnya.
Sekarang Gueen memutuskan untuk berbicara terlebih dahulu meluruskan semuanya, dia tahu mungkin saja Soraya masih terluka atas ucapan ibunya di masa lalu, sekarang Gueen juga mengerti kenapa Soraya selalu menghindar dari kedua orang tuanya ,dan dia juga harus meminta maaf atas perlakuan Kalindra.
"Soraya!" panggil Gueen, hingga Soraya yang sedang melamun menoleh.
"Oh, kau masih di sini Gueen," jawab Soraya dengan suara pelan, karena Soraya berpikir bahwa semua keluarganya sudah pulang dari kota ini.
Gueen mendudukan diri di sebelah berangkar yang di tempati oleh Soraya, kemudian dia tersenyum. "Apa kondisimu sudah jauh lebih baik?" tanya Gueen, hingga Soraya mengangguk kemudian Gueen memegang tangan adik iparnya.
"Soraya, apa sakit yang di buat mommy masih terasa?" Gueen langsung bertanya pada intinya membuat Soraya menundukan pandangannya.
Apa kau masih belum memaafkan mommy?" tanya Gueen lagi ketika Sorya tidak menjawab ucapannya.
"Memangnya, Mommy melakukan apa padaku." Sebenarnya Soraya sangat enggan membahas ini, karena ini benar-benar mengingatkan Soraya pada masa lalu.
"Soraya, kau tidak mau membagi rasa sakitmu denganku?" Gueen masih berusaha untuk membujuk Soraya berbicara berharap Soraya mau mengatakan perasaannya.
"Gueen aku tidak mau membahas ini," lirih Soraya, mataya hampir saja menggembung, tapi dia tetap berusaha untuk tidak menangis.
Guen tidak menjawab, dia malah bangkit dari duduknya kemudian dia langsung membungkuk lalu memeluk adik iparnya. "Soraya, kau mempunyai Kirea yang harus kau besarkan, perasaanmu akan berpengaruh pada Kirea karena ikatan batin ibu dan anak itu sangat kuat. Kau mau Kirea merasakan apa yang kau rasakan? Aku ini kakakmu, berbicaralah padaku tentang apa yang kau rasa, aku tidak bisa membantumu. Tapi dengan kau bercerita sesakmu bisa sedikit berkurang."
Setelah mengatakan itu, Gueen kembali menegakan tubuhnya lalu dia langsung mendudukan diri lagi di kursi.
Sepertinya ucapan Gueen barusan sedikit menyentuh hati Soraya, apalagi Gueen membawa nama Kirea.
“Sejujurnya ia Gueen. Sakitnya masih berasa. Aku sangat menyayangi Mommy dan Daddy. Ada kalanya aku lelah dan ingin melupakan apa yang mommy katakan, Agar aku bisa menjadi Soraya yang dulu, tapi tidak bisa Gueen.'' Soraya menjeda sejenak ucapannya.
"Gueen, aku tau masa lalu kia begitu pahit, dan aku tidak menyalahkan siapa pun atas takdir yang terjadi di antara kita. Aku mengerti bagaimana posisi Mommy dan Daddy saat itu, tapi sebagai manusia biasa, bolehkah aku merasa sakit hati karena tiba-tiba mommy dan daddy serta kak Joseph membuangku, aku tau nenekku yang salah karena menukar kita, tapi bukankah aku tidak tahu apa-apa?” Tapi lambat laun aku bisa menerima semuanya menerima takdirku, dan tidak pernah menyalahkan siapapun lagi.
”Dan ketika Joseph tidak mau bertanggung jawab pada Jena dan Haura, aku berpikir untuk membalas semua kebaikan Mommy dan Daddy dengan cara membantu merawat Haura, melakukan apapun agar Haura dan Jena hidup nyaman. Dan ketika kami akan pergi ke Hungaria, aku melihat Daddy sedang makan di restoran. Tadinya, aku tidak mau menghampiri Daddy, karena aku tau bagaimana reaksi Daddy ketika melihatku. Tapi, aku berpikir bisa jadi ini momen terakhir aku bertemu dengan Daddy, jadi Aku memberanikan diri untuk menghampiri Daddy dan ternyata Daddy mengajakku untuk makan siang bersama. Dan kau tahu Gueen, hari itu adalah hari yang paling membahagiakan untukku, di mana Daddy mengajakku makan bersama setelah bertahun-tahun berlalu, dan aku tidak menyangka kebahagiaan itu hanya sebentar, karena malamnya Mommy menemuiku melabrakku, mommy mengeluarkan kata-kata pedas untukku, menuduhku ingin menggoda di Daddy bisa kau bayangkan sakitnya menjadi aku.”
Soraya menangis dengan kencang ketika menceritakan itu, mungkin dari semua rasa sakit yang Soraya rasakan ucapan Helmialah yang paling membekas sampai saat ini.
“Dan inilah alasan kenapa setelah menikah palsu dengan Cio, aku pindah keluar kota. AKu tidak ingin KIrea dekat engan mommy dan Daddy, Aku tidak mau suatu saat KIrea akan mendengarkan hal yang menyakitkan dari Mommy. Tapi walaupun begitu, aku sama sekali tidak membenci Mommy, Mommy adalah wanita yang paling aku sayangi di dunia ini, hanya saja entah kenapa aku belum bia melupakan apa yang terjadi di masa lalu."
Suasana di ruang rawat Soraya di penuhi dengan kesedihan, karena selain Soraya menangis, Gueen pun juga menangis, rasa sesak benar-benar menghantamnya ketika dia membayangkan betapa sakitnya menjadi Soraya selama ini yang harus menanggung semua sendiri.
"Gueen, tolong jangan salahkan Mommy. Walau bagaimana pun, mommy sudah meminta maaf, hanya saja aku yang belum bis melupakan semuanya." Soraya berusaha untuk tidak menangis. Tapi tetap saja tidak bisa. Air mata keluar tanpa bisa di tahan.
seandainya kuat, Soraya juga ingin mengatakan bagaimana kelakuan orang tua kandungnya, di mana Kevin pernah menyiksanya dan Davika yang selalu meminta uang padanya. tapi sepertinya Soraya tidak, sanggup lagi bercerita, karena terlalu pedih jika harus mengingat semuanya, dia juga tidak mungkin menceritakan penyakitnya dan permasalahannya dengan Mario.
Ingat dah kena strok