NovelToon NovelToon
Ganesha

Ganesha

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Time Travel / Teen Angst / Masalah Pertumbuhan / Anak Yang Berpenyakit / Balas Dendam / Tamat
Popularitas:63.6k
Nilai: 5
Nama Author: deelyure

"Ini hidupku.Hidup yang perjuangin mati-matian. Hidup ini milikku. Kalian gak berhak ikut campur di dalamnya."

"Kembali kamu Ganesha!"

~~~~~~~~~~~~~

"Aku..hh..gak peduli. Uhuk..meski harus mati sekalipun. Aku cuma mau pulang!"

~~~~~~~~~~~~~

Ganesha Aldean Tirtayasa. Remaja 16 tahun yang mencintai rumahnya lebih dari apapun.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon deelyure, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

30.Sana Cari Jodoh!

...

Ganesha saat ini berada di tempat membosankan bersama orang-orang membosankan yang menghadiri acara yang sama membosankannya. Pokoknya Ganesha bosan! Dia pengin pulang sejak detik pertama menginjakkan kaki di tempat ini. Tapi hal itu tak akan terwujud dengan segera.

Ganesha ditinggal berdua dengan Sam. Sementara ayahnya jauh di depan sana tengah berbincang dengan beberapa orang. Entah membahas apa, tapi yang jelas Ganesha tau pasti gak jauh-jauh dari urusan kerja.

Ia menatap sekelilingnya yang dipenuhi oleh tokoh-tokoh bisnis dari yang ia tau sampai yang tak dikenalinya sama sekali. Tapi satu yang pasti, mereka semua sama-sama membosankan di matanya.

Sedari dulu, Ganesha memang tidak pernah memiliki ketertarikan terhadap segala hal yang berkaitan dengan bisnis. Ganesha memang suka uang, tapi bukan berarti ia juga suka caranya menghasilkan uang. Dia bersyukur gak terlahir sebagai anak sulung seperti Leo yang mau tak mau harus mewarisi bisnis keluarga. Jadi anak bungsu cukup membuat Ganesha punya banyak waktu untuk berleha-leha. Dan ia sangat mensyukuri hal itu.

"Sam," panggil Ganesha menatap lurus ke meja di depannya.

Sam menoleh, "Ya, Tuan Muda?"

Telunjuk kecil Ganesha mengacung pada sekumpulan wanita di meja seberang, "Yang baju hitam, minta nomornya."

"Eh?" Sam kebingungan.

Ganesha menatap Sam dan berdecak ketika pria itu justru plonga-plongo seperti orang bodoh, "Sana cari jodoh!"

"Hah?!"

Haduh. Ganesha tepuk jidat. Ia turun dari kursi yang di dudukinya. Sama sekali tidak peduli dengan Sam yang gelagapan karena dia yang justru mendekati perempuan yang ditunjuknya tadi.

"Kakak cantik, aku boleh minta tolong?" Ujar Ganesha dengan senyum manisnya membuat atensi semua orang di meja itu teralih padanya.

Wanita dengan gaun hitam sederhana yang ditunjuk Ganesha tadi mengulas senyum tipis menyadari anak itu bicara padanya. "Apa yang bisa kakak bantu adik kecil?"

Ganesha merogoh saku celananya dan mengeluarkan sebuah lolipop dari sana, "Aku punya permen yang sangat istimewa. Apa kakak mau membelinya?"

Wanita yang Ganesha tau bernama Hera itu sedikit menunduk dengan tangan terulur mengusap kepala anak yang menarik di matanya itu, "Oke. Katakan bagaimana kakak harus membayar permen yang istimewa ini?"

Telunjuk kecil Ganesha hinggap di dagunya. Ia menelengkan kepalanya, "Hm.... Bagaimana kalau ditukar dengan sederet nomor yang bisa dihubungi?" Ia meletakkan permennya ke telapak tangan Hera, "Agar nanti kalau aku punya permen yang lebih bagus bisa hubungi kakak lagi?" Lanjutnya dengan menunjukkan gummy smilenya.

Wanita di meja itu terpekik gemas. Sementara Hera menggeleng takjub. Anak ini mahir bersilat lidah, sangat menarik, pikirnya. Dia mengeluarkan sebuah kartu nama dari dompetnya dan menyelipkan di saku jas bocah itu.

"Kamu bisa hubungi kapan pun kalau permennya sudah ada."

Ganesha menyeringai lebar. Ia mengisyaratkan wanita itu untuk menunduk sedikit lagi agar ia bisa berbisik di telinganya. Dan Hera menurut begitu saja.

"Pesanan spesial kakak akan diantar oleh kurir tampan yang juga spesial. Ini layanan khusus, kakak akan menyukainya."

Oh. Hera menatap anak itu dengan penuh penasaran. Benar-benar anak yang menarik. Ia tak henti-hentinya takjub dengan anak yang baru dia temui ini.

"Mari kembali tuan muda."

Sam datang dengan cepat. Ia sedikit menunduk sopan dan meminta maaf karena Ganesha sudah menyela pembicaraan orang-orang di meja itu.

"Kalau begitu kami permisi. Maaf atas ketidaknyamanannya." Ujar Sam ramah.

Yang dibalas dengan seulas senyum oleh Hera, "Tidak apa-apa. Dia anak yang baik, kami tidak merasa terganggu."

Setelah cukup berbasa-basi Sam menggandeng Ganesha untuk kembali ke tempat duduknya semula. Ganesha menoleh pada Hera dan mengedipkan sebelah matanya dengan jahil saat pandangan mereka bertemu. Yang mana dibalas oleh kekehan pelan oleh Hera.

"Lain kali anda tidak boleh menghampiri orang dengan sembarangan begitu Tuan Muda," nasihat Sam saat dia dan Ganesha sudah duduk kembali di tempat semula.

"Kenapa memangnya?" Tanya Ganesha mencomot salah satu dessert yang disajikan di meja itu.

"Tak semua orang akan bersikap ramah seperti tadi. Kebanyakan orang, terlebih yang ada di acara ini, memiliki sikap angkuh dan tinggi hati. Ada yang mudah tersinggung hanya karena hal-hal kecil. Ataupun marah karena hal yang tak masuk akal. Anda harus berhati-hati agar tak terlibat dengan orang-orang seperti itu. Saya tidak mau anda berada dalam bahaya."

Ganesha mengiyakan dalam hati. Dia juga tau itu tanpa Sam memberitahunya sekalipun. Lagipula dia mendekati Hera juga karena dia pernah kenal dengan perempuan itu di kehidupan dulu. Hera adalah pewaris tunggal dari perusahaan perhotelan yang nantinya akan berkembang menjadi perusahaan besar yang luar biasa.

Dulu Ganesha tidak sengaja terlibat dengan Hera pada suatu kecelakaan kecil. Karena itu ia tau Hera bukanlah orang yang akan mudah tersinggung oleh hal remeh. Dia adalah orang yang baik dan merupakan pemimpin yang dihormati oleh bawahannya. Menurut Ganesha, perempuan seperti inilah yang paling cocok dengan Sam.

Meski Ganesha suka sekali memperbudak Sam, tapi jangan sampai pria itu melajang seumur hidup. Gitu-gitu Sam adalah orang yang sangat berjasa bagi Ganesha baik di kehidupan dulu maupun sekarang. Dia gak mau kalau sampai Sam harus melewati hari tuanya merana seorang diri.

"Oh, pumpkin. Kita bertemu lagi."

"Si Vampir! Ups!"

............

.................

"Oh, pumpkin. Kita bertemu lagi."

"Si Vampir! Ups!"

Ganesha spontan membekap mulutnya ketika kelepasan menyebut julukan yang ia berikan untuk orang di depannya. Masih ingat Si Vampir yang Ganesha temui di bandara waktu itu? Dia sekarang ada disini, mengambil tempat duduk di sebelah Ganesha tanpa permisi.

"Jadi itu panggilan kamu untukku? Hm.... Bagus juga."

Mata Ganesha memicing. Ada apa dengan bocah ini, pikirnya. Ia celingak-celinguk saat sadar Sam tidak ada di sana bersamanya.

"Orang yang bersama kamu tadi baru saja pergi. Mungkin ke toilet," kata Si Vampir yang tak lain adalah Xavier itu seolah bisa membaca pikiran Ganesha.

"Oh," balas Ganesha lempeng. Ia kemudian lebih memilih memanjakan lidahnya dengan berbagai dessert yang tersedia di sana.

Xavier menopang dagunya dengan satu tangan, sementara satu tangannya lagi dengan lancang menoel-noel pipi Ganesha yang bergerak mengunyah makanan. Yang mana langsung ditepis kasar oleh anak itu.

"Kamu kasar sekali, Pumpkin."

Ganesha menelengkan kepalanya, "Pumpkin???"

Senyum Xavier mengembang. Seolah tak ada kapoknya dia menarik pipi elastis Ganesha, "Iya, panggilan kesayangan untuk kamu. Suka tidak."

"Jelek," hina Ganesha tanpa ragu dan kembali menepis tangan Xavier dengan kasar.

Sementara Xavier justru tergelak, "Kalau tidak suka, bagaimana bila memberitau nama kamu saja?"

Ganesha berpikir sebentar sembari mengunyah makanan dalam mulutnya. Ia lalu menelannya, mengambil minuman dan minum dengan cepat. Lalu turun dari kursinya menghampiri Roy di meja yang lainnya.

Xavier melongo ketika ditinggal begitu saja. Tak lama anak berusia 10 tahun itu tergelak. Melihat bagaimana Ganesha naik ke pangkuan Roy tanpa sepatah kata pun dan menyela pembicaraan orang-orang di sana, ia merasa anak itu begitu lucu.

"Pumpkin, you're so cute. Haha...."

..........

Pagi-pagi sekali Roy dibikin sakit mata oleh kamar anaknya yang seperti habis dihantam badai. Selimutnya jatuh ke lantai, bantal berserakan di berbagai sudut ruangan. Lalu, pesawat kertas yang jumlahnya puluhan atau ratusan yang ada dimana-mana. Ah, satu lagi. Ada Sam yang masih mengenakan jas lengkap tertidur di sofa dengan tangan memegang pesawat kertas yang setengah jadi.

Sementara si pemilik kamar malah lagi asik-asiknya meloncat-loncat di atas kasurnya, "Pagi daddy!" Sapa anak itu semangat. Ia melompat begitu saja begitu Roy mendekat. Yang membuat bapaknya itu jantungan dan kelabakan menangkap tubuhnya.

"Ganesha!"

"Hehe....."

Ah, sudahlah. Roy tidak jadi marah melihat wajah cengengesan yang walaupun keliatan tengil itu tapi tetap saja mampu membuat hatinya meleleh. Putra bungsunya itu memang yang paling ahli dalam hal membuatnya luluh.

"Jadi bisa jelaskan apa yang terjadi disini?" Tanya Roy kemudian setelah mengecup sekilas pipi anaknya itu.

Ganesha yang didudukkan di pinggir ranjang menatap sekeliling kamarnya dengan bingung, "Memangnya apa yang terjadi?" Tanyanya balik dengan padangan innocent.

Roy menunjuk Sam yang masih terlelap di sofa, "Kamu apakan Sam sampai tidur pun dia keliatan menyedihkan begitu?"

Bukannya menjawab Ganesha malah tertawa. Ia jadi ingat bagaimana semalam Sam terkantuk-kantuk melipat lembar demi lembar kertas hingga jadilah pesawat kertas sebanyak ini.

"Daddy, Sam boleh libur kan hari ini?" tanyanya pada Roy yang memungut bantal satu persatu dan diletakkan dengan rapi di ranjang.

"Dia memang libur sih hari ini. Tepatnya ngambil cuti," sahut Roy beralih pada selimut di lantai.

"Eh, kenapa?"

"Katanya mau nengok orangtuanya di kampung."

Mata Ganesha berbinar. Sementara Roy mendapat firasat buruk melihat itu.

"Aku mau ikut!"

Nah kan. Apa yang Roy khawatirkan terjadi juga. Tau gitu mending gak usah dia omongin tadi perihal Sam yang mau pulang kampung itu.

"Gak ada ikut-ikut. Kamu disini aja sama Daddy."

"Ah daddy mah gitu!" Kesal Ganesha yang berguling-guling di kasur.

Roy memegangi tubuh anak itu biar berhenti, "Jangan aneh-aneh deh, nanti kamu jatuh dari kasur lagi gimana?" ujar Roy ketika mengingat bahwa dulu Ganesha pernah jatuh dari ranjang akibat anak itu yang tak bisa diam. "Lagian kampungnya Sam itu jauh. Dia bukannya pergi beberapa jam doang trus balik lagi."

Namun Ganesha kekeuh dengan pendiriannya, "Tapi mau ikuuuuttt....!"

"No, Ganesh."

"Sam nya ngebolehin tuh!"

"Kapan dia bilang begitu?"

"Gak ada dia bilang. Tapi Sam pasti iyain kalau aku minta!"

Roy memijit pelipisnya, "Pusing daddy tuh ngadepin kamu."

Ganesha mencebik, "Daddy gak sayang aku lagi!"

Makin nyut-nyutan kepala Roy dengar omongan anaknya. Pengin ia gigit rasanya pipi si bungsu yang membuatnya geram sekaligus gemas itu.

"Lagian kamu ngapain sih ikut sama Sam?"

"Lagian daddy kenapa sih larang aku ikut sama Sam?"

Roy menepuk jidatnya ketika Ganesha justru menjawab pertanyaannya dengan pertanyaan juga. Merasa gemas, ia ciumi anak itu membabi-buta sampai suara tawa Ganesha yang kegelian terdengar mendominasi ruangan itu.

Dan Sam sama sekali tak terusik dengan kebisingan yang tercipta di sekitarnya. Tidurnya sangat nyenyak. Sama sekali tak tau menau dengan kemalangan yang menunggunya setelah ini.

..................

1
Indah Wildatul
good
fujoshi~
🥰🥰🥰
fujoshi~
kurang lama berduka nya, pengen agnea nyesel juga pleaseee😭😭
fujoshi~
nyesek😭😭😭😭
fujoshi~
Ganesh🥺🥺🥺
fujoshi~
siapa yang narok bawang disini 🥺🥺
fujoshi~
poor sam🤣🤣
⑅⃝Lirae_StarInSky~
gara gara, ganesha part 2 new version
aku jadi kangen sama bokem ku yang ini
Cuma4matir
ceritanya seru, lucu. pen nampol rasanya 😂😂😂😂
Sindi Aprilia
mantap om
Sindi Aprilia
Dion:aku kuat,aku hebat😞..
Sindi Aprilia
Weh Weh Weh,plot twist tiba² regresi
Sindi Aprilia
sedihh ihh😭😭
Sindi Aprilia
kocak banget anjir😭😭
Azachia
seru banget ceritanya
Siti Khadijah
Lumayan
Siti Khadijah
Biasa
ppp haiii
itu karena dia terlahir kembali
Kei Asai
Papa Dion ganteng papa Dion sabar
aisya sukakamu
Luar biasa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!