Justin menarik tangan Jihan, mereka lalu menaiki balon udara itu. Para genk abatasa membantu pelepasan balon udara. Perlahan lahan balon udara itu bergerak keatas, tinggi dan semakin meninggi. Semua yang menyaksikan dibawah sangat terpesona melihat Justin dan Jihan diatas.
"Hore.. Justin.. Jihan"
"Justin.. Jihan.. bahagia selalu kalian"
Orang orang dibawah kompak menyuarakan teriakkan kebahagiaan untuk Justin dan Jihan.
"Aku yang menyiapkan kejutan ini untuk kamu jihan"
"Justin kamu romantis banget" ucap Jihan, kedua matanya berkaca kaca
Justin tersenyum berdiri mendekati Jihan.
"Boleh kah aku memelukmu, Jihan?"
"Silakan Justin, peluk aku semau mu, karena sekarang aku sudah sah jadi istri kamu"
Justin memeluk Jihan dengan waktu yang lama, tangan Jihan pun merangkul erat tubuh Justin. Kedua nya sama sama terpejam, Justin lalu melepaskan pelukan nya dan mengecup kening Jihan di udara. Kemudian mereka duduk berdampingan menatapi awan awan. Jihan menyadarkan kepalanya dipundak Justin.
Jangan lupa Like, Comen, Vote, Tip Dan Rate 5 nya ya guys, semoga suka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Za N_STAR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
Seusai Jihan melaksanakan sholat dzuhur, ia langsung berpamitan kepada abi dan umi untuk berangkat ke madrasah Darul Salam. Jihan berjalan kaki sambil menyelandangi tas coklat, tak luput ia selalu memakai pakaian khasnya yaitu bersyar'i lengkap dengan cadar yang menutupi sebagian wajahnya. Sesampainya di madrasah Darul Salam, Jihan masuk keruangan guru mengaji yang disitu terdapat dua orang tenaga pengajar yang menyambut kedatangannya. Mereka adalah Daus dan sepupunya Ribka. Kedatangan Jihan sebagai sukarelawan pengajar membuat Daus dan Ribka sangat senang, karena mereka cukup kewalahan untuk mengajari murid-murid madrasah yang rata-rata usia SD dan SMP.
"Terima kasih Jihan, akhirnya kamu datang juga kesini. Kenalin ini sepupu aku Ribka yang sengaja datang dari Cirebon buat bantuin aku ngajar disini," ucap Daus.
"Salam kenal, kak Jihan!" sambut Ribka gadis 18 tahun berwajah ovale dan tubuh semampai yang diselimuti hijab.
"Na'am, ukhty Ribka!" sahut Jihan dengan lembut.
Daus kemudian memberi tugas kepada Jihan untuk mengajar anak kelas 3. Karena madrasah Darul Salam terbagi tiga kelas yang berjumlah murid hampir 400 anak. Dengan senang hati Jihan memulai hari pertamanya mengajar, ia langsung masuk keruangan kelas 3 dan memperkenalkan diri kepada anak-anak. Diantara murid-murid itu ada seorang murid perempuan yang memakai cadar sendirian. Ternyata ia mengenali Jihan.
"Kak, Jihan?"
Pandangan Jihan langsung terfokus pada gadis belia itu, dan ia langsung mendekatinya.
"Adek kok kenal sama kk?" tanya Jihan heran.
"Saya Rumi, kak. Masih kenal kan?"
Jihan kembali coba mengingat, dan akhirnya ingatan Jihan baru terbuka tentang gadis belia itu. Rumi adalah anak yang ia temui dulu dan memberikannya cadar, saat Jihan bersama Justin sepulang dari pengajian waktu itu.
"Oooh, iya. Kakak baru ingat, syukur deh akhirnya kita bisa ketemu lagi ya, dek!"
"Iyah, kak. Rumi senang kak Jihan mengajar disini," sahut Rumi.
Murid-murid yang lain memperhatikan perbincangan dengan Rumi si gadis mungil bercadar 13 tahun itu. Jihan memulai pengajarannya, untuk pertama ia mengajarkan tentang ilmu fiqih bersuci, dengan tegas dan telaten Jihan menerangkannya kepada anak-anak madrasah kelas 3 itu.
Dari ruangan kelas satu, Daus memperhatikan cara Jihan mengajar. Rasa kagum dan bangga menggeliat dihati pemuda soleh itu, Daus tersenyum-senyum namun tersentak ia sadar dalam hatinya.
"Astagfirullah! Jihan kan udah punya suami, aku tidak boleh terus memandanginya. Ya Allah ... kuatkanlah hati hamba untuk menahan segala hawa nafsu"
Sementara itu diruangan kantor Justin sangat begitu sibuk termasuk Justin sendiri. Kembali Cici tidak enak tingkah, otaknya selalu mencari jalan keluar untuk bisa melancarkan keinginannya. Dengan sopan Cici mengetuk ruangan Justin, lalu ia disuruh masuk oleh sang pimpinan tersebut. Cici pura-pura membuat laporan tentang keuangan kantor, padahal ia hanya ingin dekat dengan Justin. Cici duduk berhadapan dengan Justin sambil menjelaskan lembar-lembar laporannya hingga Justin terfokus menunduk melihat-lihat data hasil laporan dari Cici. Justin tidak sadar bahwa Cici mencuri-curi pandang, pada saat mulut Justin menjelaskan Cici tersenyum-senyum menatap wajah Justin sambil membatin.
"Justin, kamu tidak pernah berubah. Gaya bicaramu, tatapan khasmu dan kepribadianmu yang begitu menarik yang selalu bikin aku terkesima. Sumpah, aku rela justin jadi istri kedua kamu. Hm ... aku harus bisa bikin justin berpoligami sama aku dan jihan juga bisa menerimanya"