Aku dapat telfon dari ibu dan katanya itu hal penting ibu meminta ku pulang, terpaksa aku pulang. Aku tidak menyangka aku mendadak di suruh menikah sampai aku tidak menyangka wanita yang akan aku nikahi bukanlah wanita tipe ku, bahkan melainkan jauh dari tipe ku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur dzakiyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Genggaman Dan Retapan
Najwa kembali terdiam, setiap kali ia mencoba menutup matanya dan segera tidur selalu saja tidak bisa karena suasana menengangkan ini dia tidak merasakan kebebasan, padahal Najwa ingin tidur dengan leluasa.
"Semua orang selalu merasakan kebahagiaan, tapi takdir ku tidak ada yang membahagiakan ku !"Najwa berbalik melihat Aktar karena ucapanannya barusan, tiba-tiba ia lontarkan tanpa pendahuluan atau kata utama.
"Apa maksud kakak ?"Najwa berusaha bertanya dari maksud ucapannya.
"Aku sudah lelah dengan takdir ku, dari kecil aku tidak pernah merasakan kebahagiaan. Hanya bisa menonton kebahagiaan orang."
tutur Aktar menatap langit-langit kamarnya, ingatan saat ia berada di rumah Najwa di sana ia melihat keluarga yang benar-benar bahagia.
"Takdir tidak ada yang tidak bahagia, cuman kita yang tidak mensyukuri setiap yang di berikan, terkadang seseorang melihat orang dari sisi luarnya yah... yang di lihat itu kebahagiaan tapi sebenarnya di dalam yang tidak kita ketahui sebenarnya kehidupannya lebih pedas dari kehidupan takdir kita."
"Tapi semuanya seperti itu, setiap kali aku berjumpa seseorang pasti memiliki keluarga yang bahagia. Berbeda dengan ku yang hanya memiliki orang tua tanpa saudara. "kata Aktar sambil berbalik melihat Najwa yang berada di samping Rafa, Najwa pun berbalik kini pandangan mereka bertemu meski ada sedikit tubuh Rafa yang menghalanginya.
"Menikah pun terpaksa, bagaimana aku bisa bahagia ?"Najwa terkejut mendengarnya. Ada sedikit singgungan dari perkataan itu, terlihat tatapan kosong dari Aktar. Najwa menelan salifanya dan mulai berpikir akan jawabannya.
"Kakak saja yang membuat semuanya menjadi tidak bahagia."ujar Najwa berusaha terdengar rileks dengan apa yang ia katakan.
"Apa maksud mu ?"tanyanya dengan suara rendah karena melihat Rafa yang tadinya goyang karena mendengar pembicaraan mereka.
"Kakak tidak bersyukur tiap apa yang kakak di berikan Allah, kakak hanya memiliki sifat syirik kepada orang yang kakak lihat itu bahagia. Jadi setiap takdir yang kakak jalani hanya hampa, dan lagi hati kakak jauh dari Allah."Aktar kembali melihat Najwa, perkataannya itu selalu baik dan lembut terdengar sopan saat masuk di telinga.
Mungkin ini jalan takdir terakhir ku, dimana yang maha kuasa menakdirkan wanita sholeha untuk ku. Dialah wanita itu, tapi kenapa hati ini belum bisa menerimanya.
"Kau tau, ibu pernah berkata jika aku sudah tidak tahan dengan hubungan rumah tangga ini aku boleh menceraikan mu."Najwa kaget mendengarnya, jantungnya tiba-tiba berdetak begitu kencang.
Apakah kak Aktar mau menceraikan ku ? apa begitu. Apa aku akhirnya akan hanya menjadi janda. gumamnya dalam hati, begitu terserat rasa sakit hingga menarik napas pun tidak kuat.
"Aa...apa kak Aktar mau menceraikan ku ?"
tanya Najwa gugup, sebenarnya ia tidak ingin bertanya seperti itu. Karena ia tahu kalau jawabannya nanti akan lebih menyakitkan.
"Kau pun menjalani hubungan ini tanpa rasa, menjalaninya seperti makanan yang hambar. Tapi tetap saja masuk ke dalam perut karena tidak bisa menolak. Begitu pun dengan hubungan ini. hubungan kita !?"
"Jadi, buat apa kita pertahankan !"lanjutnya lagi dan menoleh melihat wajah Najwa.
"Tapi bagaimana kalau aku sudah menerima kakak, aku memang awalnya tidak bisa menerima hubungan ini karena alasan aku punya seseorang yang aku cintai. Tapi, setelah aku berpikir ini sudah takdir yang di tentukan Allah untuk ku, dan kakak lah jodoh ku. Meski aku dan dia mencintai tapi tetap saja Allah tidak mempertemukan kami. Karena memang jodoh ku bukan dia."kata Najwa, pandangannya menyapu setiap sisi kamarnya.
Aktar terkejut mendengarnya, ia kaget dengan apa yang di katakan Najwa. Yang mengatakan dia sudah menerimanya, tapi anehnya Aktar merasa ada sedikit kecewa mendengar kalau Najwa memiliki orang yang ia cintai yang ia harapkan untuk menjadi jodohnya.
"Apa kau masih mencintai pria itu ?"tanya Aktar mencoba meyakinkannya lagi.
"Buat apa aku harus mencintainya lagi, sedangkan aku sudah memiliki suami... seseorang yang harus ku cintai."ujar Najwa tanpa ragu, karena ia benar yakin dengan apa yang dirinya katakan.
Jantung Aktar berdetak tiba-tiba, ia benar-benar terkejut dengan yang di katakan Najwa.
Apa aku salah selama ini, mengapa wanita ini begitu baik padahal aku tidak pernah baik dengannya. Ternyata dia sudah lama menerima aku sebagai suaminya, padahal yang aku kira dia sama seperti ku yang menjalankan hubungan ini karena tekanan.
Setelah lama berbicara Najwa sudah merasa kantuk, ia sudah tidak tahan lagi. Beberapa kali ia menguap karena kantuk. Mungkin hari ini dia benar-benar bekerja hingga sampai kelelahan apa lagi ia telat untuk tidur.
"Kak...."panggil Najwa dengan nada lirih sambil berbalik melihat Aktar, matanya masih memandangi tiap kamar yang dapat terekam di matanya.
"Kalau kau ngantuk, tidur saja...."sahut Aktar tanpa berbalik melihat Najwa, ia memang sudah tahu kalau Najwa sudah ngantuk karena sebelumnya ia sadari saat Najwa menguap.
"Boleh kah, aku menggenggam tangan kakak hingga aku tertidur ?"tanya Najwa meminta dengan lembut, sambil mengingat perkataan Aktar sebelumnya yang akan menceraikan dirinya. Aktar terkekeh ia pun berbalik melihat Najwa. Wajahnya terlihat kasihan tapi ia tidak tahu kenapa harus menggenggam tangannya sampai tertidur.
"kalau begitu, aku akan menunggu mu sampai tidur."Kata Aktar, Najwa pun tersenyum lalu ia mengambil tangan Aktar yang masih tersimpan di atas perut Rafa dan mulai menggenggamnya dengan kedua tangannya.
Perlahan ia mulai menutup matanya, sedikit tetesan air mata keluar dari sisi ujung mataya.
Aktar merasa genggaman tangan itu sangat dingin, tangan wanita itu sangat lembut sama seperti perkataannya yang setiap kali berkata dengan baik yang tidak pernah mengatakan kata buruk untuknya, entah kenapa bisa ada wanita selembut dia yang di ciptakan untuknya. Dan dirinya malah menyiakan itu tanpa melihat ketulusan wanita yang sudah menjadi istrinya.
Apa aku harus sama dengan mu, yang sudah menerima ku. Mungkin itu lah asalannya kenapa aku tidak pernah bertemu wanita yang cocok dengan ku, meski banyak wanita yang kulihat lebih pantas untuk ku tapi hati ini tidak bisa menerima wanit-wanita yang sama seperti ku yang memiliki keluarga terpandang. Mungkin itulah karena kau akan hadir di hidup ku dalam kedaan aku tidak menerima mu.
Aktar memandangi wanita yang menjadi istrinya, wajah yang tidak pernah terlihat redup selalu bercahaya dan selalu terlukis senyuman di bibirnya. Ia melihat dari bawah kaki hingga ujung rambut, tubuhnya yang selalu terbungkus kain hingga tidur pun, saat ini ia tidur menggunakan baju tebal berlengan panjang dengan celana panjang dan masih di tutupi oleh rok. Itu lah.. istrinya, wanita sholeha yang di hadirkan untuknya.
Bersambung...
See you😉
outhor ya kemana ya🤔
Lanjut lagi kak