Aneh bukan? Tapi kembali lagi, hati manusia tidak bisa dipaksakan. Karena cinta merupakan keikhlasan, tak ada paksaan atau pun pelampiasan. Semuanya murni dari kesucian hati yang paling dalam.
Kita tidak bisa menentukan kepada siapa hati ini akan berlabuh. Semua terjadi dengan sendirinya, namun tetap dalam kendali Sang Pencipta.
Ada saatnya berjuang dan diperjuangkan. Tugas kita hanyalah memantaskan diri sesuai dengan apa yang diharapkan, karena jodoh merupakan cerminan diri. Namun, jika harapan tidak sesuai dengan kenyataan, maka yakin itulah yang terbaik. Bisa jadi, jalan kita menuju kebahagiaan yang hakiki.
Pencipta maha tahu, apa yang sebenarnya lebih kita butuhkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AAH♥️, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ainun 30
Mobil berhenti tepat di depan gang. Sebelum turun aku menoleh melihat Bara. Pandangan kami bertemu, seulas senyum lembut tersungging di bibirnya. Aku membalasnya masih dengan canggung.
"Terima kasih," ucapku kepadanya.
Pria itu hanya mengangguk pelan tanpa mengalihkan tatapannya dariku.
Aku melepas jaketnya yang kupakai dan memajukan sedikit tubuhku untuk memasangkan kembali ke punggunya, spontan pria itu pun memberikan ruang dibelakangnya untuk memudahkan diriku. Tidak ada kata yang terucap dari bibirnya atau pun bibirku. Aku melihatnya masih diam terpaku sampai akhirnya aku menutup pintu mobilnya.
Aku berjalan menyusuri gang menuju tempat ternyamanku setelah sehari berkutat dengan pekerjaan. Hari ini benar-benar melelahkan. Beruntung besok aku masuk sore, jadi waktunya bisa kugunakan untuk memulihkan tenagaku sebelum berangkat.
Aku mengganti pakaian dan segera merebahkan tubuhku diatas kasur, meskipun tidak senyaman milik rentenir itu. Tunggu, kenapa tiba-tiba wajahnya terlintas di fikiranku? Aku memukul pelan kepalaku. "Duh, kenapa harus dia, sih," monologku sendiri.
Sejak 3 minggu lalu, aku tidak pernah lagi melihat batang hidung rentenir licik itu.
Bagaimana cara membayar hutangku? Apakah aku harus menitipkan kepada Bara? Tidak mungkin, itu akan menimbulkan dugaannya. Lagi pula, hutangku hanya aku dan dirinya yang tahu. Apakah aku harus mengunjungi apartemennya? Tidak, jangan sampai aku terjebak lagi. Satu-satunya cara yang lain, aku harus mengunjungi perusahaannya meskipun tidak tahu dimana alamatnya, tapi aku akan mencoba mencari tahu besok.
Ditengah lamunanku, tiba-tiba ponselku berbunyi menandakan pesan yang masuk. Aku merabah benda canggih berbentuk persegi panjang yang berada di dekat gulingku.
Nomor Tidak Dikenal:
Semoga malam ini, kita bertemu di alam mimpi. Tidurlah🙂
Meskipun rasa terkejutku sudah bisa aku kendalikan tapi penasaranku masih membucah hebat di dadaku. Siapa orang ini?
Tanpa menunggu lama, aku memainkan jempolku untuk membalas pesannya.
Ainun:
Kamu sebenarnya siapa?
Nomor Tidak Dikenal:
Aku sudah memberi tahumu kalau aku adalah penggemarmu.
Ainun:
Tapi aku ingin mengetahuinya.
Nomor Tidak Dikenal:
Percayalah, aku selalu ada di sisimu Dewi.
Seketika tubuhku menegang. Membaca teks pesan yang dikirimkan orang tersebut memaksa otakku bekerja dengan keras membuka memori ingatanku. Kumpulan teman, sahabat dan kerabat mulai mengabsen satu persatu wajahnya di fikiranku. Siapakah gerangan?
Aku membaca kembali pesan tersebut hingga mataku terpaku pada kata terakhir. Hanya ada 1 orang yang selalu memanggil namaku berbeda dengan yang lain. Ingatanku tertuju pada wajah pria dengan senyum dan tatapan lembutnya. Aku menggeleng cepat mencoba menepis pikiran itu. Tidak mungkin seorang dia menjadi penggemarku.Siapa aku? Dengan lancangnya menimbulkan dugaan mengenai pria itu.
"Huufff ...." Aku menghela napas panjang dengan mata yang terpejam, mencoba merilekskan kembali otakku.
Aku berdamai dengan diriku sendiri. Biarlah, selama orang itu tidak mengganggu ataupun membahayakan kehidupanku, akan aku biarkan dia mengirim pesan sesuka hatinya. Tapi bukan berarti aku berhenti mencari tahu.
Aku menyimpan ponselku kembali. Banyak berpikir membuatku susah tidur. Aku membalik tubuhku menjadi terlentang. Mataku tertuju pada langit-langit kamar. Entah berapa lama aku memandanginya dengan tatapan kosong hingga akhirnya terlelap dibuai mimpi.
Keesokan paginya, aku membuat sarapan dan membersihkan kostku sebelum berangkat. Sesuai dengan niatku semalam hari ini aku akan mengunjungi perusahaan milik rentenir itu untuk membayar cicilan pertamaku. Aku akan mencari informasi kepada Winda mengenai alamatnya, tapi dengan hati-hati agar Winda tidak curiga kepadaku.
.
.
.
.
.
Terima kasih banyak kepada Readersku yang masih setia dengan Novel AINUN 🤗 semoga semuanya dalam keadaan sehat wal Afiat, Aamiinn 😇
Jangan lupa tinggalkan jejak like Comment dan VOTE untuk menambah semangat Authornya.
AINUN yakin bahwa readersnya adalah orang yang baik dan pastinya pengertian 🤗
Salam
AAH♥️
trnyata lutfii orang nyaa