Althafaris Fayyadh menaruh suka pada Mahya Humaira, salah satu cicit idola keluarga besar Kusuma, selain dirinya.
Ia menduga, sikap manis Maira untuknya merupakan signal pertautan hati mereka.
Hingga suatu masa, peristiwa tragis menimpa sang pujaan hati, membuat Fayyadh berani mengutarakan niat untuk meminang Maira.
Keluarga besar dilanda Dilema.
Banyak ikatan telah tercipta selain hubungan kekerabatan. Tak ingin merusak kedekatan yang solid, akhirnya sebuah keputusan pun diambil.
Sanggupkah Maira bertahan? Apa keputusan Mahendra untuk Fayyadh? Dan mungkinkah keduanya bersama?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy Qiev, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 30. MY SOUL
"Sudah macam produk aja pake kata minat," sindir sang kakek menimpali ucapan Fayyadh.
Tangan sibuk dengan gawai namun hati resah, tetapi tekad kali ini bulat. Berbekal wejangan buyut pagi tadi, Fayyadh berjanji akan memanfaatkan waktu liburnya kini untuk menata hati sehingga tiba waktu ia kembali ke Jeddah, semua sudah lebih baik.
"Mas, besok mulai prepare bahan baku ya. Nanti Warni bakal bagi ilmu ke kamu, buat mengenali berbagai macam karakter bunga yang layak panen dan bernilai jual tinggi," tegur Abah, melihat Fayyadh hanya diam, fokus pada layar gadget.
"Nggih," jawabnya cepat tak ingin di ganggu keseruan saat bermain game.
"Abi kamu kalau Abah ajak bicara itu, dengerin. Gak sambil mainan, duduk anteng gitu," tegur Wisesa, melihat sikap santai Fayyadh kala diajak bicara dengannya.
"Aku juga diem kok Bah, gak petakilan, nyolot atau bahkan meliuk-liuk," balas Fayyadh sekenanya, masih dengan mode semula.
Sang kakek hanya tertawa. "Ya Allah, Mir, anakmu kenapa jadi begini." Wisesa mengusap kepala Fayyadh sambil mendoakan cucunya.
...***...
Orchid, saat yang sama.
Berbekal wejangan serta saran kedua anggota Kusuma yang dia segani, dan atas persetujuan Naya, siang ini Mahendra akan menghubungi Ezra.
Dia mengumpulkan keluarga dikamar Maira. Mengusap pelan telapak tangan gadisnya yang mulai terlihat membiru akibat tusukan jarum. Mahen mencium lembut.
"Kak, bismillah ya. Semoga jalan kesembuhan bagi kamu. Semangat ya, Sayang," bisik Naya di telinga putri sulung mereka.
Naya mengangguk samar ke arah Mahen yang duduk di ujung ranjang agar memulai panggilan. Mifyaz sudah berada di sisi kiri tempat tidur Maira, juga menggenggam telapak tangan sang kakak.
Tuut. Tuut. Nada dering panggilan berlangsung.
Belum ada reaksi tersambung atas panggilan pertama Mahendra, membuat suasana kamar kian tegang, hingga satu menit kemudian.
"Assalamu'alaikum, maaf Mas. Ponselku flight mode dan baru on kembali, ada kabar baik kah?" suara Ezra memohon maaf, seperti sembari tersenyum sebab nada suaranya terdengar riang.
"Wa'alaikumsalam, saya mengganggu Mas Ezra?" Mahen lupa jika saat ini masih dalam jam kerja.
"Oh enggak. Baru selesai meeting dengan kedua putraku untuk mini project garapan mereka. Gimana Mas? gak apa, sampaikan saja in sya Allah sudah santai," ujar Ezra menepis keraguan Mahen diujung sana.
"Alhamdulillah. Apa yang akan saya sampaikan ini berkenaan dengan khitbah Shan beberapa waktu lalu," balas Mahen, seraya meloud-speaker panggilan berlangsung.
Ezra diam tak menanggapi, memasang kedua telinganya untuk kabar yang akan Mahendra sampaikan.
"Bismillahirrahmanirrahim, setelah menimbang berbagai hal juga hasil rembukan dengan keluarga besar, sebab Maira tidak dapat mengutarakan isi hatinya. Maka kami sebagai wali sah mewakili dan memutuskan khitbah Shan atas putriku, di terima. Perihal pelaksanaan akad silakan Mas Ezra rundingkan kembali," jelas Mahendra mengutarakan maksudnya.
Hening.
"Halo, Mas Ezra, masih dengan kami kan?" tanya Mahen sebab tak mendengar suara apapun dari lawan bicaranya.
"Ehm a-apa tadi? di terima?" tanya Ezra terbata.
"Iya, Mas. Maaf, apakah pihak Shan membatalkan? jika meragu, tidak apa, kami mengerti hal ini daripada dilanjutkan nanti malah banyak mudharatnya," Mahen menduga.
"Bukan begitu, saya terkejut Mas--"
"Assalamu'alaikum Om, aku Shan. Ba'da maghrib kami ke rumah Orchid ya. Te-terima kasih banyak," suara Shan menjeda ucapan Ezra, terdengar bergetar atas kalimat terakhir.
"Wa'alaikumsalam, iya Shan," jawab Mahen kaku, dia bingung merespon dengan kata.
"Shan, Shan...." terdengar Ezra memanggil putranya.
"Halo, Mas Mahen. Ba'da maghrib kami ke Orchid. Seperti rencana sebelumnya bahwa pihak pria menginginkan akad nikah di langsungkan saat keputusan turun. Shan sudah kabur ke Bundanya menyiapkan lamaran. Terima kasih banyak, satu jam lagi EO kerumah Anda ya Mas," tutur Ezra panjang.
"Alhamdulillah. Gak usah Mas, istriku punya EO sendiri. Hanya akad kan? Aku masih berusaha menghubungi keluarga besar lebih dulu, mudah-mudahan mereka bisa hadir nanti. Semoga semua lancar, kami tunggu kedatangan El Qavi petang nanti. Assalamu'alaikum," Mahendra mengakhiri panggilan dengan calon besan.
Suasana haru menyelimuti kamar Maira, Naya sudah terisak, Mifyaz tak kalah haru.
"Maira, semoga keputusan Ayah dan Bunda gak salah, ya Sayang," Mahen mendekat, mengecup kening putrinya lembut.
"Ayo, siapin Maira dan ruangan. Aku mau memberi kabar ke grup Kusuma," ujar Mahen menepuk bahu istrinya. Mengusap lembut kepala Naya agar segera bersiap.
"Aku disini ya Yah, nemenin Kakak dengan suster," pinta Ajmi.
Pasangan Guna mengangguki permintaan si bungsu sebelum mereka sibuk dengan tugas masing-masing.
Mahendra lalu masuk ke ruang kerja, di susul Rey yang baru saja tiba dan bergabung di sofa ruangan itu.
Grup Chat Kusuma.
"Assalamu'alaikum warohmatullah, semoga keluarga Kusuma selalu dilimpahi Rahmat Allah, aamiin ... aku ingin menyampaikan sebuah kabar mengenai Maira. Mohon doa dari keluarga besar untuk kesembuhan putriku juga kebaikan rumah tangganya kelak sebab Ba'da maghrib nanti Maira akan melangsungkan akad nikah dengan seorang pria."
"Ini adalah keputusan sulit bagi kami, namun dengan menilik berbagai macam hal akhirnya sampai di sini. Mohon maaf atas segala khilaf dan luput keluarga Guna apabila kabar tersebut mengejutkan juga mengundang spekulasi, do'akan yang terbaik. Terima kasih banyak, Wassalamu'alaikum." Tulis Mahen di sana.
"Wa'alaikumsalam. Alhamdulillah, mabruk Maira, lekas sehat dan berbahagia. Aku datang Mas, semoga keburu ya," balas Gamaliel yang pertama menimpali pesan Mahen.
"Wa'alaikumsalam. Abah otw ya Mas, gak bisa mundur itu waktunya? mepet tapi semoga tiba sebelum acara," balas Abah.
"Ikut, nebeng Gamal. Mampir sini dulu ngapa, Mal." Abyan kali ini membalas pesan.
"Iya Bah, Shan minta dipercepat ... jangan buru-buru ya. Fii amanillah, gak hadir pun tak apa yang penting doa," balas Mahen untuk semuanya.
Jika grup Kusuma riuh setelah kiriman dua paragraf pesan Mahendra. Lain hal dengan Keluarga Wardhani, Arjuna langsung menghubungi dirinya menanyakan perihal kabar yang baru dia dapatkan dari Gamaliel.
Setelah selesai membagi kabar bahagia ke beberapa grup, kini tiba giliran Rey mendapatkan tugas dari mantan bosnya itu.
"Rey, nanti sambut keluarga Ezra ya juga petugas Catatan Sipil dan KUA. Kamu siapkan semua berkas, undang mereka agar hadir dulu. Pengajuan pendaftaran nikah bisa nyusul, bagi tugas dengan Adnan ... tolong jemput Yai Hariri salim untuk menikahkan mereka nanti. Aku cukup jadi saksi saja," pinta Mahen lagi sebelum ia bangkit mengurus hal lainnnya.
Menjelang petang.
Kediaman Mahendra satu persatu riuh oleh kedatangan keluarga Kusuma. Kaum pria berkumpul di balkon samping melepas rindu.
Obrolan mereka terjeda kala Yai Hariri datang tepat saat adzan maghrib berkumandang.
"Ayo, lekas sholat dulu. Mir, imam. Abyan adzan sekalian iqomah," ujar Yai pada semua anggota keluarga.
Tepat pukul tujuh malam.
Rombongan keluarga besar Ezra tiba. Karena waktu persiapan yang mendadak, mereka tak banyak membawa kerabat. Hanya saudara kandung dan mungkin ketua rt rw tempat mereka tinggal turut hadir.
Setelah prosesi serah terima lamaran. Khutbatul hajat telah di sampaikan, kini tiba penyerahan wali nikah antara Mahen dengan Yai Hariri.
Sholawat, istighfar lirih mengalun mengiringi serah terima tawkil wali.
"Yai Hariri Salim, saya mewakilkan kepada Anda untuk menikahkan putri kandung saya pada seorang pria bernama Shareef Shan Qavi bin Ezra El Qavi dengan maskawin uang senilai seratus ribu rupiah, dibayar tunai."
"Saya terima perwakilan Anda," Hariri salim menjawab tawkil wali Mahendra.
Setelah beralih perwakilan wali nikah, tiba saatnya acara inti. Shan nampak siap ketika duduk berhadapan dengan guru besar yang Masyhur. Masih di iringi lirih sholawat dan takbir, keduanya memulai berjabat tangan.
"Pakai bahasa apa Nak?" tanya Yai.
"Aku gimana Yai saja," balas Shan, di angguki oleh Hariri salim.
"Bismillahirrahmanirrahim...." lirih keduanya mengucap syahadat, saat jemari saling bertaut.
"Ya Shareef Shan Qavi bin Ezra El Qavi, uzawwijuka ‘ala ma amara Allahu bihi min imsakun bi ma’rufin aw tasrihun bi Ihsan.”
"Ankahtuka wa zawwajtuka makhtubataka Mahya Humaira bintu Mahendra Guna bil mahri mi-atu alfi ruubiyyati, haalan." Hariri salim menghentak pelan tautan jemari mereka.
"Qabiltu nikahaha wa tazwijaha alal mahril madzkur wa radhiitu bihi, haalan." Shan menjawab dengan lancar.
"Alhamdulillah, Sah." Suara para saksi, lega.
Meski hanya di dampingi Ezra dan Arjuna di belakang tubuhnya, pemuda berusia belia itu nampak teguh dan kokoh pendirian. Amir melihat jelas sosok yang diceritakan Mahen pada mereka beberapa hari silam. Putranya kalah telak oleh tampilan Shan, terlihat sederhana namun penuh ketegasan.
Pria alim itu tersenyum samar menyembunyikan bahagia meski tak memungkiri hatinya tercubit merasakan kepedihan Fayyadh petang ini. Maira, pantas untuknya, Mas. Batin Amir berucap.
Lantunan doa menguar memenuhi ruangan kediaman mewah keluarga Guna. Ucapan selamat juga sambutan hangat Kusuma membuat Shan merasa di terima dengan baik meski mereka harus menanggung luka salah satu kerabat dekatnya.
"Om Amir, maaf."
"Takdir, Shan dan ini kehendak-Nya. Jangan sungkan padaku, Ok? mabruk ya, jaga putriku Maira," tepuk Amir di bahu sang keponakan.
Bila situasi Orchid diliputi bahagia berbeda dengan sikon di dua kota lainnya. Cirebon dan Solo.
"Fayyadh. Kuatkan putraku ya Robb."
"Maira. Mai-ra. Mai-ra."
.
.
..._____________________...