Bukan CEO, Bukan Mafia, Bukan juga kisah pria kaya raya yang menikahi gadis biasa.
Hanya menceritakan tentang kisah cinta orang biasa, Yang tidak jarang kita temui di kehidupan sehari-hari sekitar kita.
Shanti tidak pernah berpikir untuk membagi cintanya kepada lelaki lain selain suaminya (Farhan), Terlebih kepada adik iparnya sendiri (Farzan). Namun peristiwa semalam yang terjadi di antara Shanti dan Farzan membuat perasaan keduanya berubah.
Akankah Shanti mempertahankan rumah tangga yang telah ia bina hampir sepuluh tahun?
Atau justru Shanti memilih adik iparnya yang selalu ada untuk dirinya?
Terus ikuti Novel ini untuk membaca cerita selengkapnya 🤗
Follow IG @_itsmenoor
Add FB I'tsmenoor
Terimakasih 🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noor Hidayati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di Arak
Umpatan tiada henti dari warga sepanjang jalan saat mereka membawa Shanti dan Farzan ke rumah Pak Lurah membuat warga lainnya mengintai dari tirai jendela. Bermula dari satu dua orang yang keluar untuk melihat apa yang terjadi. Tak lama kemudian warga lain pun berbondong-bondong keluar dari rumah masing-masing.
Kini sepanjang jalan mereka di tonton oleh warga yang ingin tau apa sebenarnya yang terjadi pada mereka bahkan mereka ikut mengiringi Shanti dan Farzan hingga ke rumah pak lurah.
Kasak kusuk warga yang berasumsi dengan pikirannya masing-masing membuat Shanti semakin merasa tak punya muka lagi untuk menatap mereka, Rasa malu yang teramat sangat tidak mungkin bisa ia lupakan seumur hidupnya.
Tak terkecuali dengan yang Farzan rasakan. Namun ia lebih memikirkan bagaimana perasaan Shanti saat ini, Bagaimana hubungan mereka setelah ini dan bagaima ia akan menjawab pertanyaan yang akan Pak Lurah ajukan pada merey.
Berbagai macam kekhawatiran bersemayam di hati Farzan hingga ia di kejutkan oleh gebrakan meja dari Pak Lurah yang sejak tadi menunggu jawabannya.
"Apa kamu tidak mendengar pertanyaan ku?" tanya Pak Lurah.
"M-maaf Pak, Saya tidak mendengar."
Sorakan dari para warga yang turut berada di ruang tamu, Luar pintu hingga jendela pun bergema memekakkan telinga. Membuat Shanti semakin menyesali apa yang terjadi. Belum lagi kekhawatirannya pada ibunya, Membuat Shanti benar-benar mengutuk dirinya sendiri.
"Tenang-tenang biar Pak Lurah berbicara dulu," ucap salah seorang warga yang membawa Shanti dan Farzan menghadap Pak Lurah.
"Dengar baik-baik, Apakah benar yang di katakan mereka jika kalian telah berbuat mesum di kampung kami?"
Farzan menatap Shanti yang terus tertunduk berderai air mata.
Farzan merasa ragu untuk menjawab karena takut salah bicara dan membuat Shanti semakin malu dan sedih.
"Kalian masih tidak mau menjawab!?"
Suara lantang Pak Lurah membuat Shanti mengangkat wajahnya dan menoleh kearah Farzan yang belum juga menjawab pertanyaan Pak Lurah.
"Jawab woy jawab, Ngaku aja..." teriakan dari warga kembali mendesak mereka untuk segera mengakui perbuatannya.
Shanti yang tidak bisa mengelak lagi akhirnya mengakui apa yang telah mereka lakukan. Farzan pun shock mendengar pengakuan Shanti dan sangat menyesal karena ia tidak bisa menahan diri sehingga Shanti terkena masalah.
"Jadi benar yang mereka bilang?" tanya Pak lurah kembali memastikan.
"Ya." jawab Shanti singkat.
"Bagaimana bisa kamu melakukan itu padahal kamu masih memiliki suami?"
Pertanyaan pak lurah kembali memicu kemarahan warga dan kembali meneriaki Shanti dengan caci maki.
"Hukum mereka Pak, Arak mereka keliling kampung biar tidak ada lagi yang berani mengotiri kampung kita."
Shanti hanya terdiam pasrah. Rasa malu yang semula ia rasakan, Kini berubah menjadi rasa kekhawatiran yang teramat sangat terhadap ibunya yang jatuh pingsan sebelum ia di bawa oleh para warga.
"Bagaimana keadaan ibu sekarang, Bagaimana jika terjadi sesuatu pada ibu." batin Shanti yang tidak lagi mendengar teriakan caci maki dari para warga, Jiwanya seakan tidak ada lagi berada di sana hingga Pak lurah memutuskan hukuman untuk mereka pun, Shanti tidak mendengarnya lagi.
••••
Farhan mendekati putranya yang masih menunggu jawabannya.
Baru saja Farhan ingin menceritakan tentang Shanti kepada Fakhri, Tiba-tiba pekikkan sesak nafas terdengar dari Bu Rahayu. Farhan yang mendengar langsung menoleh ke belakang dan bergegas duduk menghadap ibu mertuanya.
"Simbah kenapa Pak?" tanya Fakhri yang melihat Neneknya sulit bernafas.
Tanpa menjawab pertanyaan Fakhri, Farhan memegang tangan ibu mertuanya dan sedikit meninggikan bantalnya.
"Ibu..." ucap Farhan yang menjadi panik.
Bu Rahayu hanya menggerak-gerakkan bibirnya seolah ingin mengatakan sesuatu. Namun suaranya tercekat di tenggorokan seiring nafasnya yang semakin sulit.
Melihat itu, Fakhri histeris dan naik ke atas tempat tidur ke sisi Neneknya.
"Mbah... Mbah... Mbah kenapa, Mbah kenapa Pak?" tanya Fakhri kepada Farhan.
Farhan hanya menggelengkan kepalanya dan mulai merasa takut jika ibu mertuanya akan segera tiada.
"Fakhri tunggu di sini yah, Bapak akan panggil tetangga dulu," ucap Farhan yang bergegas lari mencari pertolongan.
Beberapa menit kemudian Farhan kembali bersama beberapa warga. Namun ia sudah terlambat karena Bu Rahayu sudah tidak lagi bernafas.
"Simbah kenapa Pak, Kenapa Simbah diam saja?" tanya Fakhri.
"Simbah sudah tiada nak." Farhan menatap kosong ibu mertuanya yang sudah terbujur kaku sembari mengusap kepala Fakhri.
Di saat bersamaan Shanti dan Farzan tengah menerima hukuman dari warga di arak keliling kampung dengan rambut yang sudah di gunting asal-asalan hingga nyaris botak.
Bersambung...
*seorang istri yang berkoar2 merasa tersakiti dan melaknat perbuatan suaminya tapi dia sendiri melakukan perbuatan menjijikan itu
ini ibarat memandang jijik pada kotoran tapi dia sendiri yang memakannya