Di usianya yang ke 27 tahun, Nattan sama sekali tidak berniat untuk menikah dan membina sebuah rumah tangga seperti pria normal pada umumnya.
Sang ibu yang notabene ingin segera memiliki menantu dari putra bungsunya, beberapa kali berusaha untuk menjodohkannya dengan beberapa gadis pilihannya yang berakhir dengan penolakan Nattan.
Hingga suatu hari saat ia berniat baik untuk menolong seorang gadis yang kala itu hampir dilecehkan oleh dua orang preman, justru malah membawanya pada sebuah tanggung jawab yang besar seumur hidupnya.
Terpaksa Menikahi Gadis SMA
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mawarjingga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pengakuan
"Ada apa Din, kamu kelihatan tegang begitu, kenapa? kamu lagi ada masalah?" ujar mama Indri yang siang ini bertemu dengan Dinda disebuah Restoran atas permintaan Dinda.
"Mbak_"
"Kamu kenapa sih?''
Bukannya berbicara, Dinda justru malah terisak, berulang kali ia menghapus air matanya menggunakan tisu, berulang kali juga air matanya menetes kembali.
"Din? kalau kamu punya masalah kamu bisa langsung cerita ke saya, saya akan dengarkan."
"Mbak_ saya mau cerita tapi setelah saya selesai bercerita saya takut mbak Indri akan membenci, lalu meninggalkan saya."
"Kenapa kamu sampai berpikir begitu, memangnya kesalahan apa yang kamu buat, sampai saya harus membenci dan meninggal kan kamu."
"Mbak harus janji dulu sama saya, apapun yang terjadi mbak Indri jangan meninggalkan saya, mbak mau janji kan?" Dinda menggenggam kedua tangan mama Indri dengan raut penuh permohonan, membuat mama Indri menghela napasnya.
"Baiklah Din, yasudah kalau begitu cepat ceritakan apa yang ingin kamu ceritakan, saya janji apapun yang terjadi saya tidak akan membenci kamu seperti yang kamu takutkan."
"Baik, terimakasih mbak."
"Apa yang terjadi?"
"Mbak ingat kan, saya pernah menceritakan kehidupan saya di masa lalu sebelum menikah dengan mas Andreas Aditama, saya pernah menikah dengan seorang laki-laki bernama Rahman."
"Ya, saya ingat."
"Mbak, dulu hasil dari pernikahan saya yang pertama saya memiliki seorang anak perempuan."
Deg!
Mama Indri tampak terkejut, karena seingatnya sahabatnya itu tidak pernah bercerita bahwa ia memiliki seorang anak dari pernikahan pertamanya.
Mama Indri masih mengingat dengan jelas ketika pertama kali ia mengenal Dinda yang menjadi istri dari kolega bisnis suaminya yang sering bertemu diberbagai pertemuan penting para petinggi, dan sering berbagi cerita mengenai kehidupan rumah tangga mereka.
Dan seiring berjalannya waktu keduanya semakin dekat, dan menjadi sahabat baik.
Bahkan mama Indri adalah orang yang paling tahu mengenai keadaan Dinda yang beberapa kali keguguran dan berakhir dengan pengangkatan rahimnya karena bermasalah.
"Kamu nggak pernah cerita kan Din, sebelumnya kalau kamu punya seorang anak."
"Iya mbak, saya pikir dengan saya menikah lagi seorang anak akan mudah saya dapatkan lagi, tapi ternyata saya salah_ tuhan sepertinya menghukum saya."
"Din, jangan berbicara seperti itu."
"Itu kenyataannya mbak, dan saya sangat menyadari kesalahan fatal saya dimasa lalu, mbak Indri harus tahu satu hal, bahwa saya ini bukan wanita baik-baik, saya perempuan yang serakah akan harta, yang kemudian menyengsarakan saya di masa tua."
"Din, kamu ini ngomong apa sih?" mama Indri semakin dibuat bingung dengan ucapan Dinda yang semakin melebar kemana-mana.
"Mbak, dulu saya berbohong sama mbak Indri bahwa saya bercerai karena suami saya yang sudah selingkuh."
Deg!
"Bohong, itu semua bohong! saya sudah membohongi Mbak Indri habis-habisan, bukan! bukan mas Rahman yang berselingkuh, tapi karena saya yang tidak tahan dengan kehidupan saya yang miskin, lalu saya nekat meminta cerai dan meninggalkannya, meninggalkan Putri saya yang bahkan saat itu masih meminum ASI dari saya." Dinda semakin terisak kuat, ia seolah ingin menumpahkan perasaan bersalahnya selama ini.
"Saya tidak mempedulikan anak itu yang meronta-ronta menangis ingin digendong saya mbak."
"Din, sudah!" mama Indri mengusap punggungnya tanpa berniat meninggalkan Dinda yang menurutnya memang sangat keterlaluan, karena meski begitu ia dapat membayangkan sendiri bagaimana rasanya menjadi Dinda yang dipenuhi perasaan bersalah.
Mengingat dirinya pernah mengalami, ketika meninggalkan putra pertamanya Ando, demi menyembuhkan luka akibat perselingkuhan yang dilakukan mantan suaminya dulu.
"Din, semua yang terjadi biarlah terjadi, yang terpenting saat ini kamu sudah menyesalinya."
"Menurut mbak, apakah kesalahan saya ini bisa dimaafkan, apa menurut mbak putri saya mau memaafkan saya."
"Itu_"
"Putri saya Anggia mbak, Anggia Aprilia Zahra istri Nattan, menantu mbak Indri." jelas Dinda membuat mama Indri terbelalak.
*
"Eh, sayangnya mama udah pulang? gimana jalan-jalannya seru nggak?" ujar mama Indri seraya menggandeng Anggia membawanya menuju meja makan.
"Seru banget ma."
"Anggia senang?"
"Senang banget ma."
"CK, disini kok kesannya malah aku sih yang jadi menantu mama." gerutu Nattan yang berjalan dibelakang keduanya.
"Diam kamu!"
"Tuh kan, giliran aku yang ngomong dibentak-bentak, coba kalau Anggia yang ngomong, disayang-sayang terus."
"Ayo duduk nak, makan yang banyak! nggak usah dengerin nyamuk jantan yang satu itu, dia emang cerewet kalau dirumah." mama Indri menarik kursi untuk diduduki Anggia, tak lupa ia juga menyendokan nasi dan juga lauk pauknya untuk Anggia.
"Ma_"
"Apa, mau protes, mau diambilin nasi juga, nggak! ambil sendiri, mama bosan kali Nat, udah dua puluh tujuh tahun ngurusin kamu, eh nggak! hampir dua puluh delapan tahun."
"Yaampun mama sama anak sendiri perhitungan banget sih,!"
"Siapa yang sedang menghitung, orang mama sedang makan." ucap mama Indri ketus.
Sementara Nattan hanya meringis, sembari mengusap tengkuknya.
"Orang tua kalau ngomong, emang benar terus kayaknya."
*
*