NovelToon NovelToon
Bun Dasim

Bun Dasim

Status: sedang berlangsung
Genre:Poligami / Balas Dendam
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: bundaAma

Alzena Jasmin Syakayla seorang ibu tunggal yang gagal membangun rumah tangganya dua tahun lalu, namun ia kembali memilih menikah dengan seorang pengusaha sekaligus politikus namun sayangnya ia hanya menjadi istri kedua sang pengusaha.

"Saya menikahi mu hanya demi istri saya, jadi jangan berharap kita bisa jadi layaknya suami istri beneran"

Bagas fernando Alkatiri, seorang pengusaha kaya raya sekaligus pejabat pemerintahan. Istrinya mengidap kanker stadium akhir yang waktu hidupnya sudah di vonis oleh dokter.

Vileni Barren Alkatiri, istri yang begitu mencintai suaminya hingga di waktu yang tersisa sedikit ia meminta sang suami agar menikahi Jasmin.

Namun itu hanya topeng, Vileni bukanlah seorang istri yang mencintai suaminya melainkan malaikat maut yang telah membunuh Bagas tanpa di sadari nya.

"Aku akan membalas semua perbuatan yang kamu lakukan terhadap ku dan orang tuaku...."

Bagaimana kelanjutan polemik konflik diantara mereka, yuk ikuti kisahnya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bundaAma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

-31

Kabar kematian pak Jamok dengan cepat menyebar secepat kilat, dari mulut ke mulut hingga terdengar ke telinga orang orang yang cukup dekat dengan pemerintahan.

Bahkan presiden sendiri yang mengetahui kejadian tersebut tak tinggal diam dan menyuruh semua tim terbaik untuk menangani kasus ini, kabar kabar kematian orang bawahan nya seperti nya sedang menjadi trending topik namun kali ini berbeda yakni menteri PUPR langsung yang menjadi korbannya.

"Lakukan investigasi internal secara menyeluruh..." titah presiden seraya keluar dari ruang rapat nya.

Semua orang sibuk setelah mendengar kabar tersebut, pak Bagas selalu orang yang terakhir menemuinya merasa janggal dengan kematian pria paruh baya yang ia temui beberapa waktu lalu.

"Tidak mungkin sekebetulan ini!!" ujar Bagas gelisah seraya mengusap kasar wajahnya yang frustasi.

Pikiran nya kacau balau, rentetan kejadian yang terjadi hari ini sangat di luar prediksi nya, ia yang berpikir sudah selesai dengan kasus korupsi yang di lakukan Jamok kini harus berhadapan dengan masalah kematian Jamok yang dirumorkan terasa janggal.

"Andreas, cari tahu apa yang terjadi setelah saya keluar dari ruangan Jamok..." titah Bagas singkat yang langsung di jawab anggukan kepala oleh sang ajudan.

Meski dalam keadaan kacau ia tetap berusaha untuk tetap fokus agar masalah yang ia hadapi bisa teratasi dengan baik bukan malah semakin melebar dan menimbulkan masalah lain karena ketidak fokusannya.

Baru saja selesai dengan pekerjaannya, ponsel Bagas berbunyi menandakan sebuah notifikasi masuk ke ponsel nya.

Dengan malas ia membuka isi chat yang dikirimkan Leni kepadanya, entah mengapa akhir akhir ini ia benar benar sudah tidak bisa lagi bersikap seperti dahulu kepada istri pertamanya, bukan karena ia telah memiliki istri baru, melainkan akhir akhir ini ia semakin janggal dengan setiap tingkah laku istrinya.

'Kita lihat besok saja, kalo ada waktu saya antar, biasanya juga yang ngantar kamu kontrol selalu papah, saya cuman tinggal dengerin kabar dari kalian...'

Sebuah balasan yang dingin dan berbeda darinya, biasanya Bagas cukup semangat dan antusias untuk mengantar istrinya kontrol namun karena selalu berakhir penolakan dan berbagai macam alasan, entah mengapa akhirnya ia bosan dan merasa sabodo amat di tambah mungkin karena pengaruh hubungan mereka yang kurang baik kali ini.

"Kita kembali ke KPK sepertinya kita perlu bertemu dengan sosok bernama dimas Dimas itu..." ujar Bagas seraya mengambil jas miliknya yang tersimpan di belakang kursi yang ia duduki.

Mobil yang mereka kendarai pun melaju dengan cepat ke gedung KPK, di dalam mobil Bagas masih memikirkan mengapa bisa Jasmin mau membantu mereka, dan apa imbalannya apakah karena perasaan nya pada Dimas atau karena ada imbalan yang lain.

'Jika ada imbalan yang lain, harusnya Jasmin punya sesuatu yang menonjol seperti rumah atau apapun itu,'

' Jika karena perasaan, tidak mungkin karena jelas jelas Dimas yang memiliki rasa pada Jasmin sedangkan Jasmin tidak...'

'Atau apakah Jasmin dulu hanya bersandiwara di depanku saat ketahuan telah menikah lagi oleh orang tua Dimas?'

'Atau ada kekayaan yang Jasmin simpan sebagai imbalan yang tidak saya ketahui?'

'Sial, memikirkan nya saja membuat kepala saya pusing tujuh keliling...'

"Pak.... Sudah sampai..." panggilan Andreas membuyarkan lamunannya sejak tadi.

Dengan langkah tegap Bagas keluar dari dalam mobil nya menuju lift yang ada di sana.

"Bagaimana, apakah Baskoro (pimpinan KPK) telah memberi izin?" tanya Bagas yang tak ingin melakukan sesuatu tanpa prosedur.

"Sudah pak, tapi sepertinya Dimas berada di sel tahanan bukan ruangan..."

Setelah sampai di basement gedung KPK, tepatnya di rutan KPK, Bagas segera masuk ke dalam ruangan pertemuan setelah Andreas memberitahukan pada penjaga di sana jika Bagas ingin menemui Dimas.

Dilihatnya orang yang ia tunggu tunggu akhirnya datang dengan baju lecek wajah lesu dan mata sembab, penampilan nya cukup aur auran berbeda dari penampilannya di foto saat bertemu istri mudanya.

"Saya tidak akan bertele-tele, apakah benar kamu Dimas, tetangga sekampung Jasmin?" tanya Bagas pada pria muda di hadapannya.

"Ya benar, bagaimana bapak tahu tentang wanita bernama Jasmin?" tanya Dimas keheranan, karena seingatnya Jasmin Tidka mungkin di kenal di dunia orang orang politik, kehidupan Jasmin yang lurus dan aktivitas seperti hatinya yang hanya menjadi ibu rumah tangga biasa membuat nya semakin tidak mungkin memiliki kenalan seorang pejabat tinggi apalagi ini adalah menteri keuangan langsung.

"Saya tahu dari foto ini jika Jasmin adalah tetangga di kampung halaman mu..." jawab Bagas seraya menyerahkan sebuah foto.

"Dan tentang saya mengetahui Jasmin adalah saya menemukan sebuah laptop yang terhubung dengan penyadap suara di apartemen yang Jasmin tinggali...." ujar Bagas lagi.

"Maksudnya? Apakah bapak menuduh Jasmin bersekutu dengan saya untuk menyadap ruangan bapak?" tanya Dimas melotot tak percaya.

"Padahal saya sudah memberi keterangan jika saya tidak menyadap ruangan bapak, saya akui saya menghancurkan bukti di ruangan bapak, itupun saya tahu lokasi nya dari pak Jamok sendiri bukan karena alat penyadap..."

"Dan bagaimana bisa, bapak langsung menuduh jika Jasmin yang menyadap ruangan bapak hanya karena sebuah laptop, bisa saja pelakunya suaminya sendiri, apa bapak tahu jika Jasmin tinggal di sana bersama suaminya?" ucap Dimas panjang lebar karena ia tidak bisa jika Jasmin wanita yang amat begitu berarti di hatinya harus terjebak ke dalam lingkaran pejabat gila tanpa melakukan kesalahan.

"Tidak mungkin suaminya, mungkin bisa saya pertimbangkan jika itu adalah pegawai nya..." jawab Bagas seraya melonggarkan dasinya dan menarik nafas dengan halus.

"Saat saat seperti ini semuanya mungkin, tidak ada yang tidak mungkin..." ujar Dimas tetap kekeh.

"Berbeda situasinya, karena suami Jasmin adalah saya, dan tidak mungkin pelaku nya saya sendiri, saya tidak seberdrama itu harus memainkan peran yang melelahkan...."

"Whattt!" mata Dimas melotot sempurna dan hampir saja bola matanya keluar dari tempatnya, ia cukup terkejut jika suami yang sering Jasmin katakan adalah Bagas fernando Alkatiri selaku menteri keuangan yang kini tengah menginterogasi nya.

"Hahahahahahah, tidak lucu..." Dimas tertawa meskipun dadanya terasa sakit, ia tidak bisa membayangkan jika Jasmin benar benar istri Bagas, karena ia tahu betul tidak mudah menjadi istri seorang Bagas yang kini tengah di kerubungi semut semut besar.

"Jika kamu benar suaminya, apakah kamu percaya jika istri muda mu mengkhianati mu?" tanya Dimas tersenyum miring seraya mengangkat sebelah kakinya dengan tangan bersidekap di dada.

"Tidak perlu di jawab, karena semuanya bisa saja, wanita muda mana yang saat ini tidak tergiur dengan imbalan imbalan..." jawab Bagas dengan nada meremehkan.

Dimas bangun dari kursi tempatnya duduk ia cukup kesal karena kenyataan nya Bagas sebodoh itu tidak sepintar yang ada di dalam bayangan nya.

"Terserah apa kata mulutmu, kadang yang keluar dari mulut bukan yang di yakini oleh hati..." ucap Dimas dingin lalu berjalan pergi meninggalkan Bagas yang membeku seolah tertusuk ribuan duri ganas.

"Dan satu lagi..." ucap Dimas menghentikan langkahnya tanpa menatap wajah Bagas.

"Hati hati dengan keluarga di sekeliling mu, karena saya tahu betul siapa saja yang selalu hadir ke dalam setiap perkumpulan...."

1
Dorothea.Celestyn Arwendaru
silahkan author
saya siap membacanya kembali
31_PUTU WIDIARTA
Keren banget nih cerita, semangat terus author!
Kanza: dukun author pemula ini yah bun🙏
total 1 replies
Willian Marcano
Duh, hati jadi bahagia setelah selesai baca karya ini!
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!