JANGAN LUPA DUKUNG KARYA INI YA!
🌸Setelah tiga tahun menikah, Arjuna mengomentari istrinya sangat membosankan, tapi orang yang membosankan inilah yang melemparkan perjanjian perceraian di wajahnya pada perayaan ulang tahun perusahaan di depan semua orang, yang membuatnya kehilangan muka.
tetapi siapa sangka, setelah berpisah, Arjuna malah merasa sangat menyesal karena telah menyia-nyiakan istrinya, dan memulai mengejar cinta istrinya kembali.
Mampukah Arjuna kembali memperjuangkan kepercayaan dan cinta Luna kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rafizqi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30 Gemuruh Cemburu
"Sebenarnya apa yang kau khawatirkan tentang Luna, Arjuna? Dia sudah cukup bahagia dengan hidupnya sekarang" Batin Pak Gibran heran. Matanya masih memindai ekspresi yang diberikan oleh Arjuna setelah mengetahui bahwa Luna sedang mengalami kecelakaan.
"Apa kau benar-benar tidak tau bagaimana keadaan Luna saat ini?" Tanya Arjuna lagi. Bahkan ia sampai lupa, seorang wanita di sampingnya menatapnya tidak suka mengenai pertanyaan-pertanyaan yang membuat hatinya begitu panas.
"Maaf Pak Arjuna. Sebaiknya kita membahas naskah ini. Urusan Luna, biar saya sendiri yang akan mengurusnya" Jawab Pak Gibran mengingatkan.
Arjuna tertegun sesaat. Hatinya tidak tenang. Itu terlihat jelas dari raut wajahnya yang mendadak tidak bersemangat. Namun mengingat bahwa kedatangannya ke kantor ini adalah untuk membahas sebuah naskah proyek film terbarunya. Arjuna pun mengurungkan niatnya untuk sekedar bertanya banyak hal.
Sebenarnya, Pak Gibran sengaja tidak memberitahu keadaan Luna saat ini kepada Arjuna. Pak Gibran ingin melihat apa pemikiran Arjuna tentang ini dan ia juga ingin melihat apakah Arjuna masih memiliki perasaan atau tidak kepada Luna.
Sementara itu. Arjuna tahu, bahwa seharusnya Luna memberikan penjelasan kepada Bos nya bagaimana keadaan dirinya sekarang dan kenapa tidak masuk bekerja. Apalagi saat ini adalah pertemuan penting yang seharunya melibatkan dirinya untuk ikut kesana, apa Luna separah itu sehingga tidak masuk bekerja dan menghadiri pertemuan penting ini? Memikirkan ini, membuat Arjuna semakin tidak tenang.
"Apa jangan-jangan Gibran sengaja tidak memberitahuku keadaan Luna? Atau jangan-jangan dia memiliki perasaan kepada Luna?" Berbagai pertanyaan muncul begitu saja tanpa diminta. Dia berpikir, bahwa Gibran memiliki pemikiran yang tidak sesederhana yang ia pikirkan tentang Luna.
Hatinya tiba-tiba panas, dan segera ingin menemui Luna sesegera mungkin.
Gibran dulu adalah seorang penyanyi terkenal yang berpindah menjadi seorang aktor. Dari serial televisi ke film. Dia dulu sangat terkenal, dia baru-baru ini berubah profesi di layar belakang. Dan dia juga memiliki seorang ibu yang sangat cantik. Sayangnya, ayahnya sudah tidak ada. Lebih tepatnya sudah meninggal dunia.
Dengan umurnya yang masih muda. Bahkan hampir nyaris menyamai Arjuna. Arjuna berpikir, bahwa seorang bos dan karyawan bisa sedekat itu mana mungkin tidak ada apa-apanya di balik semua itu.
Hatinya mulai menerka-nerka bahwa sebenarnya Gibran dan Luna memang sedang memiliki kedekatan yang tidak orang lain ketahui.
Lagi pula, wanita mana yang tidak tertarik kepada seorang pria tampan, dan bos rajanya perfilman.
Arjuna seketika mengencangkan rahangnya. Pikiran-pikiran buruknya benar-benar menguasai kepalanya saat ini. Bahkan dia merasa bahwa tidak ada yang tidak mungkin mengenai hubungan Luna dan juga Gibran.
Memikirkan itu, Arjuna merasa dadanya sedikit sesak. Bahkan tidak terasa, dia meminum air yang ada didepannya tanpa jeda. Bahkan tidak setetes pun tertinggal disana.
Semua orang menatapnya dengan gamblang. Wajah terkejut begitu terlihat dari semua orang. Tidak seperti seorang Arjuna pada dasarnya. Dia yang katanya memperhatikan etika dalam bertindak, kini terlihat seperti seseorang yang lebih kepada Bar-baran.
Mendadak ia merasa cemburu kepada Gibran yang jelas-jelas tidak memiliki hubungan apapun kepada Luna.
"Tuan! Anda baik-baik saja?" Tanya sekertaris Hans pada akhirnya. Dia melihat raut yang berbeda dari tuannya. Tapi tetap ingin bertanya untuk memastikan bahwa semuanya baik-baik saja saat ini.
Arjuna sedikit tersentak. Suasana hatinya yang buruk telah membawanya terlalu jauh. Hingga baru ia sadari, semua orang menatapnya khawatir.
"A-aku baik-baik saja. Sebaiknya kita langsung bahas saja naskah ini" Kata Arjuna. Semua orang menghela nafas lega. Terlebih lagi Hans yang tadi terlihat begitu khawatir kepada tuannya. Namun mendengar perkataan Arjuna, membuatnya sedikit yakin bahwa tuannya hanya sedang ada pikiran saja.
Setelah mendengar ucapan Arjuna. Semua orang mulai menjelas dengan posisi dan tugas masing-masing. Semuanya terlihat begitu siap akan proyek film terbaru kali ini.
Arjuna juga membaca beberapa lembar naskah yang membahas tentang garis besar dari cerita yang di buat oleh Luna.
"Apa ini? Dia bercerita tentang siapa? Kenapa kejadian di dalam cerita terlihat sama dengan apa yang terjadi kepadaku dan Luna?" Batin Arjuna. Arjuna merasa bahwa Luna sedang menceritakan dirinya di dalam cerita. Dirinya di dalam cerita terlihat begitu kejam dan tidak berperasaan.
"Apakah aku sekejam ini?" Lirih Arjuna. Sontak Natasha menganga, "Mas! Kau bicara apa?" Tanya Natasha.
Arjuna hanya sedikit menoleh, "Tidak. Tidak ada apa-apa, aku tidak bicara apapun. Mungkin kau salah mendengar" Jawab Arjuna.
Natasha mengerutkan keningnya, dia mendengar dengan jelas seseorang bicara. Dan suara itu mengarah kepada Arjuna. Namun Alih-alih berpikir, Natasha memilih untuk cuek saja. Lagi pula dia tidak mendengar dengan jelas apa yang di katakan oleh Arjuna tadi.
Setelah semuanya selesai. Gibran dan beberapa orang tadi terlihat sudah keluar dari ruangan.
"Mas! Sekarang kita akan kemana? Apa perlu kita makan dulu? Aku sepertinya sangat lapar" rengek Natasha manja.
Arjuna hanya mendelikkan matanya tidak peduli.
"Jika kau ingin makan. Pergi saja sendiri" Jawab Arjuna acuh. Natasha sempat syok dan menganga tidak menyangka melihat perlakuan Arjuna. Sangat berbeda dari Arjuna yang biasanya bersikap manis kepadanya.
Arjuna berdiri, lalu meninggalkan Natasha yang sempat mematung. Sesaat setelah membisu. Natasha pergi keluar, berniat ingin menyusul. Namun nyatanya setelah sampai di depan gedung. Arjuna ternyata sudah pergi meninggalkan dirinya sendiri disana.
Bahkan Arjuna samasekali tidak peduli kepada Natasha yang akan pulang naik apa dan bagaimana. Ia sudah benar-benar melupakan keberadaan Natasha saat ini.
"Hans! Kita pergi ke kantor Gibran" perintah Arjuna ketika di perjalanan.
Tanpa menjawab, Hans melajukan mobilnya menuju kantor yang ingin di datangi oleh Arjuna.
Hans sempat bernafas lega. Sebenarnya selama ada Natasha bersama mereka tadi, Hans merasa sedikit risih melihat Natasha yang tidak tahu malu selalu menempel di lengan Arjuna walaupun bertemu orang penting. Wanita itu seakan memperlihatkan kedekatan dirinya dan Arjuna kepada semua orang. Hans merasa, bahwa Natasha tidak benar-benar tulus mencintai bosnya. Sebab itulah dia kurang menyukai wanita itu, mengingat perangainya yang sangat memalukan sebagai seorang wanita.
Setelah lama di perjalanan. Akhirnya mobil mereka pun sampai di tempat tujuan. Hans segera turun untuk membuka pintu mobil untuk tuannya.
Arjuna dengan wajah bak seorang pangeran, tentu wanita manapun akan terpikat oleh daya tariknya yang begitu tampan.
Namun hati Arjuna hanya tertuju kepada Luna saat ini. Hingga setiap seruan yang terdengar dari beberapa wanita yang tidak sengaja berpapasan dengannya dia abaikan begitu saja.
Arjuna sudah hapal dimana ruangan Gibran. Sehingga pria itu masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
"Gibran!"
Gibran yang sedang bekerja pun sontak terkaget. Lalu menoleh ke sumber suara.
"Pak Arjuna! Aku pikir masalah kita sudah selesai? Apa yang membuatmu bersusah payah datang kesini?" Tanya Gibran dengan intonasi suara yang sedikit penuh penekanan.
"Tentu saja kita ada masalah. Kenapa kau tidak ingin memberitahu ku keadaan Luna kepadaku?" Tanya Arjuna.
Gibran sempat terkekeh kecil, "Aku pikir setelah bersama Natasha, Pak Arjuna tidak akan menanyakan tentang Luna lagi" Jawab Gibran.
"Sebenarnya apa yang terjadi kepadanya? Jangan menutupinya lagi dariku!" Tanya Arjuna yang memang benar-benar terlihat begitu khawatir.
Gibran menatap lekat wajah lelaki itu, "Ambillah itu. Ini nomor telepon Luna. Kau bisa bertanya sendiri kepadanya" Ujar Gibran pada akhirnya.
Arjuna tidak menjawab, namun tangannya segera meraih sebuah kartu nama yang bertuliskan alamat rumah Luna, lengkap dengan nomor telepon yang tertera.
"Terimakasih!" ucap Arjuna. Sementara Gibran hanya tersenyum tipis menanggapi ucapan Arjuna.
.
.
.
.
Bersambung.
Jangan lupa untuk memberikan like dan komen ya ☺️
Happy Reading 🌺
terus lah berkarya dan sehat selalu 😘😘
iyalah bknnya Luna udah sepantasnya gt krn klian udah bercerai Juna
😀😀😀😀😀😀😀