NovelToon NovelToon
Pemuas Ranjang CEO

Pemuas Ranjang CEO

Status: tamat
Genre:Romantis / Romansa-Solidifikasi tingkat sosial / Duda / Tamat
Popularitas:19.3M
Nilai: 4.8
Nama Author: Momoy Dandelion

Season 1: Bara x Retha

Jalinan cinta antara dua orang yang saling menguntungkan antara seorang duda dengan seorang guru yayasan yang memiliki pekerjaan sampingan. Bara membutuhkan wanita untuk mengobati kesepiannya dan Retha membutuhkan uang untuk melunasi hutang ayahnya.

Bagaimana perjalanan kisah cinta mereka dan lika-likunya menghadapi dunia? Akankah keduanya akan bersatu?


Season 2: Hendry x Citra

Cinta masa SMA yang dipertemukan kembali saat keduanya baru saja mengalami kegagalan berumah tangga. Hendry ditinggalkan istrinya karena permasalahan kesuburan. Sedangkan Citra memutuskan bercerai dari suaminya yang telah berselingkuh dan menghamili wanita lain.

Akankah mereka bisa menghadapi trauma hubungan sebelumnya? Bagaimana cara mereka bisa kembali membuka hati dan akhirnya hidup bahagia bersama.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Momoy Dandelion, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pulang ke Kontrakan

"Retha ... akhirnya kamu pulang!"

Tiur berlari dari arah dapur menyambut kepulangan Retha. Ia memeluknya sampai berjingkrak-jingkrak saking senangnya. Seminggu tak ada temannya itu kontrakan terasa sepi. Ia senang bisa mendapatkan teman lagi.

"Aku bawa oleh-oleh untukmu. Katanya mau brownies A**nda sama cireng, kan? Kita makan bareng, yuk!"

Retha mengajak Tiur duduk di sofa ruang tamu. Ia mengeluarkan oleh-oleh yang dibawanya dari dalam paper bag. Selain makanan yang disebutkan, Retha juga membeli makanan lain untuk tiur. Meja ruang tamu seketika penuh dengan makanan.

Tiur yang favorit dengan brownies langsung mengambil satu potong untuk dimakan. Ia jadi kangen bepergian ke luar kota tempat makanan itu diproduksi. "Bagaimana seminggu di sana? Apa kamu merasa nyaman?" tanya Tiur antusias.

Wajah Retha langsung malu ditanya seperti itu. Pengalaman seminggu di sana menurutnya tidak patut untuk diceritakan karena isinya hanya momen-momen mesra bersama Bara. Apalagi kegiatannya setiap malam hanya menyusui lelaki itu.

"Pak Zack baik, kan? Dia biasanya royal, kamu pasti diberi banyak uang olehnya. Aku yakin sih kalau Pak Zack itu sekali saja tidak cukup. Kamu berapa kali sehari disuruh menyentuh dia? Jangan-jangan kamu tidak diizinkan keluar dari kamarnya. Dia tidak memaksamu untuk lanjut berhubungan badan, kan? Apa ... kamu sudah ...." tebak Tiur. Ia pernah sekali di-booking oleh Zack. Lelaki itu tipe agresif dan dominan dalam berhubungan. Mainnya juga sedikit kasar, namun bisa menyenangkan pasangannya. Tiur sampai kewalahan menghadapi Zack, semalaman ia terus digempur dan tidak dibiarkan tidur. Akan tetapi, saat sudah selesai, ia diberikan tambahan bonus yang banyak.

"Tiur, apa yang kamu bayangkan itu tidak terjadi, ya ...." Retha sudah bisa menebak jalan pikiran temannya yang terlalu jauh itu. "Aku di sana tidak melayani Pak Zack," lanjutnya.

Tiur keheranan. Padahal ia melihat sendiri kalau Zack yang memesan langsung Retha saat itu sampai membayar dengan harga tinggi kepada Tante Sukma. "Kamu melakukan kesalahan, ya? Pak Zack marah sampai tidak mau memakaimu?"

Retha menggelengkan kepala. "Aku diminta menemani orang lain. Namanya Pak Bara, teman Pak Zack."

Tiur membuka mulutnya saking terkejut. "Maksudmu Pak Bara CEO PT Atmajaya Sentosa?" tanyanya.

"Iya."

"Oh, Ya Tuhan ... aku tidak percaya ini!" Tiur bertingkah kegirangan sendiri. Ia merasa ikut bangga temannya bisa dekat dengan orang sepenting itu.

"Dengar, Retha! Dia orang paling ganteng yang diidam-idamkan semua wanita. Dia sering datang ke klab, banyak yang berusaha menggodanya, namun ia tidak pernah mau tidur dengan wanita-wanita yang ditawarkan. Kamu tidak bohong kan, selama satu minggu ini bersamanya?"

"Untuk apa aku bohong?" Retha menjawabnya dengan santai. Tiur pasti akan lebih kaget jika ia menceritakan kalau Bara bahkan melamarnya.

"Uh ... beruntungnya temanku ...." Tiur memeluk gemas Retha. Ia merasa senang sekaligus iri mendengar cerita Retha. Ia yang selalu berharap bisa di-booking oleh Bara malah tidak pernah mendapatkannya. "Aku jadi menyesal menyuruhmu menggantikan aku. Seharusnya aku saja yang pergi. Bahkan tidak dibayarpun aku mau membahagiakannya selama seminggu," ucapnya.

"Ceritain dong gimana rasanya tidur bersama dia ... kamu pasti puas ya, bisa pegang-pegang tubuhnya. Burungnya besar, nggak? Ah ... kenapa sih kamu beruntung banget ...."

Retha mencoba menyingkirkan Tiur yang terus memeluknya sembali menelusupkan kepalanya. "Kamu apa-apaan sih, Tiur, hentikan ...."

"Pak Bara mengajakmu ehem ehem gak? Pasti kamu senang hati kan melakukannya ... aku iri banget ...."

Retha bingung dengan apa yang temannya itu pikirkan. Mungkin karena Tiur sudah biasa tidur dengan lelaki yang berbeda-beda, ia begitu mudah membahas hal-hal yang menurutnya malu untuk diceritakan. Ia yang belum punya pengalaman int1m dengan lawan jenis bahkan malu membayangkan kembali apa yang sudah Bara lakukan padanya.

Bara memang tampan, tubuhnya juga bagus. Tapi, tetap saja ia takut kepada lelaki itu. Membiarkan lelaki itu menjelajahi sebagian tubuhnya saja sudah membuat ia ketar-ketir. Untung saja selama satu minggu Bara bisa mengendalikan dirinya.

"Pikiranmu ngawur banget, sih!" Retha menyentil dahi Tiur. "Kami tidak melakukan apa-apa. Aku hanya menemaninya saja."

"Ck! Aku tidak percaya. Mana ada jantan yang tahan tidak melakukan apa-apa saat berada dalam satu kamar dengan wanita."

"Dia itu salah satu wali dari muridku. Sebenarnya tujuan dia mengambilku dari Pak Zack juga karena ingin membantuku. Makanya selama berada di sana aku membantu menyiapkan makanan dan pakaian kerjanya saja sebagai bentuk terima kasih."

Tiur mendekatkan wajahnya, mencoba memandang mata Retha dengan serius. Ia ingin mengetahui kejujuran dari perkataan tersebut. Sungguh tidak bisa dipercaya Retha hanya diminta sebagai pelayan oleh CEO muda itu.

"Nggak mungkin ... pasti tiap malam kalian bobo bareng. Ngaku kamu!"

"Nggak ...." Retha mencoba berkilah.

"Bohong ...," cecar Tiur.

"Kamu diberi tahu tetap nggak percaya, ya! Sudah ah! Aku mau masuk kamar dan istirahat!

Retha melemparkan bantal ke muka Tiur. Ia lalu berlalu pergi membawa tasnya menunggu kamar.

"Cie ... temanku jadi teman tidur CEO!" seru Tiur.

Retha memcoba tak menggubris ucapan Tiur. Ia masuk kamar dan mengunci pintu kamar. Direbahkan tubuhnya di atas kasur yang sudah ia rindukan. Memandangi langit-langit kamar, rasanya ada yang berbeda setelah seminggu di hotel. Kamarnya tetlihat sangat sempit.

Ia mengambil dompet dari dalam tasnya. Selembar kartu kredit dipandanginya dengan perasaan bahagia sekaligus sungkan. Kartu yang khusus diberikan Bara kepadanya. Katanya, Retha bisa menggunakan uang yang ada di dalam kartu tersebut untuk membeli apapun yang diinginkannya.

Retha masih belum bisa percaya jika sekarang ia memiliki seorang kekasih. Bahkan, kekasihnya bukan orang sembarangan, melainkan CEO dari perusahaan besar.

Drrt Drrt Drrt

Ponsel di dalam tasnya bergetar. Ada telepon masuk dari Bara. Wajah Retha memerah hanya memikirkan apa yang akan dia katakan untuk menjawab telepon tersebut.

"Halo?" ucapnya.

"Ah, akhirnya aku bisa mendengarkan suara lembut ini lagi," ucap Bara dari seberang telepon.

Meskipun hanya mendengar suara Bara lewat telepon, namun tetap membuat Retha merasa malu.

"Kamu sudah sampai?" tanya Bara.

"Sudah, Pak. Saya baru saja sampai di kontrakan." Retha menjawabnya dengan nada sedikit kaku.

"Kok bicaranya formal lagi? Kita kan sudah sepakat untuk bicara biasa saja. Dan kenapa masih memanggil saya 'Pak'? Coba panggil yang benar!"

"Mas Bara ...." Retha malu sendiri mengucapkannya.

"Iya, Sayang ...." Jawaban yang Bara berikan membuat Retha merasa semakin malu. Ia merasa dikerjai. "Padahal baru sehari tidak bertemu tapi aku sudah merindukanmu. Kalau saja pekerjaanku di sini sudah selesai, aku pasti akan langsung pulang denganmu."

Bara masih berada di luar kota. Minggu depan ia baru akan pulang. Oleh karena itu, Retha terlebih dulu pulang. Apalagi dia hanya izin seminggu dari sekolah. Ibu Jihan akan mempertanyakan kalau ia membolos lebih lama.

1
Gabriel Orlando
aku suka akhir ceritanya thor🥰🥰🥰🥰🥰
Gabriel Orlando
dasar bapak 2 kayak gak pernah muda🤦
Gabriel Orlando
sukurin karma datang 🥰🥰🥰🥰
Gabriel Orlando
telattt bang Yoga 🤪🤪🤪🤪🤪
Gabriel Orlando
panas gak tuh Yoga sama ibunya klu Citra dapat keluarga kaya , ganteng plus punya anak lagi🤪
Gabriel Orlando
akhirnya Citra mendapatkan keluarga yang menyayanginya 🥰🥰🥰🥰🥰
Gabriel Orlando
mati juga kamu Thea! puas aku thor dengan ceritamu🥰🥰🥰🥰
Gabriel Orlando
semoga Tuhan menolong Retha,p.diman dan juga Citra juga kandungannya 😓
Gabriel Orlando
semuanya pasti ulah Thea 😡
Gabriel Orlando
aneh memang tapi ini lucu thor🤣🤣🤣🤣🤣🤣🥰🥰🥰🥰🥰
Gabriel Orlando
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Gabriel Orlando
oh Hendri pahlawan 🥰🥰🥰🥰
Gabriel Orlando
bucin akut si Hendri 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🥰🥰🥰
Gabriel Orlando
mimpimu yoga🤪
Gabriel Orlando
berdebat lagi 🤦🤣🤣🤣🤣🤣
Gabriel Orlando
si Hendri yang bucin 🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰
Gabriel Orlando
yah padahal mau nambah gagal🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰
Gabriel Orlando
oke gassss Hendri 🤭🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Gabriel Orlando
kurang ajar si Bara meledek Hendri 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Gabriel Orlando
🤣🤣🤣🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!