"Aku gak bisa cinta sama kamu, karena di hatiku masih ada orang lain. Aku minta, kamu gak berharap lebih sama pernikahan ini. Tunggu tiga bulan lagi, aku bakal bebasin kamu dari pernikahan ini."
Kalimat itulah yang terlontar dari bibir tipis Daffa pada malam pertamanya dengan Vania. Dia memang masih mencintai mantan istrinya, seorang wanita yang tak pernah ingin digantikan dengan siapa pun. Namun, ibunya justru menjodohkan Daffa dengan Vania, dan tak mampu untuk ditolak karena kondisi kesehatannya.
Akankah Vania bertahan dalam pernikahan tanpa cinta? Atau, dia justru rela diceraikan ketika pernikahan sudah berusia tiga bulan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon shanum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cemburu Lagi
Beberapa waktu kemudian, Vania sudah keluar dengan membawa gaun di tangan. Daffa melihat padanya, dan cepat berpaling demi menutupi rasa malu, mendahului untuk membayar belanjaan.
Di depan kasir pun, dia masih menutupi semua rasa malu untuk melunasi. Terlebih, saat tadi berpapasan dengan pegawai toko yang mengambil gaun dari tangan Vania.
Cepat ia menyelesaikan dengan kartu kredit, mengajak Vania lekas pergi tanpa menjawab tanya akan tiga tas belanjaan yang tengah ia bawa. Maklum saja, semua diletakkan dalam satu box juga berbeda tas kertas warna hitam dengan logo emas.
Tidak pergi ke mana-mana lagi karena rasa malu dan canggung yang diciptakan sendiri, Daffa mengajak Vania untuk pulang ke rumah utama. Alya mengirim pesan tadi, setelah panggilan diakhiri sepihak, berkata jika mamanya ingin bertemu dengan Vania dan meminta agar pulang jika memiliki waktu.
Tak memberikan kabar akan kedatangan, Daffa langsung saja pergi. Karena hari ini pun, mereka akan menginap di sana sebelum berani untuknya mengatakan perihal rumah, dan menyakiti hati yang begitu takut dilakukan sekarang.
Membelah jalanan sekali lagi dalam suasana hening, Vania beberapa kali menoleh pada suaminya, takut jika dirinya melakukan kesalahan hingga lelaki yang tadi bersikap manis, kini bungkas seribu bahasa.
"Mas kenapa? Aku udah bikin salah, ya? Apa aku udah bikin malu mas tadi? Maafin aku kalau e!ang udah bikin salah, tapi tolong kasih tau di mana aja salahku." Vania memberanikan diri dengan berbicara lirih, menghancurkan keheningan yang ditakutinya sendiri.
"Enggak, kamu gak bikin salah apa-apa, kenapa minta maaf? Lagian kamu juga gak bikin mali sama sekali," jawab Daffa. "Justru aku yang bikin malu," tambahnya begitu lirih.
"Mas diem aja, makanya aku takut kalau udah bikin salah. Maafin aku ya mas, kalau sikapku tadi kekanakan juga pas di toko HP," sesal Vania.
Daffa menoleh pada istrinya, meraih tangan dan menggenggam di atas pangkuan istrinya. "Aku seneng kamu kayak gitu, artinya kamu gak rela kalau ada yang merhatiin aku. Jangan minta maaf lagi, karena kamu gak ngelakuin salah apa-apa." Lembutnya, sesekali mata ke jalanan juga pada istrinya.
Vania mengangguk pelan, tangan semakin dieratkan oleh Daffa. "Mas, apa mas malu sama penampilanku? Kanapa kita harus belanja banyak hari ini?" tertunduk dan sekali lagi memberanikan diri, menyentak lelaki yang memperlambat laju kendaraan karena lampu kuning menyala.
Mobil berhenti, lampu merah menyala tanpa ragu dan memberi perintah tanpa titah. Daffa menoleh pada istrinya, melihat wajah sendu tengah disembunyikan. "Gak ada yang malu, karena kamu istriku. Justru aku suka, karena kamu selalu tampil apa adanya. Aku beliin kamu ini itu, karena kita mau datang ke undangan papa kamu, Nia. Seenggaknya kita harus menghargai undangan, dengan tampil yang terbaik. Kamu ngerti kan?"
"Mau kamu pakai apa pun juga, aku gak peduli sama sekali. Daster atau apa aja yang bikin kamu nyaman, terserah! Karena aku gak pernah mau lihat kamu dari penampilan, tapi ketulusan hati kamu, Nia. Ngerti?" Tambahnya.
Vania mengangkat pandangan, dia mengangguk mengulas senyuman. Sepertinya, memang dia yang terlalu banyak berpikir, hingga menganggap bahwa Daffa malu akan dirinya, setelah mata melihat sendiri bagaimana penampilan orang lain.
Sedikit banyak, Vania memang bercermin pada setiap inci tubuhnya ketika di ruang ganti. Semua yang melekat, terlihat kuno dan tak modis seperti orang-orang ia amati di mall.
Berpikir jika Daffa malu sampai membelikan pakaian baru, ternyata alasan yang diberikan jauh berbeda dari apa dipikirkan. Vania sangat malu dengan sempitnya jalan pikir hari ini, tak seharunya ia menyimpulkan sendiri apa yang tak diketahui.
Melanjutkan perjalanan ke rumah Santi, sebisa mungkin Daffa mengajak istrinya berbicara, tapi justru diminta agar fokus mengemudi saja. Bukan tak mau untuk terus berbincang, hanya saja itu terlalu berbahaya dengan fokus yang terbagi.
Sampai di rumah setelah melalui perjalanan satu jam karena macet, Daffa dan Vania tak menemukan siapa pun di rumah kecuali pelayan. Santi ternyata berada di tempat lain, menjalankan kegiatan dengan teman-teman arisannya.
Daffa menghubungi ibunya, berkata jika sudah sampai di rumah. Namun, wanita tengah berada di yayasan itu mengatakan jika akan kembali sekitar pukul enam, karena lokasi sangat jauh untuknya memberikan sebagain harta dilimpahkan oleh Tuhan.
Kembali menemui istrinya, meminta untuknya beristirahat saja, tapi Vania tidak ingin karena tidak biasa tidur siang. Daffa mengeluarkan ponsel baru dibeli, mengajari Vania cara menggunakannya.
Menyimak dengan baik seperti apa cara lelaki tengah duduk di dekatnya itu mengajari, Vania tak ragu untuk bertanya hingga dirinya diminta mencoba sendiri.
Seperti anak kecil yang bahagia dengan mainan baru, ekspresi polos Vania selalu saja mampu memancing mata Daffa untuk mengamati, dengan senyum yang tak mampu untuk berhenti.
"Siniin bentar!" ucap Daffa, meraih ponsel di tangan istrinya. Mengutak-atik dan membuka kamera pada ponsel, Daffa merangkul Vania mendekat dan memotret. "Ini dijadiin wallpaper!" katanya sembari mengatur foto bersama, agar muncul pada layar.
"Wah, jadi bisa gini, Mas?" melebar mata Vania takjub, ketika foto dirinya dan Daffa menghiasi layar.
"Jangan diganti! Biar itu aja!" tekannya. Biar semua orang tau kalau kamu udah nikah! Menambahkan dalam hati.
"Hehehe, aku juga gak bisa gantinya, Mas." Cengengesan, diusap lembut ujung kepala olehnya yang tersenyum menunjukkan gigi.
Setidaknya, ponsel dengan layar berhias kebersamaan itu, akan semakin membuat orang lain yakin bahwa Vania sudah bersuami. Mana tahu selain Arif masih ada lagi yang coba mendekati, mengingat Vania sangat baik dan berpemikiran polos, hingga tak mampu mengenali niat terselubung dari orang lain.
***
Sekitar pukul setengah tujuh malam, Vania dan Daffa sudah berpindah di rumah Johan. Menanti Santi belum juga pulang, hanya berpamitan pada adik juga papanya, yang tak dijelaskan siapa akan ditemui oleh mereka. Karena Daffa meyakini satu hal, bahwa papanya sudah mengetahui tentang Johan.
Rumah megah serba putih memiliki teras juga halaman luas dimasuki olehnya, Daffa tak pernah datang sebelumnya dan cukup mengagumi dalam hati. Sepertinya, rumah itu sudah cukup menunjukkan seberapa selera baik pemiliknya yang juga begitu mewah.
Mobil berhenti di belakang sebuah mobil hitam, sepertinya itu tak asing bagi kedua mata Daffa juga Vania. Benar saja, si empunya langsung menunjukkan wajah dan membukakan pintu untuk Vania, menyuguhkan senyum yang membuat Daffa langsung naik darah.
"Berani banget! Ada suaminya masih aja cari perhatian!" kesal Daffa langsung turun, melangkah lebar dan menarik tangan istrinya. "Kamu di sini juga?!" menahan rasa geram dan menegur.
"Kenapa? Masalah? Kita sama-sama kenal Vania, bukan?" santai Arif. "Mungkin, aku diundang buat dijodohin sama Nia. Siapa yang tau, kan?" tambahnya mengangkat kedua pundak,.
Rahang Daffa mengeras seketika dengan tangan mengepal, tanpa disadari jika ia menggenggam sangat kuat tangan istrinya hingga rasa sakit dirasakan, meski tertahan dengan bibir mengatup rapat juga mata terpejam.
kasian yang namanya Arif jadi sasaran hehehe