Warning, mengandung *** !!!
Bagaimana rasanya bila suatu hari kita terjebak di sebuah pulau terpencil dengan beberapa orang asing yang kebetulan pergi bersama kita ?
Itulah yang terjadi pada seorang pria tampan berdarah biru yang sudah di jodohkan dengan seorang perempuan yang juga sama sama keturunan ningrat,harus terjebak di sebuah pulau terpencil bersama seorang gadis misterius dan beberapa orang asing, mereka harus melewati berbagai ujian saat ingin keluar dari pulau itu, mulai dari terjebak badai dan berbagai kejadian yang hampir merenggut nyawa mereka, sehingga tanpa di sadari benih benih cinta tumbuh diantara mereka.
Bagaimana kisah selanjutnya,? ikuti saja kisahnya.
Selamat membaca,,, semoga hari anda menyenangkan...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon teteh lee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ancaman
Ting tong,,,!
Pagi itu bel pintu kembali berbunyi,
"Damar, aku takut !" ucap Rani langsung mendekat ke arah Damar yang sedang duduk di ruang tengah dengannya.
"Biar aku yang buka, sepertinya itu Bayu, tadi dia aku telpon untuk mengantarkan baju dan berkas pekerjaan ku kesini," jawab Damar sambil berdiri dan menuju pintu utama.
"Bos, anda ?" cicit Bayu menahan tawanya, sambil menunjuk sarung yang melingkar di pinggang Damar tanpa memakai atasan.
"Tak usah banyak komentar, mana baju dan pekerjaan ku ?" ketus Damar meraih satu tas berisi pakaian dan laptopnya, lalu beberapa map berisi pekerjaannya, Bayu juga membawakan beberapa bahan makanan yang di pesan Damar padanya.
"Baik bos, saya permisi !" pamit Bayu.
"Kamu mau kemana ?" tanya Rani ketika melihat tas yang lumayan cukup besar di tangan Damar.
"Gak kemana mana," jawab Damar cuek.
"Tapi itu," tunjuk rani pada tas berwarna coklat di genggaman Damar.
"Oh, ini baju baju ku," jawab Damar lagi datar.
"Baju baju ? Maksudnya ? Kamu mau----" cicit Rani
"Ya, aku mau tinggal bersama mu sementara, aku tak mau terjadi apa apa dengan mu" jelas Damar.
"Tapi, kenapa kamu memutuskannya sendiri, memangnya aku mau di temenin kamu ?" oceh Rani.
"Lalu, kamu berani tinggal sendiri ? ntar ada paket nangis nangis sendiri ?" goda Damar.
"Iya,, iya,,, kamu di sini,, tapi, bagaimana dengan orang tua dan pacar mu ?" tanya Rani lirih.
"Tenang saja, nanti aku akan mencari alasan pada ibu, kamu tak usah mask kerja dulu hari ini," ucap Damar.
"Lalu, pekerjaan ku ?" rengek Rani.
"Kerjakan dari rumah dulu, nanti aku yang akan meminta ijin langsung pada pak Firman," tegas Damar tak ingin di bantah.
Seharian mereka menghabiskan waktu hanya di dalam ruang apartemen saja, sampai sore tiba, Didi salah satu anggota dari tim Rani menelponnya, katanya ada pekerjaan yang membutuhkan Rani untuk datang ke kantor, dengan di antar Damar, akhirnya Rani terpaksa berangkat ke kantor.
Damar sengaja menunggu di mobil yang terparkir di halaman kantor Rani, karena Rani tak ingin ada gosip aneh aneh mengenai Damar dan dirinya jika karyawan lain tau Damar bersamanya.
"Ajeng ?" gumam Damar dari dalam mobil.
Terlihat Ajeng sedang berjalan bersama seseorang yang memakai pakaian serba hitam, dan memasuki kantor Rani.
Mata Damar terus terpaku pada gerak gerik Ajeng yang dia kuti dari kejauhan.
"Aku menunggu hasil nya, jangan sampai gagal !" ucap Ajeng pada seseorang yang bersamanya itu.
Saat ini perhatian Damar terpecah, antara mengikuti orang yang berpakaian serba hitam itu, atau mengikuti Ajeng,
"Auwh !" Damar seketika terhenyak saat melihat Rani yang kini terduduk di lantai lobi kantor, sementara orang berpakaian hitam yang tadi bersama Ajeng seperti hendak membantunya berdiri.
"Tunggu, lepaskan dia !" bentak Damar pada orang itu, dan orang itu pun mengurungkan niatnya untuk membantu Rani, dan memilih untuk pergi meninggalkan Rani begitu saja.
"Kamu tak apa apa ?" Damar membantu Rani berdiri dan memeriksa tubuh Rani dari atas sampai bawah.
"Aku tidak apa apa, tadi aku hanya terpeleset," jawabnya.
"Orang tadi yang berpakaian hitam, apa dia mencelakai mu ?" Damar mengedarkan pandangannya ke setiap penjuru ruangan kantor mencari Ajeng dan seseorang yang datang bersamanya.
"Tidak, sepertinya
orang tadi tak sengaja menabrak ku" kata Ajeng mencoba untuk berpikiran positif.
"Tidak mungkin !" gumam Damar, dia merasakan kecurigaan terhadap gelagat dan gerak gerik Ajeng dan orang yang bersama nya itu.
"Apanya yang tidak mungkin ?" tanya Rani tak mengerti.
"Ah, tidak. Aku hanya asal bicara saja, ayo pulang, dan pastikan kemana pun kamu pergi jangan pernah sendirian kalau aku sedang tak bersama mu," perintah Damar, dia tak ingin memberi tahu dulu kecurigaannya tentang Ajeng pada Rani, dia ingin menyelidikinya dulu sendiri.
Dari kejauhan Ajeng menatap Damar dan Rani dengan tatapan penuh kebencian, dia mengepalkan tangannya,
"Dari awal aku sudah curiga dengan wanita itu, Damar terlihat sangat perhatian padanya, awas saja kau jalllanng !" gumam Ajeng dalam marah nya.
Dua hari berikutnya, keadaan Rani sudah semakin tenang, Damar masih menemaninya di apartemen, dia masih belum tega meninggalkan Rani sendirian, namun hari ini Damar harus berangkat ke kantor setelah tiga hari dia hanya mengerjakan pekerjaan nya dari apartemen Rani.
"Berangkat saja, aku juga mau ke kantor. Aku ga enak kalau terus terusan tidak masuk, kasihan tim ku yang bekerja keras, sedangkan aku leha leha di sini," ucap Rani.
"Dengan satu syarat, berangkat dan pulang hqrus bersama ku, tidak boleh kemana mana sendirian, harus ada teman yang menemani mu !" ucap Damar panjang lebar.
"Ish, itu bukan satu syarat nya, tapi banyak !" dengus Rani.
"Kalau kamu tak mau, lebih baik kamu ikut ke hotel menemani ku bertemu klien !" ancam Damar.
"Iya, aku akan menuruti semua syarat mu," ucap Rani setengah terpaksa.
Damar mengulangi semua peraturan dan syarat yang tadi dia sampaikan pada Rani, saat Rani hendak turun dari mobilnya, tepat di depan kantor Rani.
"Okay bawel !" seloroh Rani mengedipkan sebelah matanya genit.
"Hey, kau menggoda ku, nona,,,!" pekik Damar menatap Rani gemas.
Damar meninggalkan halaman kantor periklanan itu setelah Rani menghilang dari pandangannya.
Sesampainya di hotel, dia langsung menuju ruang kerjanya yang tiga hari belakangan ini di tinggalkannya, betapa terkejutnya Damar saat membuka pintu ruang kerjanya, Mayang sang ibu sudah menyambutnya dengan tatapan penuh amarah di balik meja kerja Damar.
"I- ibu !" cicit Damar.
"Kemana saja, tiga hari tak pulang ?" tanya Mayang galak.
"Bukan kah aku sudah bilang, kalau aku tidur di apartemen ku" bohong Damar.
Damar memang punya apartemen sendiri dan terkadang dia tidur di sana kalau sedang banyak pekerjaan di kantor, karena jarak hotel ke rumah ibunya lumayan cukup jauh, sedangkan kalau dari apartemen nya lebih dekat.
"Apartemen mu atau apartemen wanita si pembuat iklan itu ?" sinis Mayang.
"Apa maksud ibu ?" tanya Damar, dia sedikit kaget karena ibunya tahu tentang dirinya dan Rani.
"Ajeng sudah menceritakan semuanya pada ibu, kamu jangan coba coba main api di belakang ibu, minggu depan kamu akan bertunangan dengan Ajeng !" ancam Mayang.
"Tapi bu, aku tak mencintai Ajeng !" tolak Damar.
"Kamu tak punya hak untuk menolak perjodohan ini, semua sudah di tentukan sedari kalian kecil, dan sudah menurut perhitungan juga persetujuan para tetua, jangan berbuat aneh aneh !" sentak Mayang.
"Minggu depan ? Kenapa secepat itu, dan tak ada yang memberi tau ku tentang itu ?" kesal Damar.
"Bukannya kamu yang menyerahkan semua urusan pertunangan ini pada Ajeng dan keluarga !? Siapa suruh tak ikut datang berembug, malah memilih makan malam dengan wanita itu !" sinis Mayang.
"Dari mana ibu tau tentang itu semua ? Apa Ajeng lagi yang memberi tau ibu ?" selidik Damar.
"Kamu jangan sepelekan calon istri mu itu, meski dia terlihat tenang dan diam, tapi dia tahu segalanya tentang kamu" beber Mayang.
Kecurigaan Damar semakin mengerucut pada Ajeng, dia yakin kalau Ajeng adalah dalang di balik semua teror yang di alami Rani akhir akhir ini.
"Ibu,,,!" sapa Ajeng yang baru saja datang di ruangan yang terasa panas karena perdebatan ibu dan anak yang dari tadi bersitegang.
"Kebetulan kamu datang ke sini, aku butuh bicara dengan mu !" ketus Damar menarik paksa tangan Ajeng keluar ruangan.
"Damar, ibu belum selesai bicara !" bentak Mayang.
"Tapi aku juga perlu bicara dengan calon mantu kesayangan ibu ini, permisi !" ucap Damar kesal, ini pertama kalinya Damar bersikap seperti itu pada ibunya, biasanya dia selalu berbicara manis dan lembut pada Mayang.
Damar membawa Ajeng ke ruangan Bayu, Bayu yang mengerti gelagat peperangan bosnya memilih keluar dan berjaga di luar pintu.
"Apa yang telah kau lakukan pada Rani ?" geram Damar marah.
"Aku bisa melakukan hal yang lebih dari itu kalau kamu masih terus bersamanya !" jawab Ajeng tak ada ketakutan sedikitpun di wajahnya, kecemburuan sungguh telah membutakan hatinya.
"Jangan harap kau bisa menyentuh dia, selama aku masih hidup !" tegas Damar.
"Tunggu dan buktikan, ucapanku bukan sekedar ancaman, tak ada yang bisa merebutmu dari ku !" Ajeng tersenyum iblis.
Tetap semangat berkarya Thor/Determined//Determined//Determined/
ttp semangat berkarya nya yaaaa.... ehmuuuaaahh dr manado