Tujuh tahun menikah dan belum di karuniai seorang anak tak membuat cinta Yudistira pada Kamelia meluntur. cinta tanpa syarat dari Yudistira, telah melambungkan Kamelia ke atas awan hingga permintaan sang ibu mertua Kamelia, berhasil menjatuhkannya ke dasar lautan.
Bagaimana tidak, ibu mertuanya, meminta sesuatu yang tidak mungkin bisa ia kabulkan. seorang anak yang tidak mungkin bisa hadir di dalam rahimnya. namun ibu mertuanya, meminta hal itu dari wanita lain.
Dan yang ia juga tidak pernah tahu Yudistira memiliki rahasia besar di belakangnya.
akankah ia sanggup menerima rahasia terbesar Yudistira?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lusiana Anwar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rahasia Yudistira dan Inggrid 10
Terbongkar
.
.
.
Cobaan terbesar dalam hidup, adalah kehilangan seseorang yang paling di cintai. di hari yang sama dan rumah sakit yang sama, Yudistira harus menyaksikan sendiri kepergian Inggrid untuk selamanya, dan juga pengangkatan rahim Kamelia.
hancur, itulah yang ia rasakan saat ini. cinta dan harapan hidupnya, telah pergi untuk selamanya. apa ini sebuah hukuman atas penghianatan yang telah ia lakukan?
setelah menyelesaikan pemakaman Inggrid, ia segera menemui Kamelia yang masih tak sadarkan diri usai operasi pengangkatan rahim.
apa kamu baik baik saja?" tanyanya pada Kamelia, saat dia mulai membuka mata.
"apa aku terlihat tidak baik baik saja,"
Yudistira menggeleng, kemudian tersenyum.
"tetaplah baik baik saja,"
"maafkan aku," ucap Yudistira sambil menunduk.
" maaf untuk apa?"
"aku tidak ada di sisimu saat itu,"
ia masih menunduk, untuk menyembunyikan kesedihan di depan Kamelia.
"tidak perlu minta maaf, ini bukan salah mu. sudah menjadi takdir jika ini terjadi padaku, dan 'dia' masih tetap baik baik di dalam sini,"
Kamelia mengusap usap perutnya dengan sebelah tangan.
Yudistira memeluk perut Kamelia lalu menciumnya. ia tidak tahu harus dengan cara apa menjelaskan keadaan pada Kamelia nanti.
"ada apa?"
Kamelia mengusap rambut Yudistira untuk memberi ketenangan padanya.
cepat atau lambat, Kamelia harus tahu kebenarannya. dan benar saja, betapa hancurnya Kamelia saat ia mengetahui kenyataan, bahwa ia harus kehilangan satu satunya harapan yang masih tersisa di dalam tubuhnya. dan kini ia harus menerima kenyataan, dirinya tidak akan pernah menjadi sempurna sampai kapan pun.
namun, kepergian Inggrid semakin membuat Kamelia terpukul.
...****************...
Kamelia berjalan menaiki anak tangga, dengan mengendong Alfin yang tertidur sejak perjalanan pulang dari makam Inggrid.
ia menepuk nepuk punggung Alfin pelan agar tidak terusik karena pergerakannya. ia berhenti di depan pintu kamar Inggrid, dan menatap pintu kamar yang sudah beberapa bulan terakhir ini sering tertutup.
ia membuka pintu kamar itu perlahan, kemudian meraba sisi tembok untuk menekan sakelar lampu. ia segera membaringkan Alfin di tempat tidur kemudian menyelimutinya hingga sebatas pinggang.
ia menatap sekeliling kamar yang terasa hening, matanya kembali berkaca kaca dan dadanya terasa sesak karena menahan tangis. ia masih belum percaya jika inggrid meninggalkannya untuk selamanya.
ia berjalan mendekati meja rias, kemudian mengambil salah satu bingkai foto pernikahan Inggrid dan Yudistira. ia mengusap bingkai foto itu dengan air mata mengalir di kedua pipinya.
'inggrid maafkan aku, aku belum bisa menjadi saudara yang baik untuk mu. terimakasih kau sudah meninggalkan harta yang paling berharga untukku. aku berjanji akan menjaga harta kita satu satunya. selamat jalan Inggrid semoga kau tenang di sana.'
ia meletakkan kembali bingkai foto di atas meja rias. namun tangannya menyentuh sebuah kotak kecil berwarna coklat muda yang berada di belakang bingkai foto kedua hingga terjatuh.
Kamelia membungkuk untuk mengambil kotak yang terjatuh di lantai. ia membolak balikkan kotak tersebut, sebelum akhirnya menaruh kembali ke tempat semula. ia mengerutkan dahi, demi mengingat dimana ia pernah melihat kotak seperti itu.
'iya benar, di atas meja kerja mas Yudis. tapi itu kan udah lama sekali, kenapa bisa sama Inggrid?' batin Kamelia, kemudian ia mengambil kembali kotak itu lalu membukanya.
ia mengerutkan dahi melihat sebuah cincin bermata putih dan sebuah kunci lemari yang tersimpan di dalam kotak itu.
"ini cincin waktu itu kan? bukannya mas Yudis bilang punya temannya," ucap Kamelia dengan menatap cincin itu.
kemudian ia menoleh ke arah lemari yang tersimpan di sudut ruangan. ia berjalan mendekati lemari itu, memasukkan kunci lalu memutarnya.
ia menarik nafas lalu menghembuskan sebelum menarik handle pintu lemari. matanya menyisir seluruh isi lemari. ia tersenyum melihat barang barang milik Inggrid yang tersimpan di dalam lemari tersebut. kilasan senyum ceria Inggrid, berputar putar di kepalanya.
kemudian, tanganya menyentuh sebuah dress cantik berwarna peach yang tergantung. namun matanya menatap sebuah kotak berwarna biru tua dengan ukuran sedang tepat di bawah dress itu.
ia mengambil kotak itu dan membawanya duduk di atas tempat tidur. ia memangku kotak itu lalu membukanya.
bibirnya tersenyum saat melihat beberapa lembar foto Inggrid ketika masih menjadi mahasiswa.
"kamu memang cantik," ucapnya sambil mengusap gambar wajah Inggrid difoto.
ia meletakkan kembali foto itu, kemudian beralih pada sebuah buku yang berada di dalam kotak itu. tangannya dan bibinya bergetar saat membuka halaman pertama dari buku itu. bukan karena foto Inggrid dan Yudistira yang menempel di halaman pertama buku itu, namun tanggal dan tahun yang tertulis di sudut bawah foto itu.
bukankah foto itu di ambil sekitar lima tahun yang lalu?
kemudian ia membalikkan halaman berikutnya membaca coretan tinta hitam di halaman buku itu.
'mengenalmu adalah hal yang terindah dalam hidupku, terimakasih telah hadir dalam hidupku dan memberikan cinta dan warna dalam hidupku. aku mencintaimu,'
muka Kamelia memerah, tangannya mengepal dan giginya mengatup rapat, karena menahan marah dan tangis.
'aku tidak ingin meminta lebih darimu, hanya ingin kau mengatakan cinta padaku. tapi kenapa begitu sulit kau mengatakan cinta padaku, apa kau tidak benar benar mencintai ku?'
ia tak tahan lagi untuk tidak menangis saat ini.
'apa kau tahu, betapa hancurnya hatiku saat kau mengenalkan dia sebagai istrimu? bodohnya aku, yang terlena oleh pesona dan cinta yang kau berikan padaku. bahkan kau telah mengukir indah cinta kita, lalu untuk apa kau berikan cinta yang begitu indah padaku, jika kau sendiri yang menghancurkannya, aku benar benar kecewa padamu.
dengan masih berlinang air mata, Kamelia tetap membuka halaman dari buku itu.
'entah, sebuah kebetulan atau keberuntungan, Kamelia datang padaku dan memintaku menikah denganmu. aku marah padamu saat itu, aku benci karena kau membohongiku. tapi cinta ini ... aku tidak bisa dengan mudah melupakannya. aku tidak tahu siapa yang kau hianati saat ini, aku atau Kamelia. salahkah aku jika ingin tetap bersamamu? aku akan melakukan apapun walau harus bersandiwara di depan Kamelia, asalkan tetap bersamamu,"
"Mil,"
Yudistira memanggil Kamelia dengan membuka sedikit pintu kamar. kemudian ia berjalan mendekat pada Kamelia.
Kamelia menatapnya dengan sorot mata kemarahan.
"ada apa?" tanya Yudistira kemudian mengambil buku dari tangan Kamelia. ia terkejut setelah membuka halaman pertama yang menampakkan dirinya mencium pipi Inggrid saat berada di sebuah klub kala itu.
ia menyadari kemarahan Kamelia, karena tanggal dan tahun yang tertulis di sudut bawah foto, menjelaskan penghianatannya pada Kamelia. ia segera berlutut dengan menggenggam kedua tangan Kamelia.
"maafkan aku,"
Kamelia mengibaskan tangannya dari genggaman Yudistira, kemudian berdiri lalu berjalan beberapa langkah untuk membelakangi Yudistira.
"ada yang ingin kamu jelaskan?!"
ucap Kamelia dengan gigi mengerat menahan amarah.
.
.
.
**sebentar lagi terbongkar nih, kira kira Kamelia bakal maafin Yudistira gak ya?
aku tunggu jawabannya di kolam komentar.
jangan lupa like vote dan hadiah seikhlasnya.
tunggu terus kisah selanjutnya ya?
pernah lihat novel ini 👇gak sih**?
iya, yang sering wara wiri di beranda itu loh, penasarankan??? yuk langsung tinggalkan jejak di sana☺️